Kamis, 13 Maret 2014

Even devil may cry



       Pagi ini saat hujan rintik turun perlahan dan radio mendendangkan lagu-lagu country zaman dahulu, tiba-tiba membawaku kembali mengingat sahabat lamaku, seseorang yang membenci hujan yang katanya terlihat seperti air mata..
            Dia seorang temanku yang lama-kelamaan semakin akrab dan menjadi teman, ketika hujan tiba, dia akan menyanyikan banyak lagu-lagu country atau beberapa lagu yang membuat hujan tak lagi terasa dingin dan sendu. Katanya hujan seperti seseorang yang menangis, dan dia benci menangis, menangis membuatmu terlihat tidak bahagia.
            Kami menjalani kehidupan perkuliahan seperti biasa, dia pelengkap segala aktifitas. Joe, nama kecilnya dan bagaimana kami memangilnya ketika dia dan senyum sumringahnya selalu menemani hari-hari kami. Joe si pemarah yang selalu mementingkan orang lain terlebih dahulu, joe yang tak pernah membuat orang di sekelilingnya bosan atau jenuh, joe yang penuh dengan kejutan, joe yang hangat dan penuh dengan kasih sayang, joe yang penuh dengan cinta.
            Laki-laki yang sekalipun tak pernah menyakiti hari para perempuan, siapapun, bagaimanapun, dan betapapun perempuan itu akan sangat ia hormati. Dia marah karena hal-hal kecil bahkan ketika kami pulang larut malam hanya untuk berkeliling kota, marah karena aku tak memakai pakaian sedikit lebih tebal malam hari, takut nirina terluka dan sakit ketika nirina malas makan, menasehati sam terus-menerus atas sifat playboy nya dan selalu berteriak menyuruh ray berhenti merokok karena tidak baik. Joe.. nama lelaki yang selalu mengurutkan kami pada nomor pertama untuk setiap apapun, dan joe yang tidak pernah sekalipun kulihat menangis.
            Sore itu kami ber-lima berkumpul untuk rencana sederhana mengenai ulang tahun sam. Persiapan sangat matang, restaurant, dekorasi, dan hadiah serta teman-teman sam sudah berkumpul tapi joe belum datang. Pesta tidak akan dimulai tanpa joe, kami tau bahkan ketika sam terus diam dan menunggu. Sedikit demi sedikit teman-teman dan keluarga sam sudah berkumpul, dan joe tak pernah ingkat janji
            Lebih dari dua jam semua orang menunggu, dan sam tak juga berpaling dari posisi semulanya, beberapa tamu sudah pulang terlebih dahulu hingga pada ujung acara ketika semua selesai makan dan ber-nyanyi, sam tak juga meniup lilin ke dua puluh satunya. Acara selesai, joe tidak dataang, tanpa alasan, tanpa sebuah kabar, tanpa kata-kata.
            Seminggu berlalu dari hari itu. Joe tak juga diketahui keberadaanya, yang kami tau ia hanya keluar negri untuk acara keluarga dan walau telah di hubungi beribu kali, joe tidak pernah menjawab ataupun memberi kabar.
            Pada hari kamis minggu kedua, joe datang. Badanya sedikit lebih kurus, mukanya pucat terlihat tidak sehat, tapi joe selalu sama seperti kemarin. Dengan caranya,dengan gayanya dia berbicara seperti biasa, bercerita tantang new york, Sam tidak marah ataupun bertanya alasan sahabatnya tidak datang saat itu. Selalu ada alasan yang pasti masuk akal bagi joe, kata sam ketika kami bertanya. Dan seakan tidak ada yang terjadi, kami tetap kami. Tetawa, bercanda, bahagia, bersama.
            Bulan maret tahun itu, kami berkumpul di rumah sakit St.Charitas joe terkapar lemah di ruang rawat intensif khusus untuk penderita kanker. Hari kedua saat joe bangun dari tidurnya, tak ada pertanyaan pasti yang kami ucapkan, ataupun pernyataan yang joe berikan. Kami takut, taku bertanya dan takut menyatakan. Dan hari-hari telalui seperti kemarin. Sama. Hanya sekarang joe lebih sering di rumah sakit.
            Pertengahan bulan april, joe duduk di teras ruang inap. Aku hanya diam sembari mengupas buah, nirina merajut sebuah syall, sam dan ray sibuk bercerita hal-hal konyol pada joe. Tiba-tiba joe diam dan kami tau ada yang berbeda. Dia menarik nafas panjang dan bersiap untuk sebuah cerita. Dan apapun itu, kami dalam hati mengerti hal ini bukanlah sesuatu yang menyenangkan lagi.
            Joe bercerita tentang kecelakaan saat masih kecil, tentang gumpalan darah yang mengendap bertahun tahun lamanya di otak kecil, tentang rasa sakit yang lama dan semakin lama tak tertahan, tentang pengobatan yang terlambat, tentang kehidupan yang katanya hanya tiga sampai empat bulan lagi saja.
            Aku yang selalu dimaki joe karena cengeng hanya diam saja membatu, nirina yang selalu tegar mulai menangis perih, ray berlari keluar entah kemana, sam memandang langit biru dengan menahan airmata. Hari itu, hari terburuk dalam kehidupanku, kehidupan kami. Hari pertama yang kami lalui dengan penyesalan. Hari pertama kami menyadari, bahwa kehidupan bukan melulu tentang senyuman dan kebahagiaan, bahwa kami tidak bisa selamanya menjadi berasama.
            Akhir maret, kami masih setia menemani joe. Setiap hari menjadi kebiasaan bahwa kami akan berada dirumah sakit untuk berkumpul atau sekedar bercerita. Joe tak lagi seperti dulu, dia tak lagi selalu bersemangat dan bernyanyi dengan keren, atau bermain basket hingga seluruh tubuhnya penuh dengan keringat. Sekarang seluruh harinya ia habiskan untuk meminum obat dan menjalani terapi. Joe tak lagi terlihat bahagia, walaupun dia selalu tersenyum ketika kutanyakan sesuatu. Namun, tak pernah satu kalipun kulihat joe menangis, tidak pernah.
            Bulan ketiga joe dirumah sakit, dia tak lagi mau disuntik, minum obat, dan menjalani terapi. Dia hanya duduk dan banyak bercerita tentang masalalu, tertawa bersaama ray dan sam, bermain game bersama nirina, dan mengodaku seperti biasa. Katanya dia akan selalu khawatir padaku. Kami tak bicara apapun ketika ia meminta pualang dari rumah sakit pada dokter, memohon hingga lemas pada bundanya untuk pulang, dan membujuk ayahnya untuk membiarkan kami semua menginap lebih lama dirumahnya. Kami dalam hati mengerti kenapa.
            Pertengahan bulan ketiga, joe kembali. Wajahnya lebih bahagia dari hari kemarin, pulang kerumah mungkin cara terbaik, dia lebih kelihatan sehat dan bersemangat, lebih ceria. Tiga laki-laki muda itu tak henti bermain basket setiap hari, joe dan ray selalu memetik gitar dan bernyanyi setiap sore, sam akan merekam lalu aku dan nirina selalu menjadi fans setia. Kami benar-benar bahagia.
             Hari minggu awal bulan mei, joe merangkulku dan nirina. Nirina menangis keluar dari kamar. Ray dan sam sedang membeli makanan kesukaan joe, martabak jagung. Joe memelukku dan menangis. Katanya dia takut akan menjadi sendiri nanti, katanya dia mencintai kami melebihi saudara kandungnya sendiri walaupun ia tidak punya saudara kandung, katanya dia ingin tinggal lebih lama di dunia ini, katanya “aku tak lagi menjadi laki-laki kuat yang tak pernah menangis”. Kukatakan dengan nada rendah, menangis bukan hal yang memalukan kami akan selalu disini bahkan ketika joe tak lagi jadi laki-laki kuat. Malam itu, kami semua melihat joe menangis tersedu-sedu, hatinya perih. Ray dan sam yang katanya lelaki tulen yang tak mengenal kasih sayang sesama jenis memeluk joe, dengan lebih dan lebih erat dari hari-hari kemarin. Kami tak mau kehilangan joe, tidak.
            Akhir bulan mei, joe dilarikan ke rumah sakit lagi. Kali ini dia tak lagi pingsan dan hanya ditusuk beberapa jarum. Joe koma. Kata dokter manusia memiliki batas untuk menahan rasa sakit, dan ketika sakit itu tak bisa tertahan, maka yang seperti joe alami sekarang, koma. Kami tidak pernah absen di sisi joe, nirina tak melepaskan gengaman tangan nya kecuali untuk mandi dan makan, sam merekam setiap hari dengan handycam dengan candaan dengan kekonyolan, ray memtik gitarnya setiap malam datang, mengejek joe dengan nyanyian dangdut, aku menonton mereka dan hanya berdoa. Kami tau bahwa joe akan segera pergi, walau kami tak mengakui apapun tapi kami bersiap-siap untuk hari itu.
            Tanggal 1 juni hari selasa. Joe bangun, di gengamnya tangan bunda dan ayahnya, dikatakanya bahwa mereka ia cintai hingga kiamat dan seluruh hari berakhir, ia meminta maaf untuk setiap airmata yang jatuh untuk orang tak beruntung sepertinya.
Dia memandangku dengan hangat. Aku tak akan menangis, aku tak akan menangis akan kubuktikan itu, setiap kali kukatakan pada hati kecilku ketika kulihat sorot mata joe padaku. Tapi joe tau, aku membohongi dia dengan senyum palsu dan ketegaran palsu, berpura-pura kuat dan menasehati bahwa menangis bukanlah hal yang memalukan, dan yang kulakukan adalah menahan tangisku melihatnya. Dia menarik tangan kami ber-empat mengengam jari kami dengan perlahan, ku gengam tangan joe dengan erat.
Mata joe mulai berkaca, tangannya mulai lemah, dan dia sudah sangat lelah dan mengantuk. Kami tau bahwa hari ini adalah akhir. Aku hanya memandang joe dalam diam, dan ketika semua mulai menangis kecuali aku, joe berbisik ke telinggaku. “menangis bukan hal yang memalukan, sayang. Aku pamit pergi duluan ya..”. dan gengaman tangan joe telah kehilangan tenaganya. Joe tertidur untuk selamanya. Kami semua menangis tak tertahan, kali ini, ini adalah hari yang benar-benar buruk.
Hari itu adalah akhir, benar benar menjadi akhir. Kami berjanji untuk beberapa hal, sisa dari kami. Bahwa beberapa tahun kedepan kami akan datang ke sini, pemakaman joe untuk menyapanya. Hidup kami berubah sejak hari itu. Tidak ada lagi kami, nirina mendalami kuliah psikologinya, sam pergi ke paris untuk mendalami pemotretan internasional, ray mendalami dunia akting katanya dia mau jadi aktor, dan aku sibuk dengan duniaku sendiri, aku merancang busana dan mendalami cara menjadi seorang penulis. Kata joe, dia suka saat melihatku menggambar busana, dan aku sangat mencintai menulis.
Ini adalah tahun kedua semejak joe pergi. Nirina masih di Jakarta, aku selalu berpindah tapi saat ini aku menetap di Singapore, sam masih di Paris, dan sam, katanya dia menetap di Bali.
14 februari 2014, kami mendapatkan kado valentine terindah. Pengirimnya Jonathan orconel erie “joe”. Sebuah video cukup panjang yang berisi kumpulan foto-foto dan video kami setiap kali liburan atau merayakan moment bersama. Dan.. sebuah rekaman pesan singkat. Itu joe, dia duduk di kursi dan bercerita ngawur mengenai new york yang sok bersih, lalu dia meminta maaf pada sam karena tidak bisa datang saat ulang tahun sam, joe membawa kue kecil dan meniup lilin duapuluh satu sam. Joe minta maaf karena dia harus diperiksa sana sini untuk memastikan gumpalan darah di otaknya.
 “sam, terimaksih sudah menjadi kakakku, abang sam yang selalu melindungiku dan mengalah padaku. Bolehkah aku titip nirina dan ica? Mereka perempuan yang terlalu polos buat dilepasin ke bumi. Jangan maninin cewe lagi, jaga aja tuh si nirina ama ica, cari satu aja buat nemenin kamu terus sam. Janji ya samantha yang terakhir?” pesan joe yang pertama dalam video, aku tersenyum dan merasa perih. Sam tersenyum dan bergumam dalam hati “oke joe!”.
“niri.. abang joe ga suka kamu terlalu bebas, jangan galak-galak ya.. siapa yang mau sama kamu entar, eh! Makan yang banyak biar gedean dikit, itu badan udah kayak papan cucian.. haha, abang sayang kamu. Jangan lupain abang yaa, berenti galak inget! Coba buka hati kamu biar ada yang masuk dong, nanti abang senyum deh dari atas..” nirina menangis haru.
“ehh cowok urakan! Udah ya ngerokoknya, entar mati cepet ga bisa nikah deh lo! Hahaha. Jagain itu adek-adek lo, jagain ica sama niri. Ray sepatu abang yang kemaren ray mau boleh ray ambil deh, abang ga pakek lagi. Jangan lupa sholat ya, jadi fotografer yang keren, jangan setengah-setengah. Kita ketemu lagi entar”. ray tersenyum seraya membuka hadiah tambahan, sepatu nike merah yang katanya limited edition.
“dekk.. pasti lagi nungguin gilirannya yaa?” untukku, aku tersenyum hingga airmataku tak berhenti menetes.
“jangan nangis mulu, abang ga suka cewe cengeng. Benci banget kalo kamu mulai mewek, udahan yaa.. abang paling takut sama kamu. Takut kamu sendirian, takut kamu nangis lagi, takut kamu bingung ga tau mau ngapain, penyakit kamu banget”  ray, sam dan nirina tertawa geli.
“biar abang ga khawatir lagi, kamu harus jadi cewe yang kuat ya, yang super, yang serba bisa, yakin sama diri kamu sendiri, abang selalu dukung kamu, jangan takut. Abang sayaaaang banget sama kamu jadi berenti nangis terus senyum! Abang tunggu kamu kalo urusan kamu di dunia udah ya sayangg”. Aku menghapus airmataku, seutuhnya dari hatiku yang terdalam aku tak lagi ingin menangis.
“buat kalian semua yang mungkin sekarang udah mencar entah keman-mana. Tengokin gue donk!! Gila kali gue bosen di atas sono! Hahah, becanda. Idup yang baek ya semua, dreams your dream, gue sayang kalian semua!!”.
Kami semua tersenyum dan seperti mendapatkan cahaya baru, semangat untuk mengejar sesuatu lagi seperti mimpi. Joe, dia selalu jadi bagian dari kami. Kami yang hari ini, tidak akan ada tanpa dia.
Penghujung Febuari kami berkumpul dirumah joe. Bunda dan ayahnya girang hingga tak henti mengengam tangan kami. Masih bisa kulihat joe bermain basket di lapangan sebelah kanan rumahnya. Masih kurasakan senyuman selamat datang joe yang hangat. Kurasa aku juga masih mendengar suara cekikikan kami mengengar guyonan ray diiringi petikan gitar joe. Semua masih tampak sama. Hanya saja dia tak lagi disni bersama kami.
Saat aku mulai berkaca-kaca memandang foto kami bersama yang di pajang di kamar joe, hatiku ngilu dan saat ku liat senyum joe lewat fotonya airmata itu mulai membasahi pipiku.
Sam merangkulku dari belakang “udah, jangan pakek nangis. Dia gak suka”. Aku tersenyum seraya menghapus airmataku.
Semua berkumpul di ruang keluarga, bunda dan ayah joe bercerita banyak hal-hal lucu yang joe lakukan ketika ia masih kecil. Kami tertawa terbahak karena itu. Tidak ada akhir dari kisah kami, karena kami akan terus hidup hingga pulang pada pencipta dan bertemu joe. 

Senin, 10 Maret 2014

Diam dalam kesunyian


Kami bertengkar pagi ini, karena hal sederhana, dan aku merasa sakit atas hal itu. Sesuatu yang hingga sekarang tidak tau harus kubiarkan menganga atau menutupnya dengan erat..

Aku tak lagi memandangmu walau aku memang tak pernah benar-benar memandangmu. Bagaimana bisa kau begitu membunuh? Segala kelakuanmu, segalanya. Jika membenci membuat hatiku luka dan perih, maka aku akan diam dan pura-pura tidak tau.

Bertahun lamanya, segalanya hanya sandiwara. Hanya omong kosong, dan aku merasa dibohongi atas semua itu. “Iya”, kamu mengabulkan segalanya. “Iya” kamu lakukan segalanya. “iya” yang selalu kau katakan ketika kami meminta. Dan sedalam itu juga luka yang ber iringan daripadanya.

Haruskah menjadi seperti sedia kala? Kurasa ku tak sanggup. Aku akan menjadi manusia paling berdosa karenanya, dan aku benar-benar takut. Bisakah Engkau mengerti? Teganya.. yang semua orang katakan putih, yang selalu terlihat rapih, yang tak pernah memiliki noda.

Aku tak mengerti apa yang harus kutemukan dan kucari, yang menjadi biarlah atau berlalu bagaikan angin yang lewat dan berhembus sejenak, yang akan menjadi kata “tidak masalah” atau “kumaafkan” dan hati benar berkata begitu, yang harus diraih menjadi sebuah mimpi dan menjadi bahagia, yang harus berhenti dan menjadi perjalanan yang selamanya.

Aku tak berani lagi berdiri dihadapanmu dan memandangmu sebagai orang yang biasanya. Dengan sendirinya, hatiku berkata dan bertingkah “kau tidak lagi sama, tidak akan pernah lagi sama” hingga aku hanya diam dan tak peduli. Lebih baik dan akan mengobati luka hatiku. Iya aku si egois besar.

Maaf.. karena memalingkan wajah adalah cara terakhirku untuk tidak lagi menangis, terluka, dan merasa sakit. Maaf.. karena pura-pura tidak tau adalah jalan ter-ampuh ku untuk membuat semuanya seakan selalu baik-baik saja. Maaf.. karena dengan menutup hatiku akan membuat segala sesuatunya seakan termaafkan.

Kamu memang memberikan segalanya, dan karena itu kamu selalu menjadi yang pertama dihatiku. Tapi dulu, ketika bahkan segalanya hanya palsu. Ketika aku dengan selalu bangganya memamerkan setiap ceritamu pada semuanya. Ketika aku bersikap seakan segalanya sempurna, dan mereka berhak iri padaku. Ketika aku membuat semua selayaknya indah.

Aku tak berhati baja, katakan saja begitu. Meski kukatakan beribu maaf dan sakit yang paling perih tak membuatmu percaya, biarlah aku menjadi manusia yang berdosa karena memalingkan wajah dan hanya diam tak bersuara.

Rabu, 26 Februari 2014

Dan cintaku, tidak ambigu


Rabu 26 februari 2014,

Ada yang berbeda dari dia. Aku takut dia tidak sama seperti hari kemarin. Tak lagi peduli, tak lagi percaya, tak lagi menjaga.

Saat kusadari saat memandang wajah lelahnya, kusadari sebuah hal penting yang akan segera menjadi hal yang akan menjadi berbeda. Mungkin dia tidak akan lagi sama. Senyum nya tak lagi setulus dahulu, ketika dia tidak pernah merasa dikhianati, di bohongi, dan sendirian.

Dia harus bahagia. Dan karena itu, aku bermimpi dengan sangat tinggi untuk membuat dia berada di tempat yang seharusnya. Aku tak pernah berhenti bersyukur atas dia yang luar biasa, dia yang segalanya. Dia yang dengan seluruh kekuatanya membangun dan membuat semuanya tampak sempurna, dia yang menopang dan bertahan seorang diri.

Ketika kulihat sorot matanya, ku rasa itu tidak akan lagi sama. Dunia nya akan segera berubah. Tiba-tiba aku menjadi takut, menjadi marah, menjadi benci. Jika dia tak lagi berada dirumah dengan senyumanya yang tulus, jika ia tak lagi membuat rumah menjadi rumah, jika ia tak lagi berkelakuan seperti selayaknya, jika aku tak lagi merasakan sentuhannya lewat makanannya, jika aku tak lagi merasakan kasih sayangnya, jika dia akan menjadi egois dan lebih seorang diri.

Aku tidak suka kehilangan tanpa menemukan terlebih dahulu, dan ketika aku melihat kesibukannya yang baru dengan wajahnya itu. Kusadari satu hal, ia akan segera menjadi berbeda. Dan akupun akan lebih menjadi seorang diri.

Harusnya aku bahagia akan itu, bahwa dia akan sibuk dengan dunianya dan bahagia atas segala yang ia lakukan. Namun, aku takut dia tak lagi sama menjadi orang lain yang tak kukenal dan menjadi kaku. Hingga akhir hayatku Tuhan, tunjukkan jalan yang bahagia untuk ‘kami’, ‘bersama’.

Jika semua terjadi tanpa diketahui, jika semua berjalan dengan rencana dariNya. Maka yang kulakukan atas semua ketika sesuatu terjadi adalah menerima. Terkadang, dunia terlalu melelahkan untuk dimengerti, terlalu menyakitkan untuk disadari, terlalu ambigu untuk rencanakan menjadi sebuah kisah yang sempurna.

Dan ternyata, cinta tak hanya cukup bagi cinta. Kalil gibran keliru. Cintanya dan orang lain berbeda. Ketika ia bertanya surga berada dimana? Kata yang lain berkata seiring menujuk pada hatinya, “di sini, ketika kehidupanmu bahagia dan menyenagkan maka itulah surga”. Lalu jika aku seorang diri dan tak mengenal apapun, mungkinkah aku tak mengenal surga?.

Apapun itu, aku akan bahagia untukmu. Jika pengorbanan itu sangat banyak dan kusesali untuk segalanya. Maka bahagialah sekarang dan sampai nanti, aku juga akan sangat bahagia untukmu.”Bagiku, mencintai hanya cukup ketika dia melihat orang yang ia cintai bahagia melebihi kebahagiaanya, berkorban atas kebahagian orang yang ia cintai”. Kukira begitu.

Selamat pagi hari rabu~

Selasa, 25 Februari 2014

Medley tuesday


Mari kita berandai bahwa hari ini adalah pesta sebagai akhir dari kata ‘menunggu dan mencari’ yang selama ini kita yakini. Mempertegas bahwa semua tidak lebih dari sebuah keakraban biasa dan akan tetap menjadi biasa. Dia atau dia, tidak memalingkan wajahnya untuk seorang seperti kamu..

Berandaikan hari ini adalah kebahagiaan yang merupakan ujung dari sebuah penantian yang panjang dari beberapa pihak, atau dari kamu seorang diri. Bagaimana kamu tak merindukan atau menginginkan salah seorang yang menjadi sosok seperti mereka. Kamu sendirian dan kesepian untuk waktu yang lama.

Jika senyum dan nyanyian atau gumaman hari ini adalah anugrah yang maha kuasa atas jawbaan dari kata ‘menunggu tanpa alasan’, maka harusnya kamu berterimakasih atas kasih sayang yang selalu lebih dariNya. Kamu bahagia walau waktu tak bisa dibunuh atau dihentikan untuk membuat moment menjadi selamanya.

Akan lebih dari cukup jika kamu memiliki satu saja yang akan menjadi selamanya..

Bahagia hingga seluruh tubuh terasa gemetar dan kaku akan hal yang sederhana. Terimakasih untuk jalan yang indah. Bahagia hingga tak lagi bisa membedakan nyata dan dunia mimpi. Bahagia hingga salah dan benar menjadi warna yang abu-abu. Ternyata cinta yang diam-diam juga akan berakhir dengan indah.

Baru menemukan, membuat kamu percaya bahwa hal menyenangkan adalah berawal dari kebersamaan yang bukan palsu atau pura-pura. Menjadi perasaan yang campur beradu menjadi hal-hal yang aneh dan terkesan bodoh.

Selamat berpisah wahai hati, alasan yang sangat tepat kenapa kamu harus berhenti menunggu. Karena satu per satu mengungkapkan dengan cara yang baik, yang pada dasarnya juga hanya diawali dengan sesuatu yang baik. Haruskah menjadi bahagia, atau haruskah diakhiri dengan airmata? Dan karena itu menjadi aneh dan bodoh.

Harusnya kamu menangis atas perberhentian yang tidak ditempat yang seharusnya, lalu di sisi lain hatimu terselip kebahagiaan kecil atas penyataan-penyataan jujur yang walau tak ingin singgah atau memiliki.

Februari dan bukan valentine, kamu menemukan hadiah lain yang bukan cokelat atau bungga. Menemukan sisi lain yang hanya sehari dan tak akan terjadi lagi. Dan hati masih tak berhenti berdetak. Bahagia..

Selamat pergi dan tak kembali dua sisi.. berdoa dengan tulus akan menemukan sisi lain yang akan menjadi pendamping setia sepanjang hidup, juga akan menemukan yang sama suatu ketika nanti. Jika benar hati dan perasaan atau kebaikan didalam masih diperuntuhkan untuk menemukan perberhentian yang lain, maka ketika nanti kau berhenti dan menjadi selamanya di sana.

Kan kau sapa dengan senyum dan penuh kebanggan, ‘aku menemukan, dan terimakasih sudah mengajari untuk tidak lagi menunggu kala itu..”. 

Senin, 24 Februari 2014

Delusi


Jika kamu menghilang, maka akupun akan begitu. Jika kamu berhenti untuk mencari, maka aku akan berhenti untuk menunggu. Jika kamu tidak lagi mengenal lebih dalam untuk menggapaiku, maka saatnya aku membuang rasa yang kumiliki yang hanya akan menjadi sebuah cerita saja.

Aku yang dengan yakin dan sangat percaya bahwa perhatian dan cinta itu adalah untukku, yang bukan sebuah permainan atau bualan yang ujung-ujungnya menjadi sebuah lelucon dan senyum sakit di ujung bibirku. Bahwa kekaguman, dan bahkan bukan untukku. Tidak lebih.

Kamu yang dengan diam dan diam mengisi dan membuatku menunggu akan kata-kata yang sudah lama ingin kudengar. Kamu yang dengan sangat meyakinkanku bahwa dengan setulus hati memilih dan berpihak padaku, dan ketika aku menjadi salah dan salah sangka. Aku hanya diam seorang diri, tertawa merela dalam hati kecilku.

Berhenti merangkai kata atau menyayikan lagu seakan kamu mengingikan seorang sederhana dan tak ada apa-apanya sepertiku. Aku tidak cantik, dan aku lupa akan hal itu. Bahwa dunia ini tak lagi berpihak pada hati ataupun kesederhanaan. Aku akan melupakan tentang menjadi kita.

Jika kamu menyerah dengan tidak berjuang, maka aku tidak akan bertahan dengan tidak lagi menunggu. Membiarkan semua menjadi kisah yang seakan tak pernah terjadi, dongeng yang tak pernah menjadi kejadian nyata.

Aku yang diam-diam menunggu dengan berdoa dalam hati. Kesederhanaan dan kebersamaan yang akan dimulai untuk belajar dan pertama kalinya. Dan aku akan diam seolah tak pernah terjadi bahkan dimulai ketika kudengar kaukatakan akan berhenti dan tak peduli. Membiarkan semua berlalu seperti sedia kala tidak ada yang terjadi.

Jika kamu tidak berniat untuk sampai, maka tidak ada alasan untukku menunggu. Ini hanya cinta tak terbalas seorang diriku. Dan untuk kesekian kalinya, aku kehilangan banyak hal dan belum menemukan apapun. Selamat tinggal, kamu yang diam-diam membuatku menunggu.



Untuk kamu!
Yang diam-diam, membuatku
Seakan menunggu untuk pernyataan.
Kurasa kusalah mengira cinta itu untukku.