welcome^^ to my blog. Jangan mempermalukan dirimu sendiri untuk menjadi seorang flagiat. Tidak semua yang saya tulis adalah kamu dan semua yang kamu baca adalah saya.

Kamis, 26 November 2015

I can't breathe without you dey


Haruskah aku menyatakan lagi dan lagi sepiku? Menyatakan menyerah dan mengibarkan bendera putih pada sang waktu? Membunuh detik demi detik dengan harapan dan kayang-kayang tak berarah dan bertuan.. 
Hidup yang tak berjiwa, nafas yang tak punya arti dan bahkan hati yang tidak bisa kau mengerti keinginananya..
Sepiku.. akankah engkau mengerti? Engkau hanya merasa terusik dengan keluhan yang lagi dan lagi.
Aku tak bisa bangun sendiri, aku ingin kedua tangan yang membantuku untuk bangkit, namun..
Bagaimana rasanya ketika hatimu menyimpan cerita lain yang bahkan tak bisa kau ketahui?

            Pagi ini udara lembab dan dingin sehabis hujan, se-cangkir kopi hangat dan lagu sendu mengingatkanku akan masalalu. Tiba-tiba aku rindu pada sosokmu yang sempurna, tiba-tiba aku ingin dipeluk dengan kedua lengamu yang besar dan hangat, tiba-tiba aku ingin mendengar omelan mengenai pakaian yang tertutup dan sebagainya.
            Apa kabarmu dey? Masikah kamu menungguku? Jika saat ini kukatakan aku sudah menemukan jawaban atas hatiku, apakah kau masih mau memelukku dengan segenap hatimu itu?.

(flashback)
                                                            26 month ago
           
            Daren atau dey, adalah pacar yang sempurna. Ketika aku pertama kali mengenal dey, ia memandangku dengan tatapannya yang hangat dan senyum yang manis. Harus kuakui, dey adalah obat dari segala penyakit hati dan luka. Hanya tiba-tiba ia hadir dan sedikit demi sedikit menghapus luka dan aimataku, mengantinya dengan tawa yang paling indah.
            Dey membuat siapa saja yang berada didekatnya merasa nyaman, merasa akrab, suasana yang yang kaku akan hilang berganti tawa ketika dey ada. Dia segalanya.
            Tak lama setelah aku mengenal dey, kami menjadi sangat dekat. Ia suka bercerita hal-hal aneh, lucu dan bermakna kepadaku. Dey mengajariku hal-hal baru, seperti berjalan disepanjang jalan yang penuh dengan makanan kaki lima, membantu para pengamen cilik mendapatkan lebih banyak receh dengan ikut bernyanyi, atau hanya berjalan-jalan di taman melihat orang-orang yang mencoba mencari sesuap nasi dengan pekerjaan menghibur. Dey membuka mataku lebar-lebar, bahwa hidupku lebih baik dari siapapun dan aku tak harus sendirian didalam lubang hitam tak berujung.
            Tepatnya enam bulan setelah aku dan dey berkenalan dan menjadi dekat, dey menyatakan cintanya kepadaku. Didepan semua orang, keluarga dey, teman-teman, sahabat-sahabat kami, semua. Rangkaian bunga mawar cantik, balon-balon putih-merah muda, cincin terindah yang pernah kulihat. Dey memberikan segalanya untukku.
            Ia.. dey memberikan segalanya untukku. Cintanya, hatinya, waktunya, perlindunganya, senyumannya, segalanya.. dan aku sangat bahagia. Tidak ada satu haripun yang kulewati tanpa dey, ia obat atas segala perihku selama ini, dey seperti udara saat aku ingin bernafas.
            Aku ingat, ketika kami pergi berkencan berdua, atau ketika kami makan malam berdua, dey selalu memandang mataku dalam-dalam, kedua bola mata dey yang hitam pekat, dan senyumnya yang hangat “nay.. do you love me?” selalu begitu. Dan aku akan selalu menjawab dengan senyuman manis sembari kecupan kecil di pipi dan kening dey.
            Suatu ketika dey merasa sangat hancur, proposal taman hiburan yang ia rancang sedemikian rupa ditolak. impian yang ia rancang dengan segenap kekuatanya, ternyata hanya menjadi bualan belaka. Hubungan dekat dengan investor mengalahkan segala prestasi dan kerja keras. Dey murka. Ia jatuh dan tersungkur.
            Ketika aku mengunjungi dey ke apartmen-nya, dey terlihat sangat buruk. Ia hanya duduk disudut jendela dan menatap kosong. Maket hancur berserakan dimana-mana, kertas proposal robek menjadi serpihan-serpihan kecil.
Aku menghampiri dey dan memeluknya erat. Dey menangis dipelukanku untuk yang pertama kalinya. Tiba-tiba dey berkata lagi “nay.. do you love me?” aku tersenyum dan memeluk dey lebih erat. Dey melepaskan pelukanku, mengengam kedua lenganku, memandang mataku dengan pekat dan marah “nay! Do you love me!” aku memandang dey dengan hampa, apa yang diinginkan lelaki ini? Kenapa dia begini, aku berfikir keras unutk sebuah jawaban yang bahkan diriku sendiri tidak mengerti.
“do you love me nay? Say that you love me! And i will be alright.. saya akan bangun lagi nay, saya akan coba dengan segala yang saya punya sekali lagi, meski harus berulang kali, akan saya lakukan lagi, but please, say that you love me..” jelas dey kemudian.
“i can’t breathe without you dey” kataku kemudian. Aku memeluk dey kemudian, dey menghela nafas. Apakah ia kecewa? Bahkan ketik kukatakan bahwa ia adalah seluruh nafasku?.
Tiga bulan setelah itu, dey bangkit kembali. Ia memulai impian-nya lagi. Dey berusaha lebih keras dari sebelumya. Tak lama kemudian dey memenangkan sebuah tender besar. Proyek dey kali ini adalah villa dan mall. Dey menjadi sangat sibuk, kami hanya berbincang melalui telephone dan memandang melalu social media. Dey kembali dengan sinar yang lebih terang.
Kurasa aku mulai merindukan dey, sekitar enambulan dey sibuk dengan urusanya, ia berpergian dari kota ke kota bahkan ke negara-negara tetangga. Dey luarbiasa. Meskipun begitu, dey tidak pernah berhenti berhubungan denganku, dey selalu menghubungiku.“i love nay..” selalu ia ucapkan diakhir pembicaraan kami.
            Bulan ke-tujuh setelah dey pegi, tepatnya bulan januari. Aku terbang ke Bali, kudengar proyek dey berhasil, dan mereka akan merayakannya di Bali. Aku tidak menghubungi dey hari itu. Ini akan menjadi kejutan kecil fikirku. Setelah seharian aku memasak dan menunggu di kamar villa dey, dey akhirnya pualang.
            Aku bersembunyi di balik tirai besar dengan membawa red velvet buatanku. Aku menunggu di balik tirai, dey dan teman-temanya masuk. Dey mabuk. Dey berjalan sempoyongan dibantu dengan teman-temanya. Selama ini aku tidak pernah tau bahwa dey minum, atau mabuk, aku hanya sedikit merasa terkejut. Ketika aku ingin keluar dari tirai dan berteriak “surpice!”
            “say that you love me” kudengar suara dey yang tebata-bata karena mabuk.
            “you know ram, saya ga yakin nayla cinta sama saya.. dia ga pernah bilang i love you buat saya” kata dey lagi. Aku kembali bersembunyi di balik tirai, mendengarkan.
            “mungkin cinta ga harus diomongin tuan mabok” kata rama salah satu teman dey
            “saya cinta sama dia ram, saya kasih semuanya. Hati, waktu, fikiran, semua buat dia. Saya cinta sama dia ram.. tapi hari demi hari saya sama dia, saya kayak sadar sama satu hal. Saya Cuma seorang diri dengan cinta yang gede banget, saya Cuma jadi pemeran utama yang ga punya lawan atau jalan cerita. Nay butuh saya, Cuma karena nay ga mau sendiri..” tiba-tiba hatiku nyeri. Aku ingin marah namun disisi lain aku merasa dey benar.
            “nay satu-satunya buat saya ram, tapi entah kenapa saya merasa nayla selalu mencari dan mencari sesuatu yang lain, yang mungkin bukan saya, atau saya ga ada didalamnya”
            “jadi kamu mau lepasin nayla dey?” tanya rama kemudian
            “saya ga bisa hidup tanpa dia ram, ga bisa. Meskipun saya harus cinta sendirian selamanya, meskipun saya harus beribu dan berjuta kali bilang cinta dan nay enggak, saya ga bisa biarin nay pergi ram” dey tertidur karena mabuknya, dan mataku berkaca-kaca. Aku teduduk dibalik tirai, ia.. dey benar. Kurasa itu aku.
            Rama membawa dey kekamar, entah sejak kapan rama sadar bahwa aku berada dibalik tirai. Rama membuka tirai dan menemukanku yang menangis sembari memegang kue. Rama mengajakku duduk bicara berdua.
            “jadi.. kisah cintanya sebelah tangan?” tanya rama kemudian
            “mungkin gitu ram, mungkin dey bener. Saya ga pernah cinta sama dey ram. Saya jahat. Saya... perlu waktu buat berfikir ulang” jawabku
            “dey bener nay, kita semua bisa liat itu. Dey yang mencintai kamu dengan semua yang dia punya dan kamu yang hanya mempertahankan dia karena takut akan sepi. Dey bukan boneka pengibur nay” jelas rama lagi.
            Airmataku mengalir, kata orang “ketika dirimu tidak bisa memberikan jawaban, maka rasa sakit yang akan menjadi jawaban” ia. Perih di hatiku mewakili segalanya, dey benar, rama juga. Aku hanya sibuk berlarian mencari perlindungan atas sepiku, aku juga hanya terus memanfaatkan dey agar selalu berada didekatku. Aku jahat.
            Dey terbangun di pagi hari, ia kaget melihatku sibuk mempersiapkan sarapan didapur. “nay!” teriak dey, aku berbalik dan tersenyum manis, dey memelukku erat. Wajah dey sembab, ia kelihatan tidak begitu sehat. Dey tak berhenti memelukku, aku merasa lirih dalam hati.
            Dey sangat bersemangat hari itu, ia tersenyum sepanjang hari. Ketika kami makan malam berdua, dey bilang ia akhirnya mengerti, bahwa aku mencintai dirinya dengan cara yang berbeda, itulah kenapa aku datang untuk mengujunginya ke Bali. Aku hanya tersenyum, tidak ingin merusak kebahagiaan dey.
            Malam ketigaku di Bali, dey mengundang teman-temannya makan malam bersama, dey sangat bersemangat saat itu. Ketika malam semakin larut, ketika kami juga larut dalam alunan lagu yang sendu dan suasana dingin malam, tiba-tiba dey belutut dihadapanku, dey mengengam sebuah kotak kecil berbentuk hati, lalu membukanya “will you marry me nay..?” pinta dey kemudian.
            Aku terdiam, memandang kedua bola mata dey dalam-dalam. Teman-teman dey  yang tadinya menikmati malam tampak membeku, menunggu jawabanku. Dey tampak mengerti dengan sikapku yang diam, rama mengajak semua teman-teman dey yang lainnya untuk masuk dan berkaraoke. Dey masih berlutut di hadapanku, lalu dengan segera memasangkan cincin yang berada dikotak tadi ke jari tangaku. Mataku mulai berair, dey mengerti.
            “come on dey, saya ga..” tiba-tiba dey menutup mulutku dengan tanganya
            “kita bisa mulai dari sini nay, cinta bisa tumbuh, semua orang jaman dahulu nikah tanpa cinta dan mereka bahagia”
            “kita ga hidup di jaman dahulu dey..” kataku kemudian
            “kita memang ga hidup di jaman dahulu nay, tapi kita bisa coba lagi. Saya ga masalah dengan apapun nay. Asalahkan itu kamu” jawab dey
            “tapi saya ga bisa dey, saya nyakitin kamu lagi dan lagi, kamu..” dey menyelaku lagi
            “saya ga apa-apa nay! Kamu sudah lebih dari cukup!” bentak dey
            “saya yang ga bisa dey, kamu mau saya berubah jadi monster jahat? Kamu layak dapet yang lebih baik dari saya, yang mencintai kamu, yang kasi hatinya buat kamu, dan dia mungkin bukan saya. Kamu akan bahagia dey” jawabku sembari meraih pipi dey.
            “apa yang kamu cari nay? Apa? Siapa?”
            “saya ga tau dey,  saya hanya masih terus mencari, saya Cuma masih terus menunggu, ga tau untuk siapa, dan ga tau kenapa, dan saya terlalu jahat buat kamu selalu disamping saya dengan perasaan yang kayak gitu. Kamu layak untuk bahagia dey”.
            Lalu aku pegi meninggalkan dey disana, aku kembali ke Jakarta. Kudengar dey lebih sering minum-minum, beberapa kali rama mencoba menghubungiku namun aku tak pernah menjawabnya. Dey bisa belajar tanpaku.
            Dua bulan berlalu setelah hari itu, kudengar dey masuk rumah sakit. Ada masalah dengan lambungnya karena kebiasaan barunya minum-minuman keras. Hari itu, aku datang menjenguk dey. Dey sedang tertidur ketika aku masuk ke ruang rawat inapnya. Dey nampak lebih kurus, ia terlihat benar-benar sakit.
            Aku mendekati dey, memegang erat tanganya dan dey terbangun. Ia tersenyum melihatku.
            “kamu datang nay, saya tau kamu pasti dateng..” kata dey dengan perlahan
            Aku tersenyum “jangan sakiti diri kamu dey, atau saya akan lebih jauh” jawabku.
            “kamu sudah merengut segalanya nay, kamu..”
            “kalogitu janji sama saya kamu akan bangkit lagi” kataku
            “ada hadiah seusai janjinya selesai?” pinta dey
            “aku ga tau dey..” dey mengengam tanganku erat, hatiku sakit melihatnya yang terlihat menderita, dey telihat sangat sakit.
            “ayo kita buat perjanjian dey..” kataku lagi, dey memandang mataku dengan sedikit pancaran sinar dari matanya
            “kamu akan kembali ke aku?” kata dey kemuadian
            “deeeey! Ayolah jangan gitu” jawabku dan dey terkekeh. “biarin aku temuin dulu apa yang kucari, biarin aku tau dulu hatiku akan kemana, kenapa, biarin aku pastiin apakah kita akan jadi cinta atau bagimana, lepasin aku dey” wajah dey tampak sedih mendengar itu.
            “setelah aku yakin dengan hatiku, setelah aku yakin atas segalanya, dan kamu masih menunggu buat aku, ayo kita mulai lagi dari awal”. Dey tersenyum
            “aku akan nunggu kamu nay” kata dey
            “dan itu mungkin ga sebentar dey, kamu boleh menyerah kapanpun. Ketika kamu menemukan seseorang yang bisa buat kamu jatuh cinta dan bahagia sama kamu dan yang juga kasi cintanya seutuhnya juga sama kamu. Kamu boleh menyerah kapanpun”.

(flashback selesai)

           
            Lebih dari dua tahun berlalu sejak saat itu. Aku sudah cukup berkeliling dunia menikmati pekerjaanku, aku belum bisa menemukan apa yang sebenarnya kucari hingga pada akhirnya aku menyadari bahwa aku hanya perlu tinggal dan menjadi bahagia. Begitu banyak yang berubah, aku tak lagi meronta dan menjerit mejalani hidup, aku lebih banyak tersenyum dan bersyukur, dan duniapun tersenyum dan memberikanku lebih. Aku bahagia dey.
            Dua tahun lebih telah berlalu, terakhir yang kuketahui dey kembali mewujudkan mimpinya, dengan proyek yang lebih besar, dengan kesuksesan yang lebih besar pula. Tidak ada yang kutahu lebih dari itu mengenai dey. Aku berharap bahwa ia akan hidup dengan bahagia. Lalu apakah kami akan bertemu lagi? Aku tidak tau, dan... aku menemukan sesuatu ketika aku berada di Bali beberapa bulan lalu.
            Aku bertemu lagi dengan rama, kami hanya mengobrol beberapa saat. Rama yang memberitahuku bahwa dey mengejar mimpinya lagi. Lalu rama bercerita mengenai masalalu, waktu itu ketika aku bersembunyi di balik tirai dan menangis, dey tahu segalanya. Dey tidak benar-benar tidur, dey mendengarkan aku dan rama berbicara. Dan alasan kenapa dey masih melamarku bahkan ketika ia sudah tau bahwa aku tidak pernah mencintainya adalah cinta. Itulah deyku.
            Setidaknya aku berlajar satu hal lagi dari dey, ia bahkan masih mencintaiku bahkan ketika aku sudah dengan sangat jahat membiarkan ia sendirian. Aku menyadari satu hal, satu-satunya hal, yang ingin kulakukan sekarang adalah bertemu dengan dey, lalu mengatakan “dey.. i’m falling in love with you”. Namun happy ending tidak begitu mudah dibentuk, tidak ada yang tau dimana dey sekarang, pekerjaannya membuat ia berpergian ke banyak tempat, dan tidak ada yang tau apakah dey masih menungguku atau ia sudah menemukan kebahagiaanya sendiri.
            Dan... Tuhan memberika teguran-Nya kepadaku. Aku dan beberapa teman dekatku berjanji akan makan malam bersama, bahkan sekarang aku memiliki teman dekat.  Namun pekerjaanku memaksaku harus terlambat. Ketika memasuki restaurant aku berlari tergesa-gesa hingga tak sengaja menabrak anak perempuan hingga ia jatuh dan menangis keras. Aku panik, aku tak berhasil mendiamkan-nya dengan sogokan permen atau eskrim, anak perempuan itu terus menangis, lalu tiba-tiba seorang pemuda datang dan mengendong anak perempuan itu dan membawanya pergi. Dia dey.
            Mungkin dey sudah menemukan kebahagiaanya sendiri. Anak perempuan itu sangat mirip dengan dey. Bahkan anak perempuan itu memanggil dey dengan sebutan “daddy”. Hatiku hancur, dan aku tidak bisa marah, tidak boleh marah. Dey nampak bahagia dan itu hukumanku karena pernah membuat dey begitu terluka.
            Seusai makan malam kami, aku akan pulang dan menunggu taxi di depan restaurant. Seseorang menarik tanganku, iya.. dey.
            “apa kabar nay?” tanya dey dengan lembut
            “baik. Sangat baik.. kamu baik-baik aja dey?” tanyaku lagi
            “hmm.. iya. Kamu berubah banyak nay, saya sempet linglung, kamu makin cantik” puji dey, dan aku hanya tersenyum.
            “selamat dey, dia cantik banget kamu pasti bahagia..” kataku lagi
            “siapa?” tanya dey
            “anak perempuan kamu. Aku minta maaf, tadi aku buru-buru dan ga liat jalan” lalu dey tiba-tiba tertawa.            
            “alika namanya, iya dia cantik banget kan? Mirip sekali denganku ya?” Kata dey
            Aku merasa kecewa dan hanya diam “sekali lagi selamat dey” kataku sembari pergi dan membuka pintu taxi.
            Dey memegang tanganku dan berbisik di telingaku “anak mbak lara dan mas robby. Masih ingat mereka kan? Alika keponakanku, dan aku masih nunggu kamu nay”. Aku tersenyum, “ga jadi pak” sembari menutup pintu taxi dan memeluk dey.
            Kami kembali bersama. Kali ini setiap kali dey bertanya “nay, do you love me?”aku akan selalu menjawab “i love you so much honey”. Kami akan segera menikah beberapa bulan lagi, dey melamarku untuk yang kedua kalinya, dihadapan semua orang (lagi). Dan kali ini tentu saja “yes, i do”.
            Well.. hidup ga pernah semudah mengambil keputusan antara makan apa atau minum apa, hidup jauh lebih berat dari itu. Semakin sulit hidupmu, sepi akan semakin menyelimuti, semakin sulit hidupmu maka hati akan semakin lari dan akhirnya sembunyi. Selama kita bisa menjalani dengan ikhlas, selama kita selalu tersenyum akan dunia yang kejam, maka kita bisa menikmati alunan kehidupan. Ada kalanya untuk mencari jati diri, ada kalanya untuk menemukan kebahagiaan di tempat yang berbeda, berjalan sejauh apapun untuk menemukan sesuatu. Namun tak selamanya kebahagiaan ditemukan dengan terus mencari, terkadang kebahagiaan sudah ada, kamu hanya perlu tetap tinggal dan hidup didalamnya...

Kamis, 15 Oktober 2015

Senyum yang lebar

Hallo! Apakah kamu mampir lagi? Ngilu, perih, lara? Kali ini apa episodenya? Apa temanya?

Aku mengerti cara kerja rolercoster. Hal terbaik pertama yang kumengerti. Berteriak menikmati histeria atau takut dikejar rasa ngilu dan ngeri.

Lucu, kuakui bahwa mungkin otakku tak bergulir dengan baik, hingga tak satupun fikiran jernih terlintas, hingga melulu aku merasa lelah dan lagi-lagi prasangka.

Mereka tidak mengerti, mereka tidak tau, mereka tidak merasa, mereka bukan dirimu, hidup mereka luar biasa.

Tersenyumlah yang lebar, yang bahagia, yang indah, sembunyikan perih, tahan dulu lara, kamu harus menang! Jawab dengan santai, katakan juga dengan caranya tersenyum dengan lebar, sampai mampus! Sampai puas.

Hmmmm... tidak adil.

Selasa, 13 Oktober 2015

Berjalan menuju akhir


Sebenarnya, apa yang sedang kami lakukan? Sejujurnya, kenapa dengan perjalanan ini? Jika semua pertanyaan tidak selalu butuh jawaban, lalu kenapa jawaban menjadi lebih berarti untuk melengkapi segala yang telah terhenti secara tidak wajar.

Sudah kulakukan, kuikuti arah angin berhembus, kubiarkan air mengalir lambat, dan aku hanya ikut hanyut di-dalamnya. Memaafkan, melupakan, lalu mari kita hidup dengan kehendak Ilahi. Namun, aku hanya manusia biasa. Tidakkah selalu menjadi salah dan salah adalah lagi-lagi berujung membenci? Tidakkah diam dan diam adalah lagi-lagi mengoyak hati dan meninggalkan bekas? Lalu kenapa..?

Apakah tuturmu begitu berharga? Apakah hatimu begitu rapat terkunci? Hanya untuk sekedar bercerita dan berkata “aku lelah”, atau “aku sedang ada masalah”, apapun itu. Dengan siapa engkau hidup wahai sesorang yang ditubuhnya juga mengalir darahku? Dunia apa yang sedang kau tapakki? Hingga bahkan kami tak bisa menyentuh atau hanya sekedar mengintip apa yang kaulakukan atau perbuat? Apa tujuaanmu?. Apakah engkau sendang merancang sedikit demi sedikit masa depanmu dengan indah? Apakah engkau sedang merajut satu demi satu harpan untuk nanti? Atau kau hanya menghancurkan dirimu sedikit demi sedikit dengan kebahagiaan semu? Tidak, aku tidak akan lagi berharap atas apapun, lakukan yang engkau mau, hiduplah diduniamu, namun jangan hancurkan dirimu. Jangan membuat luka ini sia-sia, jangan lebih membuat pelepasan ini tak berarti.

Lalu kau? Ada apa dengan dirimu? Apakah kau Tuhan? Apakah nilamu akan selalu sempurna? Apakah kesalahan tidak mungkin hingap pada tubuhmu? Kenapa kau begitu munafik? Kau tak perlu menjadi tegas, itu tidak dibutuhkan, matamu, telingamu dan hatimu tertutup rapat hingga tidak lagi mengeri benar dan salah. Jangan berlagak mengetahui segalanya, kau bukan Tuhan. Jangan bertindak selalu benar, kau manusia.

Tidak bisakkah ini selesai? untuk sebuah perjalanan panjang yang sudah sangat lama di tempuh, untuk segala keadaan dimana kerikil dan batu terus melukai tapak yang semakin lama semakin lemah dan sakit. Apakah ini juga bukan akhir? Ketika bahkan keadaan sangat terpuruk telah lewat. Ketika sedikit demi sedikit nanah dan koreng pada luka itu mulai mengering?

Bagian mana yang salah Tuhan? Sisi mana yang benar? Kenapa ini begitu rumit? Kenapa Engkau selalu mempermainkan bagian tersulit, hati, perasaan, jiwa. Aku sudah cukup hampa, aku sudah cukup dihukum, aku sudah cukup terhempas dan jatuh tersungkur. Lalu dimana akhirnya? Lalu sampai kemana ujungnya? 

Senin, 20 Juli 2015

i need 'day'


Jadi.. harus kemanakah aku melangkah? Apakah ke utara, selatan, timur atau barat? Lalu.. setelah hari ini berakhir, apa yang harus kulakukan? Kenyataan bahwa segalanya sudah diujung dari sebuah perjalanan singkat, dan aku masih tak menemui apapun.

Esok, apa yang harus kulakukan..? menghitung hari? Menunggu detik? Berulang kali melalui jalan yang sama?

Tak lama setelah tawa mengambang diudara, bahagia hari itu berakhir. Ketika saat pulang menghampiri, saat itu akan tiba. Dimana sepi dan lagi-lagi tekungkung menjelaskanmu akan sebuah kata yang hingga kini tidak ingin kau akui.

Harus apa aku setelah ini? Apa yang kulakukan esok? Sudah beruang kali kubunuh waktu dan sepi, aku sudah belari sejauh perjalanan yang bisa kulampaui. Hingga pada akhirnya aku hanya bisa kembali dan lagi-lagi menyadari.

“Kamu.. sudah mengakhiri sesuatu yang kamu mulai, dan hingga kini kamu belum memulai sesuatu atau apapun lagi?”.

Tertawa, hura-hura, menjadi berbeda, melangkahi detik dan pura-pura bahagia.. bukankah aku pelakon yang baik? Dan meskipun begitu, rasanya masih kosong. Dan walaupun begitu, aku tetap sepi. Jangan menangis kata batin, berhenti menjadi kalah dan haru kata akal, jangan.. kamu akan kehilangan segalanya kata hati.

Apa yang kucari? Apa yang ingin kutemukan? Apa yang ingin kumulai? Dimana aku ingin tinggal dan berhenti? Kenapa semua semu hingga lagi-lagi hati terasa hanya kosong dan hampa.

Lihatlah dia, seberapa besar matanya berbinar? Bisa kaurasakan? Mimpinya dan mengebu-gebu rasanya ingin itu nyata..

Lihatlah mereka, tertawa hingga seisi ruangan riuh, lepas, bahagia.. bisakah kau bandingan dengan sepi yang masih ada disudut-sudut hati ketika menyadari bahwa masa akan segera berakhir..?

Lihatlah orang itu, bahkan ketika yang ia lakukan tak sebanding dengan segala sesuatu yang ia dapatkan, dia berusaha dan melakukan sesuatu..

Lalu aku?
Harus kuapakan rasa hampa ini? Harus kutujukan kemana hidup ini? Ke arah mana aku harus meneruskan jalan yang masih teramat pajang dan jauh ini? Haruskah aku berputar hanya di sebuah tempat yang sama?

Aku ingin menemukan apa yang kucari. Aku ingin tau apa yang membuatku menunggu. Aku ingin memulai hidup yang kuinginkan. Aku ingin tinggal di tempat dan didunia yang aku ingin tinggali. Aku tidak ingin berhenti dan berputar seakan hari ini tak lagi memiliki lembar baru.



                                                             'day' = berasal dari nama amerika yang berarti
                                                                                cahaya dan harapan.. 

Senin, 13 Juli 2015

hallo! teman kecil..

Apakah kita masih berada di sana? Entah apakah kamu akan mengingat kala itu, ketika kita masih sangat polos bahkan untuk mengenal perbedaan, kala dimana yang kita ketahui dengan baik adalah mainan, kala dimana semua kebahagiaan hanya berasal dari hal-hal sederhana. Seperti berlarian saling mengejar, bermain boneka, dan menyusun puzzle.

Aku masih ingat kala itu, janji yang dibuat dua orang anak kecil yang bahkan belum mengenal mode dan style, janji sederhana bahwa seusai tahun berlalu kita akan bertemu lagi, akan berlarian dan mengejar matahari lagi. Kamu yang kekal diingatanku adalah kakak perempuan baik hati yang selalu adil, kakak perempuan yang berbeda beberapa tahun lebih tua dariku yang tidak pernah kusebut kakak, atau ayuk atau apapun itu. Kita adalah teman, dan kala itu kukira akan menjadi selamanya.

Beberapa waktu sebelum kamu pergi, kita hanya berbincang sederhana. Aku masih ingat sorot matamu polosmu kala itu, ucapanmu saat itu, “nana pergi Cuma sebentar, kalo nana pulang kita main lagi” dan aku selalu menunggu saat nana akan pulang, ia itu adalah namanya, teman kecilku yang tiba-tiba muncul kembali setelah betahun-tahun menjadi koleksi ingatanku yang bahagia. “kalo nana pergi, ica main sama siapa?” kataku menjawab dengan penuh penyesalan. “nana pasti pulang, terus kita main lagi”.

Entah mengapa aku selalu menunggu sosok anak perempuan teman bermainku untuk pulang, tahun pertama, tahun kedua, dan tahun-tahun setelahnya. Nana tidak pulang untuk waktu yang lama, dan aku beranjak dewasa, melupakan janji bahwa kami akan bertemu dan bermain bersama lagi.

Ketika waktu telah berlalu dengan cepat, dan waktu hampir menghapus semua kenangan, tiba-tiba sesuatu mengingatkanku. Stiker, yaa.. hal sederhana yang masih menempel di tempat yang sama ketika dulu kami sering bermain, tempat dimana nana berjanji akan pulang dan menemaniku bermain lagi. Stiker janji itu masih berada disana, dan tak lama kemudian memudar lalu menghilang. Apakah seiring dengan pergi dan mehilangnya semua kenagan dan janji? Mungkin iya, atau tidak.

Setelah hampir lima belas tahun dan aku tumbuh menjadi perempuan yang cukup dewasa untuk mengerti ‘hidup’. Nana tiba-tiba pulang, nana pulang. Ia tampak sama dengan tubuh yang lebih tinggi dan cantik, matanya yang bulat hitam, rambutnya yang sebahu, tubuhnya yang mungil, dan wajahnya yang tirus. Apakah nana masih menjadi nana yang dulu? Jawabanya tidak tau.

Nana kembali, namun dengan penampilan yang berbeda. Nana nampak lebih modis, lebih stylist, lebih cantik, dan lebih pendiam. Ketika pertama kali kami bertemu, nana bahkan tidak memberikan senyum ramahnya seperti dulu, hanya berlalu seakan memandangku asing. Apakah nana tidak mengenalku? Bahkan aku tak banyak berubah, hanya sedikit lebih dewasa.

Nana tidak lagi sama, dia berubah menjadi gadis yang berbeda. Nana hanya bergaul dengan anak-anak kelas pejabat atau pengusaha, hanya tersenyum kepada orang-orang cantik dengan penampilan yang modis dan stylist, nana tertawa dan bermain pada anak-anak berduit dan bergengsi. Nongkrong di restaurant-restaurant mewah, cafe-cafe elit, dan dengan barang-barang branded dari ujung kepala hingga kaki.
Kami tidak lagi saling bercerita layaknya sahabat baik, tidak lagi bermain dan tertawa bersama, tidak lagi berbagi snack atau bertukar stiker, waktu berlalu dan segalanya berubah. Bahwa hidup yang sekarang menuntumu untuk menjadi berkelas, bahwa hidup di zaman sekarang berlomba-lomba memperlihatkan setiap detil yang kamu miliki adalah nomor satu. Hidup yang sekarang mengharuskanmu untuk berteman, bermain dan berkawan pada tempat yang sama, kepada strata yang sesuai.

Apakah nana akan ingat ketika suatu hari jika kesempatan datang dan kitaa akan duduk bersama, membicarakan masalalu, bercerita masalalu? Apakah nana akan turut tersenyum dan bahagia ketika kuceritakan bahwa dulu kita menangis dan ketakutan bersama? Entahlah.. 

Kamis, 02 Juli 2015

If you


Jika Dia berkata iya dengan segara,
Maka kamu akan diam ditempat selamanya
Jika Dia segera membuat semuanya nyata,
Maka kata sakit tidak akan mengajari dan bermakna..

Jika kamu hanya diam dan tidak melakukan
Jika tiba-tiba dunia berputar dan kamu sadar
Tetap berada di tempat yang sama,
Merangkaklah keluar dengan segenap tenaga,
Berusahalah menjadi berbeda

Jangan berhenti bernafas,
Jangan lelah menjadi sakit dan bangkit lagi dan lagi
Jika kamu terus begitu
Jika kamu tak mengubah itu
Maka kamu akan tiba di tempat yang lagi-lagi sama

Dengarkan aku Tuhan,
Bahkan hanya sepintas selalu
Aku ingin membangun mimpi-mimpi indah itu
Aku ingi hidup diantara senyuman, cinta dan kebahagiaan
Yang dimiliki semua orang

Jika kamu..
Jika kamu..

Lihatlah semua hal yang kupunya,
Lihalah seberapa lebar senyumku mengembang,
Lihatlah aku yang begitu bahagia,
Lihatlah semua orang mencintaiku,
Aku..

If you..
If you..

Lalu aku menghembuskan nafasku lagi, dengan berat
Ini adalah ‘jika’ dan ini bahkan belum dimulai
Jika aku, jika kamu, jika kita
Akan menjadi sebuah kisah yang indah dan bahagia
Maka jadilah seperti itu dengan segera,
Dengan sentuhan keajaiban-keajaibanmu.. kumohon segera

Jika kamu..
Jika kamu..

Jika kamu datang pada saat yang tepat nanti,
Maka aku akan menyambut dengan segala yang kupunya,
Dan kita akan bahagia bersama, bersama..
Jangan lari, berhenti menghela nafas
Hanya menjalani hidupmu
Ia akan segera menolongmu, dengan keajaibanya
Jangan sembunyi, lihatlah semua akan membaik
Berhenti menangis dan coba tersenyum dengan cantik..

Senin, 22 Juni 2015

Dear sahabat terbaikku sepanjang masa,


     hallo nerd! hahaha pasti marah dan dalam hati mengumpat saat kuucapkan kata begitu. ini adalah jawaban atas kata-kata yang luar biasa panjang yang bisa kutanggapi dengan pertanyaan-pertanyaan bodoh seperti "lalu","bagaimana" dan "kenapa". hanya satu yang kusesali, bagaimana bisa kita menjadi sama.. setidaknya harus ada yang memiliki masalalu yang sempurna satu diantara kita berdua. yaa.. aku tidak bisa membantu banyak, hanya membaca kata demi kata yang kau-ucapkan melalui pesan-pesan singkat masa kini, dengan banyolan yang seadanya, dan jarak yang memisahkan.

     sampai saat ini, hal ini akan selalu jadi penyesalanku.. bagaimana bisa aku tak melakukan apapun?bagiamana bisa aku tak berdaya atau membantu bahkan hanya setitikpun? bagaimana bisa bahkan kamu tidak bisa menitihkan airmata karena terlalu beku? bagaimana bisa aku hanya menagis bodoh dari kejauhan karena ikut merasa perih? bukankah kita tak cukup layak untuk ini..

     jangan marah karena kusebut "nerd" itu tidak berarti apapun, aku hanya menonton suatu reality show dengan bintang tamu seorang blogger yang memilliki penampilan yang 'berbeda' dan mc menyebutnya "nerd". dia tidak marah, dia berbeda.. dan ketika sejuta manusia pun dimuka bumi akan memaki dan berkata apa, dia akan bahagia menjadi 'dia' tapi tidak berarti kamu tidak berubah. nerd yang kuucapkan hanya banyolan, berehenti berfikir ratusan kali karena kata itu dan jangan marah!

     kenapa kamu harus begitu? kenapa kamu harus ikut jadi salah satu koleksi luka dihatiku, bagimana bisa kamu jatuh? tau, betapa aku bangga karena mimpi-mimpimu? tau, betapa aku iri melihatmu yang terus melangkah maju bahkan ketika itu gulita dan keruh? bagaimana bisa kamu rapuh?

     aku bahkan berfikir untuk pergi ketika kamu bercerita mengenai ini dan itu, aku takut juga ikut menjadi sakit. oh iya.. aku bahagia akhirnya kamu bisa bercerita seolah aku benar-benar sahabatmu, kamu selalu memberi jarak, bahkan ketika aku sudah memberitahu semua hal yang kupunya kepadamu, dan kamu hanya tetap menyimpan segala apapun itu untuk hatimu sendiri. terimakasih.

    hanya sesaat, beberapa detik dan kemudian aku sadar. aku ingin lari ketika kamu bercerita dan aku ikut menangis, kau tau duniaku.. aku hanya tidak ingin lebih sakit, karena sahabatku juga terluka.. seperti kataku tadi, setidaknya harus ada yang memiliki masalalu yang luarbiasa diantara kita. namun ketika aku tersadar, aku merasa sangat jahat, dan merasa payah sekaligus. apa yang bisa kulakukan untukmu? aku bahkan tidak bisa melihat luka yang menganga dan lebar disana, aku juga bukan penghibur yang menyenangkan, atau si baik hati dengan sejuta kebijaksanaan, aku hanya seorang pendengar yang kaku kan?

     apapun itu.. aku tidak mengubah cara pandangku padamu, sedikitpun. jadi jangan malu untuk berkata jujur dan membuka hatimu, dan sesekali harus belajar memahamasi situasi, kau kadang-kadang berubah menjadi STICH dan itu menyebalkan, seakan ingin kutarik keluar semua pita suara yang kau-punya.. jangan mrah lagi, aku bercanda stich! ;)

     aku ingin kita bertemu dan berbincang lebih sering seperti saat itu, namun kau sendiri akan mengerti situasi luar biasa di rumahku ini, aku juga ingin banyak membantu seperti yang kaulakukan dulu, setidaknya temanmu bercerita, namun terkadang situasi dan waktu tidak pernah berjalan seiring. hanya ingin kau tau, aku selalu disini dan siap untuk menjadi pendengar yang baik.

    jangan menyerah. karena itu adalah satu-satunya jalan untukmu berhasil, entah mengapa aku percaya. dan.. mari kita menjadi sahabat selamaya, jangan mengumpat dalam hati sekarang! kau pasti sedang berkata sesuatu :( mari kita saling bersahabat sampai ajal memisahkan, jangan menyerah padaku, dan aku juga tak akan melepaskan tanganmu, katakan apapun yang mau kau katakan, ceritakan apapun jika itu memang terlalu sakit untuk disimpan sendiri, dan... menangislah! berlajar menangis, berlajar mencair, belajar lebih hangat. mencintai tak harus kau se-tegar batu dan tak bisa hancur..

     tidurlah nyenyak dimalam hari, jangan kuatir atas apapun, percayalah kepada Tuhan lebih dari apapun bahwa Tuhan ada, bahwa Tuhan punya rencana, jangan takut ditinggalkan, jangan takut disakiti, dan mencintailah sebanyak yang kau mau, percayalah semua orang mencintai dan itu sangat wajar. berehenti hidup dimasalalu, berhenti menjadi sakit dan trauma akan masalalu, dan jangan jadi korban atas pertengakaran siapapun lagi, kau pantas bahagia. kita semua mencintai dan ingin melindungi orang-orang yang kita cintai namun dengan cara yang benar. jangan menjadi sakit seorang diri lagi!

bahagialah..

    selamat orang tahun nerd! stich! uri chingu, my best friend atau orang bagiaan manapun yang menyebut sahabat dengan apapun.. jadilah lebih bahagia, tercapailah semua cita-cita sederhanamu, bertemulah dengan cinta yang akan membuat hidupmu berubah, jadilah kamu lebih baik, lebih menawan, dan mari kita selalu berbagi cerita..

Senin, 15 Juni 2015

Berhenti

Nanti, akan ada kalanya ketika kamu tau dimaana harus berhenti. Akan ada kalanya kamu menyadari bahwa kamu hanya seorang diri. Akan ada kalanya ketika kamu merasa bahwa seluruh dunia membenci akan hadirmu.

Sepi, lelah, dan hancur seorang diri.

Nanti, akan ada masanya ketika bahkan keluargamu tak berada dipihakmu untuk apapun. Kala ketika kamu bahkan tak percaya siapapun, saat ketika bahkan kamu tidak memahami jawaban dari pertanyaan ini dan itu.

Apakah kamu ingin lari? Apakah kamu ingin sembunyi?
Hanya ingin tiba-tiba menghilang dan memulai semuanya sendiri?
Bukankah dunia sangat kejam?
Dan dirimu sangat naïf?

Jangan menangis, karena tidak akan ada yang mendengarkan. Jangan marah, karena semua orang tidak akan mengerti dan kamu akan menjadi salah besar. Jangan lari, tidak akan ada yang mencari. Iya kamu hancur seorang diri, iya kamu seorang diri.

Hanya berenti, sejenak.
Tidak perlu lelah dan semakin lelah, bahkan tidak akan ada yang peduli,
Kamu bagai tak bermakna, tak berarah, tak berakhir dan berawal.
Iya.. jangan menangis.

Pahami saja seorang diri, bermain-main saja dengan imajinasi. Berdoalah, memintalah untuk semuanya, kesalahan bukan berarti kamu hancur. Sedikit lagi, jangan lupa untuk membuka matamu lagi dan bangkit. Jangan lupa untuk kembali tersenyum dan berlari. Semua akan berlalu, masa-masa sulit akan segera menghilang, kehidupan yang bahagia dan manis akan datang. Berhenti menjadi lelah, kelak kamu tidak akan rela bahkan untuk tidur karena bahagia. Jadi percayalah..

Jadi jangan menyerah. Jangan pernah lupa, bahwa kamu sudah berjalan sejauh ini. Liat semua sakit, perih dan sendiri yang kau lalui, ingat berapa banyak airmata yang sudah jatuh hari-hari kemarin. Bahwa Allah adil bukan hanya sekedar kata tak bermakna yang mengambang diudara, bahwa Allah ada bukan sekedar angan-angan dan bayangan yang hilang setelah habis masa, bahwa setiap kata demi kata dalam doa kita hanya mengambang diudara dan tidak pernah didengar, ada.

Jika hari ini sulit, maka cepatlah berakhir wahai masa-masa sulit dan datanglah masa-masa yang indah dan penuh dengen bahagia. Jika kamu sendiri dan tak dimengerti, maka datang lah segera mereka-mereka yang siap mendengarkan dan menemani selamanya. Jika ini melelahkan, maka hari-hari yang indah nan bahagia akan segera tiba. Jika cintamu hanya terisi sebelah dan tak pernah penuh, maka akan ada yang datang dengan caranya yang indah, dengan hangatnya, dengan cinta yang seutuhnya untuk mengisi setiap kekosongan hati itu. Jika kekurangan akan hal-hal membuatmu rapuh dan bagai tak berarti, maka akan segera datang dimana kamu memiliki segalanya dan berbagi. Jangan hancur seorang diri, jangan menyerah setelah sekian lama sakit dan perih menjadi bias, jangan berhenti walau stiap detik untuk percaya.

Kamu akan dapat bagiannya, kamu juga akan merasakannya, kamu akan bersyukur karena telah merasakan segalanya, kamu akan menang dengan seutuhnya, kamu! Saya..


Rabu, 13 Mei 2015

fly away

Aku sudah mengerti bahwa semua ini akan terjadi, sedikit tergambar jelas disana. Menghindar? Sudah aku coba lakukan, tetapi mengihindarimu bukan hal yang mudah. Begitu aku mundur satu langkah, maka kamu akan maju sepuluh langkah, ketika aku berbalik menjauh, maka tanganmu akan dengan erat mengengam. Lalu apa yang harus  kulakukan dengan semua itu? Apa yang harus  kulakukan dengan kenangan kamu yang bergutik terus-menerus didalam fikiran saya? Bagaimana bisa kamu hilang begitu saja seperti memori didalam handphone saya yang rusak. Aku tidak bisa. Masih akan jadi tanda tanya besar, apakah aku akan berhasil move on melupakanmu hingga ke bagian-bagian terkecil.

“kita putus! Jangan cari aku lagi, kamu ga perlu ngapa-ngapain, kita cukup saling diam ditempat, dan saling ngelupain”. Aku ingat saat kata-kata itu kuucapkan dengan fasih dan lancar, seiringnya hatiku merasa lega dan akan terlepas dari luka mandalam. Namun kamu tidak mudah menyerah untuk hal-hal yang kamu miliki kan? Tentu saja. Berhari-hari menunggu didepan rumah, mencariku kemana-mana, bahkan dengan perban yang masih basah, yang melingkar di tubuhmu. Dan aku menyerah, aku tak  bisa melihatmu merintih menahan sakit dipungungmu yang tak lama terhempas kejalanan aspal tebal. “aku dirumah bunda sarah” pesan singkatku yang kukirimkan kepadamu kemudian.

Tak lama kemudian kamu sudah berada didepan rumah, berdiri dengan tampilan lusuh, kacau. Aku datang mendekatimu dan kamu seperti anjing kecil yang bertemu kembali dengan tuan pemiliknya. Kamu memelukku erat, merasa lega. Kulepaskan pelukanmu, kutatap kamu dalam-dalam.

“bagaimana bisa Cuma beberapa hari dan kamu jadi begini?” kataku sembari merapikan kerah dibajumu yang berantakan.
“jangan tinggalin aku makanya” dengan nada manjamu seiring dengan tangamu yang membelai rambutku yang terurai.
“kita kan sudah putus” jawabku ketus
“apa yang salah? Kenapa?” nadamu mulai berubah marah
“bosen, mungkin..” jawabku seiring membelakangimu
“bohong! Saya kenal kamu by” deka menarik tangaku lagi, membuat mataku memandang dalam kedua bola matanya.
“kamu mau saya bilang apa ka? Saya nyerah.. itu aja”
            “saya salah apa by? Setidaknya kasih saya kesempatan buat minta maaf”
            “kamu ga salah apa-apa, saya yang salah” jawabku tanpa ekspresi, deka diam. Memandangku dalam-dalam, menunggu sebuah penjelasan.
            “saya belum siap buat kehilangan kamu dek, kemarin saya liat kamu patah kaki didepan mata saya, kemarin saya liat badan kamu terhempas ke aspal, diperban, msuk rumah sakit, merintih lagi, minum obat lagi, berkutik dengan jarum infus lagi, terapy lagi, tapi kamu akan tetep dateng buat latihan, semua orang bakal nerriakin nama kamu, kamu bakal semakin cepet dan cepet dan entah besok saya akan liat apa yang akan terjadi sama kamu” jawabku lirih, deka mandengarkan
            “saya tau balap hidup kamu, saya tau kamu suka semakin cepet. Kayak terbang bebas ya? Tapi saya ga siap ambil resiko bisa kehilangan kamu tiap detik, didepan mata saya, saya ga sekuat itu. Saya juga ga bisa kasi kamu pilihan balap atau saya, karena saya tau balap itu hidup kamu, jiwa kamu. Saya bahagia banget liat sususan piala dan hadiah yang kamu dapet setiap kali kamu menang, ngeliat senyum kamu yang udah ga berenti ngembang, demi apapun saya berharap kamu terus gitu. Tapi itu ga setimpal dengan resiko yang kamu tanggung, saya ga bisa” deka menatapku, tanpa suara. Mencoba memahami yang kukatakan
            “saya ngerti. Kalo gitu, kita sampai disini aja” kata deka kemudian, seiring dengan berlalunya deka.

Aku mengerti, dan kurasa dekapun begitu. Setelah mendengar kata-kataku, deka berlalu begitu saja. Hampir dua bulan tidak ada kabar selain dari televisi ataupun surat kabar, deka memanangkan race-nya tingkat nasional dan untuk pertandingan berikutnya akan ber-skala internasional diluar negri. Aku ikut bahagia karena mimpinya menjadi kenyataan. Di dalam hati aku selalu berdoa untuknya.

Beberapa minggu sebelum keberangkatan deka untuk latihan diluar negri. Deka menekan bel apartemenku, datang kepadaku. Pagi itu aku hanya sedang membuat sarapan pagi ketika deka datang dengan sebuket bungga berwarna pink cantik. Aku tersenyum dan mempersilahkan deka masuk, deka duduk dan kukira kami hanya akan saling berbicara sebagai teman.

            “saya akan berhenti” kata deka tiba-tiba mengagetkanku
            “by, saya bisa gila! saya marah ketika kamu bilang kayak gitu waktu itu, kamu tau race dunia saya, satu-satunya jalan saya buat bisa bebas, tapi ini jauh lebih buruk kalo hidup saya ga ada kamu. Saya kira saya akan baik-baik aja, race saya berjalan lancar, tapi otak saya ga bisa berhenti mikirin kamu, semakin saya mikirin kamu, saya semakin ingin terbang lebih jauh.. buat ketemu kamu. Kasih saya kesempatan” Aku berhenti memasak, dan datang mendekati deka. Memeluknya yang nampak hancur.
            “biarin ini jadi yang terakhir by, biarin aku buat salam perpisahan buat motor dan dunia balapku, aku janji ini yang terakhir, janji!” kata deka kemuadian
            “yang terakhir dan setelah ini kamu bakal diem-diem di samping aku, cari hobby yang lain, cari kerjaan yang lain?” jawabku
            “iya janji!” seraya senyum deka kembali mengembang.

Kudengar bahwa latihan deka berjalan lancar, di minggu-minggu terakhirnya dia masih menelponku bercerita banyak hal, satu halyang masih kusadari dengan jelas, deka sangat mencintai dunia itu, dunia yang bisa merenggut nyawanya kapan saja, setiap detik. Sebelum hari terakhir deka bertanding, sepanjang malam dia berbicara kepadaku, hmm.. iya, aku tidak ikut ke jepang untuk melihat pertandinganya, deka tidak ingin aku datang “jangan terluka by, saya bisa lebih sakit” katanya kala itu.

Malam itu deka berbicara mengenai orang-orang baru yang ia kenal melalui dunia balap, dia bahagia sekali. Didalam hati aku menyesal memberinya kesempatan, karena kusadari betapa ia bahagia tinggal didunianya. Tapi hatiku semakin gelisah, ketika deka mengakiri pembicaraan dengan berkata “saya akan terbang lebih tinggi besok, saya janji ini akhir!” aku semakin merasa gelisah ketika senyum nya di balik video call terasa jauh lebih hangat dari biasanya.

Hari itu tiba, aku bangun pukul delapan. Pertandingan deka dimulai dipagi hari. Aku hanya bisa melihat dan menunggu lewat layar televisi, namun tidak kulakukan. Detik demi detik waktu kuhabisakan dengan berdoa didalam hati dan membuat sesuatu, setidaknya dengan memasak aku bisa sedkit lupa. Kala itu ada beberapa teman dekatku di apartement, mereka sibuk berbincang dan bermain game, tia dan nita menemaniku memasak. Kumohon, buat aku lupa. Tak lama kemudian telfon berdering, sam mengangkat telfon, diam sesaat. “by, sini” kata sam memanggilku dengan nada rendah. Kuterima telfon itu “hallo..” aku mendengarkan orang diseberang sana berbicara pajang lebar, mengenai ada sedikit masalah mengenai deka, pertandinganya sedikit kacau, ada tabrakan beruntun yang memakan banyak korban, salah satunya deka. Aku diminta segera menyusul ke jepang dengan penerbangan pertama. Seketika semua menjadi pilu, aku hanya terdiam membisu. Tia dan nita membantuku membereskan pakaian, sam dan joy memesan tiket, mereka berjanji akan menemaniku ke jepang. Di sepanjang perjalanan aku hanya diam, tidak ada air mata, tidak ada kata-kata, hanya berdoa, “kumohon Tuhan, beri aku kesempatan, biarkan aku menemaninya”.

Ketika aku dan teman-temanku tiba di jepang, om john manager deka sudah menunggu kami, ketika om john datang ke arahku, aku kalah. Aku terjatuh dan menangis haru, berkata berkali-kali bahwa ini adalah mimpi atau semacamnya. Tak lama kemudian kami tiba dirumah sakit, deka koma. Beberapa tulang rusuknya patah, kakinya diperban, infus menusuk setiap bagian tubuhnya, sekarat.

Aku memandangi tubuhnya yang terbaring lemah dari balik kaca ruang ICU, dia nampak tenang dengan segala alat yang membantu nafasnya. Harus kuapakan rasa sakit ini, sayang? Harus kubuang kemana rasa perihnya? Kamu berhutang maaf dariku, dan kamu juga sudah berjanji..

Seminggu sudah ia dirawat, dan tidak ada tanda apapun yang membuat semua orang berhenti untuk khawatir. Sejak hari pertama ia terbaring lemah disana, tak sekalipun aku masuk untuk melihatnya langsung kedalam icu, hukuman untuk dia yang tidak pernah mendengar kata-kataku.

Pagi itu salju turun di jepang, kulihat putihnya dari balik jendela kaca rumah sakit, deka tau bahwa betapa aku menyukai butiran es berwarna putih ini, namun hari ini aku membernci salju itu, nampak dingin dan membeku. Dari balik pintu kudengar pembicaraan dokter dan kedua orangtua deka, kudengar deka akan dipindahkan ke jakarta dekat dengan keluarga, kenapa? bahkan ketika dia belum sadar dari koma dan harus kembali? Karena.. samar-samar kudengar dokter mengatakan bahwa hanya ada sedikit harapan untuk hidup, jika keajaibanpun terjadi dan deka sadar maka ia tidak lagi bisa berdiri dengan kedua kakinya, dan aku tak deka membenci hal itu.

“hai!” kulihat deka duduk dikursi dengan senyumananya, aku mendekati deka dan meraba wajahnya, dia hangat.. dan seketika aku menangis,
“kenapa..? jangan nangis ah, jelek” kata deka lagi, dan aku masih diam memandang wajahnya dalam-dalam lalu memeluk erat dia.
“salju by, kamu suka kan?” kata deka seraya memandang ke luar jendela, aku masih diam dan menangis dalam pelukannya
“maaf by, maaf” kata deka kemudian seiring dengan memandang wajahku pekat, tanganya yang tadi menyentuh wajahku hangat mulai menjadi dingin dan terlepas.

Tiba-tiba aku terbangun. Itu hanya mimpi, aku tertidur di ruang tunggu. Ku pandangi disekitarku, semua orang tertidur lelah dan ini sudah larut malam. Aku berjalan keruang deka, ia masih disana, juga tertidur lelap. Aku masuk kesana, mendekat ke arah dia yang terkulai lemah, mengengam tanganya, tangannya masih hangat, jari-jarinya masih sama seperti dalam ingataku, dan aku menangis.

            “jangan menunggu, aku baik-baik aja.. kamu boleh pergi kapan aja sayang, liat jarumnya tambah banyak, selangnya nambah lagi, lama-lama kamu jadi robot” kataku seraya mengengam erat tanganya,
            “jangan sakit karena aku, kamu boleh terbang sejauh yang kamu mau.. jangan menunggu, aku lebih suka kamu ngelepas semua ini dan pergi ka.. jadi ga ada rasa sakit lagi” dan tangisku pecah dipelukannya.
Tiba-tiba tangan deka mengengam tanganku, bergerak. Ketika aku bangun dan melihat, deka bangun matanya yang nampak sayu memandangku dan tersenyum manis, aku berlarian memangil dokter, dan keajaiban datang, deka sandar dan ia akan segera baik-baik saja.

Deka duduk di ranjangnya, kedua orangtua deka tidak henti-hentinya mengucap syukur dan menangis, aku hanya melihat dari balik pintu ketika deka mengangkat tanganya, meminta kusambut. Aku mendekat dan memeluknya, dia tersenyum dan kembali memeluk maja.. “i’m back” katanya kemudian. Sudah dua hari deka sadar, namun para dokter belum memperbolehkan deka pulang. Masih ada serangkaian pemeriksaan dan oh iya.. deka baik-baik saja, ia berjalan kesana kemari memutari rumah sakit sesuka hatinya. Dia tampak bahagia, dan ia kembali seperti deka yang dulu aku kenal, lucu, hangat, periang.

Hari ketiga setelah ia siuman, ia duduk ditaman rumah sakit memandangi anak-anak sedang bermain bola, menghela nafas panjang. Ketika aku mendekat dia mengapai tangganku, mengengamnya erat.

            “kamu tau kenapa aku sadar?”
            “karena kamu emang harus sadar buat aku, kamu kan baik-baik aja” seraya aku membelai wajahnya
            Ia mengeleng pelan “karena aku mau nepatin janji!” aku terdiam bingung
            “aku kembali, buat kamu.. aku minta waktu buat kembali ke kamu dan aku disini” dia tersenyum
            “tapi.. kalo aku ikut pertandingan selanjutanya di eropa boleh ya?” kata deka kemudian,
            “oke kita putus!” jawabku..
            “aaaaaahhh, ayaang..” dan kami bercanda sepanjang hari

Ketika malam tiba, di ingin aku tidur didekatnya, tanganku ia gengam erat. Kulihat dia tidur dengan nyenyak, senyumnya masih mengembang. Ketika pagi datang, kulihat ruang inap sepi, deka tidak ada, semua orang sibuk berlarian, nafas deka terhenti, dia tidak lagi terasadar dengan senyum hangatnya, ketika para dokter melepaskan segala alat bantu dan menyebutkan jam dan hari, deka benar-benar pergi.

Taukah kau? Orang berkata ketika seseorang yang sudah koma lebih dari tiga hari, ia akan bermimpi panjang, didalam mimpinya ia akan bertemu dengan orang-orang yang ia sayangi, lalu pelan-pelan mengenal mereka dan rasa cinta orang-orang tersebut kepada dirinya, lalu ia akan diberi sebuah harapan oleh Tuhan, apakah keajaiban atau kesempatan. Deka.. ia mendapat kesempatan, ia sadar untuk beberapa hari, memeluk kedua orangtuanya hangat, mengukir senyum di wajah teman-teman yang menunggunya siang dan malam, dan menepati janjinya kepadaku. Dia kembali, dan aku lupa untuk membuatnya berjanji kepadaku agar ia tak pergi lagi. Dia sudah benar-benar terbang tinggi.


                         Untuk kamu yang bersembunyi dibalik awan putih di atas sana,
                         Apakah kamu bahagia! Ya.. sana terbang sepanjang waktu!
                        Saya mencintai kamu, bodoh.. 

Minggu, 10 Mei 2015

what should i do?

sakit. terkadang batinku bertanya dalam diam, meringis seorang diri. kenapa seseorang yang sudah melakukan segala hal yang terbaik ia miliki bagai hilang dan berlalu begitu saja, tak telihat? dan seseorang yang tak melakukan apapun mendapatkan senyuman hangat dan ucapan terimakasih?

untuk seseorang yang ku perlakukan amat sangat baik, tega dia mengkhianati dengan mulutnya yang kejam, mengores kepercayaan dengan kata-katanya yang sederhana. ternyata mulut yang ia gunakan membicarakan orang lain, juga menjadi senjata untuk menghancurkanku.

untuk sahabat yang katanya rela berkorban dan mengerti dirimu lebih dari siapapun, dan saya tercengang dengan perlakuan luar biasa-nya yang diluar nalar, pengorbanan yang kau lakukan, penantian dan segala yang kamu berikan ternyata bukan apa-apa jika dibandingkan dengan hanya menunggu beberapa menit saja.

untuk teman yang berbagi bahagia, apakah pertahananmu runtuh? apakah ucapan tegas dengan segala kepercayaan dirimu hilang ditelan masa? hingga kau coreng dengan sendirinya prinsip dan tujuanmu.

apa yang harus kulakukan, aku menjadi semakin menggila. kurasa dinding-dinding kamarku mulai bercerita mengenai dunia luar, kurasa aku mulai takut dengan sinar matahari, kurasa aku tak sekuat dulu untuk meghadapi orang-orang yang kejam. kurasa aku semakin menjadi dengan angan yang semakin jauh melayang dengan sejuta impian palsu yang akan dari kenyataan. apa yang harus kulakukan? kalian terlalu kejam untuk ku hadapi dengan nalar biasa dan hati yang rapuh. aku hanya akan tersenyum, marah sesaat dan mengadu. si bodoh.

aku ingin keluar dari sini, betapa aku ingin jauh dan mengenal dunia belahan yang lain. melihat sisi-sisi yang tak pernah kusentuh, mendengar hal lain dari sekedar berebut kaya, tenar dan kesempurnaan. ini membosanakan. namun hatiku seakan mati tak bedaya, tak kutemukan yang kuinginkan, tak kupahami yang kucari dan bahkan tak kumengerti diriku sendiri.

kenapa aku tak se-sempurna dahulu? ketika matahari adalah sahabat lekatku, ketika mentari yang tak berhenti membasahi tubuhku dengan keringat lekat membanjiri dan aku bahagia, ketika setiap hari dipenuhi dengan luka baru dan cerita baru lalu aku jatuh dan bangun lagi. memiliki tujuan, memiliki impian.

apa yang harus kulakukan, bahkan ketika tak ada satupun sinar yang menujukkan padaku untuk dilalui atau aku bahkan tak berusaha pergi kemanapun? aku mati, hatiku sunyi, fikirku lenyap. tak berpenghuni. menjadi marah tanpa alasan, tersingung akan hal-hal kecil, tak berprasaan. kenapa tak Engkau kirimkan apapun padaku? ohh iya, aku bahkan tak meminta, entah mengapa tak kulakukan. Aku seolah bermimpi, seolah mengingini namun tak bergerak dari tempatku, ku ingin Engkau mengerti tetapi aku bahkan tak tau mauku, menjadi pilu.

Apakah terangmu masih berpengaruh padaku? Apakah berkat dan rahmatmu masih bisa menjamah orang sepertiku? Ku yang tak tahu diri ini masih menunggu, masih berharap, masih diam-diam berdoa didalam hati kecilku. Bahagia itu, akhir yang indah itu, kebahagiaan sebenarnya itu.. bolehkah aku juga tau bagaimana rasanya, akan kujaga sebaiknya.

                  Tidak, aku belum menyerah.. Engkau masih tetap tempatku
                 Meminta..
                 Tidak, aku belum lelah.. aku masih percaya, Engkau ada..


Selasa, 28 April 2015

terluka tapi jalan terus

Terkadang seseorang tidak ingin pergi bahkan ditengah-tengah rasa sakit, bukan karena bodoh atau berpura-pura munafik dan tidak perasa. Seseorang hanya takut menjadi sendiri, takut rasa sepi menyelimuti dan menjadi tak terlihat. Diabaikan.
Diabaikan. Menjadi sepi. Bertahan sekuat tenaga. Mencoba merevisi lagi dan lagi, terseok-seok, tersungkur malu, dan terluka dalam. Hanya untuk jadi bagian dari sesuatu, bagian dari seseorang, serpihan kecil dari cerita orang lain, kebahagiaan orang lain. Lalu.. apakah menjadi salah?

******

“belajar masak? Bunda-nya sam pinter masak?” tanya nia penasaran
“pinter segala-galanya! Masak, buat kue, jahit, pinter nasehatin.. segalanya”
“lo happy banget pasti punya calon mertua yang gitu pasti ya?”
“banget! Gue betah dirumah sam berhar-hari, walau ayang sam ga ada dan jarang dirumah, nyokapnya udah ngasih gue kayak keluarga yang lain”
“terlepas dari sam suka nyakitin loe?”
“terlepas dari sam ga tau seberapa gue sayang sama dia dan keluarganya mungkin..” jawabku
“tapi cinta bukan itu lak! Bukan kayak gitu”

Aku tersenyum manis saat nia sahabat baikku berkata seperti itu. Tidak, aku bahagia. Sam tidak meyakitiku, sam hanya tidak tau cara memperlakukanku, atau sam tidak menyadari seberapa aku mencintai dia. Namaku Nadyla Fadely, dan teman-temanku memangilku lala. Rahmania adalah sahabat dekatku, nia lebih tepatnya nama panggilanya. Samm, dia adalah pacarku. Sammy libert, keturunan indonesia-canada karena itu namanya begitu. Kami sudah lebih dari satu tahun pacaran, dan aku mencintai sam layaknya seorang pemuda pemudi yang jatuh cinta.

Tapi kukira hatiku salah dan sam tau tentang itu, sam hanya diam menghindar, tidak melepaskan atau mengikatku erat. Sam takut aku pergi dan tak ingin aku tinggal dengan perasaanku yang palsu karena itu dia mencoba menyakitiku dan dirinya sendiri berkali-kali. Berkali-kali sam mencium pipi perempuan lain didepan mataku, memeluk perempuan lain dibalik punggungku, dan berbohong. Aku tau, namun entah mengapa itu tidak menyakitiku.

Pagi itu, hari kamis tanggal 21 maret, ketika aku datang kerumah sam tengah malam untuk memberi kejutan ulang tahunya yang keduapuluhlima, kulihat sam membawa perempuan lain saat bundanya pulang ke canada untuk menemui ayah sam. Aku hanya melihat sam memeluk perempuan itu dari balik lemari kaca, lilin-lilin dari kue yang kupegang mulai meleleh dan aku hanya terdiam merasa nyeri dan sakit lalu berlalu begitu saja. Keesokan harinya aku datang lagi saat bunda sam sudah tiba dari bandara, kuucapkan selamat ulang tahun pada sam, dan sam mengecup keningku hangat. Ibunda sam tersenyum. Bukankah aku bersandiwara dengan sangat baik?. Malam harinya sam mengajakku dinner di sebuah restaurant mewah. Berpura-pura bahagia, berpura-pura sempurna.

Sam tersenyum seperti biasa, kami berbicara mengenai hal-hal yang kami sukai masing-masing. Aku memberikan sebuah gitar listrik sebagai pelengkap koleksi gitar sam, dan sam memberiku se-buket besar bunga mawar berwarna merah cantik. Sempurna. Tak lama kemudian sam permisi ke kamar kecil. Kupandangi gedung-gedung dibalik kaca restaurant, kulihat gemerlap lampu jalanan dan kendaraan hulu-hilir, tak lama kemudian sam kembali, memecahkan lamunaku dengan membawa seorang perempuan, perempuan kemarin. Sam tersenyum kepadaku.

“kenalkan aurel, temen deket” kata sam sembari memperkenalkan perempuan itu
“lala..” kataku dengan lembut sembari tersenyum

Tak lama setelah itu aku pulang dengan taxi, sam ingin mengantarku namun kutolak. Kubiarkan mereka berdua melanjutkan percakapan mereka. Disepajang jalanku aku terdiam pilu, tidak tau caranya untuk menjadi lebih sakit daripada ini. Namun aku tidak kembali ke rumah, aku ke rumah sam bertemu bunda sam. Ketika kuketuk pintu rumah sam, bunda sedang merapikan bunga yang sudah layu. “bundaa..” sapaku ketika masuk, bunda sam tersenyum.. sesekali bercerita mengenai sam dan masalalunya saat bertemu ayah sam. Dan rasa sakit itu hilang dengan ajaibnya.

Iya.. saya terluka dan itu amat dan teramat sakit. Tetapi entah datang darimana kekuatan itu, untuk bertahan, untuk tak menyerah, untuk menunggu bahwa suatu hari kamu akan menyadari betapa aku menunggu lama untuk hatimu terbuka.

Malam itu aku menginap dirumah sam, di kamar bunda sam. Larut dan hening malam tidak bisa menghanyutkan fikiranku dalam tidur, aku masih terjaga. Tepat pukul 02.45 subuh sam pulang, berjalan sempoyongan dan memecahkan vas bunga bundanya, mabuk. Kupapah sam kekamarnya, sam tersenyum terhanyut dalam pengaruh minuman keras, melepaskan jas dan sepatu sam, lalu ketika aku beranjak pergi, sam ngelantur dan berbicara “kenapa kamu ga pergi aja? Saya benci kamu, kamu ngebuat saya sakit, kamu ga harus bertahan!” sam menangis.
“saya ga bertahan untuk kamu, untuk saya!” lalu aku berlalu meninggalkan sam.

Hari esok segera tiba, pukul 10.00 pagi sam bangun. Aku dan bunda sam masih sibuk didapur, bunda sam selalu suka memasak. Sam turun dari anak tangga, memadangku dengan tatapan hangat, dan aku tersenyum manis. Sam memelukku dari belakang, manis sekali, bunda sam tersenyum. Inilah satu-satunya alasanku yang terluka namun tetap berjalan terus, aku hanya percaya bahwa cintaku bukan bohong, bukan kepura-puraan dan sam akan mengerti.

Hari-hari berlalu, sejak hari itu sam tidak lagi meyakitiku. Sekitar dua bulan sam bersikap sangat baik kepadaku, berbicara lembut, menatap hangat, memperhatikanku dan hatiku mulai gelisah. Ada yang salah dengan sam.

Tepat diperayaan duatahun anniverssary kami, sam membuat reservasi direstaurant ternama, mendekor dengan cantik, mengundang semua orang terdekat yang kami kenal, malam itu sam sangat hangat dan aku bahagia. Ketika alunan piano dimainkan hatiku tersentuh dan merasa lirih secara bersamaan, tiba-tiba sam datang kearahku dengan sebuket bunga mawar merah ditanganya dan sebuah cicin cantik di tengah-tengahnya. “will you marry me..” kata sam kemudian.  Aku menangis haru malam itu, tersenyum bahagia dan menganguk dengan pasti, “mari kita bahagia dan perbaiki segalanya” pikirku dalam hati. Tepuk tangan semua orang membuat senyumku mengembang. Aku bahagia.

Malam panjang itu masih berlanjut, sam memainkan gitar acoustic-nya menyanyikan beberapa lagu romantis, semua orang nampak menikmati malam. Berkali-kali kulihat bunda sam tersenyum, sesekali mengengam tanganku hangat. Kebahagiaan ini tak lama, tentu saja. Tiba-tiba seorang perempuan yang entah siapa dan darimana datang, berteriak dan menjerit, meronta dan marah-marah. Katanya, sam harus bertangung jawab, perempuan itu hamil 3 minggu dan anak itu adalah anak sam, sam terpaku menatap kearahku, suasana menjadi kaku, semua orang mulai menatap ke arahku dan sam. Perempuan itu menangis, menjerit, sam mencoba menenangkannya. Aku hanya menatap mata sam dalam-dalam lalu pergi berlalu.

“laa.. sebentar la dengerin dulu” kata sam yang akhrinya meraih tanganku dan menghentikanku. Aku berhenti, airmataku berlimapah ruah tak henti merasakan sakit, kurasa aku akan menyerah.
“maaf la, maaf” kata sam kemudian
“kenapa..? kenapa sam? Kurangkah saya? Saya bertahan, saya mengerti, saya menunggu, saya percaya, dan kamu masih nyakitin saya..”
“maaf la.. saya salah” sam menunduk bersalah, kulanjutkan langkahku dan beranjak pergi, sam kembali mengejar dan meraih tanganku.
“saya ga sepenuhnya salah la! Kamu tau pasti bahwa saya akan begini, iya kan?”
“saya ga mau tau kamu ngomong apa sam, saya ga akan bertahan lagi”
“coba kamu lihat!” bentak sam tiba-tiba.
“saya ga salah! Kamu.. kamu ga pernah cinta sama saya la, tidak! Kamu Cuma ga suka sendirian dirumah kamu yang kosong, kamu Cuma berharap seseorang kayak bunda nemenin kamu, bukan aku! Saya cinta kamu la, sangat! Tapi kamu enggak, kamu ga bertahan buat saya, ga menunggu buat saya, kamu Cuma takut sendirian karena kamu ga punya siapa-siapa lak!” Dan aku hanya berlalu pergi meninggalkan sam.

Aku seperti disambar petir. Setelah berminggu-minggu aku sendiri, merenung, berfikir, merasa sakit dan seperti bangun dari tidur pajang sekaligus. Dalam hati kecilku “iya.. sam benar. Aku hanya takut sendiri” dan rasa yang paling pahit kusadari bahwa “iya.. ini bukan cinta la..”. kuraih handphone-ku dan kukirimkan pesan singkat kepada sam “ayo kita ketemu, buat yang terakhir”.

Tak lama kemudian aku sampai disana, tempat pertama kali sam dan aku bertemu, tempat diamana semua pertemuan dimulai dan aku ingin juga menjadi tempat untuk diakhiri. Tak lama kemudian sam datang, diam dan menjadi pilu.

Aku memulai dengan cerita lama “Cafe nya di tengah kota, di antara hiruk pikuk orang-orang beraktifitas di sepanjang hari, dan saya selalu sendiri duduk disini ya sam? Pura-pura sibuk dengan handphone dengan laptop
            “iya.. kamu” kata sam kemudian
            “seperti nunggu sesuatu yang ga pernah dateng, seperti sepi dan pura-pura merasa bahagia, kamu” kata sam lirih
            Aku menghela nafas “kamu bener sam, saya salah. Saya Cuma mau seseorang buat tempat saya bercerita, nemenin saya, dan bunda sosok yang ngebuat saya nyaman, kamu ga lebih dari sekedar pelengkap dari semua itu”
            “dan saya jadi kambing hitam kamu!” sela sam “dan saya jadi jahat karena menyadari itu duluan, iya kan..? kamu jahat la..”
            Aku menunduk “maaf sam, saya Cuma mau tau rasanya punya keluarga. Keluarga yang normal, yang wajar. Bicara, cerita, ketawa, saya Cuma mau ada yang ngajarin saya itu semua, bukan Cuma rasa sakit”
            “dan bunda begitu?” tanya sam         
            “dan bunda bisa begitu” kataku lirih

Kami terdiam sesaat, menikmati bau embun sehabis hujan deras dipagi hari, menikmati suara langkah kaki lalu-lalang dari orang-orang yang mengejar waktu, mendengar rintik-rintik kecil sisa hujan yang masih turun.

            “ayo kita mulai dar awal” kata sam kemudian.. “saya sayang kamu la, sangat”
            “kamu bakal punya anak sam, saya mau jaga dia”
            “saya bohongin kamu la, itu Cuma sandiwara.. semua orang sudah saya jelasin soal itu, saya ga mau selamanya jadi yang kesekian la”       
            Aku tertawa kecil “enggak sam, kamu lebih berharga dari sekedar pelengkap ketika saya sepi, seharusnya saya ga begitu”
            “saya cinta kamu la..”
            “dan saya bahkan belum mengerti hati saya sam, kamu ga pantes jadi kambing hitam dari rasa takut saya akan sepi..”
            “kita bisa mulai dari awal, saya yang ngajarin kamu..” sam membujuk
            “saya akan mulai sendiri sam, saya akan nemuin hal-hal yang saya cari. Sakit saya, tawa saya, bahagia saya, saya mau nyari bagian-bagian itu dulu dan sendiri”
            “saya akan nunggu” kata sam kemudian
            “kamu pantes dapet kebahagiaan kamu sendiri sam..”

Segalanya berakhir disana, saat itu. Aku dan sam berpisah disana, bertahun-tahun lamanya aku tidak pernah mendengar lagi tentang sam dan keluarganya. Beberapa kabar burung mengatakan bahwa sam akan segera menikah, ada kabar lain mengatakan bahwa bunda sedang menunggu kelahiran cucu pertamanya dari sam, apapun itu aku bahagia untuk sam.

Hari itu saat aku sibuk membaca buku disebuah toko buku, seseorang merebut bukuku dan menyembunyikannya dibalik tubuhnya, dan iyaa.. dia sam.

            “sudah ketemu” kata sam sembari meraih sandwich di atas meja
            “apa?” kataku bingung
            “hal-hal yang kamu cari?”
            “sebagian iya, sebagian lagi saya masih mencari. Oh iya.. selamat buat pernikahannya, atau anak pertamanyaaa?”
            Sam tertawa terkekeh-kekeh “saya? Nikah? Saya masih nunggu kamu laa” 
            “beritanya bohong?” kataku bingung
            “saya ga tau itu berita darimana, tapi saya masih sendiri.. bunda baik-baik aja, beberapa kali dalam sehari nanyain kamu....”


Kami terus berbincang-bincang, mengenai masalalu dan masa-masa yang akan datang. Sam menceritakan banyak hal yang baru dan aku senang dia bahagia, bunda juga. Percaya atau tidak, jantungku berdegup kencang karena senyuman dan tawa pemuda ini, dia masih sama namun lebih bebas atas jiwanya.