Jumat, 07 September 2012

Apakah aku kalah ??

Aku mengais ngais untuk sebuah kata,
berjuang untuk sesuatu yang dinamakan "impian"
lalu pada kenyataanya, aku kalah..
belum kalah, mungkin belum..
ku kuatkan seluruh nafas dan harapanku untuk percaya,
hanya percaya,
Engkau segalanya, dan engkau mengerti apapun itu..
lalu ketika deting waktu menujukkan bahwa "impian" itu semakin jauh..
aku menanggis, meronta, dan marah..
kenapa ? bisakah ? haruskah ? dapatkah ?
haruskah aku tinggalkan semua, hingga aku benar benar tak berdaya..
jauh untuk menggapai semua asa dan cita,
hingga akhirnya aku lelah dan mengais bahagiaaa..
tak bisakah Engkau mendengarku, hanya satu kali ini..
satu kalii..
bahkan ketika aku berserah, dia tetap ada dalam bungga tidurku..
hanya satu kali, atau Engkau boleh membawaku pergi,
tak apaa...
akan ku hempaskan segalanya,
akan ku lepaskan segalanya,
akan ku lakukan..
tak apa,
atau..
bisakah Engkau datang sesekali, melihat aku yang mengais ngais di sini..
tolongg.. !! tolongg !!
aku mulai lelah lagi,
dan kali ini, aku ingin keluar.. bisakah Engkau berikan sedikit keajaiban untukku ??
aku mengais, aku menangis, dan aku benar benar tersiksa..
bisakah ??

Kamis, 16 Agustus 2012

Perbedaan


Dan ketika aku tak ingin datang untuk mengungkap apapun,
Kau datang dengan tak di undang, berfikir dengan rasio dan emosi belaka. Siapakah yang hina? Siapakah yang harus mengalah? Atau siapakah yang dengan egonya tak mau mengalah?

Kenapa kita tak pernah sejalan. Bukan tak pernah, tetapi seringkali kita tak berfikir dengan arah yang sama. Sulitkah mengakui bahwa aku inginkan jalanku sendiri. Atau sulitkah mengalah untuk melhat ke dalam hatiku. Atau aku yang dengan egois menutup mata dan memaksakan kehendakku. Bahkan mengalir darah yang sama, bahkan bernafas dengan nada yang sama. Sulitkah mengerti caraku terluka?

Aku terluka. Walau tak ku perlihatkan jeritan dan rasa sakitnya. Aku terkurung, walau tak ku perdengarkan pada dunia teriakan siksaannya. Aku inginkan sesuatu yang aku inginkan, walau pada akhirnya semua dengan persetujuan.

Atau jikalau aku bersalah. Tidak bisakah kau mengerti dan sesekali mengalah. Melihat apa yang salah dan tanpa mengulanginya. Aku bagai raga tak berguna. Dan aku cukup hidup dalam khayalku untuk memahami itu. Dan teriakaan demi teriakan, apakah itu semua adalah dosaku? Hingga aku yang harus menanggungnya. Dan keluhan demi keluhan, aku ingin kau juga perdengarkan pada semua hingga aku tak lagi membenci dunia seorang diri.

Aku belajar dari setiap luka dan goresan kecil, dan walau dalam keadaan yang tidak baik, aku tetap percaya bahwa semua akan berkahir dengan indah, bahwa semua akan ada saatnya. Dan itu bukan hal yang mudah, tersenyum saat raga bahkan tak ingin untuk bicara, bicara ketika jiwa seakan ingin menanggis meronta. Tidak, tidak pernah mudah. Aku akan menggangap segalanya adil, walau sebelum kata adil terkuak aku akan menanggis dan lagi lagi berfikir keras. Aku ingin kau mengerti. Hanya itu.

Aku hanya ingin kau tau betapa besar rasa sayangku dan segala yang ingin ku berikan untukmu, namun terkadang aku terlalu hina dan bersalah di setiap kataku. Atau  mungkin, aku memang begitu.. karna kesalahanku. Maaf. Hanya sulit menggapai dunia tanpa melakukanya, terkadang aku harus merampas karna kau tak memberiku kesempatan untuk memiliki, sesuatu yang bahkan tidak di inginkan yang lain, tapi sangat aku harapkan.

Hingga hidup terasa terlalu letih untuk di jalani. Aku menjelaskan teoriku setiap waktu, dan kau menekankan teorimu setiap saat. Kita berbeda. Walau aku tak pernah inginkan itu, tapi aku sadari bahwa terkadang kita memang berbeda. Lalu kenapa kau harus murka dengan itu? Kenapa aku harus menjadi tersudut karna perbedaanku? Tak dianggap karna pemikiran itu. Itu menyakiti, dan aku ingin kau tau. Hanya itu.

Apakah aku di benci? Apakah aku mulai di tinggalkan? Benarkah aku tak lagi di sayang? Aku akan khawatir setiap saat, ketakutan setiap waktu. Dan kau tidak tau. Kenapa aku harus merasakan itu? Begitu. Aku sudah cukup menderita karna terlalu perasa, dan lagi lagi aku di takut takuti dengan hal hal seperti itu. Aku bisa binasah. Aku akan lenyap. Jiwaku akan hilang.

Aku tak berawal, tapi juga tak berakhir. Aku bukan malaikat, dan aku tak seperti devil. Hanya saja seseorang harus mengerti lebih dalam diriku untuk benar benar mengenalku. Aku tak luar biasa, tapi aku tidak sederhana. Aku bukanlah yang terindah, tapi bagiku segalanya. Aku tak ingin jadi yang pertama, tapi bukan berarti terakhir berguna. Aku tak sebaik segalanya, tapi aku bisa lebih dari yang terlihat. aku tak melakukanya tak berarti aku tak bisa. Aku istimewa, dan aku percaya itu. 

Selasa, 14 Agustus 2012

Masih tentang menggapai sosokmu


Andaikan aku lebih dulu ada di dalam duniamu
Andaikan aku bagian dari lembaran kisahmu
Andaikan aku ada di sana saat semua luka itu datang,
Andaikan..

Aku ingin bertemu denganmu,
Sangat ingin, sampai aku tak dapat mengontrol rasa ini.
“jangan menginginkan, karna ia akan menjauh”
Bisakah aku tak menginginkamu..
Bahkan aku lebih dan lebih ingin memelukkmu.

Aku ingin mejadi alsanmu yang pertama memulai kata “maaf” mu,
Aku juga ingin jadi bagian dari senyum senyum kecilmu,
Aku ingin mengenalmu lebih dari ribuan jarak ruang dan waktu,
Andaikan..

Sejuta imajinasiku merengkuhmu, bayang bayang tentangmu,
Tentang sosokmu.
Bagaimanakah rupamu? Rupa hatimu..
Aku ingin mengenalnya dan aku ingin kau membutuhkanku.
Sekarang.. tidak ingin lagi nanti, sekarang.

Entah kenapa sosokmu begitu menarik di mataku,
Dan aku lebih mengagumimu di bandingkan mereka yang nyata di sisiku.
Andaikan..
Aku mengenalmu lebih dahulu, hingga aku dapat memeluk erat dirimu saat luka itu menyerang seluruh hatimu..

Andaikan..
Kita tidak berjarak ribuan mil, dan berselisih beberapa jam atau perbedaan umur yang jauh,
Tapi tidak masalah, aku senang mengenalmu lebih tua daripadaku.

Aku bagaikan kucing kecil yang berharap bisa terbang,
Membawa ragaku ke tempatmu berada,
Aku bagikan ingin memiliki sosok dalam lukisan yang indah,
Berharap lukisan itu akan jadi nyata, mengengam dan membawaku ke dalam bagianmu..

Andaikan..
Aku memiliki sedikit saja keberanian atau kemampuan untuk singgah di tempatmu,
Maka dengan sekuat tenaga, kan ku buat kau melihatku.. sosokku.

Benarkah dirimu seperti itu? Ramah dan sifat “nakal” mu ?
Bagimana ini?! Aku tidak bisa mengendalikan perasaanku,
Aku ingin lebih mengenalmu.. bagaimana ini aku terlalu banyak berfikir tentangmu?

Jika nanti,
Saat aku di berikan kesempatan untukku itu.
Apa hal pertama yang harus kulakukan?? Akankah kau tertarik?
Atau aku hanya akan membayangkanya?
Tapi aku percaya padaNya, dia akan berikan kesempatan untukku.
Entah kenapa, aku hanya percaya..

Aku akan membuat satu perjajian kecil untukmu,
Jangan “kembali” tanpaku, bisakah?
Jangan “bersama” tanpa campur tangganku, bisakah?
Tunggu aku, sedikit lagi.. sebentar lagi..
Aku akan membuat “luka” mu sembuh, aku berjanji.. aku akan melakukannya.
Jadi, bersabarlah sampai aku datang dan melakukannya.

Dedicated to Someone..“J”
Even i never touch you, but i love you.

Senin, 13 Agustus 2012

Bangku SMA


Tanpa sadar, aku masih menunggu. Menunggu melihat sosokmu lagi. Menunggu akan menceritakan hal hal yang menarik lagi. Menunggu bertemu dan tertawa pada hal yang kita tidak mengerti lagi.

Tanpa sadar, aku ingin kembali. Tidak peduli akan di habiskan dengan enam jam mata perlajaran matematika, lima jam mata pelajaran serajah, empat jam mata pelajaran sosiologi, atau jam jam pelajaran sulit lainnya. Tak masalah.

Tanpa sadar, aku masih berharap akan kembali ke sana. Menggulang kembali waktu dan melakukan kegiatan kegiatan yang sama. Itu sungguh menyenangkan. Dan aku ingin kembali.

Tanpa sadar, aku mulai kesepian atas hari hari yang tak lagi bising, hari hari yang tak lagi penuh tawa. Hari yang tak lagi  di atur dan dimarahi. Hari yang penuh senyuman seyuman manis dan gosip gosip yang sebenarnya tidak begitu berguna namun selalu di cari. Aku ingin merasakannya lagi.

Tanpa sadar, aku berharap hari esok adalah hari senin. Yang pada kehidupan sekolahku biasanya adalah hari yang amat sangat aku benci. Bangun pagi, jam sekolah lebih lama, dan guru guru terkiler sepanjang masa. Aku ingin esok adalah hari itu.

Tanpa sadar, aku rindu seragamku. Seragam yang ketika selalu melekat pada tubuhku tidak pernah aku perlakukan dengan baik, tidak pernah rapih, tidak cukup lengakap, dan selalu di protes atas penampilan yang layaknya anak anak jalanan, haha.

Tanpa sadar, aku mulai tersenyum sendiri. mengingat ketika mereka menggila menyanyi bersama di kelas, ketika guru mulai mengeluarkan jurus lawak yang menghapus bosan, ketika kami mulai menceritakan film film yang baru saja selesai kami tonton bersama, ketika anak laki laki mulai mejahili dan bertingkah kocak dengan ciri khas mereka. Aku merindukan mereka, semua.

Tanpa sadar, aku menyusun buku buku pelajaran untuk hari esokku. Tapi ketika aku ingat bahwa esok, esok, esok, atau nanti aku tidak akan lagi kembali ke sana. Hatiku pilu. Aku sudah bukan pelajar SMA lagi. Aku akan menjadi seorang mahasiswa. Dan harus ku mulai untuk mengenal orang orang baru lagi, memahami sifat satu per satu dan mencoba mencari teman untukku berbagi. Lagi.

Saat aku masih berada di sana, bangku SMA. Kami selalu mengeluh. Mengeluh akan jutaan peristiwa. PR, tugas, jam perlajaran, sergam sekolah, bahkan guru guru yang membosankan. Tapi jika hari hari itu bisa terulang kembali, tak masalah walau PR dan segala atribute nya datang lagi ke dalam hari hariku.

Haruskah aku mulai menangis? Haha. Temanku berkata “hidup terus berlajut sayang. Kamu ga mungkin selamanya hanya di satu tempat”, iya dia benar. Dan aku mengerti. Tapi ini terlalu cepat untuk di terima. Karna aku terbiasa, karna aku mulai menCinta.

Tak lagi. Sudah berakhir. Berhentilah berharap. Karna kau hanya akan merasa pilu.

Bisa bisanya aku menendang semua itu pergi, berharap hari hari itu akan segera berakhir ketika aku masih mengalaminya. Membenci, marah, dan mencoba menutup mata, bahkan murka. Dan ketika semua sampai pada akhirnya, aku merindu.

Jangan sia siakan waktu yang kamu miliki. Lakukan yang tebaik dan jangan menyesal pada akhir, seperti aku. Nikmati detik detik terakhirmu, bahagialah. Karna nanti suatu saat saat semua mulai menghilang menjadi sebuah kenangan, kau akan sangat merindukannya dan ingin kembali. Nikmati saja realita hidupmu, karna ketika bel akhir pelajaran benar benar berdering, tak lagi bisa kau dapati bayang bayang kenangan luar biasa seperti pada saat berada di sana.

Esok.. aku tak lagi berfikir akan menceritakan hal yang menarik, tidak lagi akan mendengar nyanyian nyayian bising, gosip gosip keci, tawa tawa gila, atau keluhan keluhan bibir. Karna esok aku akan berbaur dengan golongan dunia yang sesungguhnya, berpacu dalam kenyataan dan impian yang semakin nyata. Berpacu dalam persaingan untuk merebut tempat ter-tinggi untuk meraih mimpi dan katanya mejadi “sukses”. Esok tak lagi menikmati hari hari sebagai seorang remaja yang masih mengerjar cinta dan kebahagiaan sejenak, namun ber-lomba mengejar mimpi dan berusaha mewujudkannya. Dunia.. manusia.. dan realita yang ada.

Jumat, 10 Agustus 2012

Mencari sisa sisa bayangmu..

Bagaimana aku bisa melepaskanmu,
Dalam setiap hela nafasku aku hanya mengigatmu..
Bagaimana aku bisa membencimu,
Jika dalam setiap doaku selalu ada namamu..
Bagimana aku bisa lupa sosokmu,
Bahkan ketika aku menutup mataku untuk tidur aku melihat senyummu..

Sudah lama yaa.. sejak kau tidak lagi menunggu di depan rumahku. Sejak kau tidak lagi berkata “semua baik baik saja”, sejak kau tidak lagi ada di sampingku untuk selalu mengganguku. Sudah sangat lama. Tapi aku tetap tak bisa lupa sosokmu. Caramu memperlakukanku, membuatku tak bisa lepas darimu. Apa yang harus aku lakukan? Aku terbiasa hidup dengan “seorang” sepertimu. Dan meski tahun tahun telah berlalu, aku tetap tak lupa sosokmu, tak bisa.

Caramu membujukku, caramu bersabar atasku, caramu menyayangiku, caramu menatapku. Aku ingat semuanya. Aku yakin aku tidak akan melupakannya. Tapi, aku hanya takut kau mulai pudar, karna aku tak lagi bicara padamu, aku takut akan sulit mendengarmu. Aku juga sudah tak lagi memandang dalam matamu, jadi sulit untukku bernafas tanpa hangat sinarmu itu.

Apa kabarmu? Apakah surga benar benar indah? Bisakah kau katakan pada Tuhan untuk segera mengundangku ke sana? Aku juga ingin ada di sana.

Ada banyak sekali yang aku ingin tangisi padamu, di mulai dari aku mulai merasa hidup ini tak adil “lagi” seperti biasa. Kau mengenal aku, jadi kau pasti mengerti maksudku. Hingga aku “lelah” lelah jadi “robot rusak” dan lagi lagi kau akan mengerti kenapa.

Aku.. merindukanmu..
Itu yang ingin aku katakan sejak tadi, tapi aku takut kau akan khawatir padaku. Aku takut kau akan mengerutkan alismu dan mulai bertanya “apa kau baik baik saja”, atau mulai memelukku dan berkata “semua baik baik saja”. Aku takut! Aku takut aku akan mulai inginkan hal hal itu lagi, dan aku tau kau tak akan bisa lagi.

Bisakah, aku melangar janjiku? Maksudku, bolehkah? Karna aku fikir ini mulai tidak adil, aku tidak ingin. Kau pasti bersenang senang di sana? Iya kan? Dan kau minta aku untuk hidup hingga tua dan renta. Bukankah tidak adil? Sementara kau akan menjadi muda selamanya.. aku tidak suka!!

Aku mulai merasa takut lagi, kebiasaanku. Dan saat itu terjadi aku tau kau akan mengeti, mencoba menenangkanku dan memelukku erat erat seakan aku tak kuat lagi untuk berdiri, lalu aku akan baik baik saja. Dan aku ingin saat itu di ulang lagi. Aku egois, dan kau juga akan mengerti hal itu, selalu. Mengalah untukku, bahkan jika kau jadi kau mungkin aku tidak akan menghadapi sifatku ini, tapi kau bisa dan kau selalu menyayangiku.

“All be okay..” dan aku akan percaya padamu, cukup dengan kata itu. Dan aku akan baik baik saja setelah itu. Kenapa kau pergi begitu cepat? Kenapa kau tinggalkan aku di sini sendiri? Setidaknya kau harus mengirimkan seorang teman untukku, seperti novel yang aku baca. Denny, aku rasa aku sudah mulai merindukanmu lagi. Bisakah kau datang dalam mimpiku? Aku takut sekali, sangat.

Tidak. Aku hanya bercanda, aku baik baik saja. Hanya merindukanmu, hanya ingin aku di sampingku, seperti dulu. Hanya itu. Maaf... tidak akan aku katakan lagi, aku tidak akan begitu lagi, aku sudah berjanji padamu. Iya, aku tau.. Maaf..

Aku ingin kau kembali..
Aku menyesali kenapa aku tidak menerima cintamu setelah berulang kali kau katakan kau mencintaiku, tapi aku hanya inginkan kau di sampingku selalu lebih dari sekedar “orang yang ku cinta” ku ingin kau segalanya, tapii.. sekarang aku ingin kau ulangi kata itu, “bisakah kau jadi pacarku”, atau “aku sangat mencintaimu”. Aku ingin mendengarnya lagi, lagi dan lagi..

Sudah ku coba, tapi mungkin aku tidak sekuat itu sayang, aku tidak begitu tegar sepertimu.. aku terlalu terbiasa karnamu, perlindunganmu, doronganmu, semagatmu, segalanya. Hingga aku tidak yakin dapat bertahan tanpa itu.. aku terlalu rapuh, hingga tak yakin akan bertahan lama tanpa segala sesuatu yang kau ucapkan dan membuatku bangkit.

Aku masih sangat merindukamu dan masih sangat membuthkanmu..
Maaf.. maafkan aku untuk itu..