Tampilkan postingan dengan label Cinta. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cinta. Tampilkan semua postingan

Selasa, 10 November 2020

Dinding-dinding batas antara ego

seperti sesuatu yang meluap memenuhi perut dan beranjak naik memenuhi rongga hati, 

seperti sesuatu yang sudah lama terkubur dan menjadi cerita, yang tiba-tiba membentuk menjadi sebuah nama dan kalimat panjang

atas hari-hari lalu yang sudah tak bisa lagi di tapaki, seperti kesempatan yang sudah berlalu dan tak bisa lagi di ulangi

aku riuh dan ngilu dalam ulu hati

kepada rindu dan haru yang mendadak punya suara

kepada hening dan kosong yang mendadak tidak takut akan sibuk

kepada hari-hari lalu yang kukira sudah abu dan kembali berwarna

kepada hujan, riuh suara teriakan, pohon rindang dan alunan santai dari petikan gitar

yang pada mulanya kukira Tuhan memberiku kesempatan lain untuk memenuhi suara hatiku dengan sepenuhnya keriuhan dan keinginan 

dan kunikmati setiap detik yang dimulai kembali seakan masalalu bukan hanya sebuah lipatan kertas di buku album kenangan 

manis, lucu, haru dan memnuhi rongga dadaku

kepada diam yang mendadak bisa berteriak, kepada haru yang punya tempat untuk menangis, kepada bahu yang kukira aku bisa bersandar denganya

lalu tiba-tiba disadarkan dengan nyatanya hidup

bahwa sekarang bukan mengenai kau dan dia, bahwa sekarang aku lebih dewasa untuk menjadi egois, bahwa sekarang kehidupan tidak melulu tentang cinta

dan bahwa kesempatan kedua tetap menjadi sulit untuk di robohkan tembok-tembok pembatasnya

batas antara jarak, jeda antara kisah,dan hidup yang sudah masing-masing lalu kita yang hanya menyimpan menutup suara sekali lagi

apa yang lebih buruk? ketika ada yang lebih menyayat dari rindu yang semakin berseru selepas menemukan kembali

namun tak mampu untuk memiliki? 

begitulah sebagian dari novemberku, selain hari-hari biasa dan bisa dijalani dengan menjadi normal

tentang setibanya seseorang darimasalalu dan kubiarkan beranjak melanjutkan perjalananya lagi

tentang sekali lagi aku bermimpi berlarian bebas dan lepas yang kembali di taruh di kotak hitam dan di kunci di sudut hati 

pada akhirnya, 

Tuhan menurunkan rasa haru dan bahagia, agar manusia tau bahwa airmata yang jatuh tidak melulu perihal rencana manusia.

Kamis, 29 Oktober 2020

unfinish story

Dan, seakan hening akan gejolak membuat sesuatu yang sudah usang menjadi baru lagi

Seperti kisah yang sudah usai seakan dimulai lagi

Hujan dan angin, reruntuhan bunga, awan gelap dan mentari

Mereka berembuk jadi satu menciptakan masa yang lalu

Yang di umpakan oleh seorang kesepian jadi mungkin

Yang di gambarkan oleh seorang yang kosong menjadi ada dan bisa

Yang di fikirkan dengan skenario dalam fikir menjadi sebuah kemungkinan baru

Jauh sekali dia menjejal kata andai

Hiasan bunga, senyuman dan pelukan satu sama lain dan jadilah utuh

Pemikiran yang di tampar pada kenyataan, pada kemungkinan lain

Pada dua hal yang akan jadi akhir

Selalu ada jawaban dari setiap pertanyaan yang melayang, akan selalu ada dua jawaban ya dan tidak sebagai pasanganya

Sebuah hak paten, yang harusnya ia sadari

Bahwa jawaban tidaklah melulu adalah ya

Sesaat seorang itu menari jauh melayang-layang, bahwa di sudut lain dari bumi ini yang ia umpamakan adalah nyata

Namun ia lupa, bahwa ia ahli dalam hal menerka-nerka sesuai dengan kesimpulan yang hanya membuatnya bahagia

Dan harusnya selalu ada kesimpulan lain yang nantinya akan membuatnya teluka

Mungkin,

Sebenarnya kisah itu sudah lama usai

Dan ia tau pasti kapan dan kenapa harus berhenti

Namun, dari semua jawaban tidak yang harus ia terima

Mungkin di sudut lain, ia berharap ada kata ya yang membuat akhir dari cerita panjang.

Jumat, 04 September 2020

surat cinta

aku, ingin dimiliki

dengan lembut, dengan cinta, dengan rasa takut kehilangan 

dengan rasa seutuhnya ingin memiliki

aku, ingin di rengkuh

dipeluk dengan hangat ketika luka, di beri semangat ketika lelah 

sesekali kita bertengkar, lalu aku akan menangis terluka 

sesekali kamu marah dan aku juga akan ikut marah 

aku egois dan selalu menang 

kamu mengerti dan selalu tersenyum mengalah

seperti seharusnya

seperti yang di ceritakan orang-orang sewajarnya

aku ingin menjadi marah ketika kamu di sentuh yang lain 

aku ingin kita berjalan seiring

aku menggengam tanganmu dengan hangat 

bersandar di bahumu

hmmm, kita berdua suka mendengarkan live music

sesekali kamu bernyanyi dan bermain gitar untuk aku

suaramu indah

sesekali aku ikut bernyanyi dan terhenti

suaraku jelek!

kamu tertawa geli, aku lagi-lagi ngambek

kita sama-sama suka menikmati warna-warni lampu jalan

hanya pergi tanpa tujuan

oh iya, akan lebih baik kamu marah ketika aku terlihat cantik atau tersenyum kesembarang orang

"cuma punyamu, cuma untukmu"

lalu perjalanan jadi panjang, jadi lama, jadi awet

jadi kita, jadi halal, jadi keluarga

setelahnya kita sering mengunjungi banyak tempat 

pantai, laut, gunung, sawah kemana saja, berdua

menatap langit luas dan awan biru bersama

menghadapi medung dan hujan lebat bersama

menangis dan bahagia

saling melukai dan saling memafkan lagi

saling mengalah satu sama lain

saling membesarkan ego di hari lain

sesekali aku ingin kita duduk berhadapan

aku ingin memandang matamu dalam-dalam

melihat betapa aku ada disana

di kedua bola mata yang amat indah itu 

hanya bahagia dengan menetap disana

hmmm, kamu tidak tertarik dengan yang lain kecuali aku 

sabar dan patuh menghadapiku 

postur tubuhmu yang tinggi tegap dan tangan-tangan kokoh yang siap bertaruh itu 

senyum manismu, suara paraumu,  matamu yang indah dan bau tubuhmu yang wangi

aku akan mecintai semuanya

seutuhnya

lalu kita akan berjalan lagi, lebih jauh lagi, lebih lama lagi

terus dan terus

"andai aku punya yang begitu, andai aku ditemukan dengan yang seperti itu, dan jikalaupun kamu tidak seperti yangkumau. asalkan mencintaiku dengan segenap hatimu. cukup bagiku, sisanya biar kulengkapi cerita itu".


                                                                                  "tapi aku sudah terlalu tua untuk berkhayal"

Jumat, 12 Juli 2019

Belajar lupa

Ada ruang
Ada jeda
Ada hujan
Ada hening
Ada hati
Ada kamu..

Melayang layang disana,
Mengambang jauh dan samar-samar
Senyummu

Sesekali langgit jingga memerah
Sesekali hitam legam mendung
Saat hujan datang lalu tertegun
Suaramu

Punah doa dan harap
Tuhan baik untuk segala rencana
Dan iya semua orang tau,
Tapi, bukankah hati tak berakal?

Terkadang merasa berdosa
Sesekali ingin purapura tidak mengerti
Jujur kepada hati
Tidak punya fikiran sejenak
"Aku rindu"

Sebodoh itu, sebodoh itu..

Kenapa ia?
Cangkang tak berarti,
Cangkang terindah namun tak berisi
Membenci hati milik sendiri

Sesendu itu matanya
Sesepi itu dunianya
Bukankah ia belum menemukan?
Atau ia tidak perlu mencari?

Lain kali aku akan lupa
Esok sesamar lagi ia ada
Meski tidak begitu sesak seperti kala itu
Tapi ia masih ada

Seperti melodi masalalu
Seperti tawa kecil di kenangan samar-samar
Sepeti sebuah kisah yg lama kuinginkan
Seperti cermin yang kukira senada,

Sebodoh itu..

Biarlah jadi urusanku..

                                               '12 Juli 2019'

Kamis, 11 Oktober 2018

Meneguk kopi sore itu

"Pernahkah kamu patah hati?" Ia bertanya dengan linang airmata yang tertahan.
"Kurasa aku tak sanggup". Lanjutnya lagi dengan tetes pertama air mata yang jatuh.
"Tau rasanya?". Dengan menatap berharap seseorang mengerti.

"Tau".
"Pernah".
"persis". Seseorang menjawab dengan tatapan kosong.
 
"Bagaimana cara untuk lari?". Kata perempuan 1 tadi.

"Jangan lari".
"Itu tidak bisa sembuh".
"Aku biarkan diriku hancur, aku berkeping sepanjang waktu"
"Menangis untuk hal-hal sepeleh, membenci diri sendiri, bertanya-tanya, berandai-andai. Menerka-nerka".
"Ohh.. hampir setiap malam aku menangis saat sebelum tertidur. Mengingat, terluka, hancur dan terlelap karena lelah".
"Kenapa? Ribuan pertanyaan kenapa, marah, menyerah, sakit. Ia menderita".
"Lamaaa sekali. Sesekali aku sembuh karena hal-hal sederhana, masalalu yang mambawa ia datang lagi. Sesekali kurasa aku baik-baik saja dengan membencinya, tapi tidak juga, di lain hari sakitnya masih sama".
"Setelah waktu lama berlalu".
"Di suatu pagi, aku terbangun.. dan rasanya tidak sakit lagi"
"Aku tidak bilang bahwa sembuh sepenuhnya. Tapi aku baik-baik saja. Semua sudah berlalu, bukankah hidup berlanjut? Hari tetap berganti dan kudengar sekarang ia bahagia".
"Kukira sudah cukup bagiku".

Perempuan 1 menangis.
Perempuan 2 tersenyum tipis.
"Sakit, menderita. Tapi semua akan berlalu".
Perempuan 1 tertegun, "berapa lama?"
"Hmmm.. entahlah sekitar satu tahun mungkin?" Ditutup dengan senyum dari perempuan 2.

11.10.18

Selasa, 15 Mei 2018

Pekat sosokmu

Dan aku tau apa yang lebih pekat daripada kau untukku
Rasa lebih dicintai
Suaramu yang mengusir sepi
Tawamu yang sesekali masih kudengar dalam bisik angin berhembus

Ada yang tidak bisa kumilikki
Tak banyak jua yang kupunya
Tapi aku pernah dengan sangat memintamu jadi kepunyaanku padaNya
Dan lalu aku tau, bahwa tak bisa

Merasa lebih hidup
Merasa lebih dicintai
Bahagia yang hanya seorang perasa itu sendiri yang mengerti artinya
Melupakan tidak semudah itu

Dan lalu engkau jadi biasa
Dan kemudian engkau hanya hidup seperti biasanya
Tanpa mengerti, tanpa paham, tanpa ikut jua tersiksa
Seseorang yang tak bisa jadi kepunyaanku

Kukira luka sudah kering
Kufikir bahwa wktu sudah menyembuhkan
Aku sudah damai dengan sakit, fikirku
Dan bekas namamu tetap menetap berdering ketika saat-saat mengingatkan

Aku tidak akan memintamu lagi
Tak juga berdoa untuk kepemilikanku lagi
Aku tau betapa langit dan bumi dan jaraknya
Lalu kau dan aku yang bukanlah kita

Mencintai seorang diri itu sepi
Seseorang yang berkali-kali sibuk di dalam fikir dan menjadi kalimat lagi
Seseorang tak bisa kau miliki, yang merontanya hanya bisa di ungkapkan lewat puisi

15.5.18

Selasa, 17 April 2018

Fatamorgana

Hitungan jam
Dan tiba-tiba aku takut kau tidak kembali
Aku bukan seorang pecinta sejati
Jadi kutaktau yang harus kulakukan dan dimana harus mulai dan berhenti
Aku bukan pujangga cinta yang bisa merayu dengan kata kata indah
Juga bukan penyabar luarbiasa dengan teguhnya menunggu untuk mendapat perhatian
Aku hanya apa kulakukan dan kubuat
Aku hanya seorang bodoh yang kadang terjebak oleh langkahku yang tidak kupikrkan dengan sungguh
Hanya aku dan kulakukan
Aku takut
Jika kamu menarik diri dan pergi
Bagian lain dari diriku lebih takut
Jika berlanjut akankah aku bisa?
Semalaman ku ingat manisnya sosokmu
Semalaman ku kais-kais ingatan sederhana tetangmu
Ah~
Mungkin kau tidak menyukaiku
Mungkin kau hanya bercanda seperti katamu
Mungkin aku hanya tak seberapa di banding barisan yang menunggumu
Jika,
Jika saja mungkin aku diberi kesempatan oleh Tuhan..
bisakah kau dan aku, jadi kita?

17.4.18

Kamis, 26 November 2015

I can't breathe without you dey


Haruskah aku menyatakan lagi dan lagi sepiku? Menyatakan menyerah dan mengibarkan bendera putih pada sang waktu? Membunuh detik demi detik dengan harapan dan kayang-kayang tak berarah dan bertuan.. 
Hidup yang tak berjiwa, nafas yang tak punya arti dan bahkan hati yang tidak bisa kau mengerti keinginananya..
Sepiku.. akankah engkau mengerti? Engkau hanya merasa terusik dengan keluhan yang lagi dan lagi.
Aku tak bisa bangun sendiri, aku ingin kedua tangan yang membantuku untuk bangkit, namun..
Bagaimana rasanya ketika hatimu menyimpan cerita lain yang bahkan tak bisa kau ketahui?

            Pagi ini udara lembab dan dingin sehabis hujan, se-cangkir kopi hangat dan lagu sendu mengingatkanku akan masalalu. Tiba-tiba aku rindu pada sosokmu yang sempurna, tiba-tiba aku ingin dipeluk dengan kedua lengamu yang besar dan hangat, tiba-tiba aku ingin mendengar omelan mengenai pakaian yang tertutup dan sebagainya.
            Apa kabarmu dey? Masikah kamu menungguku? Jika saat ini kukatakan aku sudah menemukan jawaban atas hatiku, apakah kau masih mau memelukku dengan segenap hatimu itu?.

(flashback)
                                                            26 month ago
           
            Daren atau dey, adalah pacar yang sempurna. Ketika aku pertama kali mengenal dey, ia memandangku dengan tatapannya yang hangat dan senyum yang manis. Harus kuakui, dey adalah obat dari segala penyakit hati dan luka. Hanya tiba-tiba ia hadir dan sedikit demi sedikit menghapus luka dan aimataku, mengantinya dengan tawa yang paling indah.
            Dey membuat siapa saja yang berada didekatnya merasa nyaman, merasa akrab, suasana yang yang kaku akan hilang berganti tawa ketika dey ada. Dia segalanya.
            Tak lama setelah aku mengenal dey, kami menjadi sangat dekat. Ia suka bercerita hal-hal aneh, lucu dan bermakna kepadaku. Dey mengajariku hal-hal baru, seperti berjalan disepanjang jalan yang penuh dengan makanan kaki lima, membantu para pengamen cilik mendapatkan lebih banyak receh dengan ikut bernyanyi, atau hanya berjalan-jalan di taman melihat orang-orang yang mencoba mencari sesuap nasi dengan pekerjaan menghibur. Dey membuka mataku lebar-lebar, bahwa hidupku lebih baik dari siapapun dan aku tak harus sendirian didalam lubang hitam tak berujung.
            Tepatnya enam bulan setelah aku dan dey berkenalan dan menjadi dekat, dey menyatakan cintanya kepadaku. Didepan semua orang, keluarga dey, teman-teman, sahabat-sahabat kami, semua. Rangkaian bunga mawar cantik, balon-balon putih-merah muda, cincin terindah yang pernah kulihat. Dey memberikan segalanya untukku.
            Ia.. dey memberikan segalanya untukku. Cintanya, hatinya, waktunya, perlindunganya, senyumannya, segalanya.. dan aku sangat bahagia. Tidak ada satu haripun yang kulewati tanpa dey, ia obat atas segala perihku selama ini, dey seperti udara saat aku ingin bernafas.
            Aku ingat, ketika kami pergi berkencan berdua, atau ketika kami makan malam berdua, dey selalu memandang mataku dalam-dalam, kedua bola mata dey yang hitam pekat, dan senyumnya yang hangat “nay.. do you love me?” selalu begitu. Dan aku akan selalu menjawab dengan senyuman manis sembari kecupan kecil di pipi dan kening dey.
            Suatu ketika dey merasa sangat hancur, proposal taman hiburan yang ia rancang sedemikian rupa ditolak. impian yang ia rancang dengan segenap kekuatanya, ternyata hanya menjadi bualan belaka. Hubungan dekat dengan investor mengalahkan segala prestasi dan kerja keras. Dey murka. Ia jatuh dan tersungkur.
            Ketika aku mengunjungi dey ke apartmen-nya, dey terlihat sangat buruk. Ia hanya duduk disudut jendela dan menatap kosong. Maket hancur berserakan dimana-mana, kertas proposal robek menjadi serpihan-serpihan kecil.
Aku menghampiri dey dan memeluknya erat. Dey menangis dipelukanku untuk yang pertama kalinya. Tiba-tiba dey berkata lagi “nay.. do you love me?” aku tersenyum dan memeluk dey lebih erat. Dey melepaskan pelukanku, mengengam kedua lenganku, memandang mataku dengan pekat dan marah “nay! Do you love me!” aku memandang dey dengan hampa, apa yang diinginkan lelaki ini? Kenapa dia begini, aku berfikir keras unutk sebuah jawaban yang bahkan diriku sendiri tidak mengerti.
“do you love me nay? Say that you love me! And i will be alright.. saya akan bangun lagi nay, saya akan coba dengan segala yang saya punya sekali lagi, meski harus berulang kali, akan saya lakukan lagi, but please, say that you love me..” jelas dey kemudian.
“i can’t breathe without you dey” kataku kemudian. Aku memeluk dey kemudian, dey menghela nafas. Apakah ia kecewa? Bahkan ketik kukatakan bahwa ia adalah seluruh nafasku?.
Tiga bulan setelah itu, dey bangkit kembali. Ia memulai impian-nya lagi. Dey berusaha lebih keras dari sebelumya. Tak lama kemudian dey memenangkan sebuah tender besar. Proyek dey kali ini adalah villa dan mall. Dey menjadi sangat sibuk, kami hanya berbincang melalui telephone dan memandang melalu social media. Dey kembali dengan sinar yang lebih terang.
Kurasa aku mulai merindukan dey, sekitar enambulan dey sibuk dengan urusanya, ia berpergian dari kota ke kota bahkan ke negara-negara tetangga. Dey luarbiasa. Meskipun begitu, dey tidak pernah berhenti berhubungan denganku, dey selalu menghubungiku.“i love nay..” selalu ia ucapkan diakhir pembicaraan kami.
            Bulan ke-tujuh setelah dey pegi, tepatnya bulan januari. Aku terbang ke Bali, kudengar proyek dey berhasil, dan mereka akan merayakannya di Bali. Aku tidak menghubungi dey hari itu. Ini akan menjadi kejutan kecil fikirku. Setelah seharian aku memasak dan menunggu di kamar villa dey, dey akhirnya pualang.
            Aku bersembunyi di balik tirai besar dengan membawa red velvet buatanku. Aku menunggu di balik tirai, dey dan teman-temanya masuk. Dey mabuk. Dey berjalan sempoyongan dibantu dengan teman-temanya. Selama ini aku tidak pernah tau bahwa dey minum, atau mabuk, aku hanya sedikit merasa terkejut. Ketika aku ingin keluar dari tirai dan berteriak “surpice!”
            “say that you love me” kudengar suara dey yang tebata-bata karena mabuk.
            “you know ram, saya ga yakin nayla cinta sama saya.. dia ga pernah bilang i love you buat saya” kata dey lagi. Aku kembali bersembunyi di balik tirai, mendengarkan.
            “mungkin cinta ga harus diomongin tuan mabok” kata rama salah satu teman dey
            “saya cinta sama dia ram, saya kasih semuanya. Hati, waktu, fikiran, semua buat dia. Saya cinta sama dia ram.. tapi hari demi hari saya sama dia, saya kayak sadar sama satu hal. Saya Cuma seorang diri dengan cinta yang gede banget, saya Cuma jadi pemeran utama yang ga punya lawan atau jalan cerita. Nay butuh saya, Cuma karena nay ga mau sendiri..” tiba-tiba hatiku nyeri. Aku ingin marah namun disisi lain aku merasa dey benar.
            “nay satu-satunya buat saya ram, tapi entah kenapa saya merasa nayla selalu mencari dan mencari sesuatu yang lain, yang mungkin bukan saya, atau saya ga ada didalamnya”
            “jadi kamu mau lepasin nayla dey?” tanya rama kemudian
            “saya ga bisa hidup tanpa dia ram, ga bisa. Meskipun saya harus cinta sendirian selamanya, meskipun saya harus beribu dan berjuta kali bilang cinta dan nay enggak, saya ga bisa biarin nay pergi ram” dey tertidur karena mabuknya, dan mataku berkaca-kaca. Aku teduduk dibalik tirai, ia.. dey benar. Kurasa itu aku.
            Rama membawa dey kekamar, entah sejak kapan rama sadar bahwa aku berada dibalik tirai. Rama membuka tirai dan menemukanku yang menangis sembari memegang kue. Rama mengajakku duduk bicara berdua.
            “jadi.. kisah cintanya sebelah tangan?” tanya rama kemudian
            “mungkin gitu ram, mungkin dey bener. Saya ga pernah cinta sama dey ram. Saya jahat. Saya... perlu waktu buat berfikir ulang” jawabku
            “dey bener nay, kita semua bisa liat itu. Dey yang mencintai kamu dengan semua yang dia punya dan kamu yang hanya mempertahankan dia karena takut akan sepi. Dey bukan boneka pengibur nay” jelas rama lagi.
            Airmataku mengalir, kata orang “ketika dirimu tidak bisa memberikan jawaban, maka rasa sakit yang akan menjadi jawaban” ia. Perih di hatiku mewakili segalanya, dey benar, rama juga. Aku hanya sibuk berlarian mencari perlindungan atas sepiku, aku juga hanya terus memanfaatkan dey agar selalu berada didekatku. Aku jahat.
            Dey terbangun di pagi hari, ia kaget melihatku sibuk mempersiapkan sarapan didapur. “nay!” teriak dey, aku berbalik dan tersenyum manis, dey memelukku erat. Wajah dey sembab, ia kelihatan tidak begitu sehat. Dey tak berhenti memelukku, aku merasa lirih dalam hati.
            Dey sangat bersemangat hari itu, ia tersenyum sepanjang hari. Ketika kami makan malam berdua, dey bilang ia akhirnya mengerti, bahwa aku mencintai dirinya dengan cara yang berbeda, itulah kenapa aku datang untuk mengujunginya ke Bali. Aku hanya tersenyum, tidak ingin merusak kebahagiaan dey.
            Malam ketigaku di Bali, dey mengundang teman-temannya makan malam bersama, dey sangat bersemangat saat itu. Ketika malam semakin larut, ketika kami juga larut dalam alunan lagu yang sendu dan suasana dingin malam, tiba-tiba dey belutut dihadapanku, dey mengengam sebuah kotak kecil berbentuk hati, lalu membukanya “will you marry me nay..?” pinta dey kemudian.
            Aku terdiam, memandang kedua bola mata dey dalam-dalam. Teman-teman dey  yang tadinya menikmati malam tampak membeku, menunggu jawabanku. Dey tampak mengerti dengan sikapku yang diam, rama mengajak semua teman-teman dey yang lainnya untuk masuk dan berkaraoke. Dey masih berlutut di hadapanku, lalu dengan segera memasangkan cincin yang berada dikotak tadi ke jari tangaku. Mataku mulai berair, dey mengerti.
            “come on dey, saya ga..” tiba-tiba dey menutup mulutku dengan tanganya
            “kita bisa mulai dari sini nay, cinta bisa tumbuh, semua orang jaman dahulu nikah tanpa cinta dan mereka bahagia”
            “kita ga hidup di jaman dahulu dey..” kataku kemudian
            “kita memang ga hidup di jaman dahulu nay, tapi kita bisa coba lagi. Saya ga masalah dengan apapun nay. Asalahkan itu kamu” jawab dey
            “tapi saya ga bisa dey, saya nyakitin kamu lagi dan lagi, kamu..” dey menyelaku lagi
            “saya ga apa-apa nay! Kamu sudah lebih dari cukup!” bentak dey
            “saya yang ga bisa dey, kamu mau saya berubah jadi monster jahat? Kamu layak dapet yang lebih baik dari saya, yang mencintai kamu, yang kasi hatinya buat kamu, dan dia mungkin bukan saya. Kamu akan bahagia dey” jawabku sembari meraih pipi dey.
            “apa yang kamu cari nay? Apa? Siapa?”
            “saya ga tau dey,  saya hanya masih terus mencari, saya Cuma masih terus menunggu, ga tau untuk siapa, dan ga tau kenapa, dan saya terlalu jahat buat kamu selalu disamping saya dengan perasaan yang kayak gitu. Kamu layak untuk bahagia dey”.
            Lalu aku pegi meninggalkan dey disana, aku kembali ke Jakarta. Kudengar dey lebih sering minum-minum, beberapa kali rama mencoba menghubungiku namun aku tak pernah menjawabnya. Dey bisa belajar tanpaku.
            Dua bulan berlalu setelah hari itu, kudengar dey masuk rumah sakit. Ada masalah dengan lambungnya karena kebiasaan barunya minum-minuman keras. Hari itu, aku datang menjenguk dey. Dey sedang tertidur ketika aku masuk ke ruang rawat inapnya. Dey nampak lebih kurus, ia terlihat benar-benar sakit.
            Aku mendekati dey, memegang erat tanganya dan dey terbangun. Ia tersenyum melihatku.
            “kamu datang nay, saya tau kamu pasti dateng..” kata dey dengan perlahan
            Aku tersenyum “jangan sakiti diri kamu dey, atau saya akan lebih jauh” jawabku.
            “kamu sudah merengut segalanya nay, kamu..”
            “kalogitu janji sama saya kamu akan bangkit lagi” kataku
            “ada hadiah seusai janjinya selesai?” pinta dey
            “aku ga tau dey..” dey mengengam tanganku erat, hatiku sakit melihatnya yang terlihat menderita, dey telihat sangat sakit.
            “ayo kita buat perjanjian dey..” kataku lagi, dey memandang mataku dengan sedikit pancaran sinar dari matanya
            “kamu akan kembali ke aku?” kata dey kemuadian
            “deeeey! Ayolah jangan gitu” jawabku dan dey terkekeh. “biarin aku temuin dulu apa yang kucari, biarin aku tau dulu hatiku akan kemana, kenapa, biarin aku pastiin apakah kita akan jadi cinta atau bagimana, lepasin aku dey” wajah dey tampak sedih mendengar itu.
            “setelah aku yakin dengan hatiku, setelah aku yakin atas segalanya, dan kamu masih menunggu buat aku, ayo kita mulai lagi dari awal”. Dey tersenyum
            “aku akan nunggu kamu nay” kata dey
            “dan itu mungkin ga sebentar dey, kamu boleh menyerah kapanpun. Ketika kamu menemukan seseorang yang bisa buat kamu jatuh cinta dan bahagia sama kamu dan yang juga kasi cintanya seutuhnya juga sama kamu. Kamu boleh menyerah kapanpun”.

(flashback selesai)

           
            Lebih dari dua tahun berlalu sejak saat itu. Aku sudah cukup berkeliling dunia menikmati pekerjaanku, aku belum bisa menemukan apa yang sebenarnya kucari hingga pada akhirnya aku menyadari bahwa aku hanya perlu tinggal dan menjadi bahagia. Begitu banyak yang berubah, aku tak lagi meronta dan menjerit mejalani hidup, aku lebih banyak tersenyum dan bersyukur, dan duniapun tersenyum dan memberikanku lebih. Aku bahagia dey.
            Dua tahun lebih telah berlalu, terakhir yang kuketahui dey kembali mewujudkan mimpinya, dengan proyek yang lebih besar, dengan kesuksesan yang lebih besar pula. Tidak ada yang kutahu lebih dari itu mengenai dey. Aku berharap bahwa ia akan hidup dengan bahagia. Lalu apakah kami akan bertemu lagi? Aku tidak tau, dan... aku menemukan sesuatu ketika aku berada di Bali beberapa bulan lalu.
            Aku bertemu lagi dengan rama, kami hanya mengobrol beberapa saat. Rama yang memberitahuku bahwa dey mengejar mimpinya lagi. Lalu rama bercerita mengenai masalalu, waktu itu ketika aku bersembunyi di balik tirai dan menangis, dey tahu segalanya. Dey tidak benar-benar tidur, dey mendengarkan aku dan rama berbicara. Dan alasan kenapa dey masih melamarku bahkan ketika ia sudah tau bahwa aku tidak pernah mencintainya adalah cinta. Itulah deyku.
            Setidaknya aku berlajar satu hal lagi dari dey, ia bahkan masih mencintaiku bahkan ketika aku sudah dengan sangat jahat membiarkan ia sendirian. Aku menyadari satu hal, satu-satunya hal, yang ingin kulakukan sekarang adalah bertemu dengan dey, lalu mengatakan “dey.. i’m falling in love with you”. Namun happy ending tidak begitu mudah dibentuk, tidak ada yang tau dimana dey sekarang, pekerjaannya membuat ia berpergian ke banyak tempat, dan tidak ada yang tau apakah dey masih menungguku atau ia sudah menemukan kebahagiaanya sendiri.
            Dan... Tuhan memberika teguran-Nya kepadaku. Aku dan beberapa teman dekatku berjanji akan makan malam bersama, bahkan sekarang aku memiliki teman dekat.  Namun pekerjaanku memaksaku harus terlambat. Ketika memasuki restaurant aku berlari tergesa-gesa hingga tak sengaja menabrak anak perempuan hingga ia jatuh dan menangis keras. Aku panik, aku tak berhasil mendiamkan-nya dengan sogokan permen atau eskrim, anak perempuan itu terus menangis, lalu tiba-tiba seorang pemuda datang dan mengendong anak perempuan itu dan membawanya pergi. Dia dey.
            Mungkin dey sudah menemukan kebahagiaanya sendiri. Anak perempuan itu sangat mirip dengan dey. Bahkan anak perempuan itu memanggil dey dengan sebutan “daddy”. Hatiku hancur, dan aku tidak bisa marah, tidak boleh marah. Dey nampak bahagia dan itu hukumanku karena pernah membuat dey begitu terluka.
            Seusai makan malam kami, aku akan pulang dan menunggu taxi di depan restaurant. Seseorang menarik tanganku, iya.. dey.
            “apa kabar nay?” tanya dey dengan lembut
            “baik. Sangat baik.. kamu baik-baik aja dey?” tanyaku lagi
            “hmm.. iya. Kamu berubah banyak nay, saya sempet linglung, kamu makin cantik” puji dey, dan aku hanya tersenyum.
            “selamat dey, dia cantik banget kamu pasti bahagia..” kataku lagi
            “siapa?” tanya dey
            “anak perempuan kamu. Aku minta maaf, tadi aku buru-buru dan ga liat jalan” lalu dey tiba-tiba tertawa.            
            “alika namanya, iya dia cantik banget kan? Mirip sekali denganku ya?” Kata dey
            Aku merasa kecewa dan hanya diam “sekali lagi selamat dey” kataku sembari pergi dan membuka pintu taxi.
            Dey memegang tanganku dan berbisik di telingaku “anak mbak lara dan mas robby. Masih ingat mereka kan? Alika keponakanku, dan aku masih nunggu kamu nay”. Aku tersenyum, “ga jadi pak” sembari menutup pintu taxi dan memeluk dey.
            Kami kembali bersama. Kali ini setiap kali dey bertanya “nay, do you love me?”aku akan selalu menjawab “i love you so much honey”. Kami akan segera menikah beberapa bulan lagi, dey melamarku untuk yang kedua kalinya, dihadapan semua orang (lagi). Dan kali ini tentu saja “yes, i do”.
            Well.. hidup ga pernah semudah mengambil keputusan antara makan apa atau minum apa, hidup jauh lebih berat dari itu. Semakin sulit hidupmu, sepi akan semakin menyelimuti, semakin sulit hidupmu maka hati akan semakin lari dan akhirnya sembunyi. Selama kita bisa menjalani dengan ikhlas, selama kita selalu tersenyum akan dunia yang kejam, maka kita bisa menikmati alunan kehidupan. Ada kalanya untuk mencari jati diri, ada kalanya untuk menemukan kebahagiaan di tempat yang berbeda, berjalan sejauh apapun untuk menemukan sesuatu. Namun tak selamanya kebahagiaan ditemukan dengan terus mencari, terkadang kebahagiaan sudah ada, kamu hanya perlu tetap tinggal dan hidup didalamnya...

Rabu, 13 Mei 2015

fly away

Aku sudah mengerti bahwa semua ini akan terjadi, sedikit tergambar jelas disana. Menghindar? Sudah aku coba lakukan, tetapi mengihindarimu bukan hal yang mudah. Begitu aku mundur satu langkah, maka kamu akan maju sepuluh langkah, ketika aku berbalik menjauh, maka tanganmu akan dengan erat mengengam. Lalu apa yang harus  kulakukan dengan semua itu? Apa yang harus  kulakukan dengan kenangan kamu yang bergutik terus-menerus didalam fikiran saya? Bagaimana bisa kamu hilang begitu saja seperti memori didalam handphone saya yang rusak. Aku tidak bisa. Masih akan jadi tanda tanya besar, apakah aku akan berhasil move on melupakanmu hingga ke bagian-bagian terkecil.

“kita putus! Jangan cari aku lagi, kamu ga perlu ngapa-ngapain, kita cukup saling diam ditempat, dan saling ngelupain”. Aku ingat saat kata-kata itu kuucapkan dengan fasih dan lancar, seiringnya hatiku merasa lega dan akan terlepas dari luka mandalam. Namun kamu tidak mudah menyerah untuk hal-hal yang kamu miliki kan? Tentu saja. Berhari-hari menunggu didepan rumah, mencariku kemana-mana, bahkan dengan perban yang masih basah, yang melingkar di tubuhmu. Dan aku menyerah, aku tak  bisa melihatmu merintih menahan sakit dipungungmu yang tak lama terhempas kejalanan aspal tebal. “aku dirumah bunda sarah” pesan singkatku yang kukirimkan kepadamu kemudian.

Tak lama kemudian kamu sudah berada didepan rumah, berdiri dengan tampilan lusuh, kacau. Aku datang mendekatimu dan kamu seperti anjing kecil yang bertemu kembali dengan tuan pemiliknya. Kamu memelukku erat, merasa lega. Kulepaskan pelukanmu, kutatap kamu dalam-dalam.

“bagaimana bisa Cuma beberapa hari dan kamu jadi begini?” kataku sembari merapikan kerah dibajumu yang berantakan.
“jangan tinggalin aku makanya” dengan nada manjamu seiring dengan tangamu yang membelai rambutku yang terurai.
“kita kan sudah putus” jawabku ketus
“apa yang salah? Kenapa?” nadamu mulai berubah marah
“bosen, mungkin..” jawabku seiring membelakangimu
“bohong! Saya kenal kamu by” deka menarik tangaku lagi, membuat mataku memandang dalam kedua bola matanya.
“kamu mau saya bilang apa ka? Saya nyerah.. itu aja”
            “saya salah apa by? Setidaknya kasih saya kesempatan buat minta maaf”
            “kamu ga salah apa-apa, saya yang salah” jawabku tanpa ekspresi, deka diam. Memandangku dalam-dalam, menunggu sebuah penjelasan.
            “saya belum siap buat kehilangan kamu dek, kemarin saya liat kamu patah kaki didepan mata saya, kemarin saya liat badan kamu terhempas ke aspal, diperban, msuk rumah sakit, merintih lagi, minum obat lagi, berkutik dengan jarum infus lagi, terapy lagi, tapi kamu akan tetep dateng buat latihan, semua orang bakal nerriakin nama kamu, kamu bakal semakin cepet dan cepet dan entah besok saya akan liat apa yang akan terjadi sama kamu” jawabku lirih, deka mandengarkan
            “saya tau balap hidup kamu, saya tau kamu suka semakin cepet. Kayak terbang bebas ya? Tapi saya ga siap ambil resiko bisa kehilangan kamu tiap detik, didepan mata saya, saya ga sekuat itu. Saya juga ga bisa kasi kamu pilihan balap atau saya, karena saya tau balap itu hidup kamu, jiwa kamu. Saya bahagia banget liat sususan piala dan hadiah yang kamu dapet setiap kali kamu menang, ngeliat senyum kamu yang udah ga berenti ngembang, demi apapun saya berharap kamu terus gitu. Tapi itu ga setimpal dengan resiko yang kamu tanggung, saya ga bisa” deka menatapku, tanpa suara. Mencoba memahami yang kukatakan
            “saya ngerti. Kalo gitu, kita sampai disini aja” kata deka kemudian, seiring dengan berlalunya deka.

Aku mengerti, dan kurasa dekapun begitu. Setelah mendengar kata-kataku, deka berlalu begitu saja. Hampir dua bulan tidak ada kabar selain dari televisi ataupun surat kabar, deka memanangkan race-nya tingkat nasional dan untuk pertandingan berikutnya akan ber-skala internasional diluar negri. Aku ikut bahagia karena mimpinya menjadi kenyataan. Di dalam hati aku selalu berdoa untuknya.

Beberapa minggu sebelum keberangkatan deka untuk latihan diluar negri. Deka menekan bel apartemenku, datang kepadaku. Pagi itu aku hanya sedang membuat sarapan pagi ketika deka datang dengan sebuket bungga berwarna pink cantik. Aku tersenyum dan mempersilahkan deka masuk, deka duduk dan kukira kami hanya akan saling berbicara sebagai teman.

            “saya akan berhenti” kata deka tiba-tiba mengagetkanku
            “by, saya bisa gila! saya marah ketika kamu bilang kayak gitu waktu itu, kamu tau race dunia saya, satu-satunya jalan saya buat bisa bebas, tapi ini jauh lebih buruk kalo hidup saya ga ada kamu. Saya kira saya akan baik-baik aja, race saya berjalan lancar, tapi otak saya ga bisa berhenti mikirin kamu, semakin saya mikirin kamu, saya semakin ingin terbang lebih jauh.. buat ketemu kamu. Kasih saya kesempatan” Aku berhenti memasak, dan datang mendekati deka. Memeluknya yang nampak hancur.
            “biarin ini jadi yang terakhir by, biarin aku buat salam perpisahan buat motor dan dunia balapku, aku janji ini yang terakhir, janji!” kata deka kemuadian
            “yang terakhir dan setelah ini kamu bakal diem-diem di samping aku, cari hobby yang lain, cari kerjaan yang lain?” jawabku
            “iya janji!” seraya senyum deka kembali mengembang.

Kudengar bahwa latihan deka berjalan lancar, di minggu-minggu terakhirnya dia masih menelponku bercerita banyak hal, satu halyang masih kusadari dengan jelas, deka sangat mencintai dunia itu, dunia yang bisa merenggut nyawanya kapan saja, setiap detik. Sebelum hari terakhir deka bertanding, sepanjang malam dia berbicara kepadaku, hmm.. iya, aku tidak ikut ke jepang untuk melihat pertandinganya, deka tidak ingin aku datang “jangan terluka by, saya bisa lebih sakit” katanya kala itu.

Malam itu deka berbicara mengenai orang-orang baru yang ia kenal melalui dunia balap, dia bahagia sekali. Didalam hati aku menyesal memberinya kesempatan, karena kusadari betapa ia bahagia tinggal didunianya. Tapi hatiku semakin gelisah, ketika deka mengakiri pembicaraan dengan berkata “saya akan terbang lebih tinggi besok, saya janji ini akhir!” aku semakin merasa gelisah ketika senyum nya di balik video call terasa jauh lebih hangat dari biasanya.

Hari itu tiba, aku bangun pukul delapan. Pertandingan deka dimulai dipagi hari. Aku hanya bisa melihat dan menunggu lewat layar televisi, namun tidak kulakukan. Detik demi detik waktu kuhabisakan dengan berdoa didalam hati dan membuat sesuatu, setidaknya dengan memasak aku bisa sedkit lupa. Kala itu ada beberapa teman dekatku di apartement, mereka sibuk berbincang dan bermain game, tia dan nita menemaniku memasak. Kumohon, buat aku lupa. Tak lama kemudian telfon berdering, sam mengangkat telfon, diam sesaat. “by, sini” kata sam memanggilku dengan nada rendah. Kuterima telfon itu “hallo..” aku mendengarkan orang diseberang sana berbicara pajang lebar, mengenai ada sedikit masalah mengenai deka, pertandinganya sedikit kacau, ada tabrakan beruntun yang memakan banyak korban, salah satunya deka. Aku diminta segera menyusul ke jepang dengan penerbangan pertama. Seketika semua menjadi pilu, aku hanya terdiam membisu. Tia dan nita membantuku membereskan pakaian, sam dan joy memesan tiket, mereka berjanji akan menemaniku ke jepang. Di sepanjang perjalanan aku hanya diam, tidak ada air mata, tidak ada kata-kata, hanya berdoa, “kumohon Tuhan, beri aku kesempatan, biarkan aku menemaninya”.

Ketika aku dan teman-temanku tiba di jepang, om john manager deka sudah menunggu kami, ketika om john datang ke arahku, aku kalah. Aku terjatuh dan menangis haru, berkata berkali-kali bahwa ini adalah mimpi atau semacamnya. Tak lama kemudian kami tiba dirumah sakit, deka koma. Beberapa tulang rusuknya patah, kakinya diperban, infus menusuk setiap bagian tubuhnya, sekarat.

Aku memandangi tubuhnya yang terbaring lemah dari balik kaca ruang ICU, dia nampak tenang dengan segala alat yang membantu nafasnya. Harus kuapakan rasa sakit ini, sayang? Harus kubuang kemana rasa perihnya? Kamu berhutang maaf dariku, dan kamu juga sudah berjanji..

Seminggu sudah ia dirawat, dan tidak ada tanda apapun yang membuat semua orang berhenti untuk khawatir. Sejak hari pertama ia terbaring lemah disana, tak sekalipun aku masuk untuk melihatnya langsung kedalam icu, hukuman untuk dia yang tidak pernah mendengar kata-kataku.

Pagi itu salju turun di jepang, kulihat putihnya dari balik jendela kaca rumah sakit, deka tau bahwa betapa aku menyukai butiran es berwarna putih ini, namun hari ini aku membernci salju itu, nampak dingin dan membeku. Dari balik pintu kudengar pembicaraan dokter dan kedua orangtua deka, kudengar deka akan dipindahkan ke jakarta dekat dengan keluarga, kenapa? bahkan ketika dia belum sadar dari koma dan harus kembali? Karena.. samar-samar kudengar dokter mengatakan bahwa hanya ada sedikit harapan untuk hidup, jika keajaibanpun terjadi dan deka sadar maka ia tidak lagi bisa berdiri dengan kedua kakinya, dan aku tak deka membenci hal itu.

“hai!” kulihat deka duduk dikursi dengan senyumananya, aku mendekati deka dan meraba wajahnya, dia hangat.. dan seketika aku menangis,
“kenapa..? jangan nangis ah, jelek” kata deka lagi, dan aku masih diam memandang wajahnya dalam-dalam lalu memeluk erat dia.
“salju by, kamu suka kan?” kata deka seraya memandang ke luar jendela, aku masih diam dan menangis dalam pelukannya
“maaf by, maaf” kata deka kemudian seiring dengan memandang wajahku pekat, tanganya yang tadi menyentuh wajahku hangat mulai menjadi dingin dan terlepas.

Tiba-tiba aku terbangun. Itu hanya mimpi, aku tertidur di ruang tunggu. Ku pandangi disekitarku, semua orang tertidur lelah dan ini sudah larut malam. Aku berjalan keruang deka, ia masih disana, juga tertidur lelap. Aku masuk kesana, mendekat ke arah dia yang terkulai lemah, mengengam tanganya, tangannya masih hangat, jari-jarinya masih sama seperti dalam ingataku, dan aku menangis.

            “jangan menunggu, aku baik-baik aja.. kamu boleh pergi kapan aja sayang, liat jarumnya tambah banyak, selangnya nambah lagi, lama-lama kamu jadi robot” kataku seraya mengengam erat tanganya,
            “jangan sakit karena aku, kamu boleh terbang sejauh yang kamu mau.. jangan menunggu, aku lebih suka kamu ngelepas semua ini dan pergi ka.. jadi ga ada rasa sakit lagi” dan tangisku pecah dipelukannya.
Tiba-tiba tangan deka mengengam tanganku, bergerak. Ketika aku bangun dan melihat, deka bangun matanya yang nampak sayu memandangku dan tersenyum manis, aku berlarian memangil dokter, dan keajaiban datang, deka sandar dan ia akan segera baik-baik saja.

Deka duduk di ranjangnya, kedua orangtua deka tidak henti-hentinya mengucap syukur dan menangis, aku hanya melihat dari balik pintu ketika deka mengangkat tanganya, meminta kusambut. Aku mendekat dan memeluknya, dia tersenyum dan kembali memeluk maja.. “i’m back” katanya kemudian. Sudah dua hari deka sadar, namun para dokter belum memperbolehkan deka pulang. Masih ada serangkaian pemeriksaan dan oh iya.. deka baik-baik saja, ia berjalan kesana kemari memutari rumah sakit sesuka hatinya. Dia tampak bahagia, dan ia kembali seperti deka yang dulu aku kenal, lucu, hangat, periang.

Hari ketiga setelah ia siuman, ia duduk ditaman rumah sakit memandangi anak-anak sedang bermain bola, menghela nafas panjang. Ketika aku mendekat dia mengapai tangganku, mengengamnya erat.

            “kamu tau kenapa aku sadar?”
            “karena kamu emang harus sadar buat aku, kamu kan baik-baik aja” seraya aku membelai wajahnya
            Ia mengeleng pelan “karena aku mau nepatin janji!” aku terdiam bingung
            “aku kembali, buat kamu.. aku minta waktu buat kembali ke kamu dan aku disini” dia tersenyum
            “tapi.. kalo aku ikut pertandingan selanjutanya di eropa boleh ya?” kata deka kemudian,
            “oke kita putus!” jawabku..
            “aaaaaahhh, ayaang..” dan kami bercanda sepanjang hari

Ketika malam tiba, di ingin aku tidur didekatnya, tanganku ia gengam erat. Kulihat dia tidur dengan nyenyak, senyumnya masih mengembang. Ketika pagi datang, kulihat ruang inap sepi, deka tidak ada, semua orang sibuk berlarian, nafas deka terhenti, dia tidak lagi terasadar dengan senyum hangatnya, ketika para dokter melepaskan segala alat bantu dan menyebutkan jam dan hari, deka benar-benar pergi.

Taukah kau? Orang berkata ketika seseorang yang sudah koma lebih dari tiga hari, ia akan bermimpi panjang, didalam mimpinya ia akan bertemu dengan orang-orang yang ia sayangi, lalu pelan-pelan mengenal mereka dan rasa cinta orang-orang tersebut kepada dirinya, lalu ia akan diberi sebuah harapan oleh Tuhan, apakah keajaiban atau kesempatan. Deka.. ia mendapat kesempatan, ia sadar untuk beberapa hari, memeluk kedua orangtuanya hangat, mengukir senyum di wajah teman-teman yang menunggunya siang dan malam, dan menepati janjinya kepadaku. Dia kembali, dan aku lupa untuk membuatnya berjanji kepadaku agar ia tak pergi lagi. Dia sudah benar-benar terbang tinggi.


                         Untuk kamu yang bersembunyi dibalik awan putih di atas sana,
                         Apakah kamu bahagia! Ya.. sana terbang sepanjang waktu!
                        Saya mencintai kamu, bodoh.. 

Selasa, 28 April 2015

terluka tapi jalan terus

Terkadang seseorang tidak ingin pergi bahkan ditengah-tengah rasa sakit, bukan karena bodoh atau berpura-pura munafik dan tidak perasa. Seseorang hanya takut menjadi sendiri, takut rasa sepi menyelimuti dan menjadi tak terlihat. Diabaikan.
Diabaikan. Menjadi sepi. Bertahan sekuat tenaga. Mencoba merevisi lagi dan lagi, terseok-seok, tersungkur malu, dan terluka dalam. Hanya untuk jadi bagian dari sesuatu, bagian dari seseorang, serpihan kecil dari cerita orang lain, kebahagiaan orang lain. Lalu.. apakah menjadi salah?

******

“belajar masak? Bunda-nya sam pinter masak?” tanya nia penasaran
“pinter segala-galanya! Masak, buat kue, jahit, pinter nasehatin.. segalanya”
“lo happy banget pasti punya calon mertua yang gitu pasti ya?”
“banget! Gue betah dirumah sam berhar-hari, walau ayang sam ga ada dan jarang dirumah, nyokapnya udah ngasih gue kayak keluarga yang lain”
“terlepas dari sam suka nyakitin loe?”
“terlepas dari sam ga tau seberapa gue sayang sama dia dan keluarganya mungkin..” jawabku
“tapi cinta bukan itu lak! Bukan kayak gitu”

Aku tersenyum manis saat nia sahabat baikku berkata seperti itu. Tidak, aku bahagia. Sam tidak meyakitiku, sam hanya tidak tau cara memperlakukanku, atau sam tidak menyadari seberapa aku mencintai dia. Namaku Nadyla Fadely, dan teman-temanku memangilku lala. Rahmania adalah sahabat dekatku, nia lebih tepatnya nama panggilanya. Samm, dia adalah pacarku. Sammy libert, keturunan indonesia-canada karena itu namanya begitu. Kami sudah lebih dari satu tahun pacaran, dan aku mencintai sam layaknya seorang pemuda pemudi yang jatuh cinta.

Tapi kukira hatiku salah dan sam tau tentang itu, sam hanya diam menghindar, tidak melepaskan atau mengikatku erat. Sam takut aku pergi dan tak ingin aku tinggal dengan perasaanku yang palsu karena itu dia mencoba menyakitiku dan dirinya sendiri berkali-kali. Berkali-kali sam mencium pipi perempuan lain didepan mataku, memeluk perempuan lain dibalik punggungku, dan berbohong. Aku tau, namun entah mengapa itu tidak menyakitiku.

Pagi itu, hari kamis tanggal 21 maret, ketika aku datang kerumah sam tengah malam untuk memberi kejutan ulang tahunya yang keduapuluhlima, kulihat sam membawa perempuan lain saat bundanya pulang ke canada untuk menemui ayah sam. Aku hanya melihat sam memeluk perempuan itu dari balik lemari kaca, lilin-lilin dari kue yang kupegang mulai meleleh dan aku hanya terdiam merasa nyeri dan sakit lalu berlalu begitu saja. Keesokan harinya aku datang lagi saat bunda sam sudah tiba dari bandara, kuucapkan selamat ulang tahun pada sam, dan sam mengecup keningku hangat. Ibunda sam tersenyum. Bukankah aku bersandiwara dengan sangat baik?. Malam harinya sam mengajakku dinner di sebuah restaurant mewah. Berpura-pura bahagia, berpura-pura sempurna.

Sam tersenyum seperti biasa, kami berbicara mengenai hal-hal yang kami sukai masing-masing. Aku memberikan sebuah gitar listrik sebagai pelengkap koleksi gitar sam, dan sam memberiku se-buket besar bunga mawar berwarna merah cantik. Sempurna. Tak lama kemudian sam permisi ke kamar kecil. Kupandangi gedung-gedung dibalik kaca restaurant, kulihat gemerlap lampu jalanan dan kendaraan hulu-hilir, tak lama kemudian sam kembali, memecahkan lamunaku dengan membawa seorang perempuan, perempuan kemarin. Sam tersenyum kepadaku.

“kenalkan aurel, temen deket” kata sam sembari memperkenalkan perempuan itu
“lala..” kataku dengan lembut sembari tersenyum

Tak lama setelah itu aku pulang dengan taxi, sam ingin mengantarku namun kutolak. Kubiarkan mereka berdua melanjutkan percakapan mereka. Disepajang jalanku aku terdiam pilu, tidak tau caranya untuk menjadi lebih sakit daripada ini. Namun aku tidak kembali ke rumah, aku ke rumah sam bertemu bunda sam. Ketika kuketuk pintu rumah sam, bunda sedang merapikan bunga yang sudah layu. “bundaa..” sapaku ketika masuk, bunda sam tersenyum.. sesekali bercerita mengenai sam dan masalalunya saat bertemu ayah sam. Dan rasa sakit itu hilang dengan ajaibnya.

Iya.. saya terluka dan itu amat dan teramat sakit. Tetapi entah datang darimana kekuatan itu, untuk bertahan, untuk tak menyerah, untuk menunggu bahwa suatu hari kamu akan menyadari betapa aku menunggu lama untuk hatimu terbuka.

Malam itu aku menginap dirumah sam, di kamar bunda sam. Larut dan hening malam tidak bisa menghanyutkan fikiranku dalam tidur, aku masih terjaga. Tepat pukul 02.45 subuh sam pulang, berjalan sempoyongan dan memecahkan vas bunga bundanya, mabuk. Kupapah sam kekamarnya, sam tersenyum terhanyut dalam pengaruh minuman keras, melepaskan jas dan sepatu sam, lalu ketika aku beranjak pergi, sam ngelantur dan berbicara “kenapa kamu ga pergi aja? Saya benci kamu, kamu ngebuat saya sakit, kamu ga harus bertahan!” sam menangis.
“saya ga bertahan untuk kamu, untuk saya!” lalu aku berlalu meninggalkan sam.

Hari esok segera tiba, pukul 10.00 pagi sam bangun. Aku dan bunda sam masih sibuk didapur, bunda sam selalu suka memasak. Sam turun dari anak tangga, memadangku dengan tatapan hangat, dan aku tersenyum manis. Sam memelukku dari belakang, manis sekali, bunda sam tersenyum. Inilah satu-satunya alasanku yang terluka namun tetap berjalan terus, aku hanya percaya bahwa cintaku bukan bohong, bukan kepura-puraan dan sam akan mengerti.

Hari-hari berlalu, sejak hari itu sam tidak lagi meyakitiku. Sekitar dua bulan sam bersikap sangat baik kepadaku, berbicara lembut, menatap hangat, memperhatikanku dan hatiku mulai gelisah. Ada yang salah dengan sam.

Tepat diperayaan duatahun anniverssary kami, sam membuat reservasi direstaurant ternama, mendekor dengan cantik, mengundang semua orang terdekat yang kami kenal, malam itu sam sangat hangat dan aku bahagia. Ketika alunan piano dimainkan hatiku tersentuh dan merasa lirih secara bersamaan, tiba-tiba sam datang kearahku dengan sebuket bunga mawar merah ditanganya dan sebuah cicin cantik di tengah-tengahnya. “will you marry me..” kata sam kemudian.  Aku menangis haru malam itu, tersenyum bahagia dan menganguk dengan pasti, “mari kita bahagia dan perbaiki segalanya” pikirku dalam hati. Tepuk tangan semua orang membuat senyumku mengembang. Aku bahagia.

Malam panjang itu masih berlanjut, sam memainkan gitar acoustic-nya menyanyikan beberapa lagu romantis, semua orang nampak menikmati malam. Berkali-kali kulihat bunda sam tersenyum, sesekali mengengam tanganku hangat. Kebahagiaan ini tak lama, tentu saja. Tiba-tiba seorang perempuan yang entah siapa dan darimana datang, berteriak dan menjerit, meronta dan marah-marah. Katanya, sam harus bertangung jawab, perempuan itu hamil 3 minggu dan anak itu adalah anak sam, sam terpaku menatap kearahku, suasana menjadi kaku, semua orang mulai menatap ke arahku dan sam. Perempuan itu menangis, menjerit, sam mencoba menenangkannya. Aku hanya menatap mata sam dalam-dalam lalu pergi berlalu.

“laa.. sebentar la dengerin dulu” kata sam yang akhrinya meraih tanganku dan menghentikanku. Aku berhenti, airmataku berlimapah ruah tak henti merasakan sakit, kurasa aku akan menyerah.
“maaf la, maaf” kata sam kemudian
“kenapa..? kenapa sam? Kurangkah saya? Saya bertahan, saya mengerti, saya menunggu, saya percaya, dan kamu masih nyakitin saya..”
“maaf la.. saya salah” sam menunduk bersalah, kulanjutkan langkahku dan beranjak pergi, sam kembali mengejar dan meraih tanganku.
“saya ga sepenuhnya salah la! Kamu tau pasti bahwa saya akan begini, iya kan?”
“saya ga mau tau kamu ngomong apa sam, saya ga akan bertahan lagi”
“coba kamu lihat!” bentak sam tiba-tiba.
“saya ga salah! Kamu.. kamu ga pernah cinta sama saya la, tidak! Kamu Cuma ga suka sendirian dirumah kamu yang kosong, kamu Cuma berharap seseorang kayak bunda nemenin kamu, bukan aku! Saya cinta kamu la, sangat! Tapi kamu enggak, kamu ga bertahan buat saya, ga menunggu buat saya, kamu Cuma takut sendirian karena kamu ga punya siapa-siapa lak!” Dan aku hanya berlalu pergi meninggalkan sam.

Aku seperti disambar petir. Setelah berminggu-minggu aku sendiri, merenung, berfikir, merasa sakit dan seperti bangun dari tidur pajang sekaligus. Dalam hati kecilku “iya.. sam benar. Aku hanya takut sendiri” dan rasa yang paling pahit kusadari bahwa “iya.. ini bukan cinta la..”. kuraih handphone-ku dan kukirimkan pesan singkat kepada sam “ayo kita ketemu, buat yang terakhir”.

Tak lama kemudian aku sampai disana, tempat pertama kali sam dan aku bertemu, tempat diamana semua pertemuan dimulai dan aku ingin juga menjadi tempat untuk diakhiri. Tak lama kemudian sam datang, diam dan menjadi pilu.

Aku memulai dengan cerita lama “Cafe nya di tengah kota, di antara hiruk pikuk orang-orang beraktifitas di sepanjang hari, dan saya selalu sendiri duduk disini ya sam? Pura-pura sibuk dengan handphone dengan laptop”
            “iya.. kamu” kata sam kemudian
            “seperti nunggu sesuatu yang ga pernah dateng, seperti sepi dan pura-pura merasa bahagia, kamu” kata sam lirih
            Aku menghela nafas “kamu bener sam, saya salah. Saya Cuma mau seseorang buat tempat saya bercerita, nemenin saya, dan bunda sosok yang ngebuat saya nyaman, kamu ga lebih dari sekedar pelengkap dari semua itu”
            “dan saya jadi kambing hitam kamu!” sela sam “dan saya jadi jahat karena menyadari itu duluan, iya kan..? kamu jahat la..”
            Aku menunduk “maaf sam, saya Cuma mau tau rasanya punya keluarga. Keluarga yang normal, yang wajar. Bicara, cerita, ketawa, saya Cuma mau ada yang ngajarin saya itu semua, bukan Cuma rasa sakit”
            “dan bunda begitu?” tanya sam         
            “dan bunda bisa begitu” kataku lirih

Kami terdiam sesaat, menikmati bau embun sehabis hujan deras dipagi hari, menikmati suara langkah kaki lalu-lalang dari orang-orang yang mengejar waktu, mendengar rintik-rintik kecil sisa hujan yang masih turun.

            “ayo kita mulai dar awal” kata sam kemudian.. “saya sayang kamu la, sangat”
            “kamu bakal punya anak sam, saya mau jaga dia”
            “saya bohongin kamu la, itu Cuma sandiwara.. semua orang sudah saya jelasin soal itu, saya ga mau selamanya jadi yang kesekian la”       
            Aku tertawa kecil “enggak sam, kamu lebih berharga dari sekedar pelengkap ketika saya sepi, seharusnya saya ga begitu”
            “saya cinta kamu la..”
            “dan saya bahkan belum mengerti hati saya sam, kamu ga pantes jadi kambing hitam dari rasa takut saya akan sepi..”
            “kita bisa mulai dari awal, saya yang ngajarin kamu..” sam membujuk
            “saya akan mulai sendiri sam, saya akan nemuin hal-hal yang saya cari. Sakit saya, tawa saya, bahagia saya, saya mau nyari bagian-bagian itu dulu dan sendiri”
            “saya akan nunggu” kata sam kemudian
            “kamu pantes dapet kebahagiaan kamu sendiri sam..”

Segalanya berakhir disana, saat itu. Aku dan sam berpisah disana, bertahun-tahun lamanya aku tidak pernah mendengar lagi tentang sam dan keluarganya. Beberapa kabar burung mengatakan bahwa sam akan segera menikah, ada kabar lain mengatakan bahwa bunda sedang menunggu kelahiran cucu pertamanya dari sam, apapun itu aku bahagia untuk sam.

Hari itu saat aku sibuk membaca buku disebuah toko buku, seseorang merebut bukuku dan menyembunyikannya dibalik tubuhnya, dan iyaa.. dia sam.

            “sudah ketemu” kata sam sembari meraih sandwich di atas meja
            “apa?” kataku bingung
            “hal-hal yang kamu cari?”
            “sebagian iya, sebagian lagi saya masih mencari. Oh iya.. selamat buat pernikahannya, atau anak pertamanyaaa?”
            Sam tertawa terkekeh-kekeh “saya? Nikah? Saya masih nunggu kamu laa” 
            “beritanya bohong?” kataku bingung
            “saya ga tau itu berita darimana, tapi saya masih sendiri.. bunda baik-baik aja, beberapa kali dalam sehari nanyain kamu....”


Kami terus berbincang-bincang, mengenai masalalu dan masa-masa yang akan datang. Sam menceritakan banyak hal yang baru dan aku senang dia bahagia, bunda juga. Percaya atau tidak, jantungku berdegup kencang karena senyuman dan tawa pemuda ini, dia masih sama namun lebih bebas atas jiwanya.