welcome^^ to my blog. Jangan mempermalukan dirimu sendiri untuk menjadi seorang flagiat. Tidak semua yang saya tulis adalah kamu dan semua yang kamu baca adalah saya.

Senin, 14 Juli 2014

Cinta bodoh

Hari ini hari kelulusan kami. Aku masih memandangi punggungnya dari jauh, melihat dia yang sibuk dengan bercerita tidak jelas dengan teman-teman satu genknya. Diam-diam aku berdoa dalam hati, hari ini akan jadi kali terakhir aku menunggu dan memandang dengan cara ini. Kamu akan kubiarkan pergi sejauh kakimu sanggup melangkah dan hidup dengan baik..

Hari ini akan jadi hari terakhir aku mengenang betapa manisnya kamu menyapa dan unik rasa sakit yang kamu selalu tabur. Dalam diamku, dalam sunyiku, dalam rahasia hatiku yang paling dalam. Bagaiman aku diam-diam bahagia disampingmu, bagaimana diam-diam airmataku jatuh karena sikapmu, bagaimana diam-diam aku menjadi bodoh jika ber-urusan dengan kamu dan hatiku.

Cinta bodoh yang mengenalkanku dengan rasa benci akan cinta, untuk yang pertama kalinya. Yang kuingat dalam memoriku, hanya bahwa kamu seseorang yang berisik dan berada dikelasku. Tanpa sering kuperhatikan, tanpa pernah benar-benar kusadari kehadiranmu sampai saat hari itu. Ketika tidak sengaja aku menjadi jatuh dan bodoh untuk pertama kalinya.

Ketika dengan tidak sengaja Tuhan memperlihatkan dirimu secara jelas dan sederhana di hadapanku, kamu hanya datang dan berkata sesuatu seperti "ada pena lebih? Aku boleh pinjem?" Dan aku jatuh karena sosokmu yang luar biasa menarik saat itu. Itu adalah saat dimana aku berfikir bahwa dunia baru akan segera aku datangi menggantikan duniaku yang sunyi, aku akan memiliki sesuatu yang membuatku menunggu.

Tak butuh berapa lama kami menjadi semakin dekat, sepertinya Tuhan mendukungku untuk sebuah kisah sederhana ini. Tiba-tiba dia berpindah duduk disebelahku, tiba-tiba kami menjadi akrab melalui pertengkaran, tiba-tiba aku merasa hari-hariku menjadi manis. Aku yang pemarah dan dia yang tak pernah peduli, aku yang manja dan dia yang egois. Kami tak pernah cocok untuk apapun dan segalanya akan selalu di akhiri dengan pertengkaran. Namun kami akan selalu bertemu setiap hari, namun dia tidak pernah absen meminta pendapatku, namun dia tidak pernah lari atau pindah untuk duduk dengan seseorang lain yang lebih tenang.

Ketika kufikir semua akan baik-baik saja dan hatiku selalu tersenyum malu dan berkata cukup. Ternyata tidak, hatiku mulai serakah dan meminta lebih, lebih dari sekedar sebutan "teman terbaik" atau "sahabat" baginya. Aku ingin dianggap lebih, ingin menjadi lebih berarti, lebih dari itu. Aku ingin dia membutuhkanku, aku ingin dia menghargaiku, aku ingin dia jatuh hati padaku dan itu tidak terjadi.

Dia bukan seseorang biasa sepertiku. Perawakanya yang tegap, wajahnya yang tampan, kulitnya yang indah, dan pergaulannya membuat sebuah garis perbedaan besar antara dia dan aku. Kami mungkin dekat tetapi dunia kami berbeda, antara dia dan aku selaku ada dinding pemisah yang kokoh berdiri. Aku seorang gadis seserhana yang tidak cantik, tidak kaya, dan dengan pergaulan yang biasa saja.

Aku mulai mencari cara mempertahankannya disisiku diam-diam, membuat dia tetap tinggal di sampingku. Aku menjadi pendengar yang baik untuk setiap masalahnya, aku menjadi konsultan cinta untuk setiap perempuan yang ia kencani, aku selalu berada di sisinya. Tanpa menyadari, hatiku yang sedikit demi sedikit luka dan menjadi perih.

Dia menceritakan gadis-gadis yang menarik perhatiannya dengan antusias, dia menjadi sedih atas segala masalah yang menimpa keluarganya, dan aku di sisinya menjadi obat penenang dan pembuat tawa dan senyumnya kembali. Aku. Kukira semua akan baik-baik saja, selama aku bertahan menjadi seorang bodoh yang dengan sekuat tenaga membantunya dan mempertahankan dia disisiku maka aku akan tetap menjadi bahagia. Itu bohong.

Aku menangis ketika dia mengacuhkanku dan lebih memilih bergaul, dengan teman-temanya yang hebat, aku terluka ketika dia memperlakukanku dengan semena-mena seakan aku tak merasa sakit, aku marah ketika dia bercerita tentang pacar pertama, kedua, ketiga atau apapun itu yang dia miliki. Namun aku berpura-pura menjadi baik, menjadi bahagia bisa menolongnya, bisa membuat ia bahagia dan melukaiku, dan terlihat seperti tak membutuhkannya.

Hingga aku sampai dititik, dimana aku merasa jenuh dengan rasa sakit. Berfikir untuk melepaskan dan merelakan apa yang tak bisa aku miliki atau menjadi milikku. Walau aku berusaha sekuat tenagaku, dia tidak akan menoleh atau melihatku ada. Aku menyerah.

Aku tak lagi terus menjadi pahlawannya, aku bertukar posisi tempat duduk dengan seseorang yang bisa lebih membuatku nyaman, aku tak lagi menjadi pendengar yang baik, kami tak lagi berengkar dan banyak bicara. Aku mengatur jarak dengan perlahan dan mencoba agar tak ketahuan.

Namun hati, selalu punya aturannya sendiri.. aku tak bisa mengacuhkannya lebih dari itu. Hatiku bertarung dengan akal sehatku hingga aku menjadi orang aneh yang tak lagi membuatnya nyaman. Aku menjadi sangat pemarah dan agresif padanya, hingga dia semakin dan semakin jauh dari jarak gappaiku. Kusadari satu hal lain, aku memaksakan sesuatu yang tak bisa kuraih hingga aku kehilangan. Aku bukan lagi pahlawan favoritnya.

Kami menjadi orang asing. Saling diam seribu bahasa, saling menyimpan rahasia, saling tak menyapa, saling tak berkata apa-apa. Aku membuat pernyataan kecil yang rencananya akan kuberikan setidaknya di hari-hari terakhir masa sekolah kami, setidaknya dia harus tau dan aku tak pernah menyesal untuk apapun. Tiga tahun kami menjadi sahabat baik, selama tiga bulan terakhir musnah seakan tidak pernah ada tiga tahun kemarin.

Tetapi sesuatu mengubah niatku. Ketika aku tak sengaja berjalan melewati segerombolan temannya dan dia yang asik membicarakan sesuatu dan membuatku berhenti ketika kudengar namaku ada didalamnya.

"Dia itu lucu, mau di bandingin dengan kara jauh banget kali bedanya. Kok loe tahan lama-lama deket sama dia?" Teman 1.

"Cantik enggak, pinter banget juga enggak, bentuknya aneh.. liat dong penampilannya, ga ada temen yang laen apa?" Teman 2.

"Dia beda kelasnya sama kita, udahan sono maen2 sama tu anak. Kesian di php'n!" Teman 3.

Aku menahan airmataku dibalik dinding, mendengar pernyataan seperti menusuk hatiku dengan ribuan pisau. Aku berdo dalam hati, tolong jangan kamu katakan apapun. Namun kamu menanggapi dengan nada yang biasa dan mudah. 

"Lumayan.. buat temen curhat sekalian amunisi buat tugas!". Katamu dengan mudah. Dan aku hancur.

Cintamu tidak akan cukup untuk seseorang menjadi bahagia dengan perbedaan yang jelas, mereka tidak hanya bahagia dengan cintamu namun kesetaraan dan kelayakan. Aku mengerti tentang permainan dunia, karenamu.

Aku masih diam dan terpanah disana, menahan airmata sekuat tenaga ketika tiba-tiba kamu dan rombonganmu yang hebat berdiri di hadapanku dan memandangiku kaget. Aku akan kalah dan hancur berkeping-keping jika menangis atau marah dihadapan kamu dan mereka saat itu. Aku tersenyum, dengan manis dan ramah. Mereka semua memandangku aneh, dan kamu memadang dengan rasa bersalah yang kotor. Aku hanya belalu dengan kuat. Aku tidak diabaikan, aku tidak ditinggalkan. Aku yang melepaskanmu pergi, aku yang mengabaikanmu dan membuangmu jauh. Kita bukan apa-apa.

Akhir dari masa-masa SMA ini tidak ditutup dengan tawa tapi luka. Aku menguburmu dalam-dalam disana disudut gelap yang tak ingin aku ingat dan aku anggap pernah ada. Sejak hari itu, kita tak pernah lagi saling memandang bahkan kamu tidak pernah mengucapkan kata maaf sekalipun.

Hari ini, adalah hari kelulusan. Aku akan berdandan dengan baik merayakan perpisahan kita, memandang punggungmu untuk yang terakhir, mendengar suaramu yang secara tidak langsung masih menyakitiku untuk yang terakhir dan tersenyum dengan ramah untuk yang terakhir kalinya dihadapamu. Ku katakan, jika aku menjadi marah dan benci dengan jelas maka aku akan kalah, maka yang kulakukan adalah tersenyum dan bersikap ramah seperti tidak pernah ada sesuatu apapun yang terjadi lalu aku akan menang.

Aku masih memegang erat surat itu sampai hari ini, pernyataan. Aku pergi ke perpustakaan dan menyelipkannya pada novel favoritku. Biarkan ia hilang, dan hanya berlalu layaknya waktu berganti. Termakan angin dan terkikis waktu menjadi hanya masalalu.

                                             Selamat tinggal milikku yang tak bisa kumiliki...