Jumat, 12 Juli 2013

Cintamu tak pernah seindah cintaku


“Cinta it lucu. Bolehkah aku bilang begitu?” Mungkin kamu akan berteriak, “bodoh!” Hingga seisi ruangan akan menoleh jika aku bilang begitu.

“Cinta itu bohong”. Dan kamu akan marah dan merajuk membuang muka dan mulai merasa sedih atas cintamu.

“Cinta itu palsu”. Lagi lagi kamu akan mengamuk dan membentak tak terima lalu diam sejenak berfikir apa kesalahanmu hari itu.

“Aku bicara lagi ya? Boleh kan? Cinta itu bukan sesuatu yang penting, sederhana, membosankan, aku jenuh dan kadang-kadang kamu ga peduli bahwa itu ga lagi jadi hal yang asik seperti pertama kali kamu lakukan”. Dan aku tebak kamu sedang merintih, berteriak dalam hati kesakitan karna ucapanku. Sesekali akan berfikir untuk melepaskan dan memberiku hukuman dengan menjauh.

“cinta harus menunggu? Tidakkah itu bodoh? Berhari-hari? Bertahun-tahun? Selamanya? Siapa yang melakukan hal dalam drama bodoh begitu?” kamu akan mulai mengingat-ingat dan berfikir satu tahun hanya sebentar untuk kata menunggu dan kamu bukan orang bodoh karena satu tahunmu itu, iya kan? Pasti begitu.

“kesetiaan? Iyakah? Walaupun dia jatuh sakit hampir mati, atau dia tak sempurna dan cantik ataupun tampan lagi seperti dulu ketika umurnya masih belia?”. Saat ini kamu akan diam menguji batin kecilmu dan bertanya-tanya dalam hati, apakah aku orang yang setia?.

“boleh aku menjelaskan?” kamu akan berdiri dan berjalan menjauh meninggalkanku duduk sendiri menunggu disini, setidaknya kamu mengantarku hingga gates kepergianku dibuka kan? Tapi egomu dan rasa tidak percaya dan meyerahmu membuat kamu melangkah dan pergi dari sini. Aku tidak salah kan? Maksudku semua itu mungkin benar. Aku sudah mengirim paket kecil kerumahmu, dan beberapa hari setelah hari ini mungkin paketnya sudah sampai. Kuberikan bagian hidupku untukmu, jaga baik-baik ya. Aku selesai dengan ceritaku, dengan cintaku, dan dengan cintamu yang tak seberapa dibanding milikku. Selamat tinggal cinta manis yang kamu beri untukku.
 *****
Maaf, aku hanya punya sepasang boneka beruang kecilmu yang dulu kauberikan. Kurasa aku tak lagi bisa menjaganya tetap utuh bersama, aku terlalu jahat pada diriku yang bertahan padamu. Kurasa aku butuh seorang yang lebih baik daripada kamu. Terimaksih untuk hubungan ini sayang, hidup yang baik ya..
Cinta itu lucu, hingga terkadang aku tidak bisa tertawa pada diriku sendiri yang tak pernah berhenti mencintaimu bahkan ketika hari sudah senja dan terlalu lelah untuk melanjutkan fikiranku tentangmu itu. Lucu kan?
Cinta itu bohong. Bahkan ketika kamu berkali-kali berpura tersenyum manis padaku ketika aku bicara dengan sepenuh hati dan perasaanku mengenai semua yang tak kau ketahui atas masalahmu dan mencoba membantu atas semua rasa sakitmu, aku tau. Tapi aku terlalu bodoh dan tolol untuk marah ataupun menjauh atas perlakuanmu.
Cintamu palsu. Untuk seseorang sederhana yang tak punya wajah rupawan luar biasa seperti mantan-mantanmu yang juga luar biasa dan untuk semua perlakuanmu yang menutupi akan hadirku dari semua teman dan keluargamu, iya. Aku mengerti kamu cukup malu untuk menujukkanku yang sederhana ini pada mereka yang luar biasa. Dan lagi lagi dengan bodohnya aku mengerti dan menerima semua perlakukanmu, tersenyum manis seakan kamu mahluk paling sempurna didunia ini yang pernah ada dalam pelukanku.
Kamu terkadang bosan pergi dan mengajakku bicara hal-hal sederhana yang buatku sesuatu yang berarti seperti kita benar-benar menjalin sebuah hubungan, tetapi aku tidak pernah bosan mendengar keluh kesahmu atas masalahmu ataupun duniamu yang katamu tidak adil, bahkan aku akan terus ada disisimu hingga kau kembali pada dirimu yang ceria dan kuat.
Kita pergi, kita mengirim sms, kita bicara melalui telepon, atau kita lakukan hal-hal lain layaknya seorang yang benar benar menjalin hubungan. Dan berkali-kali aku harus terus dan terus sabar menunggumu yang moody untuk membuat semua itu jadi menarik, bukan hanya pertengkaran dan lagi-lagi pertengkaran yang membuat aku pergi dan beberapa hari kemudian kamu akan datang membawa seikat bunga, boneka, kue manis, ataupun hal yang lain berulang kali dan meminta maaf. Aku tak pernah mengangap semua itu hal yang membosankan.
Kamu berulang kali menjelaskan betapa kamu menunggu lama karena satu tahun yang kau habiskan menjadi temanku untuk merebut hatiku, ketika marah, ketika kita bertengkar, ketika kamu merasa hal-hal kecil yang tidak adil untukmu atau hanya untuk egomu.
Aku menunggu untuk sepanjang waktuku berasamamu, sepanjang aku mengenalmu dan sejak pertama kali kamu memperkenalkan namamu dihadapanku. Menunggu hatimu yang benar-benar terbuka atas diriku, bukan perubahanku. Menunggu untuk kamu yang akan menerima atas kekuranganku dan bukan melulu kelebihanku. Menunggu untuk setiap sifat kekanakamu yang akan berkurang atau setidaknya perubahanmu yang akan berbalik mencintai dan menghormatiku, setidaknya begitu. Kurang lebih semua ini hanya lima tahun.
Kesetiaan? Kamu akan marah ketika aku mulai bicara dengan laki-laki lain yang mau dengan sabar mendegarkan. Aku akan menurut seakan dosa untukku bicara bahwa aku hanya butuh teman. Kamu akan pergi, menghabiskan waktu dengan duniamu dan dengan orang-orang luar biasa dalam duniamu itu sepanjang hari dan melupakan untuk datang menjemputku ketika aku sudah menunggu lebih dari dua jam tanpa kabar ataupun berita. Dan aku tetap mencintaimu atas semua itu, selalu.
Aku menunggu dibukakan pintu untuk hatimu. Aku setia atas setiap perlakuanmu padaku. Aku tidak pernah bosan, tidak pernah berbohong dan berpura-pura dihadapanmu, aku mencintaimu dan karena itu semua aku bertahan. Hingga waktu tak lagi cukup adil untukku. Hingga perih dan sakit, tidak lagi tertahan dihatiku. Maaf sayang, aku akan mencampakkanmu.



Maaf, aku hanya punya sepasang boneka beruang kecilmu yang dulu
kauberikan. Kurasa aku tak lagi bisa menjaganya tetap utuh bersama, aku terlalu jahat pada diriku yang bertahan padamu. Kurasa aku butuh seorang yang lebih baik daripada kamu.
Terimaksih untuk hubungan ini sayang, hidup yang baik ya..


Kamis, 11 Juli 2013

Dia yang akan jadi nyata, bukan imajinasi..

Dia terlihat tegas dan keras di luar, tapi berkepribadian lembut dan penyayang dari dalam. dia terlihat kuat dan berani dari luar namun pada kenyataannya dia penakut dan lebih banyak diam atas rasa sakitnya. terkadang dia sangat menyebalkan dengan sikapnya yang selalu tidak pernah serius, tapi ketika pada waktu yang seharusnya dan tepat dia melindungi dan mengerti pada situasi yang paling sulit. dia tidak pernah mengalah tetapi dihadapan seorang wanita dia selalu kalah. dia selalu marah tetapi dihadapan seorang wanita dia tidak pernah marah. dia mengerti bahkan ketika airmata ataupun sebuah kata tidak mewakili hati untuk meceritakan rasa perih. dia memeluk hangat walau ketika reluk asa dan letih sudah tak lagi bicara meminta dikasihani. dia menenangkan walau keadaan dan hujan yang tak henti merisaukan membuat hati semakin takut dan perih. itu adalah dia.

Kulitnya putih, namun tak terlihat lemah akan matahari. tubuhnya tinggi tapi tidak hanya melulu tulang dan kulit. dia berisi tapi tak disemua bagian penuh dengan lemak menganggu dan menutupi. tangannya besar dan halus, tetapi tubuhnya sedikit kasar karena dia seorang lelaki. rambutnya hitam dan tak pekat, kasar mewakili hatinya yang keras atas pendirian dan sikap jika ia sudah memilih. sepasang pundaknya berdiri tegap, seakan siap bertanding memperebutkan sesuatu yang siap untuk dipertahankan. hidungnya mancung. wajahnya.. aku tidak tau pasti, tapi dia manis dengan senyum yang hangat menujukkan hati yang penyayang dan baik. itu adalah dia. 

Dia tidak pandai memilih dan selerany aneh, tetapi ketika sesuatu itu adalah untuk seseorang yang penting baginya maka dia akan memberikan yang terbaik. dia tidak pandai berbohong dan berpura-pura tetapi pada saat yang tepat dia menutup rapat rasa sebuah rahasia yang seseorang titipkan padanya. dia tidak pernah berfoya atas semua yang dia miliki, tetapi untuk setiap orang yang dia sayangi bahkan awanpun akan dia beri.dia tidak pernah menjaga diri, tetapi menjadi bodyguard bagi perempuan-perempuan yang dia cintai. dia tidak pernah membagi hati, hanya satu untuk seseorang sebagai pendamping hingga ia mati. dia tidak pernah menangis, tetapi ketika ibunya dan wanitanya terluka saat itulah hatinya meronta dan ia menanggis. itu adalah dia.

Dia tidak pernah menunggu, tetapi untuk seorang wanita yang ia sayangi dia akan diam dengan sabar menanti. dia suka berlari namun tak pernah pergi atas masalah jika memang adalah kesalahan yang ia lakukan. dia tidak pernah membenci, namun jika kamu menyakiti miliknya maka ia akan pergi. dia suka berbagi, mengambil bagian peristiwa dan mengabadikan semua itu dalam sebuah album miliknya. dia suka senyum, dia suka tawa, dia suka anak kecil, dan terkadang dia seperti anak kecil. anak kecil yang tersesat. itu adalah dia. 

Dia akan duduk menunggu di restoran, menanti dengan sabar dan senyum. di balik tangannya seikat bungga mawar putih sudah ia persiapkan, dia bahagia, bahkan sebelum seseorang datang untuk melengkapi senyumnya. dia suka menanggung perih orang lain, namun tak suka perihnya diketahui. dia senang memeluk hangat hati yang terluka, namun dia tak peduli bahkan jika hatinya patah dan mati. dia berteriak dan memaki ketika kamu mulai berhenti dan kehilangan diri, namun dia akan diam tak bersuara dan sepi ketika dirinya lebih daripada perih dan mati rasa. itu adalah dia. 

Dia datang membawa senyum yang cerita, kenangan yang indah, cerita yang luar biasa, semangat yang tak terkira, pelukan terhangat sepanjang masa, perlakuan terhebat di seluruh dunia, kata-kata termanis yang pernah ada, hadiah-hadiah sederhana penuh makna, keramahan tiada tara, kenyamanan yang pernah ada dan rasa aman yang tidak pernah ada habisnya. itu adalah dia. 

Lalu ketika hari dan hari sudah dipenuhi dengan dirinya, dia menghilang pergi seakan sesuatu telah musnah. aku yang terbiasa dengan segala tentangnya, seperti mati tak bersisa. dia pergi tanpa sebuah senyum indah atau luka airmata, dia berlalu seakan mimpi sudah kembali pada dunia nyata. dia pergi ketika setiap bagian dan hebusan nafas dan airmata sudah terbiasa dengan kehadirannya. tanpa kata, tanpa maaf, tanpa senyum, dan tanpa sebuah alasan.. 

Aku memulai hari dengan berani, meski kubusungkan dada ini dengan kuat dan kuat lagi. dia terlalu kuat mengisi setiap memori. menapaki waktu dan waktu mencari sisa-sisa bayangnya yang akan memungkinkan dia kembali. kenapa dia pergi? ketika setiap detik dan hari milikku sudah terbiasa dengan kehadirannya yang selalu menganggu, menganggu dan menganggu. ketika dia tak jadi penganggu, haruskah aku marah dan memintanya kembali.. dunia ini terlalu sunyi ketika dia tak ada dan tak lagi menjadi penganggu. 

Dan waktu berlalu seakan mati. aku jalani, dengar dengan baik! aku menjalani semua. dan aku baik-baik saja. mungkin dunia yang kumilki memang kosong, dan ketika dia pergi dan lalu kembali menjadi kosong, aku menjalani seperti biasa, hidup tapi mati. aku bahagia dengan dunia buatanku yang hebat, penuh dengan benteng pertahananku yang kuat. berlindung dari semua kemungkinan hati yang merasuk dan kembali mengisi. aku tersenyum ramah dan memberi, kulakukan dengan sepenuh hati. aku sepi, tapi setidaknya hidupku dan sekitarku tidak pernah merasa sedih. aku akan menjadi alasan mereka semua tersenyum dan berbagi mimpi. 

Dan ketika waktu berlalu cukup untuk kembali berdiri. ketika aku sudah berdiri kokoh dengan dunia yang kumiliki. dia kembali seperti tak pernah pergi, terseyum dan datang pada hari hujan dan rintik. apa maumu setelah semua ini? aku hanya mempertahankan sisa dari keberanianku, sisa dari hargadiri yang sudah lama aku fikir tak lagi kumiliki. aku akan diam dan berlalu dihadapanmu, seakan semua masalalu itu tak pernah terjadi dan hanya mimpi. 

Tetapi dia tidak menyerah. datang lagi dan lagi, hari ini esok dan esok. dan hatiku goyah. haruskah aku kembali? tapi bahkan ketika dia pergi, dia tak mengucapkan selamat tinggal pada hatiku yang sepi. dia datang pada hari itu, aku ingat saat itu masih pagi. dia membawa seikat bunga mawar putih lagi, seperti saat itu ketika menunggu dengan sabar ketika aku lupa untuk menepati janji. 

Aku tetap pada pertahananku. memalingkan wajah dan bersembunyi, berharap ia tidak menemukan celah pada benteng kokoh yang kucoba bangun sendiri. tapi dia tidak pernah menyerah dan kalah pada kerasnya hati. dengan sabar dan ramah menunggu setiap hari. aku tak bisa lagi, dia tak bisa kutandingi. 

Dia berdiri saat aku memalingkan seluruh hati dan ragaku, tapi dia menunggu untukku kembali.. 
"sejak pertama kali melihat sinar dimatanya......" dia mulai bercerita membuat pertahananku runtuh dan menjadi buih. "dia hanya seorang gadis tersesat yang jahat. dia membenci, dia memaki, dia ketakutan dan sendiri. namun aku tau bahwa dia akan menjadi indah ketika seseorang lain datang untuk mengisi dan melindungi, karena itu aku ada dan menjadi bagian dari miliknya. memeluk dan melindungi, menjadi tempat untukknya singgah, menjadi tawa dan tanggisnya pecah, menjadi pelindung dan penghacur bagi rasa takut dan gelisahnya, membuatnya percaya bahwa rasa cinta yang utuh dan tulus tanpa pengkhianatan dan kepura-puraan itu ada. maaf untuk pergi dan tak cepat kembali. aku tak punya cukup kekuatan untuk menyakiti saat aku tak bahkan tak bisa berdiri atas penyakit yang mengrogoti tubuh ini. aku hanya bisa memohon sebuah kesempatan kedua membuatku kembali dan meminta maaf lagi. Tuhan mendengarku, mungkin kasihan padaku yang tak pernah berhenti dan kalah atas sakitku. hanya satu motivasi dalam ingatanku saat itu. dia seorang gadis kecil yang sudah aku tinggalkan tanpa sebuah kata. aku harus kembali dan menebus semuanya. meminta maaf berlutut bahkan memohon sebuah pengampunan. aku yang bodoh ini yang pergi tanpa aba-aba dan kata untuk mengakhiri. tetapi sekarang aku datang dan berjanji tidak akan pernah pergi lagi". aku kalah. itu adalah dia.. 

Sabtu, 29 Juni 2013

Bosan, dia hanya bosan melihat dirinya melakukan itu

aku bosan menatap matamu yang kosong dalam cermin.
aku bosan berkata dan mengulang kegiatanamu dan harimu yang sama seperti hari kemarin. 
aku bosan melihatmu merasa lelah.
aku bosan melihatmu menangis. 
aku bosan melihat sakitmu yang tertahan.
aku bosan mendengarmu berkata semua akan baik-baik saja.
aku bosan melihatnya ditemani bayang-bayang semu.
aku bosan melihatnya kosong. 
aku bosan melihatmu jatuh dan selalu mecoba berdiri sendiri. 
aku bosan melihatmu tersenyum dan merasa bahagia seorang diri hanya karena hal-hal sederhana. 
aku bosan dengan rasa sakit yang lagi dan lagi selalu berada si tempat yang sama. 
aku bosan melihatmu mengharap dan tidak pernah berhenti mengharap untuk dia yang luar biasa. 
aku bosan melihatmu mengalah dan lagi-lagi berkata biarkan saja untuk setiap luka yang orang lain ciptakan untukmu.
aku bosan kau lagi-lagi bahagia karena hal sederhana yang orang lain lakukan yang bahkan tak kau lakukan.
aku bosan melihatmu bangun di pagi hari dengan lelah menatap dan berkeliling melihat sekeliling rumah dan menangis karna tak ada seorangpun disana.
aku bosan melihatnya mengotak atik handphone, tab, laptop untuk mengusir sepi dan bosan.
aku bosan melihatmu kesepian.
aku bosan melihatmu sendiri. 
aku bosan melihatmu pada malam minggu yang berharap suatu hari nanti ada yang akan datang menjemputmu dengan bungany dan membawamu keluar dari sana.
aku bosan melihatnya berharap begitu banyak hal yang membahagiakan dan yang mungkin tak akan pernah datang. 
aku bosan melihatnya merasa lelah, penat, jenuh.
aku bosan melihatnya membeli film lagi.
aku bosan melihatnya kembali merasa sepi dan bosan bahkan ketika dia mempunyai handphone, tab, laptop, dan banyak film.
aku bosan melihatnya teluka lagi.
aku bosan melihatnya mendengar lagi-lagi dia membuat semua harapan itu musnah dengan satu kata, kamu tidak bisa, kamu akan seperti dia, kamu akan menjadi dia, kamu tidak baik, kamu jahat, kamu..
aku bosan melihatmu mengharap cinta sejati itu.
aku bosan melihatmu menunggu untuk sesuatu yang mungkin tidak akan datang atau terjadi.
aku bosan melihatmu terluka karena kata-kata sederhana darinya yang bahkan tak dia sadari menyakitimu dan membuatmu berubah.
aku bosan melihatmu kecewa dan lagi-lagi kecewa dan menangis karena kata-katanya (lagi)
aku bosan melihatnya tidur seakan dunia baik-baik saja dan dia hidup dengan baik, dan tak butuh apapun selain tidur. 
aku bosan melihatnya berhenti menangis, malu menangis, dan berkata dalam hatinya semua akan baik baik saja.
aku bosan melihatnya tak peduli apapun selain dirinya sendiri.
aku bosan melihatnya tak pernah dan mungkin tak akan pernah mengerti perasaan orang lain yang harusnya dia buat bahagia.
aku bosan melihatnya seperti pecundang.
aku bosan melihatnya seperti tak pernah punya apa-apa. 
aku bosan melihatnya terasa kosong.
aku bosan melihatnya berkahyal tentang hal-hal terindah untuk dibagikan kepada orang-orang itu namun dia tetap sendiri.
aku bosan melihatnya berbuat baik untuk orang lain.
aku bosan melihatnya bersabar untuk orang lain. 
aku bosan melihatnya menunggu untuk orang lain.
aku bosan melihatnya bangkit lagi.
aku bosan melihatnya seperti seseorang yang selalu berbuat salah dan tersesat. 
aku bosan berharap melihatnya seperti seseorang normal yang lain. 
aku bosan melihatnya kembali menyayangi mereka karena hal-hal sederhana dan sangat singkat. 
aku bosan melihatnya pergi dan tak pernah mengajak dia bersamanya. 
aku bosan melihatnya, dia, dia, dan dia seolah aku tak pernah ada.
aku bosan sendiri, lagi dan lagi, dan lagi. 
aku bosan menangis, menangis, dan menangis sendiri.
aku bosan melihatnya merasa dunia ini menyebalkan
aku bosan melihatnya membaca semua kalimat membangun itu dan mejadi kembali berharap namun pada akhirnya akan jatuh lagi dan berulang kali. 
aku bosan melihatnya tertawa, menangis, tersenyum, berharap, berpegang, bangkit, membuat harapan baru, lelah dan semuanya seorang diri. 
aku bosan melihatnya merasa seakan dunia ini tidak adil.
aku bosan melihatnya melihat orang lain yang begitu bahagia atas dunianya dan dia iri kepada orang-orang lain yang beruntung itu, 
aku bosan melihatnya mengingat sweet seventeen nya yang sangat menyakitkan. 
aku bosan melihatnya tidak pernah di mengerti barang satu menit saja, bahkan ketika orang yang harus mengerti maunya adalah orang yang memiliki darah yang sama padanya.
aku bosan melihatnya menghapus airmatanya seorang diri.
aku bosan melihat semua semangat dan mimpi indahnya dirusak sekejap dengan kata-kata super menyakitkan dan tidak disadari orang lain. 
aku bosan melihat orang lain itu selalu mengulanginya lagi kepada dia. 
aku bosan melihatnya dirumah. 
aku bosan melihatnya menghela nafas. 
aku bosan melihatnya bangkit sendiri lagi dan lagi, lagi dan lagi tanpa pertolongan apapun dengan lukanya yang lagi lagi betumpuk dan semakin melelahkan. 
mungkin, jika satu orang saja datang dan membuat semua rasa bosan itu mejadi sesuatu yang lain atau berbeda dia tidak akan begitu lelah dan bosan. 
tetapi, 
aku sudah bosan berharap untuk itu. 


  suatu saat nanti, entah kapan itu. bolehkah aku ingin semua orang itu membaca ini. 
                     berharap mereka akan mengerti.
                     mungkin mereka akan mengerti.

Kamis, 27 Juni 2013

Ditemani rasa sepi, lagi

Sedang apa? Apakah mentari diluar sana terik seperti hari-hari kemarin? Apakah awan di atas sana tetap indah dengan warna putihnya yang bersih? Apakah siang hari nanti matahari akan tetap bersikap begitu? Maksudku menyengat kulit hingga berwarna gelap. Aku hanya mulai lupa hal-hal itu. Karena itu aku bertanya.

Apa kabarmu? Bagaimana duniamu sekarang? Apakah tetap baik dan penuh dengan warna seperti saat itu? Atau kau tidak lagi tersenyum konyol dan membuat lelucon bodoh hanya untuk meghibur orang lain? Walau sebenarnya kau tau pasti, hatimu tak sedang baik seperti tawa-tawa mereka saat itu.

Aku hanya ditemani rasa sepi. Aku hanya memandang kepada masalalu. Bagian dimana kau masih disana mewarnai setiap langkah yang aku buat. Kau yang bernyanyi, kau yang bersenandung, kau bermain gitar, kau membuat lelucon aneh, kau yang terus usil, kau yang terkadang diam tanpa kata, kau yang terseyum dengan manis, kau.. kau yang pernah ada mengisi warna abu-abu menjadi pelangi.

Aku mencoba mencari ke segala arah, tapi bahkan aku tak menemukan sosok itu. Aku menunggu untuk waktu yang lama, tapi bahkan bayangmu juga tak ada pada mereka. Aku yang bodoh tak boleh mengharapkanmu kembali kan? Itu tidak seharusnya. Mungkin kau bahagia disana menikmati udara pagi atau lagu-lagu santai, kebiasaanmu.

Bisikkan padaNya untuk mengirim orang padaku, hingga bisa menemaniku. Katakan bahwa aku sudah cukup menunggu. Dia bilang, tak ada yang pantas menemaniku. Mereka tidak akan suka dengan caraku, dengan sifatku. Bisakah kau tanyakan padanya, apakah aku jahat? Apakah aku akan sendiri dan semu untuk waktu yang sangat lama?

Aku membaca novel, aku menulis cerpen, aku menonton drama, aku menghayati sinopsis dari cerita-cerita yang kubaca. Lalu ketika cerita itu usai, aku merasa kembali semu. Ditemani rasa sepi, lagi.

Aku berdoa untuk dia yang ceria, dia yang baik, dia yang mapan, dia yang sayang padaku, dia yang selalu mencintaiku, dia yang akan selalu mengerti, dia yang lucu, dia yang romatis, dia yang taat, dia yang akan menjadi segalanya datang padaku. Bisikkan lagi padaNya, aku menunggu untuk itu. Dan untuk saat ini, aku akan bertahan ditemani rasa sepi.

Minggu, 23 Juni 2013

hidup tapi mati


Aku akan ada disetiap hela nafasmu, mengalir dan mengikuti detak jantungmu, dengan lembut dan penuh cinta mengiringi harimu. Bukankah itu janjiku. Aku akan hadir dalam setiap mimpi burukmu, memeluk, menenangkan, dan menunggu hingga kau kembali dalam keindahan mimpi itu. Aku akan menunggu dengan sabar dan lebih sabar ketika kau lagi lagi tidak memperdulikanku, bosan dengan semua yang kulakukan untuk membuatmu tetap disisiku, walau aku lebih kesepian ataupun lebih merasa luka daripadamu.

Aku bernafas.. merancang hari untuk sekarang, berimajinasi untuk esok. Aku merasakan, tangis untuk hari ini dan senyum kecil untuk hari esok. Dan ketika hari-hari mulai terasa sama dan mendatar, aku memberontak dalam hati kecil. Bertanya pada setiap yang bernyawa, kenapa hidup ini terasa seakan berbeda padaku? Hanya mengulang bagian yang sama, tak ada lembaran baru atau kisah luar biasa. Lalu ini mulai terasa membosankan. Aku tak lagi bertahan disisimu. Melelahkan.

Aku bukanlah malaikat itu, naluriku tidak berkata iya untuk itu. Aku tak lagi menunggu pagi untuk menyapamu, tak lagi menunggu kisah yang akan kau ceritakan, tak lagi menunggu kau sambut dengan hatimu yang terbuka atau senyummu yang hangat, tak lagi menurut atau berkata iya atas apapun maumu, tidak lagi. Itu melelahkan.

Mencoba lebih keras dan lebih keras lagi ternyata tidak cukup. Menunggu dan terus bersabar juga tidak akan merubah apapun. Memaksa dan seakan diam, juga tak membuat situasi akan menjadi lebih indah. Dan ternyata cinta bukan tentang bersama dan hanya menunggu datangnya cinta itu akan tumbuh. Itu bukan cinta, itu hanya penantian bodoh yang semu.

Cara lain untuk membuat rasa itu usai adalah keluar dari sana. Memilih jalan lain atau cara lain untuk bertahan dan terselamatkan. Dan ketika semua itu dimulai lagi, indah pada awalnya sedikit berbeda pada pertama kalinya dan terlihat baik setelah keluar dari lingkaran abu-abumu tidak juga membuat hidup ini menjadi hidup. Dan itu terasa lebih melelahkan.

Lebih melelahkan dan jauh lebih kesepian daripada sebelumnya. Terasa seperti berada di ruang kosong namun penuh dengan orang-orang yang bahagia namun tak kukenal. Mungkin lebih baik jika aku kembali padamu, bertahan lagi hingga setidaknya sepi itu tidak terlalu membunuh, tapi apapun yang terjadi aku tidak ingin kembali lagi, kau sudah cukup menghancurkan segala rasa di sana.

Memandang layar bersuara, bergambar, bergerak, berekspresi dan punya cerita, emosi tawa dan tangis, mungkin cukup mengusir rasa sepi dan lelah. Mencari lagi dan lagi, namun keadaan tak juga membaik. Semua itu hanya bayangan nyata dari cerita yang dirangkai dengan indah, membuat iri dan seakan jadi nyata pada dunia yang kejam dan tak adil ini. Dan semua tak jua membantu, aku tetap kesepian dan seakan mati.

Mencari dan mencari namun tak tau apa yang akan ditemukan. Meunggu dan menunggu lalu tak mengerti untuk apa dan sesuatu apa yang ditunggu. Mencoba mengerti dan diam dalam kesunyian. Apakah ini nyata? Akan menjadi selamanya? Kapan berakhir? Bukankah tak ada yang lebih menyakitkan selain hidup tapi merasa tak hidup. Hidup tapi mati. 


                                    Tuhan yang mendengar jerit kecil dari manusia tak tau diri ini.
                                      Bolehkah aku meminta sentuhan kecil dari keajaibanMu....?