welcome^^ to my blog. Jangan mempermalukan dirimu sendiri untuk menjadi seorang flagiat. Tidak semua yang saya tulis adalah kamu dan semua yang kamu baca adalah saya.

Minggu, 22 Juni 2014

Sunyi, sepi dan diammu

Aku masih memandangnya dalam-dalam. Bagaimana bisa seseorang yang kukenal separuh dari hidupku terlihat sangat berbeda sekarang ini, yang ku tahu bahwa dia adalah seseorang yang paling kuat, paling tegar, paling tak tertandingi dan selalu kokoh seorang diri. Namun bahkan menjadi sekuat bajapun bisa menjadi rapuh. 

Kami hanya ngobrol sederhana seperti biasa, sasa adalah sahabat baikku karena kami menempuh pendidikan dengan fakultas yang berbeda jadi sesekali kami saling menghubungi dan berbicara banyak hal. Lebih tepatnya curhat. Aku selalu mengeluh tentang banyak hal, tugas, dosen, teman-teman ku yang penuh tipu muslihat, manusia-manusi dengan wajah-wajah berbeda dan mengenai betapa aku merasa sepi dan hampa. Terkadang dia marah, namun yang seringkali dia lakukan hanya diam mendengarkan. Kalimat sederhana yang pernah kubaca mengatakan "terkadang seseorang yang memiliki masalah tidak memerlukan seseorang yang penuh dengan penyelesaian dan kata-kata luarbiasa, dia hanya memerlukan seseorang yang siap mendengarkan". Kukira itu benar, karena sasa selalu menjadi pendengar yang baik, karena sasa tak pernah mengeluh bahkan ketika kutangisi hal yang sepeleh, karena sasa selalu menjadi sahabatku yang siap ketika aku berteriak minta tolong ku kira dia luarbiasa. 

Ketika seluruh tenagaku hampir habis untuk bertahan dan tetap menjalani hari esok seperti biasa, dia dengan luka yang sudah mengering tetap diam mendengarkan. Hanya dia, tempatku untuk menceritakan segalanya yang bahkan tak berani kuceritakan pada mama. Harusnya gadis seumuran kami sibuk dengan kata bahagia, sibuk dengan kata pacaran, dengan candaan-candaan ala khas anak kuliahan, dengan urakan dan senang-senangnya hari-hari itu. Namun kami terlalu sibuk dengan kata sakit, luka, dan perih. Dia mengajariku untuk tetap menegakkan kepala, berusaha seolah dunia baik-baik saja, seolah-olah kau bahagia hingga yang semua orang lihat dan ketahui bahwa kami baik-baik saja, bahwa kami bahagia. 

Siang itu, aku dan sasa janjian di sebuah restaurant cepat saji. Sasa sangat suka makan, dengan postur tubuhnya yang tinggi dan tegap kita akan tau seberapa banyak porsinya makan. Sasa tak pernah bercerita soal apapun yang berarti, hidupnya seakan selalu baik-baik saja, selain seorang tetangga yang selalu dia impikan dalam mimpinya, yang selalu ia tunggu walau hanya sekedar lewat di depan rumahnya, laki-laki yang ia kagumi bahkan ketika ia tidak pernah dengan jelas memandang wajah laki-laki itu, haha bagiku itu lucu. Namun tak ada yang salah mengenai cinta, dan.. oh iya, hanya satu masalah sasa, tugas kuliah. karena jurusan yang diambil sasa adalah arsitek, sasa selalu berkutik dengan matematika, design ruangan dan hal-hal rumit segala mengenail itu. Hanya satu keluhannya yang amat sangat sering kudengar, tugass.. ohh tugass..!.

Ketika aku memulai cerita kampusku yang kukira datar dan selalu menyebalkan, sasa masih sibuk melahap ayamnya dengan semangat, tenang dan santai. Sesekali kami bercanda dan tetawa, membuat lelucon singkat dan kembali bercerita. Saat kukatakan bahwa aku tidak akan pernah berhenti berdoa kepada Allah dan kusuruh dia juga jangan pernah berhenti berdoa kepada Tuhan-nya, hanya kalimat sederhana yang keluar dari mulutnya. "waktu aku sd kelas tiga, ketika buk rossa bilang ada berapa Tuhan kamu dan aku jawab ada banyak, buk rossa marah na sama aku". katanya. Kami berbeda agama, aku seorang muslim dan sasa seorang khatolik dan kami selalu bersahabat. Saat natalan tiba, aku akan mengunjungi rumah sasa dan berfoto di bawah pohon natal kreasi mahasiswa jurusan arsitek ini. Saat lebaran datang, sasa akan datang kerumahku makan ketupat dan kue biasasaja yang selalu tak pernah lebih enak dari kue-kue yang ada dirumahnya ketika natalan. Mami thesa punya bakat luarbiasa dalam urusan memasak, apapun. Hari itu, baru pertama kalinya aku menyadari bahwa kami memiliki perbedaan dan itu tidak pernah merubah apapun. 

Sekitar beberapa bulan kami tak saling bicara dan mendengarkan, tak saling bertemu dan lagi-lagi bercerita. ada pertengkaran kecil mengenai pesan singkat yang mungkin membuatku salah mengerti. sasa mengirimiku pesan, karena sasa adalah perempuan tomboi. ia selalu mengenenakan kaos kemanapun ia pergi, ketika kukatakan padanya untuk berubah ia mengirimiku pesan untuk mencari baju yang pas untuknya bersama. masalahnya adalah, kami akan pergi bertiga dan akan menjadi cangung ketika mami juga ikut, jadi kukatakan kepada sasa untuk pergi berdua saja dengan maminya yang mungkin lebih mengerti daripada aku.Jadi sasa bisa lebih dekat dan bertukar fikiran dengan ibunya, mungkin itu maksudku. Hari itu, teman-teman sekampusku juga tidak berhenti menelepon untuk mengajakku pergi untuk bermain air. 

Aku menolak untuk menemani sasa membeli pakaian, dan akhirnya aku pergi dengan teman-teman kampusku untuk berenang. saat pulang dari berenang, kulitku gosong terbakar panas matahari dan hatiku lebih panas ketika pesan singkat masuk ke ponselku. 

      "Enak ya berenang, aku juga mau berenang.. pantes ga mau nemenin cari baju ada yang lebih nyenengin sih".

kujawab dengan amarah, 

     "ga ada bedanya sa, jalan sama kamu juga nyenengin sama temen-temenku juga iya, malah lebih happy jalan sama kamu dan aku ga pernah ngangep kamu kayak gitu, jadi jangan ngomong kayak gitu". 


Dan semejak amarah itu, tidak ada pertemuan sejenak atau cerita-cerita singkat lagi. Mungkin sasa marah. dan aku masih sibuk dengan urusannku waktu terus berlalu dan tak kusadari sudah sangat lama kami tak saling menyapa. Hari itu kami sasa menyapa bertanya mengenai keadaan dan seakan tidak ada yang terjadi, kulakukan hal yang sama. kami mulai bercerita lagi. 

Katanya bahwa ia berpura-pura, katanya bahwa ia bukanlah ia, katanya bahwa ia menjadi sangat lelah lalu kali ini kusadari bahwa sasa jauh lebih seorang diri dan kesepian. Sekarang bagianku untuk mendengarkan. 

Sasa takut tidur sendirian di malam hari karena itu sasa selalu tidur lewat dari jam 2 pagi, sasa takut semua orang pergi meninggalkannya, sasa takut jika walau sekuat tenaga ia belajar dengan baik ia tetap tidak bisa menjadi sukses dan hanya menghabiskan hari-hari yang sama, sasa takut menjadi sendirian, kata sasa dia merasa berbeda dari semua orang, ia juga mengatakan bahwa dia bukan orang yang baik namun menyembunyikan banyak hal dan menjadi orang yang baik karena takut ditinggalkan. Sasa tidak sekuat itu.

Kukatakan bahwa sasa perlu lebih banyak teman, bergaul lebih baik, berhenti menjadi dingin dan belajarlah membuka hatimu. Katakan yang ingin ia katakan, lakukan yang ia ingin lakukan, menjadilah bahagia. 

Aku memandang matanya dalam-dalam masih terdiam dan mencoba mencerna. Sahabatku yang kukira selalu baik-baik saja, ternyata tidak pernah sebaik itu. Aku ingin membangunkanya, membuat senyuman di wajahnya, membimbingnya, dan aku selalu berdoa.. hingga akhri waktu dan zaman, entah kapan hari ini dan nafasku berakhir, Allah.. biarkan aku tetap menjadi sahabat baiknya, menemani dan menjadi bagian dari kisahnya.

"Aku titip temanku tuhan, biarkan dia menemukan dunianya, biarkan dia bahagia dengan kenangan-kenangan baik sepanjang umurnya, biarkan dia menemukan seseorang yang mencintainya dan selalu menjaganya, biarkan dia menjadi sukses dan membahagiakan keluarganya, biarkan dia selalu menjadi sahabatku yang paling berharga, bukalah hatinya, jangan biarkan ia kesepian dan seorang diri lagi, kuatkan dia, dan kumohon ukirlah senyum-senyum bahagia di wajahnya.. Aamin".


                                            Selamat ulang tahun ke 20th sasa, bahagialah selalu..