welcome^^ to my blog. Jangan mempermalukan dirimu sendiri untuk menjadi seorang flagiat. Tidak semua yang saya tulis adalah kamu dan semua yang kamu baca adalah saya.

Kamis, 28 Agustus 2014

Pertama

     Aku percaya bahwa kita dipertemukan oleh Allah dengan cinta, dilengkapi dengan kata bahagia dan diperindah dengan takdir.
     Yang kukira dan sampai hari ini kuterawakan tak henti-hentinya dalam hatiku adalah bahwa aku orang bodoh yang tak sebahagia itu.
     Aku berdoa kepadaNya bagi seseorang yang akan datang dan mengetuk pintu hatiku lalu bersedia tinggal, berulang kali. Dan Allah adalah maha dari segala maha untuk itu.
     Menghadirkan sesuatu yang amat luarbiasa untukku, secangkir pennuh kebahagiaan yang sudah datang mengetuk pintu hatiku dan bersedia tinggal untuk waktu yang lama.
     Namun aku menjadi takut, menjadi khawatir, merasa bahwa ia akan merengut segalnya. Sepi yang selama ini ingin ku usir jauh, kenyamanan dan kebebasanku seorang diri, dan diriku. 
     Aku terbebani dengan cintanya, yang utuh, yang segalanya, yang ia berikan seutuhnya padaku. Aku takut memegang erat sesuatu yang tak kukenal baik, mendekap sesuatu dan mungkin akan membuatku kehilangan yang lain, aku takut memulai hal yang tak pernH terjadi sebelumnya. Ia terlalu baru, hingga aku tak berhenti berfikir.
     Haruskah dia, bagaimanakah, apakah. Kukira cinta tak semudah itu, yang kumengerti dan menjadi hal baru adalah bahwa cinta terkadang membuatmu merasa terbebani. Ketika ia melakukan segalanya, memberikan seutuhnya, dan menjaga sebaik-baiknya dan dirimu tak sebaik itu untuk selalu pada garisnya.
     Aku menjadi khawatir dan takut seorang diri. Apakah dia akab baik-baik saja, apakah aku akan terluka, selalu penuh dengan pertanyaan yang kutanyakan berulang kali kepada hati kecilku.
     Aku takut dia mengikatku dan tak lagi membiarkanku terbang kemanapun ku mau, aku takut dia akan menjadi sangat penting bagiju hingga aku tak bisa bernafas tanpanya, aku takut ketika semua dan segalanya telah kuberikan aku menjadi hancur, terluka dan kecewa. Aku hanya takut,
     Hambamu yang si bodoh ini sangat bahagia Tuhan, lebih dari apaoun itu.. teruslah lindungi hamba. Jangan biarkan langkah hamba menjadi salah.
     Jika hal ini adalah benar, maka biarkanlah menjadi indah dan mengalir sedikit demi sedikit dan mengisi dengan sendirinya..
     Jika hal ini adalah salah, maka biarkanlah menjauh dan terbang hilang perlahan dan perlahan namun tetap meninggalkan bekas yang cantik.
     Lalu pertemukanlah dengan hal yang indah dan benar itu dariMu..

Semu

Sebagai seorang yang tak punya impian,
Tak punya tujuan,
Tak punya rasa, seperti aku..
Masih layak kah untuk sebuah mimpi?
Ketika rasa kecewa dan sakit sudah mendarah daging,
Ketika menunggu tak lagi tehitung waktu,
Ketika rasa tak lagi jadi rasa,
Hanya hilang.. dan berhembus pergi..
Sebagai seseorang yang telah mati namun bernafas,
Masih layakah untuk kata bahagia?
Untuk secercah cahaya?
Untuk sepercik harapan?
Bahkan ia tak lagi berasa, tidak lagi peduli
Ahh.. sudalah..
Baiklah lakukan,
Terserahlah..
Iya kah?..
Haruskah aku peduli?
Untuk seseorang yang bahkan tak mengerti cara menjadi bahagia,
Layakkah untuk bertahan?
Layakah untuk sebuah kesempatan?
Layakkah untuk perubahan?
Bahkan ia sudah membatu,
Bahkan ia berenti merasa,
Ia menyerah untuk mengejar,
Mungkin lebih baik diam dan meyaksikan,
Mungkin lebih baik duduk di pinggir dan berharap kecipratan,
Mungkin lebih baik tak harus mengulangi rasa sakit yang sama,
Untuk seseorang yang menyerah dengan meronta dan menjerit meminta perhatian,
Masih layakkah menunggu untuk kasih sayang?
Yang wajar,
Yang seharusnya,
Yang sama,
Yang dialami semua orang,
Dan ia tidak..
Dia menjalani, dia hanya berjalan maju namun ia tidak menuju
Dia hanya bertahan, sekuat tenaga
Dia hanya mencoba untuk diam, untuk baik-baik saja, untuk bersikap biasa
Dia hanya mencoba menjadi normal, hanya mencoba menjadi bahagia,
Jika lelah datang maka ia akan beristirahat,
jika sakit datang maka ia akan menahan,
jika iri datang maka ia akan berdoa, nanti ada waktu untuk semua itu
Jika ia seorang diri, maka dia akan bercerita.. seorang diri, berteman sepi,
Sebagai seseorang yang hanya menangis hingga jatuh tertidur, layakkah untuk bahagia..? Sama seperti setiap orang yang merasakanya..?

Hitam putih

Manusia itu konyol, Berbuat kesalahan yang berulang kali namun tetap berharap dimaafkan. Manusia itu egois, ingin didengarkan, ingin diperhatikan, ingin segala keinginannya dipenuhi namun tak mau berusaha keras.

Kami takut kehilangan namun meletakkan harta berharga disembarang tempat. Membiarkan perhatian mengambang terbang dan jauh hilang tapi merintih untuk ditemani. Kami takut menjadi sendiri, namun mendorong pergi orang-orang yang dianggap tak terlihat dan remeh.

Kami membagi pandangan  kepada seseorang dengan fikiran jahat, kotor dan kejih namun tak ingin diperlakukan tak adil dan menjerit untuk kesetaraan. Kami mendekat untuk meminta belas kasih, namun meninggalkan ketika merasa hidup cukup bahagia.

Kami berbohong dengan alasan bahwa itu hanya akan terjadi sekali, namun era mendorongmu melakukannya terus-menerus dengan alasan "ohh.. semua orang melakukan ini" . Kami mencari obat atas rasa sakit, dan lupa akan rasa sakit ketika sembuh lalu kembali terluka.

Duniawi adalah hal-hal membangakan bagi kami, penampilan, harta, kedudukan seakan kau akan menginjakkan kaki di surga jika memiliki segala itu. Kebanggaan, ketika posisi dan segalanya diraih dengan mudah, lalu malu, tersingkir dan lesu ketika jatuh.

Kami saling menyakiti dan bertanya kepada yang lain kenapa seseorang lain menyakiti seakan itu adalah hal biasa. Kami munafik, kebaikan adalah topeng tercantik yang bertahta emas berlian didepannya namun semua orang tau dan mereka tetap percaya.

Kami berlaga sok pintar, paling benar, segala tau, dan berpura-pura bahagia. Demi menunjukan pada pesandiwara lain bahwa "heiii!! Hidupku sempurna, bahagia.. irikah kamu?" Dan yang lain akan menjadi sipeniru.

Manusia terus melakukan kesalahan, terus menyakiti, terus mengabaikan dan terus meronta seakan dia paling tersakiti dan terluka. Namun mereka tetap tersenyum, namun mentari selalu bersinar setiap pagi, terik dan panas tak jadi alasan untuk pergi berjuang melewati hari dan batas kemampuan. Namun mereka selalu mencoba, selalu mencari kata "bahagia" selalu ingin menemukan sesuatu tentang "cinta".

Mereka sakit, mereka luka, mereka hancur, mereka menjadi debu namun hari esok tetap akan ada hingga mereka tak berhenti untuk berjuang, tak berhenti untuk bernafas, tak berhenti untuk berdoa untuk percaya.. bahwa Tuhan itu ada, bahwa hidup itu adil, bahwa selama kita terus berjuang dan tak lelah berdiri kokoh, bahagia akan datang tanpa di jemput paksa atau dirampas dari orang lain. Kebahagiaan akan menyapa dan tinggal dengan segala kenikmatannya, bahwa bahagia akan menjadikanmu layak untuk itu.

Ikatan, sebatas itu saja

Aku menghabiskan waktuku untuk membayangkan bahagianya menjadi ini dan itu, menjadi sempurna. Kata orang bahwa untuk menjadikanmu sempurna hal pertama yang kau harus lakukan adalah bahagia atas apapun milikmu dan tak kulakukan.

Aku tak ingin menjadi iri, telebih lagi ketika sesorang tampak bahagia dengan rasa sakit dan penyesalannya. Kenapa? Bagaimana? Mereka tampak menikmati menjadi seorang diri, menjadi terluka. Aku seperti ikan yang hampir mati karena kekurangan air yang pada kenyataannya dipenuhi dengan air. Kenapa? Bagaimana bisa?

Apakah bahagia menjadi dirimu? Melakukan kehendakmu, bahagia seorang diri, bebas seorang diri, menjadi apapun yang kau mau? Tidakkah kau berfikir untuk membahagiakan? Jika kau berhenti sejenak, hanya sejenak berfikirlah untuk sesuatu yang berbeda. Menjadi lebih dekat misalnya, berbagi bahagia misalnya, atau kasih sayang maka akan lebih baik.

Kau menjadi hebat seorang diri, kau menikmati dunia seorang diri, dan kau bahkan tidak peduli ketika semua menjerit akan sakit disekitarmu. Aku tidak mengaharapkan impian palsu, seperti mencintai dan kasih sayang yang lebih, namun dalam doaku kau selalu ambil bagian.. semoga dia bahagia, semoga aku juga bisa membuatnya bahagia, sesuatu seperti itu.

Hanya sesekali, bersikaplah manis. Berfikir membahagiakan, memberi, membagi bebasmu, membagi duniamu, perkenalkan aku pada duniamu hingga tak harus kau seorang diri yang bahagia. Hingga aku tak harus berteman seorang diri. Apakah kita adalah kita? Kurasa hanya ada kau.

Jika itu baik untukku, maka aku akan berdoa bahwa kau juga akan merasakannya. Jika itu bahagia buatku, maka aku berusaha dengan sangat suatu saat bisa membaginya. Dan kenapa kau tidak? Kenapa kau berbeda?

Jangan melakukan kesalahan, jangan jatuh, jangan menjadi terluka, jangan hancur berkeping-keping seperti orang lain, jangan sakit. Jika itu terjadi, maka segalanya akan musnah. Hatiku, harapku, percaya, segalanya. Lalu jangan dilakukan.

Kenapa kau bahkan tak bersuara, tak bernada? Hening seorang diri, dan selalu seorang diri. Harusnya kita berbagi, harusnya kita menjadi dekat, seperti yang lain atau seperti yang kau lakukan kepada orang lain. Kenapa denganku berbeda? Aku tak mengenal, bahkan kau tak mengajari hingga aku masih tetap di sini. Sini yang ini.

Alangkah baiknya jika aku bukan aku, jika kau bukan kau. Jika tidak ditakdirkan untuk disini, jika aku tak merasa begitu sepi. Tapi itu tidak terjadi, tapi kau disini dan aku juga begitu, setidaknya bukankah kita bisa berusaha membangun sesuatu seperti kasih sayang.

Harapan yang selalu mengambang dan hilang di udara itu, perlahan hanya hilang terbawa angin. Semakin jauh dan semakin lama, aku hanya menyadari satu hal. Aku tak diciptakan untuk mencerima rasa itu darimu, dari tempat ini.. hingga aku menyerah daripadanya. Dewi lestari berkata "aku percaya bahwa, manusia tercipta memang dirancang untuk terluka".

                               Aku hanya bisa menatap punggungmu ketika kau pergi,
                                                   Berharap kau bahagia dan cepat kembali..
                                               Kita hanya memiliki ikatan, sebatas itu saja.