Jumat, 24 Juli 2026

The last valseto

Sayang, waktunya sudah menuju akhir

Sudah kukatakan,

Membenci bukanlah keahlianku

Namun aku pandai dalam mengabaikan

Selamat atas kehidupan yang baru

Atas air segar dan hamparan luas yang engkau impikan

Aku tidak akan melihat dari sisi manapun

Aku tidak ingin menonton dari arah apapun

Namun selamat akhirnya sudah sampai

Sungguh aku bisa memahami perasaan lega itu 

Aku tidak menujuk salah 

Aku juga tidak mencemooh marah

Aku bukan seorang pembenci

Tetapi sayang, setidaknya aku bisa memilih mengabaikan bukan?

Pahamilah aku yang kalah ini 

Aku tidak akan pernah lupa hari-hari menyebalkan itu, 

Aku juga tidak akan membenci yang sudah lewat dan terjadi

Yasudah.. maka berlalulah.. 

jika kamu sudah sampai

Nanti Tuhan juga akan gantikan untukku yang jauh lebih baik dan sesuai bagiNya untukku

Prasangkaku selalu baik, tentu saja

Sampai saat ini, ada nafas yang terus tertahan di ulu hatiku 

Aku tidak bodoh, hanya saja Allah punya jalan ceritanya sendiri 

Sayang, selamat jalan.. 

mungkin suatu hari nanti yang aku tidak tahu kapan hari itu akan datang, 

Mungkin aku akan lupa

Mungkin luka-luka akan sembuh

Mungkin rela sudah menjadi biasa yang bukan hanya terucap di bibir. 


24/07/2026   14.18

Sabtu, 04 Oktober 2025

Pita Merah

 


Tuhan, aku cemburu

Aku marah dan merasa iri

Aku berusaha begitu keras

Aku tidak duduk dan menunggu

Aku merubah diriku dan mauku

Aku berdoa dan memohon kepadaMu

Hanya untuk di lihat dan di temukan

Untuk di gandeng dan di iringi

Namun aku tak pernah terlihat

Namun aku tak jua di temukan 

Hingga aku sungguh kehabisan sabar dan menjadi marah 

Mungkin teriakku kurang keras

Atau doaku kurang tulus hingga tak sampai pada pendengaranmu? 

Mungkin tangisku kurang deras?

Mungkin bujukanku tidak terlihat serius?

Atau mungkinkah aku tak pantas?

Tuhan, hari ini aku membeli sebuket bunga 

Terlalu indah hingga iriku memuncak

Bunga ini akan kuberikan untuk merayakan

Harusnya aku turut bahagia

Harusnya juga aku ikut merayakan

Namun sungguh aku merasa sedih dan tersudut 

Aku tidak membenci si penerima, 

Namun aku sungguh membenci diriku 

Pertanyaan berulang itu semakin membuatku sesak “Lalu kapan giliranku? Lalu kapan giliranku? Lalu kapan giliranku?”

Terus menerus hingga aku kehabisan nafas

Hingga aku ingin teriak dan menghilang bagai buih 

Hatiku bergetar Tuhan, namun ini bukan bahagia 

Perasaan lelah dan selalu kalah 

Perasaan menyebalkan bahwa menanti dan di lewati sungguh melelahkan

Perasaan sedih beribu kali lipat namun kutahan

Apakah aku kurang Tuhan? 

Kenapa rasanya kali ini aku benar-benar akan menyerah?.


04/10/2025  13.40

Sabtu, 13 September 2025

Emptiness

Di dunia yg ramai ini, sepi tidak lagi bernarasi di sudut ruang, kesepian tidak lagi berwujud awan hitam dan hujan lebat yang turun,

duduk di sudut restaurant dan makan sendirian, atau minum kopi dan menyibukan diri dengan mendengarkan musik lalu berkutik dengan gadget, 

tidak juga perasaan tertahan yang ketika mendengar lirik lagu menyentuh yang tiba-tiba menjebol tanggul airmata


Kesepian merangkak dengan pelan, perasaan aneh yang berwujud lebih beraneka ragam 


ia berubah menjadi satu di antara kerumunan suara gelak tawa yang ramai bersama


Ia menjadi warna megah lampu-lampu mewah di sepanjang jalan


Ia menjadi waktu yang tiba-tiba berhenti ketika menunggu lampu hijau di persimpangan traffic light


Ia menjadi lagu yang tidak lagi sendu tapi berteriak keras tegas menghabiskan energi


Ia menjadi makanan-makanan lezat tertata cantik dan beraneka ragam yang di telan paksa


Ia menjadi film-film seru yang ujung ceritanya sudah bisa di tebak


Ia menjadi kamar ternyaman dan kasur empuk yang siap memeluk dengan tidur yang panjang


Dan semua berubah menjadi kebencian pada kenyataan bahwa di dunia yang amat ramai dan amat menarik ini, ia merasa seorang diri


Ternyata kesepian tidak berwujud tiba-tiba menangis sambil berkendara,


Tidak juga dengan berdiri di bawah hujan untuk menyamarkan airmata,


Rasa sepi datang bahkan lebih tenang dan tidak bisa lagi di selesaikan dengan menangis, tapi di hadapkan dengan senyuman.


Kesepian, membuatmu merasa tidak dicintai, bahkan di tengah orang-orang yang peduli dan menyayangimu. 

13/09/25         23.49

Kamis, 07 Agustus 2025

Adhesi

Membenci bukanlah keahlianku, 

“Jujurlah dan aku akan terus maklum”

“Jujurlah dan akan aku maafkan apapun itu”

Kalimat yang sering orang terdekatku dengar dariku. 

Pertama kalinya dalam cerita milikku,

Aku menghapus yang sudah kutulis dalam kotak-ku

Aku menyayangimu, tapi aku harus memilih diriku sendiri 

Ketika pertama kali kutemukan kamu, kufikir kamu sendirian dan ingin digiring 

Tujuanku saat itu hanya menemani 

Apapun fikiranku saat itu, tentu saja tujuan kita tidak akan bertemu di titik yang sama 

Dan aku hanya ingin menemani,

Lalu tiba-tiba tujuan menjadi serakah 

Tiba-tiba perkataan orang-orang jadi penting

tiba-tiba asing adalah penyelesaian dari kalimat-kalimat yang tidak bisa di ungkapkan

Suara hati yang tak terucap jua tak terbaca oleh sikap

Dan maksud yang selalu saja berbalik dengan keadaan dan jalan fikiran yang harusnya sederhana, 

Apapun itu.. 

tidak ada yang salah 

Dan kita hanya manusia biasa

Hanya sepengal cerita yang suatu saat akan terdegar lucu jika di ulang dalam paragraf 

Hanya akan jadi ingatan dan tersenyum di sudut bibir nanti ketika tak sengaja berlalu lalang,

Silahkan melangkah lagi, teruskan apapun tujuan itu 

Aku juga harus melangkah lagi dan menyelesaikan tujuan-tujuanku yang lain

Mari menjadi asing dalam waktu yang lama 

Mari tidak saling mengenal lagi hingga saling menerima 

Aku tidak tau sampai kapan, tapi akan sangat lama jika itu aku 

Jangan datang lagi, kumohon jangan bicara apapun, jangan bercanda, jangan menjadi jahat, jangan pernah muncul lagi didepanku

Sekarang, 

sekelebatmupun tidak ingin aku kenali lagi sosoknya

Sekelebatmupun ingin aku hindari sebisa aku bersembunyi dari bayangnya 

Selamat merayakan dan aku tak akan ikut bertepuk tangan, 

Sekali lagi, membenci bukanlah keahlianku

Namun aku sangat mahir dengan ketidakpedulian.  


07/08/2025      23.07

Kamis, 31 Juli 2025

Hari paling sunyi

Kata mereka, nanti ada waktunya hal-hal yang mengingatkanku, sudah jadi biasa saja

Kata mereka, waktu akan memperpanjang jarak menghapus ingatan, dan pada suatu pagi hatimu akan menjadi biasa lagi

Pada pagi yang hening ini

Langit menjadi pilu, matahari enggan timbul 

Sel-sel otakku bekerja seperti tidak pada tempat yang seharusnya

Memaksakan kenangan-kenangan yang buruk muncul seperti hujan yang menetes di luar jendela

Dari tetesan air yang jatuh, 

Orang itu, tetap menjadi bagian istimewanya

Yang tidak kuinginkan, tidak kuizinkan

Tidak beralasan ini itu

Hanya saja indah, hanya saja kusukai sosoknya

Menetap dan seakan tidak mau bergeser 

Walaupun tak lagi menebar wangimu

Tak lagi riuh kubertanya berulang suaramu

Tak lagi tertunduk lesu menunggu di rengkuh 

Kenapa tetap istimewa?

Kudengar beberapa berbisik,

Katanya cerita ini, katanya cerita begitu

Ahhhh… berita bahagiamu sudah kemana-mana 

Tentu saja aku kalah, 

Sudah pasti tekapar dan melebam 

Namun; seakan tidak peduli rambu warna merah menyala 

Mencoba memupuk sedikit demi sedikit kemungkinan tolol dan berujung banjir di terpa airmata 

Kali ini, kata mereka tidak lagi kudengar 

Kali ini, aku yang menghentikan langkah

Kali ini, aku yang melarang tubuhku

Kali ini, wlupun pipiku masih terus basah karena tak bisa menggengammu

Aku akan berbalik arah; sungguh porsiku sudah usai dan habis masanya

Lalu..

Aku enggan berterimaksih 

Tidak juga ingin membara terbakar api 

seperti aku yang dulu-dulu sekali ketika pertama kali paham rasa ingin memiliki, 

Mengendap-edap pergi dan diam. 


31/07/2025           00.46