welcome^^ to my blog. Jangan mempermalukan dirimu sendiri untuk menjadi seorang flagiat. Tidak semua yang saya tulis adalah kamu dan semua yang kamu baca adalah saya.

Rabu, 04 Maret 2015

What is freedom? (Part 1)

  Bolehkah saya ambil andil dari tatapan senduh dan kesepian itu? Bolehkah saya jadi bagian dari sisi lain yang membuat sorot itu berubah, menjadi lebih cerah seperti ketika kamu pukul, kamu hajar, kamu hancurkan semua yang tidak seharusnya?

  Saya merasa heran untuk itu. Apakah kamu merasa baik dengan melukai? Merasa bebas dengan menyakiti? Merasa hebat dengan ditakuti? Lalu kenapa tidak saya rasakan hebat itu, kuat itu, bebas itu. Kenapa hanya sorot sepi dan senduh minta tolong yang berteriak disana? Bukan bahagia?

  Bolehkah saya menaruh sebagian hati saya pada sosokmu? Yang terkadang membuat seluruh tubuh saya pilu dan ngilu tak berdaya. Jangan memandang saya balik, tidak perlu. Karena kamu akan bersikap lebih jagoan dan membuat semua orang disekitar saya tunduk, takut. Saya hanya ingin jadi tempat kamu berlindung. Satu-satunya orang yang tak perlu kamu buat ngeri, satu-satunya orang yang kata-katanya akan kamu turuti. Saya, akan mengajari kamu apa itu bahagia..

                                       ♥♡♥♡♥♡♥♡

  Seluruh sekolah gaduh lagi, semua murid-murid berlarian tak karu-karuan. Gaduh, ramai, berkumpul di setiap lantai yang menyorot langsung ke lapangan basket. Menyaksikan pembantaian! bahasa mereka.

  Nick dan geng nya berulah lagi, kali ini lawannya setara. Tidak menindas anak-anak dari devisi seni yang hanya tau bergulat dengan cat air dan kuas, tapi kakak-kakak bintang basket yang banyak dipuja-puja sejagat sekolah. Mereka sama kuat.

  Kami hanya menjadi penonton setia dari balik jendela kelas lantai dasar, tepat didepan lapangan basket tempat pembantaian dimulai. Maklum gadis-gadis seperti kami tak berdaya dengan perkelahian semacam ini, selain menonton dan sesekali teriak atau terisak histeris melihat darah yang berceceran, apalagi bisa kami?

  Belum dimulai. Kedua geng masih saling mentap, saling bicara dalam kolbu mungkin. Nick panas, kak rangga ketua geng basket masih selengek'n santai, maklum kakak kelas berbeda. Tidak lama nick mulai, dak yang lain menyusul, tibalah lapangan basket jadi adu pukul seperti di film-film. Tidak ada yang menolong, tidak ada yang berusaha melerai. Biasa.

  Semua guru dan para staf sedang rapat. Anak-anak yang hebat ini sudah hafal jadwal guru berlama-lama berkumpul membicarakan kemajuan materi sekolah. Tiga sampai empat jam cukup, membuat muka mereka babak belur, penuh darah dan berkhir dengan bolos jam pelajaran terakhir. Dan informasi yang guru dapatkan hanya mereka bolos sekolah.

  Kak rangga bukan anak ingusan, nick agak kualahan menghadapi rangga. Berkali-kali nick jatuh dan bangun lagi, rangga di pukul di pukul lagi, nick membalas lagi dan begitu seterusnya. Geng-nya juga, mereka seakan hewan yang berebut sesuatu, buas!

  Aku bosan menonton hal yang seperti ini, malas melihat darah mengotori baju putih mereka, ngilu tepatnya. Oh iya, aku Zea. Teman-temanku memanggilku begitu, kami anak SMA yang baru tau dengan dunia fana, kesimpulanku. Pertama kali aku melihat oerkelahian seperti ini, aku sempat masuk UKS sekolah, panik dan seluruh badanku lemas. Sekarang? Alhamdullilah sudah biasa, haha.

  Aku kelas dua SMA, si nick yang sibuk dengan tinjunya di sana juga di tingkat yang sama denganku, hanya saja kelas kami bersebelahan. IIA1, dan nick IIA2, lalu kak rangga di kelas IIIA2 dan geng mereka tidak pernah jadi sorotanku, tidak begitu penting, bukan berarti rangga dan nick menjadi sorotanku, hanya saja satu sekolah mengenal mereka.

  Ada yang kagum, ada yang ngeri, ada yang jijik, dan ada yang menghindari. Anak-anak nakal seperti nick dan rombongannya tidak,  bisa dikelompokkan menurutku, yang pasti semua takut padanya. Aku? Aku tidak peduli dengan hal-hal macam itu, hidupku cukup dengan duniaku dan gitarku, lalu aku akan bahagia. Hahah

  Kembali ke pembataian tadi, mereka masih sibuk di lapangan sana. Aku bosan, jadi aku memilih pegi ke kamar kecil, setidaknya mencuci muka, atau otakku mungkin. Sumpek! Sedangkan yang lain masih sibuk melihat piala dunia pembantaian, bahasaku.

  Aku berjalan luntang-lantung ke tolilet, tenagaku habis. Jam-jam segini paling enak tidur siang, di depan AC. Dengan sisa-sisa tenagaku akhirnya aku tiba di toilet perempuan lantai tiga, toilet ter-sepi dan ter-higienis yang kutahu. Tapi anak-anak lain jarang datang ke sini, banyak gossip-gossip tentang hantu yang katanya suka jahil di toilet ini. Menurutku, tidak ada apa-apa. Cukup baca doa kali, emang kalian ga punya Tuhan apa?

  Mencuci muka, merapikan baju, berkaca sana sini, sesekali selfie alay. Lebih baik daripada melihat darah berkali-kali berceceran di lapangan basket, membayangkannya saja aku pusing. Tapi ada yang aneh, tiba-tiba suasana sepi. Kemana anak-anak yang berteriak menyemangati bak menonton pertandingan bola dunia tadi? Apakah pembantaian sudah selesai? Sepertinya lebih cepat dari biasanya.

  "Ada yang salah" fikirku dalam hati,  "apa mungkin benar tentang gosip-gosip toilet disini? Atau sesuatu terjadi?". Sembari merapikan peralatan make-up sederhanaku dan berniat kembali ke kelas, namun saat aku berbalik dan melihat sosok itu. Semua peralatanku jatuh, kaca kecilku pecah.

  "OMG!!" teriakku dalam hati.
  Bersambung..