welcome^^ to my blog. Jangan mempermalukan dirimu sendiri untuk menjadi seorang flagiat. Tidak semua yang saya tulis adalah kamu dan semua yang kamu baca adalah saya.

Jumat, 30 Mei 2014

Choco valentine


Sesuatu seperti cinta juga memerlukan takdir dan kisah didalamnya, jika tidak dilahirkan untuk menjadi satu, maka usaha sebaik apapun tidak akan menjadikanmu satu. Apa kabar kamu valentine pertamaku? Akhir-akhir ini aku berfikir tetangmu.. aku tak ingin hidup dimasa lalu, namun kamu terlalu manis untuk menjadi masalalu.. selalu begitu.
     Di tahun 2008, saat aku memulai sesuatu seperti cinta. Ketika Tuhan mengenalkanku pada makhluk yang ku kira sempuran dan memiliki segalanya, yang layak untuk kucintai, yang selalu membuatku bahagia dalam diam, yang diam-diam ku perhatikan, yang dari jauh selalu kunanti saat kita bicara.
     Tahun-tahun berlalu, dan aku hanya menjadikanmu sebagai tempat teristimewa disudut hatiku, sebagai seseorang yang menjadi alasanku bertahan atas segalanya. Senyummu cukup untukku bertahan akan rasa sepi dan hampa. Dan akan selalu ku tunggu saat-saat kita bicara sederhana mengenai hal yang harus dipelajari hari esok.
     Aku seperti pecundang gila yang kehilangan akal, bahkan aku tak perlu makan atau minum, hanya kamu.. lalu semua akan cukup.
     Ketika kamu tak kunjung datang menyambut cintaku, aku masih diam menutup mulut seraya berdoa pada setiap malamku, harusnya aku malu memintamu dengan sangat kepada Tuhan setiap malam. Namun aku tak pernah menyerah.
     Orang-orang bilang, segala sesuatu yang menjadi hal yang pertaama akan selalu memiliki tempat special dihatimu. Kukira itu benar. Kamu cinta pertamaku, dan selalu ada ruang untukku dan duniaku mengingat masa-masa itu. Masa-masa tersulit dan termanis yang pernah ada dalam hidupku yang membosankan ini.
     Di bulan Februari di tahun 2008, aku sibuk dengan hari-hariku sebagai anggota OSIS yang baru. Setidaknya ada sekitar lima proposal yang harus kami ajukan untuk setiap even. Saat itu baru kusadari, bahwa aku bisa melupakanmu untuk sejenak.
     Kita tak sering berpapasan lagi, aku sibuk dengan urusanku dan kamu hanya berlalu seperti angin ketika kita bertemu. Kukira ini saatnya aku menyerah dengan cinta, dengan kamu. Aku mulai berhenti menunggu didepan kelas untuk seseorang yang akan lewat, aku mulai berhenti memperhatikan segerombolan laki-laki yang bercanda konyol dari jauh diantara ada kamu, aku mulai berhenti berharap bahwa Tuhan akan mempertemukan kita dalam satu moment indah tertentu, sedikit demi sedikit aku mulai menghapus sosokmu dari hatiku.
     Profosal ku diterima, dan hari valentine nanti sekolah kita akan punya moment istimewa, dengan bunga-bunga mawar pink, dengan hiasan balon-balon, dengan coklat, dengan cinta. Aku masih sibuk berkutik dengan dekorasi sehingga tak sengaja aku menemukanmu yang mempehatikanku dari jauh, yang tersenyum geli ketika aku berteriak sana-sini untuk aturan dekorasi. Aku tak sengaja berfikir bahwa seseorang memperhatikanku, dan ketika kusadari itu kamu. Aku jatuh, lagi.
     Ketika kukira sudah kubuat benteng pertahanan untukmu yang tak mungkin bisa masuk dalam lubuk hatiku, ketika kubuat dengan begitu susahnya sebuah pertahanan yang erat, aku jatuh karena senyummu yang sederhana padaku. Untuk yang kedua kalinya, kamu menjadi cintaku lagi. Hanya karena sebuah senyum kecil dari jauh, aku jatuh dan mulai berdoa untukmu lagi.
apa?”. “penting banget ya?”. “harus sesibuk itu?” yang ku kira adalah lebih dari sekedar pertanyaan singkat. Apakah kamu mulai menungguku? Mulai menghawatirkanku? Mulai men.. cintaiku?? Imajinasiku.
     Tiga hari sebelum valentine, aku menangis hingga tak punya tenaga untuk melakukan apapun. Pada kenyataanya, aku hanya pecundang bodoh dengan khayalan yang tinggi. Kudengar kamu jadian dengan salah satu teman baikku, kudengar kamu menyatakan cinta didepan semua orang untuk itu, kudengar.. kamu sangat bahagia.. dan itu tidak cukup.
     Ketika kuserahkan profosal rincian biaya ke ruang kepala sekolah dan melewati kelasmu. Kulihat kamu tersenyum manis merayu, kepada dia. Salah satu teman baikku. Bukankah aku bodoh? Itu cukup membuat airmataku habis dan tenagaku terkuras. Aku menyerah.. mungkin kamu memang bukan milikku, dan ini saatnya untuk melepaskan.
     Dua hari sebelum menjelang valentine aku semakin sibuk dengan urusanku. Tak apa,ini akan sangat baik untukku. Aku tak harus mengingatmu saat waktu ku menjadi luang. Aku menjadi berbeda, tidak lagi terseyum manis padamu, bahkan ketika kita berpapasan dan kamu menjatuhkan beberapa buku ku, aku hanya merapikannya kembali dan berlalu, tanpa sepatah katapun. Kulihat sosokmu yang terpantul dari kaca, yang bingung, yang kaget atas tingkahku.
   Sehari sebelum valentine, aku menangis lagi, airmataku pecah. Mengasihani diri sendiri atas ketidakmampuan, atas kelemahan, atas cinta yang pertama kali namun tak terbalas, atas rasa sakit dan perih yang terus kutahan, yang selalu kutunjukan kepada dunia, bahwa aku baik-baik saja. Aku kalah lagi. Aku tak sekuat itu, aku tetap jatuh.
     Hari valentine tiba, acaranya sempurna. Musik, dekorasi, moment, mereka bahagia. Di panggung, ada beberapa pasangan yang dengan berani menyatakan cinta,         ditolak, diterima, manis. Ketika kukira hari ini benar-benar berakhir dan ternyata belum.
     Aku berjalan menuju ruang kepala sekolah, melewati jalan setapak ditaman sekolah kami, dengan angin yang sepoi dan pohon-pohon yang seakan menari pelan. Aku melambatkan langkahku, mencoba menikmati hari valentine ini. Aku berhenti sejenak, terdiam di tengah jalan setapak taman, seorang diri, memejamkan mata dan merasakan angin yang bertiup melewati tubuhku, menyentuh helaian rambutku.
     Tiba-tiba seorang anak kecil berlari ke arahku. Anak laki-laki itu, menarik ujung rok sekolahku, membuatku membuka mataku, kulihat dia dengan ekspresi khas anak kecil yang lucu. Kulihat matanya yang berbinar bahagia seakan baru saja menerima kado istimewa.
        Kulihat dia mengengam dua batang coklat, satu diantaranya dililiti pita berwarna pink. Aku mengerti sekarang, dia bahagia karena cokelat-cokelat itu. Ketika aku mulai berjalan lagi, dia menarik tanganku dan menyerahkan coklat dengan pita pink tadi kepadaku. Aku yang bingung dan ragu. Mengelus kepalanya yang kecil seraya berkata, “kok kasi kakak, buat anes ajaa..”.
        Anak kecil itu terdiam dan ketika aku berlalu meninggalkan, dia berteriak lebih girang. Di ujung lain jalan setapak kulihat dia berdiri. Laki-laki yang kucintai. Menunggu entah apa, kukira dia menunggu kekasihnya. Dan aku hanya berpapasan tanpa sepata kata dan pergi berlalu. Dia tak hentinya memandangku yang berjalan pergi. Ketika kusadari, semua sudah terlambat.
       Aku tersentak sejenak, meloneh kearahnya. Kulihat anes berjalan menuju dia, mengatakan sesuatu dan dia menjadi pilu, diam dengan matanya yang seduh. “ya udah ga apa-apa, buat aness aja” hanya itu yang bisa kudengar dari jauh. Aness kegirangan, dan dia berbalik dan pergi menjauh. Saat itu kusadari, bahwa coklat dengan pita pink itu untukku, dari dia yang selama ini kunantikan.
      Aku tak bisa menangis, bahkan aku terlalu bodoh untuk menangis. Aku menyalahkan diriku sendiri untuk saat itu. Dia tiba-tiba tak pernah lagi muncul dihadapanku. Kudengar dia pindah mengikuti orang tuanya. Aku menjadi si bodoh yang pilu.
     Dua bulan berlalu dari hari itu, dan aku masih menyalahkan diriku sendiri. Masih hingga sekarang. Aku duduk di kantin, ketika teman-teman dekatku yang salah satunya adalah jessie, yang kukira adalah pacar dari “dia” datang dan mengajakku bercerita.
     “jadi udah ditembak dira?” kata jessie tiba-tiba yang membuat jantungku seakan berhenti berdetak. Dira.. nama “dia” yang mengisi ruang untuk cinta pertamaku, yang menjadi dekat dengan jessie untuk menayakan segala tentangku. Dira yang membuat simulasi cara menyatakan cinta didepan kelas yang khusus dia siapkan untukku. Dira yang membaca hampir sepuluh buku novel-novel romance untuk mempelajari cara menyatakan cinta yang romantis. Dira.
    Aku kembali ke kelasku, duduk melamun dan menjadi pilu. Siapa yang tidak, ketika menyadari melakukan hal bodoh seperti aku. Kepaku pusing, hingga sepertinya lebih baik untukku pulang sekarang, aku membereskan buku-bukuku dan memasukannya kedalam tas, aku akan meminta izin dan pulang. Ketika aku mengambil buku di laci dan menemukan sesuatu, aku terhenti sejenak.

            Dear Nina..
Punya waktu besok? Ayo kita nonton film bagus.
                                                                                    Dira.

            Dear Nina..
Besok ada fesitval makanan jepang, mau kesana bareng??

                                                                                    Dira
            Dear Nina..
Nanti aku tunggu di depan gerbang sekolah ya, kita pulang bareng. Okee??
                                                                       
                                                                                    Dira
            Dear Nina..
Aku mulai patah semangat nin, gimana lagi aku harus nunggu kamu? Ayo kita beli buku bareng.. kamu suka novel kan? Aku punya beberapa, aku tunggu di kantin ya, nanti aku pinjemin kamu deh..
                                                                                    Dira

            Dear Nina..
Aku suka sama kamu nin, maukah kamu jadi pacar aku. That’s all i wanna say.

Dira
Tidak hanya satu, sekitar 50 surat singkat dengan ungkapan yang berbeda-beda, dengan kata-kata yang menyentuh, dengan cintanya yang seutuhnya, dengan segala ajakan yang pernah aku baca di novel-novel remaja. Hanya aku yang bodoh, tak pernah memeriksa lokerku, yang sibuk degan menunggu dan tak tau hatimu. Tidakkah aku bodoh?
Sekitar lima puluh surat, dan tak pernah kusadari keberadaanya selama ini. Satupun. Dan airmataku pecah membaca surat terakhir. Surat dengan kalimat yang lebih banyak dan lebih dalam.

Dear Nina..
Selamat hari valentine nin, kamu pasti capek banget. Acaranya bagus banget, romantis. Aku.. udah merenung seminggu lebih nin, ketika udah aku kumpulin seluruh keberanianku buat nyatain cinta, aku masih kurang berani. Jadi aku nyuruh aness buat kasi kamu coklat, kamu tau aness kan? Anak pak rere? Hehe. Jadi ku kira, ketika kamu terima coklat aku akan dateng dari ujung jalan taman berlutut dan nyatain cinta. Kukira itu yang paling romantis. Dan aku bodoh, aku yang bodoh. Gimana kamu bisa tau itu dari aku? Pasti kamu berfikir kalo anak sekecil aness mau bagi coklatnya sama kamu, dan jelas kamu nolak. Lucu ya nin.. aku pecundang.
Karena hari ini hari terakhir aku disni, ohh iya, aku pindah ke malay nin, orangtuaku harus nemenin omma yang mulai sakit-sakitan. Aku Cuma berani di surat nin, maaf. Aku suka kamu, senyum kamu, cerianya kamu, cara kamu yang lembut, sikap kamu yang sopan, dan hati kamu yang baik.
Aku masih inget kamu dateng ke ruang guru buat minta maaf waktu ibuk rika ngembek, padahal kamu ga tau apa-apa, kamu dimarah-marahin. Sendirian. Atau saat kamu mendengarkan cerita teman-temen ketika meraka punya masalah, senyum kamu teduh banget ketika itu. Jangan sakit nin, aku hampir gila waktu kamu sakit tifes karna kecapean dan aku terlalu malu buat jenguk. Jagan selalu mikirin orang lain, kamu harus mikirin diri kamu sendiri juga. Jangan nangis, jangan sendrian, jangan lupa makan, jangan nyelesaiin semua masalah sendiri. Minta tuh bantuan sama temen-temen kamu.
Jaga diri kamu baik-baik ya, aku sayang kamu. Mungkin kita ga ditakdirin buat sama-sama. Bukan! Karena aku yang terlalu pengecut buat ngomong langsung. Eh iya, kamu tau robby kan? Anak ipa 2, dia temen kumpul aku juga. Dia orang yang baik, kuat, dia bisa jangain kamu, hatinya tulus, dan dia jauh lebih berani daripada aku. Dia juga suka kamu, jadi nanti kalo dia nembak kamu, harus diterima ya.. harus ada orang di sisi kamu yang jagain kamu.
Aku sayang kamu, Nina.. terimaksih buat jadi cinta pertamaku. Aku harap suatu saat kita ketemu lagi, dan saat itu aku akan jadi lebih berani. Aku akan langsung lamar kamu! Hahahaa.. i love you ninaa.. selamat hari valentine.

                                                                                    Dira..
                                                                    Eh, aku punya beberapa koleksi foto kamu. Cantik..                                       

     Sebuah album foto manis disertakan di surat terakhir, penuh dengan coretan-coretan kata-kata manis, stiker lucu, dan kamu punya semua. Bahkan foto ketika kita MOS pertama kali. Ternyata kamu mencintaiku lebih dahulu, dan sudah selama itu. 
***
     Dan hari itu sudah berlalu lama sekali.. tiba-tiba aku tak sengaja mengingatmu, ketika seorang anak kecil berlari ke arahku memberikan balon gratis hari ini. Mungkin umurnya sama dengan aness pada saat itu.
     Rasanya aku ingin meminjam lorong waktu doraemon untuk kembali ke masa itu, tidak mengulangi kebodohanku. Kamu selalu punya tempat special di hatiku dir, sampe kapapun. Kita mungkin tidak ditakdirkan buat jadi satu, tapi mencintaimu sudah amat cukup. Terimaksih buat kenangan manis ini diraa.

                                                                                                            Sebagian adalah terjadi..

Rabu, 28 Mei 2014

Rahasia di balik hujan

     Di luar titik-titik air mulai terhenti seiring dengan akhir deras dari beberapa menit yang lalu. Udara tidak lagi terlalu dingin seperti tadi, saat tetesan air itu deras dan lebih banyak. Sejuk, mungkin itu kata yang harus di ungkapakan untuk saat ini, belum reda.. hanya saja titik-titik hujan yang turun tidak lagi memecah hening layaknya gemuruh, lebih perlahan.. dan untuk beberapa saat, aku ingat sosok seorang yang tak banyak bicara saat datang lalu pergi dalam kehidupanku, dan hingga sampai saat ini menjadi bagian penting, yang selalu dan selalu ingin aku ulang kembali kehadiranya, dia.. seorang pemuda dari masalalu.. 
     Aku masih sedikit mengingat aroma tubuhnya, sedikit mengenal suaranya, dan samar-samar wajahnya. Dia hanya bagian dari masalalu, dan ketika aku katakan pada eomma, eomma selalu berkata "sweet memories are good to save. But we can't live in there". Iyaa, aku tau dengan sangat jelas bahwa dia hanya akan jadi bagian dari potongan-potongan indah ketika masa-masa sekolahku. 
     Saat itu hujan deras, kira-kira pukul 14.00 tapi udara terlalu dingin untuk dibicarakan bahwa siang itu siang yang kering. pada mulanya aku tidak sendiri, beberapa teman dekatku akan selalu ada untuk menemani hingga pada hari itu, aku kira suda terlalu lama mereka menunggu hanya untukku, singkat cerita aku masih di jemput walau umurku sudah lumayan mapan untuk pulang dan pergi sendiri, tapi beginilah "si anak manja", jadi mereka semua aku suruh pulang.
     Pukul 14.30 aku sudah mulai bosan, marah, murka dan seperti biasa, aku mengerutu dalam hati. Semua hal menjadi salah untukku pada saat ini, bahkan ketika seseorang lewat dengan mengenakan kaos hitam biasa menjadi bulan-bulananku "norak!" cetusku. 
     Dan tak lama, ‘dia' keluar dari gerbang sekolah melihatku duduk di warung mang udin sendirian dengan muka masam yang bentuknya mungkin sudah abstrak, dia tidak bicara apapun, walau hanya sepatah katapun. Hanya sesekali mencuri lirik padaku dari jarak yang tak jauh dari tempatku duduk, mungkin dia ingin menyapa.. tapi kondisiku saat ini, tidak cukup baik untuk mengatakan "hai!" jadi dia hanya diam, beberapa menit hanya beberapa menit lalu dia masuk dan aku kira cerita hari ini selesai, menunduk dan menghela nafasku. 
     Tapi, tak beberapa lama dia keluar lagi dari gerbang. Lebih santai, rileks, mungkin dengan sedikit senyuman di ujung bibirnya, kali ini dia duduk di sebelahku, maksudku tepat disebelahku. Saat ini hujan rintik seperti memberi isyarat sebuah senyuman kecil, hingga saat ini semua terasa sangat teduh dan tenang. Udara, cuaca, situasi, dan etah kemana perginya semua orang dan kendaraan yang sejak tadi lalu lalang. Dalam hati aku katakan "terimaksih untuk harini, Tuhan".
     Di mulai dengan petikan petikan kecil, lalu kunci-kunci sederhana dan dia mulai menyanyi. Lagu lagu asik yang aku tak bagitu peduli dengan lirik liriknya, hanya mencoba menikmati situasi. Lagu barat, lalu sesekali dengan lelucon-lelucon kecil dan tiba-tiba menjadi lagu berat dengan kunci-kunci yang sulit, Demi Tuhan! Hari itu benar benar indah. 
     Lagi dan lagi, lalu dan lalu, terus dan terus. Hingga aku tidak peduli walau harus menunggu berhari hari di sini, tersenyum seperti orang bodoh yang baru memenangkan lotre atau mungkin sebentuk hati. Bahkan dia, tidak bicara apapun padaku, hanya aku tau dia disini untukku, untuk mengukir senyum-senyum kecil di ujung bibirku tanpa sepatah katapun. Percaya atau tidak, aku mendengar banyak kata dari hatinya untukku. 
     Pukul 16.45 sore. Dia masih bermain dengan gitarnya, bersenandung kecil dengan dentingan-dentingan gitar sederhana yang entah darimana datangnya. Sejujurnya aku tak begitu mengenal lagu lagunya, hanya sesekali aku tau bahwa lirik-lirik itu mengatakan mengenai hujan, cinta, dan beberapa guyonan khas miliknya. Dan suara krakson memecah moment itu, tapat pukul 17.00. bisa di bayangkan akan jadi apa diriku jika hanya sendiri saat ini, mungkin menggila dengan omelan-omelan dasyat dan sedikit rajukkan kecil. Tapi, aku tidak marah sedikitpun malah ada sedikit penyesalan kenapa waktu begitu cepat berputar hingga saat ini akan berlalu. Aku berdiri, meraih tasku dan berjalan pergi lalu dengan ‘tak sengaja' menoleh padanya, dan ‘dia' tersenyum sangat manis padaku saat itu, manis.. sangat sangat manis. 
     Aku berjalan ke arah mobil kijang hitam, papa menunggu di balik setirnya dan sekali aku menoleh melihat dia mengehela nafas sejenak, mungkin dia tidak rela aku pergi. Mungkin. Sebelum itu, dia menanyi lagi lagu terakhirnya hingga sampai saat ini aku masih sedikit mengingat suaranya dan lirik lirihnya di ujung waktu.  
     "andai waktu berganti aku tetap takkan berubah.. ak..uu selalu bahagia saat hujan turun karna aku dapat mengenangmu untukku sendiri.. hmmm..hmmmmh.hhmmm aku bisa terseyum sepajang hari, karna hujan telah menahanmu disini untukkuu.." 
     Dan hari berlalu dengan senyuman senyuman indah dan terindah di sudut bibirku saat itu, untuk yang terakhir aku masih memandangnya di balik kaca sebelum berlalu, tatapan dan seyummannya mungkin berkata "aku akan selalu menunggu di sini" mungkin. 
     Harus ku katakan, walau aku tak sempurna terimakasih Tuhan untuk hadiah kecil yang membuatku memiliki cerita seperti dongeng-dongeng dalam tidur malam, sebuah kisah yang jika nanti aku saksikan dalam kehidupan nyata yang akan membuatku tersenyum dengan bangga karena aku tau tokoh utama perempuan yang sedang tersenyum saat itu. 
     Dia pemuda dari masalalu. Yang hingga sekarang tak pernah berkata apapun bahkan ketika aku tau bahwa dia menyayangiku lebih dari sahabatnya, dan tidak pernah menjadi milikku. Aku senang saat itu kau datang untuk sebuah keheningan kecil dan senyuman manis..

                                      "Untuk seorang pahlawan dengan gitarnya 
                                        dan membunuh waktu lalu amarahku, 
                                Terimaksih sudah jadi bagian dari warna hidupku.. 
                                        tetaplah begitu untuk cinta yang akan          
                                        engkau raih kelak".   -16 maret 2013

Kamis, 01 Mei 2014

Awal Mei-ku

Selamat pagi bulan mei, sepertinya diawali dengan teriakan ya.. sepertinya dunia semakin tua, atau hanya duniaku saja yang melelahkan. aku akan hidup dengan baik, akan kulakukan yang terbaik, tidak akan ku ulangi kesalahanmu, jadi doakan saja kami untuk hari itu. 

Tidak ada yang benar, tidak ada yang tak salah, dimatamu semua menjadi hitam lalu lama-kelamaan semua orang lelah. iyaa, maaf. aku terus merasa berdosa atas hari itu, atas teriakan itu, atas kata-kata itu. bisakah kau mengerti? tidak ada yang suka mendengar luka, tidak ada yang nyaman dengan rasa perih, lalu dan lalu kau gali, terus dan terus membuat luka, bahkan semua orang akan lelah.

Aku hanya sembilan belas tahun. saat dimana seharusnya semua remaja bahagia, bersenang-senang, menemukan cinta, menemukan, dan melakukan hal-hal yang mereka lakukan. apa yang kulakukan dirumah? sendiri menunggu dan entah apa, menepi dan kelam, lalu mendengar semua seakan berkali-kali paku yang ditancapkan berulang kali. apakah aku cukup tegar untuk itu? cukup kuat untuk hanya diam dan mendengarkan, aku hanya manusia biasa, aku hanya seorang remaja bisa berumur sembilan belas tahun. 

Apakah aku dihukum untuk kata-kata yang kasar? atau teriakan? atau kata-kata lelah?. Aku tidak akan berhenti berdoa, meminta. aku tidak akan menjadi sepertimu, aku tidak akan menjalani hari dan luka begitu,  aku tidak akan menyakiti jiwa-jiwa kecil itu kelak, aku akan dipenuhi dengan cinta, aku akan dipenuhi dengan kata bahagia, aku akan dikelilingi dengan orang-orang yang baik, aku akan sangat bahagia. 

Harusnya kau mengerti, harusnya kau berhenti, harusnya kau menjalani, harusnya kau biarkan semua berlalu, harusnya kau tak selalu mengungkit, selalu mencaci, selalu mengulang, dan dipenuhi dengan benci. aku lelah. hingga rasanya lebih baik berlari ke ujung dunia dan jauh dan jauh. hingga lebih baik tidak berada di sini dengan begitu melelahkan. 

Berhentilah, dan cobalah bahagia dan ikhlas menjalani semuanya. diam dan jalani saja, berhenti mengulang karena itu melelahkan, menyakiti, membuat benci. percaya saja padaNya, Ia tau segalanya. aku akan menjadi orang lain jika ini diteruskan, aku akan kehilangan diriku sendiri jika ini tak berakhir, aku akan menutup segalanya jika kaulakukan terus menerus, bahkan aku tak diajari untuk cinta, bahkan yang kutau hanya membenci, mengutuk dari jauh, dan terus khawatir, bahkan aku tidak tau harus bersikap bagaimana ketika cinta datang, atau luka menghampiri. kaku, batu, pilu.

Berhentilah.. biarkan semuanya hilang dengan angin, biarkan semua berlalu seperti tidak ada yang terjadi. Aku lelah..