welcome^^ to my blog. Jangan mempermalukan dirimu sendiri untuk menjadi seorang flagiat. Tidak semua yang saya tulis adalah kamu dan semua yang kamu baca adalah saya.

Rabu, 28 Mei 2014

Rahasia di balik hujan

     Di luar titik-titik air mulai terhenti seiring dengan akhir deras dari beberapa menit yang lalu. Udara tidak lagi terlalu dingin seperti tadi, saat tetesan air itu deras dan lebih banyak. Sejuk, mungkin itu kata yang harus di ungkapakan untuk saat ini, belum reda.. hanya saja titik-titik hujan yang turun tidak lagi memecah hening layaknya gemuruh, lebih perlahan.. dan untuk beberapa saat, aku ingat sosok seorang yang tak banyak bicara saat datang lalu pergi dalam kehidupanku, dan hingga sampai saat ini menjadi bagian penting, yang selalu dan selalu ingin aku ulang kembali kehadiranya, dia.. seorang pemuda dari masalalu.. 
     Aku masih sedikit mengingat aroma tubuhnya, sedikit mengenal suaranya, dan samar-samar wajahnya. Dia hanya bagian dari masalalu, dan ketika aku katakan pada eomma, eomma selalu berkata "sweet memories are good to save. But we can't live in there". Iyaa, aku tau dengan sangat jelas bahwa dia hanya akan jadi bagian dari potongan-potongan indah ketika masa-masa sekolahku. 
     Saat itu hujan deras, kira-kira pukul 14.00 tapi udara terlalu dingin untuk dibicarakan bahwa siang itu siang yang kering. pada mulanya aku tidak sendiri, beberapa teman dekatku akan selalu ada untuk menemani hingga pada hari itu, aku kira suda terlalu lama mereka menunggu hanya untukku, singkat cerita aku masih di jemput walau umurku sudah lumayan mapan untuk pulang dan pergi sendiri, tapi beginilah "si anak manja", jadi mereka semua aku suruh pulang.
     Pukul 14.30 aku sudah mulai bosan, marah, murka dan seperti biasa, aku mengerutu dalam hati. Semua hal menjadi salah untukku pada saat ini, bahkan ketika seseorang lewat dengan mengenakan kaos hitam biasa menjadi bulan-bulananku "norak!" cetusku. 
     Dan tak lama, ‘dia' keluar dari gerbang sekolah melihatku duduk di warung mang udin sendirian dengan muka masam yang bentuknya mungkin sudah abstrak, dia tidak bicara apapun, walau hanya sepatah katapun. Hanya sesekali mencuri lirik padaku dari jarak yang tak jauh dari tempatku duduk, mungkin dia ingin menyapa.. tapi kondisiku saat ini, tidak cukup baik untuk mengatakan "hai!" jadi dia hanya diam, beberapa menit hanya beberapa menit lalu dia masuk dan aku kira cerita hari ini selesai, menunduk dan menghela nafasku. 
     Tapi, tak beberapa lama dia keluar lagi dari gerbang. Lebih santai, rileks, mungkin dengan sedikit senyuman di ujung bibirnya, kali ini dia duduk di sebelahku, maksudku tepat disebelahku. Saat ini hujan rintik seperti memberi isyarat sebuah senyuman kecil, hingga saat ini semua terasa sangat teduh dan tenang. Udara, cuaca, situasi, dan etah kemana perginya semua orang dan kendaraan yang sejak tadi lalu lalang. Dalam hati aku katakan "terimaksih untuk harini, Tuhan".
     Di mulai dengan petikan petikan kecil, lalu kunci-kunci sederhana dan dia mulai menyanyi. Lagu lagu asik yang aku tak bagitu peduli dengan lirik liriknya, hanya mencoba menikmati situasi. Lagu barat, lalu sesekali dengan lelucon-lelucon kecil dan tiba-tiba menjadi lagu berat dengan kunci-kunci yang sulit, Demi Tuhan! Hari itu benar benar indah. 
     Lagi dan lagi, lalu dan lalu, terus dan terus. Hingga aku tidak peduli walau harus menunggu berhari hari di sini, tersenyum seperti orang bodoh yang baru memenangkan lotre atau mungkin sebentuk hati. Bahkan dia, tidak bicara apapun padaku, hanya aku tau dia disini untukku, untuk mengukir senyum-senyum kecil di ujung bibirku tanpa sepatah katapun. Percaya atau tidak, aku mendengar banyak kata dari hatinya untukku. 
     Pukul 16.45 sore. Dia masih bermain dengan gitarnya, bersenandung kecil dengan dentingan-dentingan gitar sederhana yang entah darimana datangnya. Sejujurnya aku tak begitu mengenal lagu lagunya, hanya sesekali aku tau bahwa lirik-lirik itu mengatakan mengenai hujan, cinta, dan beberapa guyonan khas miliknya. Dan suara krakson memecah moment itu, tapat pukul 17.00. bisa di bayangkan akan jadi apa diriku jika hanya sendiri saat ini, mungkin menggila dengan omelan-omelan dasyat dan sedikit rajukkan kecil. Tapi, aku tidak marah sedikitpun malah ada sedikit penyesalan kenapa waktu begitu cepat berputar hingga saat ini akan berlalu. Aku berdiri, meraih tasku dan berjalan pergi lalu dengan ‘tak sengaja' menoleh padanya, dan ‘dia' tersenyum sangat manis padaku saat itu, manis.. sangat sangat manis. 
     Aku berjalan ke arah mobil kijang hitam, papa menunggu di balik setirnya dan sekali aku menoleh melihat dia mengehela nafas sejenak, mungkin dia tidak rela aku pergi. Mungkin. Sebelum itu, dia menanyi lagi lagu terakhirnya hingga sampai saat ini aku masih sedikit mengingat suaranya dan lirik lirihnya di ujung waktu.  
     "andai waktu berganti aku tetap takkan berubah.. ak..uu selalu bahagia saat hujan turun karna aku dapat mengenangmu untukku sendiri.. hmmm..hmmmmh.hhmmm aku bisa terseyum sepajang hari, karna hujan telah menahanmu disini untukkuu.." 
     Dan hari berlalu dengan senyuman senyuman indah dan terindah di sudut bibirku saat itu, untuk yang terakhir aku masih memandangnya di balik kaca sebelum berlalu, tatapan dan seyummannya mungkin berkata "aku akan selalu menunggu di sini" mungkin. 
     Harus ku katakan, walau aku tak sempurna terimakasih Tuhan untuk hadiah kecil yang membuatku memiliki cerita seperti dongeng-dongeng dalam tidur malam, sebuah kisah yang jika nanti aku saksikan dalam kehidupan nyata yang akan membuatku tersenyum dengan bangga karena aku tau tokoh utama perempuan yang sedang tersenyum saat itu. 
     Dia pemuda dari masalalu. Yang hingga sekarang tak pernah berkata apapun bahkan ketika aku tau bahwa dia menyayangiku lebih dari sahabatnya, dan tidak pernah menjadi milikku. Aku senang saat itu kau datang untuk sebuah keheningan kecil dan senyuman manis..

                                      "Untuk seorang pahlawan dengan gitarnya 
                                        dan membunuh waktu lalu amarahku, 
                                Terimaksih sudah jadi bagian dari warna hidupku.. 
                                        tetaplah begitu untuk cinta yang akan          
                                        engkau raih kelak".   -16 maret 2013