welcome^^ to my blog. Jangan mempermalukan dirimu sendiri untuk menjadi seorang flagiat. Tidak semua yang saya tulis adalah kamu dan semua yang kamu baca adalah saya.

Senin, 01 Desember 2014

Mr & Mrs secret

Hujan masih deras di luar, awan masih kelam abu-abu seakan amarah tertahan dan berhujung tumpahan amarah. Saya diam memandang kelabu. Ingin saya benturkan kepala saya pada bongkahan es.. sebesar mungkin sekuat mungkin. Dan mungkin seperti itulah caranya menjadi berbeda.

"Saya mungkin orang yang paling kolot, paling bodoh dan palin tak berotak sedunia. Kenapa saya seakan tidak biasa bernafas tanpa seorang kamu? Yang bahkan tak memandang saya walau hanya sebagai seseorang?"

" saya menggila dikarenKan lelah, saya menyakiti seorang diri karena merancang luka, saya.. bak orang tak berotak yang masih dan terus mendoakan seorang brengsek seperti kamu dalam diam"

"Saya tidak mengakui bahwa ini cinta, ego dan cermin yang memperlihatkan langsung kepada diri saya seakan melarang untuk itu. Saya bertanya kepada diri saya sendiri ribuan kali bahkan tak terhitung kalinya, siapa saya yang berani membuat khayal yang tinggi tentang memiliki kamu?"

"Saya menjadi gila karena dikuasai perasaan, berkali-kali saya berdoa,, jangan jadikan saya manusia yang sama seperti kemarin yang menjadi sepi dan seorang diri menunggu hal yang tidak mungkin bersentuhan atau bahkan terjadi"

"Saya lelah seorang diri, menjadi sepi dan membatu. Kenapa dunia ini berasa tak adil? Ketika kamu menyerakan seluruhnya milikmu hanya untuk satu hal, dan tetap tidak dapat kamu raih? Saya menjadi iri tak membabi buta, pada setiap hal yang bisa kamu sentuh setiap hari. Kepada setiap orang yang bisa melihatmu setiap waktu"

"Telalu tinggi, terlalu jauh.. terlalu sulit untuk digengam.."

Kamu memandang dengan wajah kasian, wajah kasiamu. Saya akan menjadi wanita berani luar biasa dalam sejarah untuk ini. Setidaknya ketika musim berganti dan tahun-tahun belalu ini semua hanya akan menjadi kisah dari masalalu. Saya akan sembuh dan akan baik-baik saja.

"Saya tidak datang untu mengemis cinta, tidak datang untuk minta dikasihani. Saya membenci kamu yang merengut seutuhnya hayi saya, namun saya tak ingin memintanya kembali. Harusnya saya berterimakasih kepada Tuhan, sehingga dia menciptakab kamu untuk menjadi rasa sakit dan manis dalam hidup saya.. yang biasa ini.."

"Saya mengatakan hal ini cuma dan hanya sekali, dan mungkin kamu akan jadi satu-satunya dengan sepenuh hati saya mendengar pengakuannya"

"Hey kamu! Yang berdiri di sana seperti orang tolol yang punya cinta palsu dengan semua perempuan kecuali saya, yang mempunyai segalanya yang bisa kamu berikan kepada semua perempuan kecuali saya, yang selalu mengencari perempuan-perempuan cantik dan saya yang tidak pernah ada dalam daftar itu!.."

Aku mengambil dafas dalam-dalam.. airmataku mulai tumpah, hangat dan perlahan..

"Saya punya penyakit aneh tentang kamu. Mungkin kepala saya ditumbuhi tumor sehingga hanya ada kamu disana, sehingga kamu tak pernah absen mengisi setiap detik yang saya punya. Kamu! Saya mencintai kamu tanpa syarat, bahkan ketika kamu brengsek, dan saya tetap berharap menjadi sesorang yang ada dalam list kamu.. saya"

"Tapi hebatnya saya, saya bersikap baik-baik saja. Beraikap seolah dunia saya cukup bahagia dan kamu tidak perlu jadi bagian dari itu, lama kelamaan saya terbiasa dengan rasa sakit, hingga saya menyadari jika kamu lebih dari sekedar pelangi saat hujan"

"Saya kehabisan waktu, saya terlambat. Saya tau. Tapi setidaknya sebelum kita hanya menjadi cerita anak-anak beranjak dewasa, sebelum semua keberanian saya terengut habis, seblum rasa malu menguasai diri saya. Setidaknya, saya ingin kamu tau.. betapa kamu pernah mengisi setiap ruang, betapa nama kamu selalu terukir indah di hati saya"

"Tidak! Jangan kasihani saya, saya cukup menjadi malu karena sikap ini. Jangan katakan apapun, terimakasih sudah pernah ada di dalam cerita kehidupan saya, hanya itu.."

Dia masih berdiri kaku, saya sudah selesai. Beban membatu yang selama ini saya pikul sudah berakhir. Sudah saya katakan dengan lantang, saya sebutkan dengan jelas. Ini cukup. Saya hanya perlu pergi, dan ini akan berakhir.

"Tunggu!"  Katamu menghentikan langkahku

"Ayo kita coba!. Kita punya waktu seminggu sebelum aku ngambil kuliah s2 di luar. Aku ga ngerti dengan rasa semacam itu, dan terlebih lagi kamu. Tapi kamu orang pertama yang suka sama aku segitunya, aku ngerasa tersentuh buat yang pertama kalinya. Tapi aku ga bisa jamin akan ada rasa sama kamu, kita bisa mulai hari ini? Seminggu, jadi cinta sebelah tangan kamu ga sia-sia"

Saya tersenyum dengan manis

"dasar playboy gilak!" Kataku

Kamu tersentak dan bingung

"Kamu memang playboy, seminggu? Saya bilang, saya ga dateng buat ngemis cinta, buat ngemis jdi salah satu orang yang pernah kamu pacarin. Saya cuma mau ngaku, itu aja!" Jawab saya pelan

"Lalu..?" Katamu tak paham

"Bukan ini yang saya mau, saya tau kamu akan suka sama saya dan 'kita' ga akan berhasil. Saya ga minta ruang kosong itu diisi hanya karena ruang itu kosong, saya cuma mau orang yang seharusnya ngisi ruang itu tau bahwa, namanya pernah ada di sana. Itu cukup. Terimakasih dan selamat tinggal"

"Suatu saat, ketika kita ketemu lagi. Kamu akan jadi orang pertama dalam list saya. Saya janji, gimana?"

"Buat jadi mainan juga? Kayak yang lain? Enggak terimakasih"

"Nanti ketika waktu dan takdir nemunin kita lagi, kamu akan jadi orang pertama yang bukan mainan. Aku janji, kamu ngebuat aku ngerasain hal aneh di hatiku yang tinggal separoh ini. Mungkin aku ga punya kesempatan sekarang, nanti.. im promise"

Saya tersenyum lega. Saya menang, saya lakukan yang harus saya lakukan. Dan kisah ini berakhir manis. Setidaknya saya berani untuk mencintai seseorang yang hanya ada dalam dongeng cinderela.

Jumat, 07 November 2014

Selamat harimu, rindu..

Kututup rapat pintu itu, kujaga ketat rahasiaku, kuberikan temoat yang paling tersembunyi dan sudut di ujung sana, tak kubiarkan siapapun tau, tak kuinginkan bahkan diriku menyadari. Bahwa pada akhirnya aku menyimpan sebuah nama disana, terukir kokoh dan penuh kesembunyian.

Kujaga dia baik-baik, kuperhatikan setiap lakunya dalam diam, tak kuberitau semua orang bahwa namanya special dihatiku. Kumiliki dia dalam duniaku yang seorang diri, mimpi yang jauh dari nyata, aku yang tak punya nyali atas apa-apa.

Biadab kah jika seorang biasa mencintai sang putri? Biadabkah seorang biasa mencintai pangeran? Masalahnya adalah dunia tak pernah mengizinkan untuk hal itu, bahwa pangeran dan putri hanya akan mencari pangeran dan putri lain untuk membuat mereka lebih sempurna.

Aku malu mengakui, ketika cermin memantulkan cahayaku dan aku tak sebaik dari seper-sekian dari apa yang dia miliki. Kita hanya teman yang berlalu dan terikat hanya karena kita bertemu di pertemukan takdir. Namun kita tak dikaitkan untuk menjalin sebuah tali merah yang panjang.

Kupandangi kamu dengan hati-hati dari jauh, kulihat seluruhnya.. dengan seksama. Kusadari bahwa "kamu ada adalah ketidakmungkinan yang akan selalu aku semogakan". Sekokoh apapun pohon berdiri, tak bisa menjadikannya bunga yang cantik. Dan selamanya pengagum rahasia adalah rasa sakit yang berselimut bahagia semu dan kata aku baik-baik saja.

Hati tidak pernah bisa menghapus rasa, hati hanya membiarkan semua hilang seiringnya waktu.. berkurang, bukan menghikang seutuhnya. Pada saat yang tepat ketika hati bosan untuk menerima dan luka-luka sudah mengering, barulah hati mencari kisah yang baru.

Namun tak semua yang menjadi keinginanmu akan menjadi nyata..

Aku memulai rasa ini dengan seorang diri, namun tak ingin cepat-cepat ku akhiri hanya menjadi sebuah cerita yang habis dimakan zaman. Akan kupertahankan rasa egoku atas sakitku yang tersisa. Akan kupertahankan tempatmu disana, diam dan tak bergerak. Menjadi pedang dan luka, akan menjadi senyum sepi dan airmata diam. Akan kupertahankan sebagai obat untukku bangun dari tidur malamku. Akan kubiarkan jadi cerita lain dari cinta yang hanya sepihak milikku.      


Ajari saya mengenal cinta..

Bulan april 2014, ketika restaurant di hari minggu dan tidak di pesan untuk reservasi apapun, ketika tamu-tamu sibuk menyantap hidangan mereka seraya bercerita dan ceria, ketika seisi restaurant dipenuhi dengan perempuan-perempuan dan laki-laki paruh baya yang terlihat sangat bahagia dengan dunia mereka yang tampaknya sempurna.
Suasana restaurant sangat hangat, semua terlihat bahagia dan menikmati malam itu, di dalam restaurant dipenuhi keluarga-keluarga bahagia yang sedang asik mengobrol, di depan stage kecil kami nampak sepasang pengantin baru yang menikmati malam, beralih ke luar live band menyanyikan lagu-lagu adele membuat suasana nan romantis, di sekitaran kolam renang dipenuhi dengan anak-anak muda paruh baya yang sibuk dengan obrolan yang terlihat sangat menarik, di lantai dua restaurant hanya ada beberapa pasang muda mudi yang sepertinya bersiap untuk menyatakan cinta.
Di hujung kolam renang dekat dengan live band segerombolan anak-anak muda bermain truth or dare, empat orang laki-laki dan tiga orang perempuan paruh baya yang bermain-main dengan kata-kata serta candan kecil mereka. Bukankah restauranku sempurna.
“truth or dare laaa?” teriak seorang pemuda yang duduk dekat ujung kolam renang tadi.
“truth yoo!”
Semua tertawa terbahak
“oke sekarang kita tanya ke cewe nan manis ini, dan dia harus jawab jujur. Gimana? Deal?
“okeeee!!” semua menjawab serempak
Tak sengaaja perhatianku tertuju pada anak-anak muda tadi, empat orang laki-laki dan 3 orang perempuan yang sedari tadi sibuk dengan permainan mereka. Satu diantaranya seorang perempuan manis yang seperti tersudut atas pertanyaan-pertanyaan sederhana dan menyulitkan baginya yang terlihat dari mimik wajahnya yang takut dan gelisah.
“Pertama, aku. Siapa cinta pertama seorang lala? Bisa diceritakan cantik??” tyo, laki laki perawakan modis dengan tubuh six packs memulai permainan.
“aku yang kedua! Iyakah kamu pacaran dengan dimas? Jawab jujur!” perempuan dengan kulit hitam eksotis dan tubuh langsing semampai menambahi
“kalo aku sama, sama pertanyaannya sama bella tanya barusan!” perempuan lainnya bertanya, tubuhnya putih mungil dan wajah oriental
“gue, gue.. terus buat sekarang cowok loe siapa laa? Mungkin gue bisa daftar!” laki-laki lain menimpali, perawakannya konyol, namun dari wajahnya terlihat bahwa dia seorang laki-laki baik, adit namanya.
“setuju!” dua laki laki lainnya hanya menganguk setuju.
Mereka mulai berkonsentrasi mendengarkan, sementara lala. Perempuan yang ditanya-tanya tadi masih sibuk berfikir keras atas pertanyaan teman-temanya itu. Lala tampak gelisah, berkeringat dan lala tak berhenti minum air putih di gelasnya. Lala perempuan dengan wajah yang manis, dengan dandanan yang sederhana namun menujukan kelasnya berbeda. Semua barang yang ia kenakan, high class
“gue?” kata lala akhirnya.
“ga ada yang special dari idup gue, dan dimas bukan pacar gue. Dia sepupu gue!”
“waaaawwww!!” tyo bersorak dengan guyonan nya, yang lain masih diam mendengarkan, bella dan tia serius menunggu ucapann lanjutan.
“hidup gue ga seindah itu bro! Sebenernyaa.. “ cerita lala terhenti sejenak.
“sebenernya gue belom pernah pacaraan. Jadi ceritanya nyokap sama bokap gue sibuk dengan urusannya, jadi mau gak mau gue sendirian terus sama si mbok, gue gak belajar apapun tetang cara suka sama orang lain, lebih spesifiknya karena gue gak kenal cinta, jadi bingung cinta itu gimana”.
“iya gue punya semua, gue kira itu udah cukup. Temen gue banyak, yang kagum sama gue juga banyak, tapi kalo gue di suruh tukeran tempat sama loe elo yang pada punya orang tua normal. Gue mau banget”
“gue gak ngerti cara memperlakukan orang dengan kasih sayang itu gimana. Gue kaku, dan Cuma elo semua yang masih sama gue walaupun gue kasar, kaku, nyebelin, egois”.
“sebenernya kita suka waktu di traktri terus-terusan” celetuk bella tiba-tiba
“belaa ahh!!” yang lain berteriak marah pada bella
Lala meneruskan ceritanya
“ga masalah. Walaupun kalian disini sama gue Cuma karena traktiran, seengaknya gue gak sendiri di setiap moment penting” lala menghela nafas panjang
“gue bingung sama orang-orang yang jadian dengan mudah banget, bahagia dengan mudah banget, akrab satu-sama lain. Gue heran, kok gue gak bisa kayak gitu. Setiap kali ada yang dateng deketin gue, akhrinya mereka nyerah dengan pergi diem-diem. Gue lucu yaa..” mata lala mulai senduh, menunduk malu dan melajutkan ceritanya.
“gue gak suka sendirian, daripada gue sendirian gue lebih seneng belanja karena belanja gue yang ga wajar semua ngangep gue di kelas yang beda. Heloooowww manusia-manusia!! Gue kesepian, ngapain lagi klo ga shopping??!”
“so.. gue nutup diri, pura-pura bahagia dan dunia liat gue baik-baik aja. Better kan daripada dikasihanin, gue gak suka. Ga ada yang berani ganggu gue, ga ada yang berani larang gue, semua nurut takut sama bokap gue. Sebenernya gue perlu satu orang aja buat arah gue, but kiblat gue mau kemana but siapa sih yang berani larang lala??”
“gue ga suka sama duit, beda kan sama loe-loe semua cinta sama duit, hahaha. Duit bukan segalanya bray, loe ga bisa beli perhatian, kasih sayang, cinta. Semu! Berasa loe punya semua tapi ternyata semua ga ada artinya, yang ada Cuma loe SENDIRIAN!”
Mereka semua terdiam, tyo tak lagi terkekeh mengguyon, adit senduh mengasihani, bella menitihkan airmata, tia diam menjadi malu, dan dua laki-laki lain yang masih belum ku ketahui namanya hanya diam memandang lala dalam-dalam.
“gue baik-baik aja kali! Helloww!! Dua puluh tahun  gue hidup gini, ga ada masalah. Jadi jangan sok ngilu deh loh pada!!” celetuk lala tiba-tiba.
“ayo kita jadian la!” kata seorang laki yang tidak ku ketahui namanya tadi.
“apa-apaan si ras, ga lucu!” kata lala menjadi malu,
“sama gue aja gimana laa??” seorang lainnya dari laki-laki tak ku kenal tadi juga menyambut
“ga lucu deh! Johan, rasya.. ga lucu, gue baik baik aja!” bentak lala, akhirnya ku tahu, nama dua lelaki lainnya itu rasya dan johan.
“gue serius, gue ajarin loe soal cinta. Gue yang kasi loe arah, gue bakal kasi loe kasih sayang, loe ga akan sendiri” kata rasya tegas
“gue ga minta di kasihani ras!” lala marah lagi
“gak laak!” johan berteriak, rasya memotong ucapan johan
“loe diem dulu jo! Gue serius. Gue suka sama loe dari dalu, dari pertama loe bentak-bentak gue ga karuan, gue kira loe pasti beda dari cewek laen. Gue suka sama loe laa.. biarin gue yang kasi loe kiblat, biar gue yang marah-marahin kalo loe salah, biar gue jadi tempat loe wktu sepi dan tempat loe curhat, biarin gue laa..” rasya serius
Semua kaget tebelengak termasuk lala, mata tyo dan adit melotot terihat akan akn keluar dari kelopaknya, bella merengut, tia tersenyum kaget, johan yang hanya bercanda diam terpana. Lala masih diam berfikir.
“gue gak punya apa-apa selain duit ras” kata lala kemudian
“ga apa-apa laa, gue suka duit!” kata rasya bercanda, lala tersenyum
“sialan loe!” lala marah,
“gaa gue bercanda, gue suka loe laa. Gue gak tau se kesepian itu elo, kalo gue tau, gue ga perlu nunggu lama-lama buat bilang ini” rasya mengengam tangan lala
“gue sayang sama loe la, biarin gue yang ngajarin loe semuanya, barin gue yang sabar di bentak-bentak, biarin gue yang ngisi setiap sudut hati loe yang kosong, let me in and charge every empty rooms”.
“janji loe bakar jadi tutor gue ras??” lala melembut
“gak! Gue bukan tutor loe la, gue orang yang kasi cinta ke elo!” jelas rasya
Lala memeluk rasnya, rasya tersenyum lembut. Mereka akan jadi pasangan yang manis, dan seisi restaurant bertepuk tangan merayakan.
Tidak ada cinta yang datang dengan paksaan, jika itu adalah cinta dengna paksaan maka itu bukanlah cinta. Bukalah hatimu untuk setiap siapapun yang masuk mengetuk, setiap insan berhak untuk bahagia, berhak untuk cinta.
Malam di tutup dengan nyanyian tio, tio piawai memainkan gitar dan bernyanyi. Malam ini semakin indah, selamat malam la nina el lila.. 
                                                             -La Nina el lila story

Selasa, 04 November 2014


Awal ataupun akhir..  Aku disini.

“Mbak nia, ada yang dateng dari jam 5 katanya mau ketemu mbak cepetan dateng mbak ke resto” suara pegawaiku dari ujung telepon
“iya gue di jalan, tunggu gih macet tau. Lagian jam segini siapa yang pagi-pagi buta dateng coba aneh banget”
“mau reservasi tempat buat nanti malem mbak, katanya penting! Cepetan dateng mbak, kasian ini orang udah nunggu lama”
“iya-iya bawel ah..”

Nagita lovia, gadis umur 16 tahun yang masih sekolah kelas satu SMA. Sudah menunggu dua jam lebih bahkan sebelum restaurant buka untuk membuat reservasi.
“aku gita kak, aku mau buat reservasi buat nanti malem. Temenku mau pergi, jadi aku mau dia pulang cepet”
“sayang, buat reservasi setidaknya harus 3 hari sebelumnya kalo secepet ini kita ga bisa siapin apa-apa. Kakak-kakak yang disana ga bisa bkin sesuatu yang istimewa buat temen kamu dong” jawabku dengan perlahan.
“tapi kalo tiga hari lagi, dia udah pergi kak. Tolong dong kak, aku Cuma perlu kakak puterin ini video dan siapin tempat. Please kakk.. pleasee..  ”
“hmmm.. kakak bantu kamu deh, buat malem ini aja ya.. laen kali semua punya aturan ya sayang. Jadi konsep kamu apa?”
“ga ada konsep kak, aku Cuma mau dia pulang lagi”.

Ini adalah cerita lain dari gita, gadis kecil yang baru berusia 17 tahun. Hari ini tamu special kami tria, sahabat kecil gita sejak tk yang besok tidak lagi ada di Indonesia. Tria akan pindah ke keluar negri, jadi belum lama tria mengidap penyakit keturunan, yang membuat tria lama-kelamaan semakin melemah, meski tulang sum-sum dan kemo sudah dijalani dengan teratur.
Orang tua tria mencari informasi untuk berobat keluar negri, dan tria setuju untuk ikut.
“Tria orang yang konyol kak, dia ga pernah ngeluh, temenya aja banyak, Cuma aku yang selalu nempel sama dia. Tria sahabatku satu-satunya kak, aku ga punya temen atau sahabat lain, aku agak kuper”
“tapi beberapa bulan lalu tria ga lagi kayak dulu, dia lesu, dia ga suka senyum atau jahil kayak biasanya, temen-temen tria mulai takut deket-deket tria. Katanya sakitnya tria nanti nular, padahal belahan dunia mana coba yang ngomong penyakit kanker keturunan itu nular!” anak polos ini masih terus bercerita, dengan gaya khasnya remaja.
“beberapa hari lalu, tante nora mamanya tria bilang klo tria mau ke singapore buat berobat, sekitar dua bulanan kalo pengobatanya lancar. Aku seneng kak, tapi trianya enggak, tria kayak udah pasrah”
“satu kali aja kak, satu kali. Aku mau tria tau kalo aku masih di sini, masih ada buat tria, masih dukung tria, masih nunggu tria buat main basket bareng lagi. Cuma itu kak”
Aku mengerti, dan kami memulai rencana kecil. Makanan-makanan manis dans sederhana sudah mulai di rancang chef  kami, lagu-lagu ringan mulai dimainkan, hanya ada dua pelanggan kecil kami dan pelayan yang melayani, hanya ada mereka. Restaurant ditutup sebagai private.
Tria datang, badanya terlihat kurus dan wajahnya yang pucat menunjukan bahwa ia tidak sehat, tapi remaja ini termasuk anak yang tampan, postur tubuhnya yang tinggi dan wajahnya yang cakep menunjukkan anak ini bukan anak remaja biasa yang hanya punya beberapa teman, setidaknya dia pasti populer diantara remaja perempuan.
Tria duduk di kursi roda, gita mendorong kursi roda sampai kedepan stage kecil kami, video mulai berputar. Rekaman saat tria bermain basket dan mendapat juara satu, saat tria dan gita liburan ke jepang bersama keluarga mereka, saat tria mengajari gita untuk bersepeda pertama kali, saat mereka bermain bersama dengan teman-teman, dan saat ulang tahun tria yang ke 17.

Gita mengarahkan kursi roda tria ke hadapanya, sementara video tetap berputar
“bang, abang masih punya gita. Kalo abang pulang nanti, ayo kita main sepeda bareng lagi bang, ayo kita tanding maen ps bareng lagi, gita masih di sini bang, abang masih punya gita..” mata gita mulai berkaca-kaca,
“gita Cuma punya abang, gita bersyukur banget kenal abang dari kecil jadi gita punya temen, jadi gita bakal nunggu abang pulang terus kita teriakin tuh ke temen-temen abang, kalo abang sudah sembuh. Terus ke cewek-cewek centil yang ngejer-ngejer abang dan sekarang belagak ngejauhin abang, ayo kita buat mereka suka lagi sama abang”
“abang harus pulang bang, gita nunggu abang di sini, abang harus semangat terus sembuh, jadi gita punya temen lagi, jadi gita ga kuper sendiri lagi”
“kalaupun abang ga bernafas lagi, gita akan selalu nunggu abang di sini. Jangan kesepian bang, gita di sini nunggu abang. Jadi abang harus semangat!”
“kalo gita udah 17 tahun, terus mama udah izinin gita pacaran, gita mau nembak abang, dan abang harus terima.. jadi karena itu, tunggu gita udah 17 tahun bang, tunggu gita sedikit lagi, jadi abang harus sembuh..”
Semua menangis malam itu, kami yang melihat betapa polos dan murninya anak permpuan ini semuanya menangis, hanya bisa melihat, hanya bisa ikut berdoa untuk tria.
Tria meneteskan air mata, dan mengengam bahu gita,
“abang akan sembuh, terus balik lagi! Abang janji! Jadi kamu harus tunggu abang”.
“kalo nanti abang pulang terus kamu udah 17 tahun, abang yang akan nembak kamu dan kamu yang ga boleh lari ke cowok laen ataupun nolak abang, kamu harus nunggu abang pulang ya taa..” tria memeluk gita.
Dari kejauhan ayah dan ibu tria hanya memperhatikan sambil menangis, ibu gita tesenyum melihat anaknya, dan semua pegawai masih menangis keras layaknya anak kecil, akupun begitu.

Kami di ajari mengenal semangat oleh anak ini, yang bahkan belum berumur 17 tahun, di ajari mengenal setia yang bahkan belum memulai apapun. Mengenal bahwa hingga akhir, manusia harus berjuang demi seseorang yang selalu menunggu untuknya datang, untuknya kembali.
                                                    -La Nina el Lila story

Minggu, 02 November 2014


Nobody is perfect..

Pada awalnya yang kumiliki hanya restaurant sederhana dengan konsep yang juga sederhana. Memberikan makanan terbaik bagi pelanggan, usaha berjalan baik, entah karena kualitas makanan atau karena kami melakukan yang tebaik bagi pelanggan. Lama-kelamaan restaurant kami yang berkecimpung pada makanan italia classic mulai menjadi biasa saja, katanya untuk menjadi berbeda sesuatu harus punya ciri khasnya tersendiri.
Hari itu tepatnya hari senin seminggu sebelum valentine pada tahun 2014 seorang pria muda yang sederhana dan sangat biasa datang kepada kami, katanya dia ingin bertemu denganku, seseorang dari bagian manager atau perencanaan atau setara itu untuk meminta beberapa permohonan kecil. 
Dia bertemu denganku, sesungguhnya tidak ada yang terlalu istimewa dari laki-laki ini. Penampilan nya yang biasa, wajahnya yang biasa, dan kepribadiaan nya yang biasa cenderung kepada membosankan membuatku berfikir untuk pertama kalinya. Bahwa la nina el lila harus di ubah menjadi sedikit berbeda.
Sederhana, dia ingin mem-bocking restaurant kami hanya untuk satu malam, satu hari sesudah hari valentine tepatnya tanggal 15 februari. Pernyataan cinta, sebutnya. Dia ingin menyatakan cinta pada seorang gadis luar biasa wah yang satu kampus dengannya, sebut saja dia gio laki-laki sederhana tadi.
Gio sudah menabung lebih dari satu tahun, untuk tanggal 15 nanti. Katanya, dia akan menyesal seumur hidup jika hal itu tidak dia lakukan. “meskipun nanti saya Cuma menangung malu, atau di tolak. Setidaknya saya bicara bahwa saya mencintai dia dengan berani jadi waktu nanti saya udah nikah saya ga akan malu bangga ke anak-anak saya”. Ucapanya yang membuatku merasa gio istimewa.
Hari H akan segera datang, tidak lebih dari tiga hari lagi. Gio semakin sibuk, dia menentukan konsep, menentukan hidangan, dan bahkan memilih lagu-lagu dengan seksama. Sempurna.
Sehari sebelum tanggal 15 febuari, 1000 bunga mawar merah sudah dipesan. Balon-balon sudah mulai dibentuk, dekorasi sudah siap dan makanan untuk besok akan menjadi istimewa. Live band sudah siap menyanyikan beberapa lagu request dari gio. Mereka berlatih. Kami semakin sibuk.
Tanggal 15 februari, pukul 07.00 pagi sehari sesudah valentine. Sekitar 14 jam sebelum acara.

“bang, kalo harinya istimewa, kenapa bukan hari valentine kemaren bang?” tanyaku pada gio.
“hari istimewa kan bisa di buat, setiap hari itu menurut saya istimewa loh..”

Dan jawabanya yang lagi-lagi sederhana membuatku tersenyum dengan lega. Mungkin gio tidak istimewa, dia seorang laki-laki yang bisa dengan latar belakang keluarga yang juga biasa, namun laki-laki baik ini pantas di sebut sebagai gentleman. Caranya memperlakukan perempuan, benar-benar ku kagumi.
Pukul 19.00 semua sudah siap. Gio pergi untuk menjemput perempuan itu, namanya tasya. Kami menunggu, rencana sudah siap dan pelaksanaan akan berjalan sesuai keinginan gio. Restaurant sudah dipenuhi dengan teman-teman gio dan tasya, semua bertanya-tanya mereka berfikir gio ulang tahun hari ini.
Tak lama kemudian gio dan tasya datang, mata tasya ditutup dengan kain putih. Tanya cantik sekali, kulitnya putih, tubuhnya tinggi ramping berlekuk bak model, wajahnya cantik. Tasya memang wajar dikagumi.
Lilin-lilin menghiasi seluruh sudut restaurant, 999 bunga mawar merangai nama tasya di kolam renang, balon-balon berwarna lembut menghiasi atap-atap dengan cantik, alunan lagu live band mulai bersenandung.
Ketika penutup mata tasya dibuka, tasya tersentuh dan hanya diam sembari melihat sekeliling. Dari depan pangung gio berjalan menuju tasya, mengengam erat satu kuntum terakhir mawar merah. Tasya terpanah.

“Saya ga pernah berharap banyak dari sekedar senyum kamu ketika kita pulang bersama, dari sekedar melihat kamu dari jauh ketika kamu sibuk dengan teman-teman kamu. Saya ga sehebat teman-teman kamu yang luar biasa, yang punya segalanya. ayah dan ibu saya bukan dari kalangan mentri seperti keluarga kamu. Tapi saya ga akan berhenti buat kamu menoleh untuk sesaat ke saya, mungkin saya ga tau diri, mungkin besok satu kampus akan menertawakan saya. Ga masalah, saya udah mikir ratusan kali untuk hari ini, nabung lebih dari setahun buat hari ini, diem-diem merhatiin kamu dari jauh, mungkin saya jadi stalker kamu. Saya ga berharap di terima atau lebih, setidaknya kamu tau”
“Tasya.. saya jatuh cinta sama kamu, sejak di hari kuliah pertama kita waktu pertama kali kamu kasih minuman ringan, waktu itu saya di kerjain kakak-kakak senior. Saya ga akan pernah lupa senyum kamu, yang sampe saat ini selalu jadi semangat saya no satu. Tasya, ini udah lebih dari satu setengah tahun saya jadi orang bodoh di balik layar. Saya jatuh cinta sama kamu..”

Seisi restaurant yang tadi ramai oleh pendapat seketika sunyi, di antara kagum atas keberanian gio, atau meremehkan. Tapi malam itu, restaurant kami seakan hidup. Semuanya masih menunggu jawaban tasya, tasya masih diam memandang gio dengan sangat lama.
Tak lama gio mengerti, gio menyerahkan bunga mawarnya dan mulai berbalik berjalan pergi..


“tunggu!” tasya menghentikan.
“terus..? jadi kalo kamu jatuh cinta sama saya, gue harus ngapain? Kamu bahkan ga bilang yang lainnya gi.. gue nunggu buat kata-kata terusan”.
Gio tersenyum, memandang tasya dengan pekat. “saya sayang kamu non, saya mau kamu jadi pacar saya, walaupun saya selalu mikir itu mustahil tapi seluruh keberanian saya buat hari ini bukan main-main. Ini pertama kalinya dalam hidup saya, saya merasa segini takut”.
“gue mau. Menurut gue, ga ada yang sempurna di dunia ini gi, dan dengan kamu sebegitu jagain gue dan sayang sama gue. Itu udah cukup.”
“ayo kita pacaran gi..”

Semua bertepuk tangan, tidak ada lagi yang mencibir gio dari belakang. Semuanya kangum, kata-kata tidak ada yang sempurna dari tasya menjelaskan semuanya. Gio memeluk tasya dengan erat, senyum tasya benar-benar cantik malam itu. Malam terus berlanjut, acara belum selesai. Gio bernyanyi untuk tasya, semua orang bersorak, tasya malu-malu dan menikmati malam yang indah.
Dari jauh, gio tersenyum padaku..
“Terimaksih dek..”.
                                                                                      -La Nina el Lila story

Sabtu, 01 November 2014


La nina el lila
                  The last story


 Kami menyajikan hal-hal sederhana. Seperti cinta, harapan, pertemuan, kebahagiaan singkat, airmata perpisahan dan sebuah akhir yang indah. Restaurant classic dengan konsep yang lembut dan nyaman. Kami siap melayani permintaan aneh dan luar biasa ketika hari-hari luar biasa datang pada kehidupan anda! Kami memiliki ide-ide super luar biasa untuk moment-moment yang tak pernah terlupakan seumur hidup dengan taburan tawa dan campuran kebahagiaan. Kami ada untuk melayani dan memberikan sentuhan akhir pada kebahagiaan anda pada hari-hari esok. Cinta adalah hal yang utama bagi kami, memberikan kebahagiaan adalah visi kami, dan cerita baru adalah motto kami. Selamat datang di la nina el lila, the last story.

Jumat, 24 Oktober 2014

Aku bahagia, aku sangat bahagia..

Hari ini kamu cantik. Gaun putih pajang yang teruntai disepanjang jalan yang kamu lewati, bungga yang kamu genggam erat, dan senyum yang mengembang tidak hentinya itu. Kamu harus bahagia..

     Ternyata, kita tidak mengikat janji bersama disini. Tenyata bukan aku yang mendampingi kamu disana, mengandeng tanganmu yang mungil. Ternyata janji tidak selamanya bisa ditepati. Tidak. Aku tidak menyesal, karen kamu tidak harus menunggu seseorang sepertiku lagi.

     I hope he bought you flower,  i hope hold your hand
     give you all his hours then he have the chance
     take you an every party and remember how much you love to   
     dance..
      now my baby dancing, but she dancing with another man..
    
     Ini hal terakhir yang bisa kuberikan cantik, suaraku di penghujung pestamu. Kita berjanji bahwa hari kemarin dan kemarin adalah masalalu dan esok kita akan berbeda dari hari ini. Kukira, aku akan butuh waktu yang lama untuk itu. Aku yang membuang kebahagiaanku, layaknya tak bernilai.

     Kamu terdiam, memandangku dari tempatmu duduk dan selebihnya orang-orang yang tidak mengerti dan berdecak kagum dengan suaraku. Dia, tersenyum padaku. Penggantiku yang duduk di sampingmu.

Kembali ke dua tahun lalu..

     "Maaf mas, ini" katamu sembari memberikan plester luka untukku.
     "Saya ga pesen itu, kopi hitam" kataku menolak
     "Bukan gitu mas, tangannya berdarah" menujuk kepada tanganku
     Dan dari sana semua dimulai, ketika pertama kali kamu mulai memperhatikan luka goresan yang sedikit itu, hingga kamu mengobati setiap bagian dan luka di dalam diriku.

     Kita menjadi dekat sejak hari itu. Kita berbagi rahasia, berbagi hoby, saling mengenalkan dunia kita masing-masing. Untuk pertama kalinya, aku bukan aku, aku menjadi kita. Kamu supel, hangat, penuh pengertian, kamu tempat yang tepat untuk tinggal dan bertahan dari segala hujan dan angin yang datang berhembus deras.

     Dan aku mulai serakah memilikimu. Aku ingin seluruhnya, sepenuhnya, kita tidak harus berbagi. Segalanya harus menjadi milikku dan kamupun tidak bersedia di genggam erat tak bernafas, di batasi, tak diberi ruang gerak.

     "Apa yang salah? Kenapa kamu kayak gini? Kita ga bisa berhenti sekarang!!" Teriakku waKtu itu.

    "Saya bukan saya ketika bersama kamu. Kita hanya sebutan, yang ada hanyalah kamu dan hidup kamu. Saya menjadi orang asing yang bahkan hati kecil sayapun tidak kenal. Saya terjerumus jauh dan semakin jauh. Kamu biarkan saya sendirian terasing, kamu ikat saya kuat-kuat namun seakan saya udara yang membuat kamu bernafas".

     "Saya masuk ke kehidupan kamu. Menjadi biasa dengan teman-teman elite kamu. Belajar kesetiaan, belajar menjadi profesional, belajar bekerja dan mendapatkan lebih banyak uang. Saya bahagia ketika belajar mengenai dunia yang baru saya ketahui, dengan gemerlap barang mewah, dengan pembicaraan bermakna, dengan orang-orang yang tidak biasa saja"

     "Tapi.. lama kelamaan saya semakin seorang diri, semakin kesepian, semakin menjadi seseorang yang dulu sangat saya benci. saya lupa rasanya bahagia tanpa upah, tetawa dengan lepas, membicarakan hal-hal bodoh, berteman dengan seisi dunia, dan kamu membiarkan saya sendirian disana".

     "Saya terus berfikir melakukan apa dan bagaimana, saya selalu takut menjadi ketinggalan jauh dibelakang, saya ingin diakui hingga membusungkan dada dan menjadi seperti orang yang berbeda adalah segalanya. Dan itu salah. Itu bukan saya"

     "Saya lupa, bahwa saya hidup untuk sebuah kebahagiaan. Saya terlalu sibuk dengan menjadi sepadan dengan kamu yang memiliki segalanya yang sempurna"

     "Mungkin bukan saya yang kamu cari, bukan saya yang tepat untuk kamu. Bukan saya yang bisa mengisi hari-hari kamu karena saya ga mampu menarik kamu untuk melihat atau bahkan menyentuh dunia saya. Yang sederhana, yang teduh, yang bahagia.."

     "Biarkan saya menyerah. Saya ingin jadi saya yang dulu, yang masih penuh dengan kebahagiaan saya yang sederhan. Lepaskan sayaa.."
  
      Lepaskan saya.. yang hingga saat ini masih terus tergiang di telingaku, dengan jelas. Dan bodohny saya dengan arogansi hanya berteriak marah dan membiarkan kamu pergi. Lalu menjadi hancur sesudahnya.  Bodoh.

     Saya naik jauh dan lebih jauh kepuncak. Memiliki dan meraih banyak hal, namun menuju puncak kamu tidak bisa mendaki berasama, seorang diri. Hingga aku semakin dan semakin menjadi sepi lalu kamu dan hanya nama kamu yang tak berhenti mengisi setiap mimpi di tidur malamku, setiap doa-doaku untuk kesempatan kedua. Hanya kamu. Dan tiba-tiba, sebuah undangan putih dan cantik dengan pita biru sampai kepada apartmenku. Kamu sudah benar-benar pergi.

Kembali ke pesta..

     Riuh seisi ruangan memecah lamunanku. Tawa, obrolan, canda, semua orang tampak bahagia. Kamu berjalan menuju arahku, tersenyum dengan manis dengan kaki-kaki mungilmu, memberikan tanganmu untuk ku sambut. Dan kulakukan.

    "Apakah kamu harus cantik hari ini?" Kataku sembari berdansa dengamu.
    "Selamat datang ke pestaku.." katamu dengan senyum.
     "Pria itu adalah saingan terberat dalam bisnisku, beraninya kamu!"
     "Dia suamiku sekarang, baiklah padanya ya.."
     "Apakah dia sebaik itu? Hingga harus dibela sekarang? Ayolah, aku pata hati sekarang, setidaknya katakan sesuatu yang mengiburku"
     "Aku bahagia.. aku sangat bahagia"
     "Itu cukup, selamat cantik" kataku dengan hati lega,
     "Temukan kebagiaanmu sendiri dan jangan biarkan dia sendirian ya.."
    
     Dan malam itu, adalah akhirnya.
     Entah esok atau hari ini, atau kapan hari itu tiba.. aku juga akan bahagia seperti kamu..

    

Kamis, 28 Agustus 2014

Pertama

     Aku percaya bahwa kita dipertemukan oleh Allah dengan cinta, dilengkapi dengan kata bahagia dan diperindah dengan takdir.
     Yang kukira dan sampai hari ini kuterawakan tak henti-hentinya dalam hatiku adalah bahwa aku orang bodoh yang tak sebahagia itu.
     Aku berdoa kepadaNya bagi seseorang yang akan datang dan mengetuk pintu hatiku lalu bersedia tinggal, berulang kali. Dan Allah adalah maha dari segala maha untuk itu.
     Menghadirkan sesuatu yang amat luarbiasa untukku, secangkir pennuh kebahagiaan yang sudah datang mengetuk pintu hatiku dan bersedia tinggal untuk waktu yang lama.
     Namun aku menjadi takut, menjadi khawatir, merasa bahwa ia akan merengut segalnya. Sepi yang selama ini ingin ku usir jauh, kenyamanan dan kebebasanku seorang diri, dan diriku. 
     Aku terbebani dengan cintanya, yang utuh, yang segalanya, yang ia berikan seutuhnya padaku. Aku takut memegang erat sesuatu yang tak kukenal baik, mendekap sesuatu dan mungkin akan membuatku kehilangan yang lain, aku takut memulai hal yang tak pernH terjadi sebelumnya. Ia terlalu baru, hingga aku tak berhenti berfikir.
     Haruskah dia, bagaimanakah, apakah. Kukira cinta tak semudah itu, yang kumengerti dan menjadi hal baru adalah bahwa cinta terkadang membuatmu merasa terbebani. Ketika ia melakukan segalanya, memberikan seutuhnya, dan menjaga sebaik-baiknya dan dirimu tak sebaik itu untuk selalu pada garisnya.
     Aku menjadi khawatir dan takut seorang diri. Apakah dia akab baik-baik saja, apakah aku akan terluka, selalu penuh dengan pertanyaan yang kutanyakan berulang kali kepada hati kecilku.
     Aku takut dia mengikatku dan tak lagi membiarkanku terbang kemanapun ku mau, aku takut dia akan menjadi sangat penting bagiju hingga aku tak bisa bernafas tanpanya, aku takut ketika semua dan segalanya telah kuberikan aku menjadi hancur, terluka dan kecewa. Aku hanya takut,
     Hambamu yang si bodoh ini sangat bahagia Tuhan, lebih dari apaoun itu.. teruslah lindungi hamba. Jangan biarkan langkah hamba menjadi salah.
     Jika hal ini adalah benar, maka biarkanlah menjadi indah dan mengalir sedikit demi sedikit dan mengisi dengan sendirinya..
     Jika hal ini adalah salah, maka biarkanlah menjauh dan terbang hilang perlahan dan perlahan namun tetap meninggalkan bekas yang cantik.
     Lalu pertemukanlah dengan hal yang indah dan benar itu dariMu..

Semu

Sebagai seorang yang tak punya impian,
Tak punya tujuan,
Tak punya rasa, seperti aku..
Masih layak kah untuk sebuah mimpi?
Ketika rasa kecewa dan sakit sudah mendarah daging,
Ketika menunggu tak lagi tehitung waktu,
Ketika rasa tak lagi jadi rasa,
Hanya hilang.. dan berhembus pergi..
Sebagai seseorang yang telah mati namun bernafas,
Masih layakah untuk kata bahagia?
Untuk secercah cahaya?
Untuk sepercik harapan?
Bahkan ia tak lagi berasa, tidak lagi peduli
Ahh.. sudalah..
Baiklah lakukan,
Terserahlah..
Iya kah?..
Haruskah aku peduli?
Untuk seseorang yang bahkan tak mengerti cara menjadi bahagia,
Layakkah untuk bertahan?
Layakah untuk sebuah kesempatan?
Layakkah untuk perubahan?
Bahkan ia sudah membatu,
Bahkan ia berenti merasa,
Ia menyerah untuk mengejar,
Mungkin lebih baik diam dan meyaksikan,
Mungkin lebih baik duduk di pinggir dan berharap kecipratan,
Mungkin lebih baik tak harus mengulangi rasa sakit yang sama,
Untuk seseorang yang menyerah dengan meronta dan menjerit meminta perhatian,
Masih layakkah menunggu untuk kasih sayang?
Yang wajar,
Yang seharusnya,
Yang sama,
Yang dialami semua orang,
Dan ia tidak..
Dia menjalani, dia hanya berjalan maju namun ia tidak menuju
Dia hanya bertahan, sekuat tenaga
Dia hanya mencoba untuk diam, untuk baik-baik saja, untuk bersikap biasa
Dia hanya mencoba menjadi normal, hanya mencoba menjadi bahagia,
Jika lelah datang maka ia akan beristirahat,
jika sakit datang maka ia akan menahan,
jika iri datang maka ia akan berdoa, nanti ada waktu untuk semua itu
Jika ia seorang diri, maka dia akan bercerita.. seorang diri, berteman sepi,
Sebagai seseorang yang hanya menangis hingga jatuh tertidur, layakkah untuk bahagia..? Sama seperti setiap orang yang merasakanya..?

Hitam putih

Manusia itu konyol, Berbuat kesalahan yang berulang kali namun tetap berharap dimaafkan. Manusia itu egois, ingin didengarkan, ingin diperhatikan, ingin segala keinginannya dipenuhi namun tak mau berusaha keras.

Kami takut kehilangan namun meletakkan harta berharga disembarang tempat. Membiarkan perhatian mengambang terbang dan jauh hilang tapi merintih untuk ditemani. Kami takut menjadi sendiri, namun mendorong pergi orang-orang yang dianggap tak terlihat dan remeh.

Kami membagi pandangan  kepada seseorang dengan fikiran jahat, kotor dan kejih namun tak ingin diperlakukan tak adil dan menjerit untuk kesetaraan. Kami mendekat untuk meminta belas kasih, namun meninggalkan ketika merasa hidup cukup bahagia.

Kami berbohong dengan alasan bahwa itu hanya akan terjadi sekali, namun era mendorongmu melakukannya terus-menerus dengan alasan "ohh.. semua orang melakukan ini" . Kami mencari obat atas rasa sakit, dan lupa akan rasa sakit ketika sembuh lalu kembali terluka.

Duniawi adalah hal-hal membangakan bagi kami, penampilan, harta, kedudukan seakan kau akan menginjakkan kaki di surga jika memiliki segala itu. Kebanggaan, ketika posisi dan segalanya diraih dengan mudah, lalu malu, tersingkir dan lesu ketika jatuh.

Kami saling menyakiti dan bertanya kepada yang lain kenapa seseorang lain menyakiti seakan itu adalah hal biasa. Kami munafik, kebaikan adalah topeng tercantik yang bertahta emas berlian didepannya namun semua orang tau dan mereka tetap percaya.

Kami berlaga sok pintar, paling benar, segala tau, dan berpura-pura bahagia. Demi menunjukan pada pesandiwara lain bahwa "heiii!! Hidupku sempurna, bahagia.. irikah kamu?" Dan yang lain akan menjadi sipeniru.

Manusia terus melakukan kesalahan, terus menyakiti, terus mengabaikan dan terus meronta seakan dia paling tersakiti dan terluka. Namun mereka tetap tersenyum, namun mentari selalu bersinar setiap pagi, terik dan panas tak jadi alasan untuk pergi berjuang melewati hari dan batas kemampuan. Namun mereka selalu mencoba, selalu mencari kata "bahagia" selalu ingin menemukan sesuatu tentang "cinta".

Mereka sakit, mereka luka, mereka hancur, mereka menjadi debu namun hari esok tetap akan ada hingga mereka tak berhenti untuk berjuang, tak berhenti untuk bernafas, tak berhenti untuk berdoa untuk percaya.. bahwa Tuhan itu ada, bahwa hidup itu adil, bahwa selama kita terus berjuang dan tak lelah berdiri kokoh, bahagia akan datang tanpa di jemput paksa atau dirampas dari orang lain. Kebahagiaan akan menyapa dan tinggal dengan segala kenikmatannya, bahwa bahagia akan menjadikanmu layak untuk itu.

Ikatan, sebatas itu saja

Aku menghabiskan waktuku untuk membayangkan bahagianya menjadi ini dan itu, menjadi sempurna. Kata orang bahwa untuk menjadikanmu sempurna hal pertama yang kau harus lakukan adalah bahagia atas apapun milikmu dan tak kulakukan.

Aku tak ingin menjadi iri, telebih lagi ketika sesorang tampak bahagia dengan rasa sakit dan penyesalannya. Kenapa? Bagaimana? Mereka tampak menikmati menjadi seorang diri, menjadi terluka. Aku seperti ikan yang hampir mati karena kekurangan air yang pada kenyataannya dipenuhi dengan air. Kenapa? Bagaimana bisa?

Apakah bahagia menjadi dirimu? Melakukan kehendakmu, bahagia seorang diri, bebas seorang diri, menjadi apapun yang kau mau? Tidakkah kau berfikir untuk membahagiakan? Jika kau berhenti sejenak, hanya sejenak berfikirlah untuk sesuatu yang berbeda. Menjadi lebih dekat misalnya, berbagi bahagia misalnya, atau kasih sayang maka akan lebih baik.

Kau menjadi hebat seorang diri, kau menikmati dunia seorang diri, dan kau bahkan tidak peduli ketika semua menjerit akan sakit disekitarmu. Aku tidak mengaharapkan impian palsu, seperti mencintai dan kasih sayang yang lebih, namun dalam doaku kau selalu ambil bagian.. semoga dia bahagia, semoga aku juga bisa membuatnya bahagia, sesuatu seperti itu.

Hanya sesekali, bersikaplah manis. Berfikir membahagiakan, memberi, membagi bebasmu, membagi duniamu, perkenalkan aku pada duniamu hingga tak harus kau seorang diri yang bahagia. Hingga aku tak harus berteman seorang diri. Apakah kita adalah kita? Kurasa hanya ada kau.

Jika itu baik untukku, maka aku akan berdoa bahwa kau juga akan merasakannya. Jika itu bahagia buatku, maka aku berusaha dengan sangat suatu saat bisa membaginya. Dan kenapa kau tidak? Kenapa kau berbeda?

Jangan melakukan kesalahan, jangan jatuh, jangan menjadi terluka, jangan hancur berkeping-keping seperti orang lain, jangan sakit. Jika itu terjadi, maka segalanya akan musnah. Hatiku, harapku, percaya, segalanya. Lalu jangan dilakukan.

Kenapa kau bahkan tak bersuara, tak bernada? Hening seorang diri, dan selalu seorang diri. Harusnya kita berbagi, harusnya kita menjadi dekat, seperti yang lain atau seperti yang kau lakukan kepada orang lain. Kenapa denganku berbeda? Aku tak mengenal, bahkan kau tak mengajari hingga aku masih tetap di sini. Sini yang ini.

Alangkah baiknya jika aku bukan aku, jika kau bukan kau. Jika tidak ditakdirkan untuk disini, jika aku tak merasa begitu sepi. Tapi itu tidak terjadi, tapi kau disini dan aku juga begitu, setidaknya bukankah kita bisa berusaha membangun sesuatu seperti kasih sayang.

Harapan yang selalu mengambang dan hilang di udara itu, perlahan hanya hilang terbawa angin. Semakin jauh dan semakin lama, aku hanya menyadari satu hal. Aku tak diciptakan untuk mencerima rasa itu darimu, dari tempat ini.. hingga aku menyerah daripadanya. Dewi lestari berkata "aku percaya bahwa, manusia tercipta memang dirancang untuk terluka".

                               Aku hanya bisa menatap punggungmu ketika kau pergi,
                                                   Berharap kau bahagia dan cepat kembali..
                                               Kita hanya memiliki ikatan, sebatas itu saja.

Rabu, 16 Juli 2014

Cinta bodoh II

Aku selalu penasaran dengan gadis ini. Seorang perempuan yang selalu sibuk dengan dunianya, seorang teman dekatnya pernah berkata padaku "jangan berharap hatinya terbuka, kamu gak mempan!" Dan itu menjadi alasanku untuk mencoba dan ingin tau lebih banyak.

Aku mendatangi kursinya, dia sibuk dengan tugasnya. Haha ayolah bahkan dia hanya mencontek, kenapa harus serius begitu? Aku memutar otakku, berfikir alasan apa yang akan kukatakan ketika berada tepat didepannya dan penyataan bodoh keluar begitu saja penanda akalku mulai lumpu dan buntu. "Ada pena lebih? Boleh aku pinjam?" Bahkan aku mengengam sebuah pena saat itu, iya.. aku mulai gila.

Wajahnya yang kecil, dan matanya yang coklat membuatku seketika membatu dan kehilangan dayaku. Dia sederhana dan telihat sangat teduh, seperti seorang ibu. Ketika kukatakan hal bodoh itu, dia terdiam kaget dan tak lama "cuma satu!" Katanya dengan wajah yang polos. Manis sekali.

Beberapa minggu kemudian wali kelasku memangiku ke kelasnya, harus ada perbaikan denah tempat duduk kata buk ros dan memintaku melakukannya. Bisa dibayangkan yang kulakukan? Kutempatkan dia tepat disebelahku, karena kami adalah orang asing yang baru mengenal kubiarkan sahabatnya duduk tepat didepannya sebagai hadiah yang membuatnya nyaman.

Dia kaget, ketika buk ros membacakan denah dan dia pindah di sebelahku. Wajahnya yang polos masih malu-malu, "tenang saja" pikirku dalam hati, tak lama lagi kita akan dekat. Kamu akan merasa amat nyaman disini, dan aku bisa mengenalmu lebih dalam.

Hari-hari berlalu. Dia membuka hatinya sedikit demi sedikit untukku. Memberi tau bahwa ia suka diperhatikan, bahwa ia benci ditinggalkan, bahwa ia gadis manja yang tidak suka dibandingkan. Dan aku tak akan kalah! Aku akan menjadi tuan muda egois. Kami selalu bertengkar, hal-hal yang paling kecil hingga sesuatu yang tidak penting, kami tak pernah bicara dengan nada yang biasa. Namun, aku tak pernah sabar menunggu hari esok datang, dan esoknya lagi datang. Tak sabar melihat wajahnya yang mungil, tak sabar mendengar ocehannya dengan volume yang tak bisa lebih keras, tak sabar bertengkar dan membuat wajahnya cemberut ngambek. Itu menyenangkan untukku, dia manis sekali.

Dia akan selalu duduk disana, membaca buku yang entah apa dengan keseriusan 100%. Sesekali dia akan melihat kearahku dan teman-temanku, lalu aku akan pura-pura tidak menyadarinya dan ketika pandangannya kembali tertuju pada buku itu, aku akan dengan detail memperhatikannya. Rambutnya yang ia biarkan tergerai, bibirnya yang tipis, kulitnya yang putih salju, sikapnya yang seperti anak berumur lima tahun, lucu. Hari ini dia mengenakan sepatu warna merah, aku akan menunggu saat guru piket melihat sepatu itu lalu menyitanya hingga pulang sekolah dan dia akan mondar mandir dengan kaki telanjang, kakinya sangat halus dan putih. Yang paling kusukai adalah ketika mulut kecilnya mengomel tak jelas ketika itu terjadi, dia semakin menjerat seluruh hatiku. Aku sangat menyukainya.

Kupandangi bibirnya yang berwarna pink dan tipis ketika dia mulai menceritakan sesuatu padaku, seperti anak berumur lima tahun yang bercerita mengenai mainan favoritnya, tepat seperti itu. Bisa kau bayangkan? Aku selalu menikmati saat-saat ini. Dalam hati aku berdoa, jangan cepat berakhir saat seperti ini, cepatlah datang hari esok, kamu harus masuk sekolah setiap hari dan.. jangan merasa sedih karenaku.

Aku punya sedikit masalah dengan keluargaku, ketika kusadari dia bertanya "ada yang salah? Mau cerita? Aku pendengar yang baik" dengan wajahnya yang bulat munggil. Aku mulai membagi duniaku, dia memang pendengar yang baik. Aku semakin membutuhkannya, semakin tak ingin dia jauh dariku tapi rasa gengsiku tak pernah mau mengakui sesuatu. Aku mencintainya.

Aku tak akan menyatakan apapun, aku tak mau mengalah dan menyerah, aku ingin dia bersikap seperti dia membutuhkanku. Aku ingin dia yang datang padaku dan meminta hatiku, karena aku special. Kuceritakan tentang mona, pacarku yang pertama yang kupacari hanya karena mona cantik. Dia tersenyum dan terlihat asik mendengar ceritaku, bahkan dia mungkin tak menyukaiku. Kuperlihatkan dia pada manda, perempuan populer di sekolah yang menjadi impian setiap laki-laki dan kudapatkan dengan mudah. Dia hanya merengut sesaat lalu mengatakan "berhenti main-main mereka benar-benar menyukaimu" dan hatiku kecewa. Kuperkenalkan dia pada ranti, gadis baik-baik yang cukup kusukai. Ranti terkenal dikalangan guru, seorang ketua osis yang baik, dan teman yang ramah. Dia terlihat bahagia dan mengucapkan selamat padaku "setelah gonta ganti, akhirnya ketemu juga yang pas! Jangan dilepasin kalo nyaman ntar nyesel". Katanya saat itu.

Aku kehabisan akal. Kami jadi lebih sering bertengkar, dan ini tidak lagi manis. Entah mengapa aku benci dia seperti itu padaku, aku ingin menghukumnya karena membiarkan aku bahagia dengan gadis lain. Dia menukar tempat duduknya pada orang lain, di duduk di samping sahabatnya dan meninggalakan aku. Aku lebih murka "siapa dia! Aku punya segalanya, pergi sana ga penting!" Amarahku dalam hati.

Ketika berhari-hari sudah dia tak duduk di sampingku, aku merasa gila. Ingin kutarik lengannya ketika berjalan melaluiku dan berkata betapa aku sakit menunggu seperti ini. Aku tak ingin ditolak dan menjadi malu ketika kukatakan aku menyukainya karena kukira dia tidak memerlukanku. Lebih dari itu, dia hanya gadis yang sangat biasa, tidak populer, tidak dikenal, tidak menonjol dan dia tidak secantik mantan-mantanku. Aku akan malu pada teman-temanku, akan malu pada banyak pasang mata yang menatapku aneh. Namun dia kusukai lebih dari segalanya, lebih dari mantan-mantanku, lebih dari teman-teman dan sahabatku. Aku sangat menyukainya.

Karena terkadang ego mengendalikamu dan membuatmu kehilangan banyak maka seperti itulah manusia yang tak pernah berhenti membuat kesalahan. Kami tak lagi saling bertegur sapa, kita asing. Ketika teman-temanku membicarakan dia yang membuatku menjadi lebih pendiam, mereka mencoba membuatku tersenyum dan sedikit bersemangat. Kukatakan dengan biasa yang membuatku amat perih "lumayan buat temen curhat, sekalian amunisi buat tugas". Aku tak bermaksud begitu, kami hanya bergurau dan kukira itu melewati batas.

Ketika kusadari, dia berdiri di depan kelas ketika kami berbicara. Mendengarkan. Tak pernah kulupakan ekspresinya saat itu, kukira aku sudah menyakiti seseorang yang sangat ku sanyangi dengan sangat dalam. Aku berjalan keluar hendak mengatakan sesuatu, seperti "maaf", "cuma bercanda" atau "heii!! Jangan serius amet ah!" Namun aku membatu. Dia tersenyum dengan sangat manis dan ramah, dan seketika kusadari bahwa aku akan kehilangan besar.

Sesuatu yang paling kumengerti darinya adalah dia tidak melepaskan sesuatu dengan amarah atau kebencian, dia akan tersenyum dengan sangat baik membiarkan hal itu pergi dengan sendirinya. Dia tidak memenangkan pertarungan dengan bertarung tapi membiarkan lawan menjadi tesudut dengan sikapnya yang biasa dan kalah dengan sendirinya. Dia berbeda.

Saat kulihat senyum itu maka aku sudah habis, sudah hancur. Aku tak bermakna apapun lagi dimatanya. Dia adalah seorang yang berhati lembut, tetapi bukan seorang pemaaf yang baik. Dan itu berarti, dia sudah membuangmu jauh dari kehidupannya ketika kesalahan yang tak termaafkan itu kau buat.

Semua sudah berlalu, hari ini adalah malam perpisahan kelulusan kami. Dia sangat cantik malam ini dengan gaun merah muda itu, tersenyum dengan sangat ramah kepada setiap orang. Apakah dia bahagia? Aku harap begitu, aku hanya ingin dia bahagia.

Dia berjalan menuju ke arahku, dan sekarang telat dihadapanku. Tangannya yang mungil mengambang di udara, menungguku menyambut. Kami hanya bersalaman, dia tersenyum lagi dengan manis. Untuk mengakhiri kisah ini. Kudengar dia akan pindah keluar negri karena promosi pekerjaan ayahnya. Kami mungkin tak akan bertemu lagi.

Aku masih punya sedikit waktu, aku menuju kelas kami. Tempat dimana kisah ini pertama kali dimulai. Duduk di bangkuku dan membayangkan dia yang sedang mengomel disampingku. Kutuliskan sesuatu di bangkunya, biarkan dia tetap berada di situ dan menjadi tempat yang selamanya special di hatiku. "Cinta pertamaku, teta..".

             
                                                                 Semoga kita bertemu lagi,
                                                                 Cintaku yang tak berani kucintai..

Senin, 14 Juli 2014

Cinta bodoh

Hari ini hari kelulusan kami. Aku masih memandangi punggungnya dari jauh, melihat dia yang sibuk dengan bercerita tidak jelas dengan teman-teman satu genknya. Diam-diam aku berdoa dalam hati, hari ini akan jadi kali terakhir aku menunggu dan memandang dengan cara ini. Kamu akan kubiarkan pergi sejauh kakimu sanggup melangkah dan hidup dengan baik..

Hari ini akan jadi hari terakhir aku mengenang betapa manisnya kamu menyapa dan unik rasa sakit yang kamu selalu tabur. Dalam diamku, dalam sunyiku, dalam rahasia hatiku yang paling dalam. Bagaiman aku diam-diam bahagia disampingmu, bagaimana diam-diam airmataku jatuh karena sikapmu, bagaimana diam-diam aku menjadi bodoh jika ber-urusan dengan kamu dan hatiku.

Cinta bodoh yang mengenalkanku dengan rasa benci akan cinta, untuk yang pertama kalinya. Yang kuingat dalam memoriku, hanya bahwa kamu seseorang yang berisik dan berada dikelasku. Tanpa sering kuperhatikan, tanpa pernah benar-benar kusadari kehadiranmu sampai saat hari itu. Ketika tidak sengaja aku menjadi jatuh dan bodoh untuk pertama kalinya.

Ketika dengan tidak sengaja Tuhan memperlihatkan dirimu secara jelas dan sederhana di hadapanku, kamu hanya datang dan berkata sesuatu seperti "ada pena lebih? Aku boleh pinjem?" Dan aku jatuh karena sosokmu yang luar biasa menarik saat itu. Itu adalah saat dimana aku berfikir bahwa dunia baru akan segera aku datangi menggantikan duniaku yang sunyi, aku akan memiliki sesuatu yang membuatku menunggu.

Tak butuh berapa lama kami menjadi semakin dekat, sepertinya Tuhan mendukungku untuk sebuah kisah sederhana ini. Tiba-tiba dia berpindah duduk disebelahku, tiba-tiba kami menjadi akrab melalui pertengkaran, tiba-tiba aku merasa hari-hariku menjadi manis. Aku yang pemarah dan dia yang tak pernah peduli, aku yang manja dan dia yang egois. Kami tak pernah cocok untuk apapun dan segalanya akan selalu di akhiri dengan pertengkaran. Namun kami akan selalu bertemu setiap hari, namun dia tidak pernah absen meminta pendapatku, namun dia tidak pernah lari atau pindah untuk duduk dengan seseorang lain yang lebih tenang.

Ketika kufikir semua akan baik-baik saja dan hatiku selalu tersenyum malu dan berkata cukup. Ternyata tidak, hatiku mulai serakah dan meminta lebih, lebih dari sekedar sebutan "teman terbaik" atau "sahabat" baginya. Aku ingin dianggap lebih, ingin menjadi lebih berarti, lebih dari itu. Aku ingin dia membutuhkanku, aku ingin dia menghargaiku, aku ingin dia jatuh hati padaku dan itu tidak terjadi.

Dia bukan seseorang biasa sepertiku. Perawakanya yang tegap, wajahnya yang tampan, kulitnya yang indah, dan pergaulannya membuat sebuah garis perbedaan besar antara dia dan aku. Kami mungkin dekat tetapi dunia kami berbeda, antara dia dan aku selaku ada dinding pemisah yang kokoh berdiri. Aku seorang gadis seserhana yang tidak cantik, tidak kaya, dan dengan pergaulan yang biasa saja.

Aku mulai mencari cara mempertahankannya disisiku diam-diam, membuat dia tetap tinggal di sampingku. Aku menjadi pendengar yang baik untuk setiap masalahnya, aku menjadi konsultan cinta untuk setiap perempuan yang ia kencani, aku selalu berada di sisinya. Tanpa menyadari, hatiku yang sedikit demi sedikit luka dan menjadi perih.

Dia menceritakan gadis-gadis yang menarik perhatiannya dengan antusias, dia menjadi sedih atas segala masalah yang menimpa keluarganya, dan aku di sisinya menjadi obat penenang dan pembuat tawa dan senyumnya kembali. Aku. Kukira semua akan baik-baik saja, selama aku bertahan menjadi seorang bodoh yang dengan sekuat tenaga membantunya dan mempertahankan dia disisiku maka aku akan tetap menjadi bahagia. Itu bohong.

Aku menangis ketika dia mengacuhkanku dan lebih memilih bergaul, dengan teman-temanya yang hebat, aku terluka ketika dia memperlakukanku dengan semena-mena seakan aku tak merasa sakit, aku marah ketika dia bercerita tentang pacar pertama, kedua, ketiga atau apapun itu yang dia miliki. Namun aku berpura-pura menjadi baik, menjadi bahagia bisa menolongnya, bisa membuat ia bahagia dan melukaiku, dan terlihat seperti tak membutuhkannya.

Hingga aku sampai dititik, dimana aku merasa jenuh dengan rasa sakit. Berfikir untuk melepaskan dan merelakan apa yang tak bisa aku miliki atau menjadi milikku. Walau aku berusaha sekuat tenagaku, dia tidak akan menoleh atau melihatku ada. Aku menyerah.

Aku tak lagi terus menjadi pahlawannya, aku bertukar posisi tempat duduk dengan seseorang yang bisa lebih membuatku nyaman, aku tak lagi menjadi pendengar yang baik, kami tak lagi berengkar dan banyak bicara. Aku mengatur jarak dengan perlahan dan mencoba agar tak ketahuan.

Namun hati, selalu punya aturannya sendiri.. aku tak bisa mengacuhkannya lebih dari itu. Hatiku bertarung dengan akal sehatku hingga aku menjadi orang aneh yang tak lagi membuatnya nyaman. Aku menjadi sangat pemarah dan agresif padanya, hingga dia semakin dan semakin jauh dari jarak gappaiku. Kusadari satu hal lain, aku memaksakan sesuatu yang tak bisa kuraih hingga aku kehilangan. Aku bukan lagi pahlawan favoritnya.

Kami menjadi orang asing. Saling diam seribu bahasa, saling menyimpan rahasia, saling tak menyapa, saling tak berkata apa-apa. Aku membuat pernyataan kecil yang rencananya akan kuberikan setidaknya di hari-hari terakhir masa sekolah kami, setidaknya dia harus tau dan aku tak pernah menyesal untuk apapun. Tiga tahun kami menjadi sahabat baik, selama tiga bulan terakhir musnah seakan tidak pernah ada tiga tahun kemarin.

Tetapi sesuatu mengubah niatku. Ketika aku tak sengaja berjalan melewati segerombolan temannya dan dia yang asik membicarakan sesuatu dan membuatku berhenti ketika kudengar namaku ada didalamnya.

"Dia itu lucu, mau di bandingin dengan kara jauh banget kali bedanya. Kok loe tahan lama-lama deket sama dia?" Teman 1.

"Cantik enggak, pinter banget juga enggak, bentuknya aneh.. liat dong penampilannya, ga ada temen yang laen apa?" Teman 2.

"Dia beda kelasnya sama kita, udahan sono maen2 sama tu anak. Kesian di php'n!" Teman 3.

Aku menahan airmataku dibalik dinding, mendengar pernyataan seperti menusuk hatiku dengan ribuan pisau. Aku berdo dalam hati, tolong jangan kamu katakan apapun. Namun kamu menanggapi dengan nada yang biasa dan mudah. 

"Lumayan.. buat temen curhat sekalian amunisi buat tugas!". Katamu dengan mudah. Dan aku hancur.

Cintamu tidak akan cukup untuk seseorang menjadi bahagia dengan perbedaan yang jelas, mereka tidak hanya bahagia dengan cintamu namun kesetaraan dan kelayakan. Aku mengerti tentang permainan dunia, karenamu.

Aku masih diam dan terpanah disana, menahan airmata sekuat tenaga ketika tiba-tiba kamu dan rombonganmu yang hebat berdiri di hadapanku dan memandangiku kaget. Aku akan kalah dan hancur berkeping-keping jika menangis atau marah dihadapan kamu dan mereka saat itu. Aku tersenyum, dengan manis dan ramah. Mereka semua memandangku aneh, dan kamu memadang dengan rasa bersalah yang kotor. Aku hanya belalu dengan kuat. Aku tidak diabaikan, aku tidak ditinggalkan. Aku yang melepaskanmu pergi, aku yang mengabaikanmu dan membuangmu jauh. Kita bukan apa-apa.

Akhir dari masa-masa SMA ini tidak ditutup dengan tawa tapi luka. Aku menguburmu dalam-dalam disana disudut gelap yang tak ingin aku ingat dan aku anggap pernah ada. Sejak hari itu, kita tak pernah lagi saling memandang bahkan kamu tidak pernah mengucapkan kata maaf sekalipun.

Hari ini, adalah hari kelulusan. Aku akan berdandan dengan baik merayakan perpisahan kita, memandang punggungmu untuk yang terakhir, mendengar suaramu yang secara tidak langsung masih menyakitiku untuk yang terakhir dan tersenyum dengan ramah untuk yang terakhir kalinya dihadapamu. Ku katakan, jika aku menjadi marah dan benci dengan jelas maka aku akan kalah, maka yang kulakukan adalah tersenyum dan bersikap ramah seperti tidak pernah ada sesuatu apapun yang terjadi lalu aku akan menang.

Aku masih memegang erat surat itu sampai hari ini, pernyataan. Aku pergi ke perpustakaan dan menyelipkannya pada novel favoritku. Biarkan ia hilang, dan hanya berlalu layaknya waktu berganti. Termakan angin dan terkikis waktu menjadi hanya masalalu.

                                             Selamat tinggal milikku yang tak bisa kumiliki...

Minggu, 22 Juni 2014

Pita

Aku kehabisan kata-kata. Tiba-tiba semua terasa sunyi dan sepi, aku mulai takut dengan sesuatu seperti "kehilangan" lagi dan kukira sudah terlambat untuk menarik dan mempertahankan jalinan itu lgi. Segala sesuatu yang kamu kira akan kamu miliki selamanya atau bertahan disisimu selamanya tidak akan tetap menjadi selamanya, jika kamu membiarkan kedua simpul tak diikat erat maka ketika simpul yang lain ditarik maka semua yang selama ini rapih dan terjaga akan hilang.
Aku tak mengerti bagaimana mencari tahu duniamu, sepertinya aku terlalu sibuk mencari kebahagiaan seorang diri dan aku lupa bahwa seseorang tak selamanya akan menjadi baja bila diabaikan, sepertinya aku akan kehilangan lagi.
Aku bukan seorang teman yang baik, yang akan mendengarkan, memberikan solusi dan membuatmu bangun dan berdiri tegak seorang diri. Bahkan aku tak melakukanya kepada diriku sendiri. Aku hanya manusia naif yang tak kau kenal dengan baik, yang enggkau kira bisa bisa mengisi namun tak bernyawa. Ketika kuungkapkan jangan pergi, maka tidak semua orang akan bertahan dan tinggal.
Engkau salah jika minta diajari dari orang yang bahkan tak mengerti. Aku kaku! Aku membeku! Aku tak tahu caranya membuat hatimu luluh dan menjadi kembali utuh, aku tak diajari untuk bisa seperti itu dan aku sibuk mencari seseorang yang bisa mengajariku mengenai itu. Aku berdosa! aku mengabaikan dan memohon untuk tidak diabaikan. Aku hina! aku memilah dan marah ketika tidak dipilih. Aku bahkan tak layak, dan mencoba menemukan tempat yang layak dengan seribu dan berjuta angan-angan yang pernah pasti. Aku!
Tapi aku takut menjadi sendiri, aku takut kau tidak lagi dibalikku berdiri, berharap dan menjadi bahagia. Aku merasa seperti orang bodoh yang duluan membodohi, dan kau boleh tak percaya "aku selalu meminta Tuhan membiarkanmu selalu jadi bagian dari hidupku entah sampai kapan aku bernafas, seumur hidupku". Dan lucu ketika kukira aku yang dengan sengaja membuang hal itu seiring dengan hembusan angin.
Inilah keahlianku, membuat seseorang pergi menjauh dan marah seorang diri. Aku tak bisa mengajarimu, aku tak bisa menjadi pembimbing yang akan menunjukan jalanmmu keluar dari tempat gelap, terkurung dan sunyi itu, aku nyaman berada di sana, bahkan aku juga tak mampu keluar dari sana, aku masih berdoa untuk diselamatkan, untuk keluar tanpa rasa sakit.
Aku bahkan lupa rasanya bahagia, ketika aku memandang dalam-dalam aku menemukan bahwa aku hanya pura-pura menjadi bahagia, menjadi baik-baik saja. "Jangan menentang arusmu, ikuti saja arah angin yang berhembus dan biarkan ia menjadi" hingga aku kehabisan daya untuk melawan dan mencari. "Jangan kalah! Jangan menjadi sepi!bahkan jangan berfikir kau seorang diri!" Aku bahkan melakukanya dan tak pernah kau atau siapapun pahami.
Aku hanya tersenyum di dalam hati, ternyata bahkan 'kau' menyerah dan lari. Haruskah aku bersiap lagi menjadi seorang diri? Aku yang tak special, tak berasa, tak berwarna. Ia kurasa begitu, jangan ikut menjadi sendiri lebihbaik mencari dan membangun sesuatu yang lain. Bukan aku! Tak bisa kulakukan..
                                                      -Ambigu

Sunyi, sepi dan diammu

Aku masih memandangnya dalam-dalam. Bagaimana bisa seseorang yang kukenal separuh dari hidupku terlihat sangat berbeda sekarang ini, yang ku tahu bahwa dia adalah seseorang yang paling kuat, paling tegar, paling tak tertandingi dan selalu kokoh seorang diri. Namun bahkan menjadi sekuat bajapun bisa menjadi rapuh. 

Kami hanya ngobrol sederhana seperti biasa, sasa adalah sahabat baikku karena kami menempuh pendidikan dengan fakultas yang berbeda jadi sesekali kami saling menghubungi dan berbicara banyak hal. Lebih tepatnya curhat. Aku selalu mengeluh tentang banyak hal, tugas, dosen, teman-teman ku yang penuh tipu muslihat, manusia-manusi dengan wajah-wajah berbeda dan mengenai betapa aku merasa sepi dan hampa. Terkadang dia marah, namun yang seringkali dia lakukan hanya diam mendengarkan. Kalimat sederhana yang pernah kubaca mengatakan "terkadang seseorang yang memiliki masalah tidak memerlukan seseorang yang penuh dengan penyelesaian dan kata-kata luarbiasa, dia hanya memerlukan seseorang yang siap mendengarkan". Kukira itu benar, karena sasa selalu menjadi pendengar yang baik, karena sasa tak pernah mengeluh bahkan ketika kutangisi hal yang sepeleh, karena sasa selalu menjadi sahabatku yang siap ketika aku berteriak minta tolong ku kira dia luarbiasa. 

Ketika seluruh tenagaku hampir habis untuk bertahan dan tetap menjalani hari esok seperti biasa, dia dengan luka yang sudah mengering tetap diam mendengarkan. Hanya dia, tempatku untuk menceritakan segalanya yang bahkan tak berani kuceritakan pada mama. Harusnya gadis seumuran kami sibuk dengan kata bahagia, sibuk dengan kata pacaran, dengan candaan-candaan ala khas anak kuliahan, dengan urakan dan senang-senangnya hari-hari itu. Namun kami terlalu sibuk dengan kata sakit, luka, dan perih. Dia mengajariku untuk tetap menegakkan kepala, berusaha seolah dunia baik-baik saja, seolah-olah kau bahagia hingga yang semua orang lihat dan ketahui bahwa kami baik-baik saja, bahwa kami bahagia. 

Siang itu, aku dan sasa janjian di sebuah restaurant cepat saji. Sasa sangat suka makan, dengan postur tubuhnya yang tinggi dan tegap kita akan tau seberapa banyak porsinya makan. Sasa tak pernah bercerita soal apapun yang berarti, hidupnya seakan selalu baik-baik saja, selain seorang tetangga yang selalu dia impikan dalam mimpinya, yang selalu ia tunggu walau hanya sekedar lewat di depan rumahnya, laki-laki yang ia kagumi bahkan ketika ia tidak pernah dengan jelas memandang wajah laki-laki itu, haha bagiku itu lucu. Namun tak ada yang salah mengenai cinta, dan.. oh iya, hanya satu masalah sasa, tugas kuliah. karena jurusan yang diambil sasa adalah arsitek, sasa selalu berkutik dengan matematika, design ruangan dan hal-hal rumit segala mengenail itu. Hanya satu keluhannya yang amat sangat sering kudengar, tugass.. ohh tugass..!.

Ketika aku memulai cerita kampusku yang kukira datar dan selalu menyebalkan, sasa masih sibuk melahap ayamnya dengan semangat, tenang dan santai. Sesekali kami bercanda dan tetawa, membuat lelucon singkat dan kembali bercerita. Saat kukatakan bahwa aku tidak akan pernah berhenti berdoa kepada Allah dan kusuruh dia juga jangan pernah berhenti berdoa kepada Tuhan-nya, hanya kalimat sederhana yang keluar dari mulutnya. "waktu aku sd kelas tiga, ketika buk rossa bilang ada berapa Tuhan kamu dan aku jawab ada banyak, buk rossa marah na sama aku". katanya. Kami berbeda agama, aku seorang muslim dan sasa seorang khatolik dan kami selalu bersahabat. Saat natalan tiba, aku akan mengunjungi rumah sasa dan berfoto di bawah pohon natal kreasi mahasiswa jurusan arsitek ini. Saat lebaran datang, sasa akan datang kerumahku makan ketupat dan kue biasasaja yang selalu tak pernah lebih enak dari kue-kue yang ada dirumahnya ketika natalan. Mami thesa punya bakat luarbiasa dalam urusan memasak, apapun. Hari itu, baru pertama kalinya aku menyadari bahwa kami memiliki perbedaan dan itu tidak pernah merubah apapun. 

Sekitar beberapa bulan kami tak saling bicara dan mendengarkan, tak saling bertemu dan lagi-lagi bercerita. ada pertengkaran kecil mengenai pesan singkat yang mungkin membuatku salah mengerti. sasa mengirimiku pesan, karena sasa adalah perempuan tomboi. ia selalu mengenenakan kaos kemanapun ia pergi, ketika kukatakan padanya untuk berubah ia mengirimiku pesan untuk mencari baju yang pas untuknya bersama. masalahnya adalah, kami akan pergi bertiga dan akan menjadi cangung ketika mami juga ikut, jadi kukatakan kepada sasa untuk pergi berdua saja dengan maminya yang mungkin lebih mengerti daripada aku.Jadi sasa bisa lebih dekat dan bertukar fikiran dengan ibunya, mungkin itu maksudku. Hari itu, teman-teman sekampusku juga tidak berhenti menelepon untuk mengajakku pergi untuk bermain air. 

Aku menolak untuk menemani sasa membeli pakaian, dan akhirnya aku pergi dengan teman-teman kampusku untuk berenang. saat pulang dari berenang, kulitku gosong terbakar panas matahari dan hatiku lebih panas ketika pesan singkat masuk ke ponselku. 

      "Enak ya berenang, aku juga mau berenang.. pantes ga mau nemenin cari baju ada yang lebih nyenengin sih".

kujawab dengan amarah, 

     "ga ada bedanya sa, jalan sama kamu juga nyenengin sama temen-temenku juga iya, malah lebih happy jalan sama kamu dan aku ga pernah ngangep kamu kayak gitu, jadi jangan ngomong kayak gitu". 


Dan semejak amarah itu, tidak ada pertemuan sejenak atau cerita-cerita singkat lagi. Mungkin sasa marah. dan aku masih sibuk dengan urusannku waktu terus berlalu dan tak kusadari sudah sangat lama kami tak saling menyapa. Hari itu kami sasa menyapa bertanya mengenai keadaan dan seakan tidak ada yang terjadi, kulakukan hal yang sama. kami mulai bercerita lagi. 

Katanya bahwa ia berpura-pura, katanya bahwa ia bukanlah ia, katanya bahwa ia menjadi sangat lelah lalu kali ini kusadari bahwa sasa jauh lebih seorang diri dan kesepian. Sekarang bagianku untuk mendengarkan. 

Sasa takut tidur sendirian di malam hari karena itu sasa selalu tidur lewat dari jam 2 pagi, sasa takut semua orang pergi meninggalkannya, sasa takut jika walau sekuat tenaga ia belajar dengan baik ia tetap tidak bisa menjadi sukses dan hanya menghabiskan hari-hari yang sama, sasa takut menjadi sendirian, kata sasa dia merasa berbeda dari semua orang, ia juga mengatakan bahwa dia bukan orang yang baik namun menyembunyikan banyak hal dan menjadi orang yang baik karena takut ditinggalkan. Sasa tidak sekuat itu.

Kukatakan bahwa sasa perlu lebih banyak teman, bergaul lebih baik, berhenti menjadi dingin dan belajarlah membuka hatimu. Katakan yang ingin ia katakan, lakukan yang ia ingin lakukan, menjadilah bahagia. 

Aku memandang matanya dalam-dalam masih terdiam dan mencoba mencerna. Sahabatku yang kukira selalu baik-baik saja, ternyata tidak pernah sebaik itu. Aku ingin membangunkanya, membuat senyuman di wajahnya, membimbingnya, dan aku selalu berdoa.. hingga akhri waktu dan zaman, entah kapan hari ini dan nafasku berakhir, Allah.. biarkan aku tetap menjadi sahabat baiknya, menemani dan menjadi bagian dari kisahnya.

"Aku titip temanku tuhan, biarkan dia menemukan dunianya, biarkan dia bahagia dengan kenangan-kenangan baik sepanjang umurnya, biarkan dia menemukan seseorang yang mencintainya dan selalu menjaganya, biarkan dia menjadi sukses dan membahagiakan keluarganya, biarkan dia selalu menjadi sahabatku yang paling berharga, bukalah hatinya, jangan biarkan ia kesepian dan seorang diri lagi, kuatkan dia, dan kumohon ukirlah senyum-senyum bahagia di wajahnya.. Aamin".


                                            Selamat ulang tahun ke 20th sasa, bahagialah selalu..

Jumat, 30 Mei 2014

Choco valentine


Sesuatu seperti cinta juga memerlukan takdir dan kisah didalamnya, jika tidak dilahirkan untuk menjadi satu, maka usaha sebaik apapun tidak akan menjadikanmu satu. Apa kabar kamu valentine pertamaku? Akhir-akhir ini aku berfikir tetangmu.. aku tak ingin hidup dimasa lalu, namun kamu terlalu manis untuk menjadi masalalu.. selalu begitu.
     Di tahun 2008, saat aku memulai sesuatu seperti cinta. Ketika Tuhan mengenalkanku pada makhluk yang ku kira sempuran dan memiliki segalanya, yang layak untuk kucintai, yang selalu membuatku bahagia dalam diam, yang diam-diam ku perhatikan, yang dari jauh selalu kunanti saat kita bicara.
     Tahun-tahun berlalu, dan aku hanya menjadikanmu sebagai tempat teristimewa disudut hatiku, sebagai seseorang yang menjadi alasanku bertahan atas segalanya. Senyummu cukup untukku bertahan akan rasa sepi dan hampa. Dan akan selalu ku tunggu saat-saat kita bicara sederhana mengenai hal yang harus dipelajari hari esok.
     Aku seperti pecundang gila yang kehilangan akal, bahkan aku tak perlu makan atau minum, hanya kamu.. lalu semua akan cukup.
     Ketika kamu tak kunjung datang menyambut cintaku, aku masih diam menutup mulut seraya berdoa pada setiap malamku, harusnya aku malu memintamu dengan sangat kepada Tuhan setiap malam. Namun aku tak pernah menyerah.
     Orang-orang bilang, segala sesuatu yang menjadi hal yang pertaama akan selalu memiliki tempat special dihatimu. Kukira itu benar. Kamu cinta pertamaku, dan selalu ada ruang untukku dan duniaku mengingat masa-masa itu. Masa-masa tersulit dan termanis yang pernah ada dalam hidupku yang membosankan ini.
     Di bulan Februari di tahun 2008, aku sibuk dengan hari-hariku sebagai anggota OSIS yang baru. Setidaknya ada sekitar lima proposal yang harus kami ajukan untuk setiap even. Saat itu baru kusadari, bahwa aku bisa melupakanmu untuk sejenak.
     Kita tak sering berpapasan lagi, aku sibuk dengan urusanku dan kamu hanya berlalu seperti angin ketika kita bertemu. Kukira ini saatnya aku menyerah dengan cinta, dengan kamu. Aku mulai berhenti menunggu didepan kelas untuk seseorang yang akan lewat, aku mulai berhenti memperhatikan segerombolan laki-laki yang bercanda konyol dari jauh diantara ada kamu, aku mulai berhenti berharap bahwa Tuhan akan mempertemukan kita dalam satu moment indah tertentu, sedikit demi sedikit aku mulai menghapus sosokmu dari hatiku.
     Profosal ku diterima, dan hari valentine nanti sekolah kita akan punya moment istimewa, dengan bunga-bunga mawar pink, dengan hiasan balon-balon, dengan coklat, dengan cinta. Aku masih sibuk berkutik dengan dekorasi sehingga tak sengaja aku menemukanmu yang mempehatikanku dari jauh, yang tersenyum geli ketika aku berteriak sana-sini untuk aturan dekorasi. Aku tak sengaja berfikir bahwa seseorang memperhatikanku, dan ketika kusadari itu kamu. Aku jatuh, lagi.
     Ketika kukira sudah kubuat benteng pertahanan untukmu yang tak mungkin bisa masuk dalam lubuk hatiku, ketika kubuat dengan begitu susahnya sebuah pertahanan yang erat, aku jatuh karena senyummu yang sederhana padaku. Untuk yang kedua kalinya, kamu menjadi cintaku lagi. Hanya karena sebuah senyum kecil dari jauh, aku jatuh dan mulai berdoa untukmu lagi.
apa?”. “penting banget ya?”. “harus sesibuk itu?” yang ku kira adalah lebih dari sekedar pertanyaan singkat. Apakah kamu mulai menungguku? Mulai menghawatirkanku? Mulai men.. cintaiku?? Imajinasiku.
     Tiga hari sebelum valentine, aku menangis hingga tak punya tenaga untuk melakukan apapun. Pada kenyataanya, aku hanya pecundang bodoh dengan khayalan yang tinggi. Kudengar kamu jadian dengan salah satu teman baikku, kudengar kamu menyatakan cinta didepan semua orang untuk itu, kudengar.. kamu sangat bahagia.. dan itu tidak cukup.
     Ketika kuserahkan profosal rincian biaya ke ruang kepala sekolah dan melewati kelasmu. Kulihat kamu tersenyum manis merayu, kepada dia. Salah satu teman baikku. Bukankah aku bodoh? Itu cukup membuat airmataku habis dan tenagaku terkuras. Aku menyerah.. mungkin kamu memang bukan milikku, dan ini saatnya untuk melepaskan.
     Dua hari sebelum menjelang valentine aku semakin sibuk dengan urusanku. Tak apa,ini akan sangat baik untukku. Aku tak harus mengingatmu saat waktu ku menjadi luang. Aku menjadi berbeda, tidak lagi terseyum manis padamu, bahkan ketika kita berpapasan dan kamu menjatuhkan beberapa buku ku, aku hanya merapikannya kembali dan berlalu, tanpa sepatah katapun. Kulihat sosokmu yang terpantul dari kaca, yang bingung, yang kaget atas tingkahku.
   Sehari sebelum valentine, aku menangis lagi, airmataku pecah. Mengasihani diri sendiri atas ketidakmampuan, atas kelemahan, atas cinta yang pertama kali namun tak terbalas, atas rasa sakit dan perih yang terus kutahan, yang selalu kutunjukan kepada dunia, bahwa aku baik-baik saja. Aku kalah lagi. Aku tak sekuat itu, aku tetap jatuh.
     Hari valentine tiba, acaranya sempurna. Musik, dekorasi, moment, mereka bahagia. Di panggung, ada beberapa pasangan yang dengan berani menyatakan cinta,         ditolak, diterima, manis. Ketika kukira hari ini benar-benar berakhir dan ternyata belum.
     Aku berjalan menuju ruang kepala sekolah, melewati jalan setapak ditaman sekolah kami, dengan angin yang sepoi dan pohon-pohon yang seakan menari pelan. Aku melambatkan langkahku, mencoba menikmati hari valentine ini. Aku berhenti sejenak, terdiam di tengah jalan setapak taman, seorang diri, memejamkan mata dan merasakan angin yang bertiup melewati tubuhku, menyentuh helaian rambutku.
     Tiba-tiba seorang anak kecil berlari ke arahku. Anak laki-laki itu, menarik ujung rok sekolahku, membuatku membuka mataku, kulihat dia dengan ekspresi khas anak kecil yang lucu. Kulihat matanya yang berbinar bahagia seakan baru saja menerima kado istimewa.
        Kulihat dia mengengam dua batang coklat, satu diantaranya dililiti pita berwarna pink. Aku mengerti sekarang, dia bahagia karena cokelat-cokelat itu. Ketika aku mulai berjalan lagi, dia menarik tanganku dan menyerahkan coklat dengan pita pink tadi kepadaku. Aku yang bingung dan ragu. Mengelus kepalanya yang kecil seraya berkata, “kok kasi kakak, buat anes ajaa..”.
        Anak kecil itu terdiam dan ketika aku berlalu meninggalkan, dia berteriak lebih girang. Di ujung lain jalan setapak kulihat dia berdiri. Laki-laki yang kucintai. Menunggu entah apa, kukira dia menunggu kekasihnya. Dan aku hanya berpapasan tanpa sepata kata dan pergi berlalu. Dia tak hentinya memandangku yang berjalan pergi. Ketika kusadari, semua sudah terlambat.
       Aku tersentak sejenak, meloneh kearahnya. Kulihat anes berjalan menuju dia, mengatakan sesuatu dan dia menjadi pilu, diam dengan matanya yang seduh. “ya udah ga apa-apa, buat aness aja” hanya itu yang bisa kudengar dari jauh. Aness kegirangan, dan dia berbalik dan pergi menjauh. Saat itu kusadari, bahwa coklat dengan pita pink itu untukku, dari dia yang selama ini kunantikan.
      Aku tak bisa menangis, bahkan aku terlalu bodoh untuk menangis. Aku menyalahkan diriku sendiri untuk saat itu. Dia tiba-tiba tak pernah lagi muncul dihadapanku. Kudengar dia pindah mengikuti orang tuanya. Aku menjadi si bodoh yang pilu.
     Dua bulan berlalu dari hari itu, dan aku masih menyalahkan diriku sendiri. Masih hingga sekarang. Aku duduk di kantin, ketika teman-teman dekatku yang salah satunya adalah jessie, yang kukira adalah pacar dari “dia” datang dan mengajakku bercerita.
     “jadi udah ditembak dira?” kata jessie tiba-tiba yang membuat jantungku seakan berhenti berdetak. Dira.. nama “dia” yang mengisi ruang untuk cinta pertamaku, yang menjadi dekat dengan jessie untuk menayakan segala tentangku. Dira yang membuat simulasi cara menyatakan cinta didepan kelas yang khusus dia siapkan untukku. Dira yang membaca hampir sepuluh buku novel-novel romance untuk mempelajari cara menyatakan cinta yang romantis. Dira.
    Aku kembali ke kelasku, duduk melamun dan menjadi pilu. Siapa yang tidak, ketika menyadari melakukan hal bodoh seperti aku. Kepaku pusing, hingga sepertinya lebih baik untukku pulang sekarang, aku membereskan buku-bukuku dan memasukannya kedalam tas, aku akan meminta izin dan pulang. Ketika aku mengambil buku di laci dan menemukan sesuatu, aku terhenti sejenak.

            Dear Nina..
Punya waktu besok? Ayo kita nonton film bagus.
                                                                                    Dira.

            Dear Nina..
Besok ada fesitval makanan jepang, mau kesana bareng??

                                                                                    Dira
            Dear Nina..
Nanti aku tunggu di depan gerbang sekolah ya, kita pulang bareng. Okee??
                                                                       
                                                                                    Dira
            Dear Nina..
Aku mulai patah semangat nin, gimana lagi aku harus nunggu kamu? Ayo kita beli buku bareng.. kamu suka novel kan? Aku punya beberapa, aku tunggu di kantin ya, nanti aku pinjemin kamu deh..
                                                                                    Dira

            Dear Nina..
Aku suka sama kamu nin, maukah kamu jadi pacar aku. That’s all i wanna say.

Dira
Tidak hanya satu, sekitar 50 surat singkat dengan ungkapan yang berbeda-beda, dengan kata-kata yang menyentuh, dengan cintanya yang seutuhnya, dengan segala ajakan yang pernah aku baca di novel-novel remaja. Hanya aku yang bodoh, tak pernah memeriksa lokerku, yang sibuk degan menunggu dan tak tau hatimu. Tidakkah aku bodoh?
Sekitar lima puluh surat, dan tak pernah kusadari keberadaanya selama ini. Satupun. Dan airmataku pecah membaca surat terakhir. Surat dengan kalimat yang lebih banyak dan lebih dalam.

Dear Nina..
Selamat hari valentine nin, kamu pasti capek banget. Acaranya bagus banget, romantis. Aku.. udah merenung seminggu lebih nin, ketika udah aku kumpulin seluruh keberanianku buat nyatain cinta, aku masih kurang berani. Jadi aku nyuruh aness buat kasi kamu coklat, kamu tau aness kan? Anak pak rere? Hehe. Jadi ku kira, ketika kamu terima coklat aku akan dateng dari ujung jalan taman berlutut dan nyatain cinta. Kukira itu yang paling romantis. Dan aku bodoh, aku yang bodoh. Gimana kamu bisa tau itu dari aku? Pasti kamu berfikir kalo anak sekecil aness mau bagi coklatnya sama kamu, dan jelas kamu nolak. Lucu ya nin.. aku pecundang.
Karena hari ini hari terakhir aku disni, ohh iya, aku pindah ke malay nin, orangtuaku harus nemenin omma yang mulai sakit-sakitan. Aku Cuma berani di surat nin, maaf. Aku suka kamu, senyum kamu, cerianya kamu, cara kamu yang lembut, sikap kamu yang sopan, dan hati kamu yang baik.
Aku masih inget kamu dateng ke ruang guru buat minta maaf waktu ibuk rika ngembek, padahal kamu ga tau apa-apa, kamu dimarah-marahin. Sendirian. Atau saat kamu mendengarkan cerita teman-temen ketika meraka punya masalah, senyum kamu teduh banget ketika itu. Jangan sakit nin, aku hampir gila waktu kamu sakit tifes karna kecapean dan aku terlalu malu buat jenguk. Jagan selalu mikirin orang lain, kamu harus mikirin diri kamu sendiri juga. Jangan nangis, jangan sendrian, jangan lupa makan, jangan nyelesaiin semua masalah sendiri. Minta tuh bantuan sama temen-temen kamu.
Jaga diri kamu baik-baik ya, aku sayang kamu. Mungkin kita ga ditakdirin buat sama-sama. Bukan! Karena aku yang terlalu pengecut buat ngomong langsung. Eh iya, kamu tau robby kan? Anak ipa 2, dia temen kumpul aku juga. Dia orang yang baik, kuat, dia bisa jangain kamu, hatinya tulus, dan dia jauh lebih berani daripada aku. Dia juga suka kamu, jadi nanti kalo dia nembak kamu, harus diterima ya.. harus ada orang di sisi kamu yang jagain kamu.
Aku sayang kamu, Nina.. terimaksih buat jadi cinta pertamaku. Aku harap suatu saat kita ketemu lagi, dan saat itu aku akan jadi lebih berani. Aku akan langsung lamar kamu! Hahahaa.. i love you ninaa.. selamat hari valentine.

                                                                                    Dira..
                                                                    Eh, aku punya beberapa koleksi foto kamu. Cantik..                                       

     Sebuah album foto manis disertakan di surat terakhir, penuh dengan coretan-coretan kata-kata manis, stiker lucu, dan kamu punya semua. Bahkan foto ketika kita MOS pertama kali. Ternyata kamu mencintaiku lebih dahulu, dan sudah selama itu. 
***
     Dan hari itu sudah berlalu lama sekali.. tiba-tiba aku tak sengaja mengingatmu, ketika seorang anak kecil berlari ke arahku memberikan balon gratis hari ini. Mungkin umurnya sama dengan aness pada saat itu.
     Rasanya aku ingin meminjam lorong waktu doraemon untuk kembali ke masa itu, tidak mengulangi kebodohanku. Kamu selalu punya tempat special di hatiku dir, sampe kapapun. Kita mungkin tidak ditakdirkan buat jadi satu, tapi mencintaimu sudah amat cukup. Terimaksih buat kenangan manis ini diraa.

                                                                                                            Sebagian adalah terjadi..