welcome^^ to my blog. Jangan mempermalukan dirimu sendiri untuk menjadi seorang flagiat. Tidak semua yang saya tulis adalah kamu dan semua yang kamu baca adalah saya.

Rabu, 16 Juli 2014

Cinta bodoh II

Aku selalu penasaran dengan gadis ini. Seorang perempuan yang selalu sibuk dengan dunianya, seorang teman dekatnya pernah berkata padaku "jangan berharap hatinya terbuka, kamu gak mempan!" Dan itu menjadi alasanku untuk mencoba dan ingin tau lebih banyak.

Aku mendatangi kursinya, dia sibuk dengan tugasnya. Haha ayolah bahkan dia hanya mencontek, kenapa harus serius begitu? Aku memutar otakku, berfikir alasan apa yang akan kukatakan ketika berada tepat didepannya dan penyataan bodoh keluar begitu saja penanda akalku mulai lumpu dan buntu. "Ada pena lebih? Boleh aku pinjam?" Bahkan aku mengengam sebuah pena saat itu, iya.. aku mulai gila.

Wajahnya yang kecil, dan matanya yang coklat membuatku seketika membatu dan kehilangan dayaku. Dia sederhana dan telihat sangat teduh, seperti seorang ibu. Ketika kukatakan hal bodoh itu, dia terdiam kaget dan tak lama "cuma satu!" Katanya dengan wajah yang polos. Manis sekali.

Beberapa minggu kemudian wali kelasku memangiku ke kelasnya, harus ada perbaikan denah tempat duduk kata buk ros dan memintaku melakukannya. Bisa dibayangkan yang kulakukan? Kutempatkan dia tepat disebelahku, karena kami adalah orang asing yang baru mengenal kubiarkan sahabatnya duduk tepat didepannya sebagai hadiah yang membuatnya nyaman.

Dia kaget, ketika buk ros membacakan denah dan dia pindah di sebelahku. Wajahnya yang polos masih malu-malu, "tenang saja" pikirku dalam hati, tak lama lagi kita akan dekat. Kamu akan merasa amat nyaman disini, dan aku bisa mengenalmu lebih dalam.

Hari-hari berlalu. Dia membuka hatinya sedikit demi sedikit untukku. Memberi tau bahwa ia suka diperhatikan, bahwa ia benci ditinggalkan, bahwa ia gadis manja yang tidak suka dibandingkan. Dan aku tak akan kalah! Aku akan menjadi tuan muda egois. Kami selalu bertengkar, hal-hal yang paling kecil hingga sesuatu yang tidak penting, kami tak pernah bicara dengan nada yang biasa. Namun, aku tak pernah sabar menunggu hari esok datang, dan esoknya lagi datang. Tak sabar melihat wajahnya yang mungil, tak sabar mendengar ocehannya dengan volume yang tak bisa lebih keras, tak sabar bertengkar dan membuat wajahnya cemberut ngambek. Itu menyenangkan untukku, dia manis sekali.

Dia akan selalu duduk disana, membaca buku yang entah apa dengan keseriusan 100%. Sesekali dia akan melihat kearahku dan teman-temanku, lalu aku akan pura-pura tidak menyadarinya dan ketika pandangannya kembali tertuju pada buku itu, aku akan dengan detail memperhatikannya. Rambutnya yang ia biarkan tergerai, bibirnya yang tipis, kulitnya yang putih salju, sikapnya yang seperti anak berumur lima tahun, lucu. Hari ini dia mengenakan sepatu warna merah, aku akan menunggu saat guru piket melihat sepatu itu lalu menyitanya hingga pulang sekolah dan dia akan mondar mandir dengan kaki telanjang, kakinya sangat halus dan putih. Yang paling kusukai adalah ketika mulut kecilnya mengomel tak jelas ketika itu terjadi, dia semakin menjerat seluruh hatiku. Aku sangat menyukainya.

Kupandangi bibirnya yang berwarna pink dan tipis ketika dia mulai menceritakan sesuatu padaku, seperti anak berumur lima tahun yang bercerita mengenai mainan favoritnya, tepat seperti itu. Bisa kau bayangkan? Aku selalu menikmati saat-saat ini. Dalam hati aku berdoa, jangan cepat berakhir saat seperti ini, cepatlah datang hari esok, kamu harus masuk sekolah setiap hari dan.. jangan merasa sedih karenaku.

Aku punya sedikit masalah dengan keluargaku, ketika kusadari dia bertanya "ada yang salah? Mau cerita? Aku pendengar yang baik" dengan wajahnya yang bulat munggil. Aku mulai membagi duniaku, dia memang pendengar yang baik. Aku semakin membutuhkannya, semakin tak ingin dia jauh dariku tapi rasa gengsiku tak pernah mau mengakui sesuatu. Aku mencintainya.

Aku tak akan menyatakan apapun, aku tak mau mengalah dan menyerah, aku ingin dia bersikap seperti dia membutuhkanku. Aku ingin dia yang datang padaku dan meminta hatiku, karena aku special. Kuceritakan tentang mona, pacarku yang pertama yang kupacari hanya karena mona cantik. Dia tersenyum dan terlihat asik mendengar ceritaku, bahkan dia mungkin tak menyukaiku. Kuperlihatkan dia pada manda, perempuan populer di sekolah yang menjadi impian setiap laki-laki dan kudapatkan dengan mudah. Dia hanya merengut sesaat lalu mengatakan "berhenti main-main mereka benar-benar menyukaimu" dan hatiku kecewa. Kuperkenalkan dia pada ranti, gadis baik-baik yang cukup kusukai. Ranti terkenal dikalangan guru, seorang ketua osis yang baik, dan teman yang ramah. Dia terlihat bahagia dan mengucapkan selamat padaku "setelah gonta ganti, akhirnya ketemu juga yang pas! Jangan dilepasin kalo nyaman ntar nyesel". Katanya saat itu.

Aku kehabisan akal. Kami jadi lebih sering bertengkar, dan ini tidak lagi manis. Entah mengapa aku benci dia seperti itu padaku, aku ingin menghukumnya karena membiarkan aku bahagia dengan gadis lain. Dia menukar tempat duduknya pada orang lain, di duduk di samping sahabatnya dan meninggalakan aku. Aku lebih murka "siapa dia! Aku punya segalanya, pergi sana ga penting!" Amarahku dalam hati.

Ketika berhari-hari sudah dia tak duduk di sampingku, aku merasa gila. Ingin kutarik lengannya ketika berjalan melaluiku dan berkata betapa aku sakit menunggu seperti ini. Aku tak ingin ditolak dan menjadi malu ketika kukatakan aku menyukainya karena kukira dia tidak memerlukanku. Lebih dari itu, dia hanya gadis yang sangat biasa, tidak populer, tidak dikenal, tidak menonjol dan dia tidak secantik mantan-mantanku. Aku akan malu pada teman-temanku, akan malu pada banyak pasang mata yang menatapku aneh. Namun dia kusukai lebih dari segalanya, lebih dari mantan-mantanku, lebih dari teman-teman dan sahabatku. Aku sangat menyukainya.

Karena terkadang ego mengendalikamu dan membuatmu kehilangan banyak maka seperti itulah manusia yang tak pernah berhenti membuat kesalahan. Kami tak lagi saling bertegur sapa, kita asing. Ketika teman-temanku membicarakan dia yang membuatku menjadi lebih pendiam, mereka mencoba membuatku tersenyum dan sedikit bersemangat. Kukatakan dengan biasa yang membuatku amat perih "lumayan buat temen curhat, sekalian amunisi buat tugas". Aku tak bermaksud begitu, kami hanya bergurau dan kukira itu melewati batas.

Ketika kusadari, dia berdiri di depan kelas ketika kami berbicara. Mendengarkan. Tak pernah kulupakan ekspresinya saat itu, kukira aku sudah menyakiti seseorang yang sangat ku sanyangi dengan sangat dalam. Aku berjalan keluar hendak mengatakan sesuatu, seperti "maaf", "cuma bercanda" atau "heii!! Jangan serius amet ah!" Namun aku membatu. Dia tersenyum dengan sangat manis dan ramah, dan seketika kusadari bahwa aku akan kehilangan besar.

Sesuatu yang paling kumengerti darinya adalah dia tidak melepaskan sesuatu dengan amarah atau kebencian, dia akan tersenyum dengan sangat baik membiarkan hal itu pergi dengan sendirinya. Dia tidak memenangkan pertarungan dengan bertarung tapi membiarkan lawan menjadi tesudut dengan sikapnya yang biasa dan kalah dengan sendirinya. Dia berbeda.

Saat kulihat senyum itu maka aku sudah habis, sudah hancur. Aku tak bermakna apapun lagi dimatanya. Dia adalah seorang yang berhati lembut, tetapi bukan seorang pemaaf yang baik. Dan itu berarti, dia sudah membuangmu jauh dari kehidupannya ketika kesalahan yang tak termaafkan itu kau buat.

Semua sudah berlalu, hari ini adalah malam perpisahan kelulusan kami. Dia sangat cantik malam ini dengan gaun merah muda itu, tersenyum dengan sangat ramah kepada setiap orang. Apakah dia bahagia? Aku harap begitu, aku hanya ingin dia bahagia.

Dia berjalan menuju ke arahku, dan sekarang telat dihadapanku. Tangannya yang mungil mengambang di udara, menungguku menyambut. Kami hanya bersalaman, dia tersenyum lagi dengan manis. Untuk mengakhiri kisah ini. Kudengar dia akan pindah keluar negri karena promosi pekerjaan ayahnya. Kami mungkin tak akan bertemu lagi.

Aku masih punya sedikit waktu, aku menuju kelas kami. Tempat dimana kisah ini pertama kali dimulai. Duduk di bangkuku dan membayangkan dia yang sedang mengomel disampingku. Kutuliskan sesuatu di bangkunya, biarkan dia tetap berada di situ dan menjadi tempat yang selamanya special di hatiku. "Cinta pertamaku, teta..".

             
                                                                 Semoga kita bertemu lagi,
                                                                 Cintaku yang tak berani kucintai..