Aku mengais ngais untuk sebuah kata,
berjuang untuk sesuatu yang dinamakan "impian"
lalu pada kenyataanya, aku kalah..
belum kalah, mungkin belum..
ku kuatkan seluruh nafas dan harapanku untuk percaya,
hanya percaya,
Engkau segalanya, dan engkau mengerti apapun itu..
lalu ketika deting waktu menujukkan bahwa "impian" itu semakin jauh..
aku menanggis, meronta, dan marah..
kenapa ? bisakah ? haruskah ? dapatkah ?
haruskah aku tinggalkan semua, hingga aku benar benar tak berdaya..
jauh untuk menggapai semua asa dan cita,
hingga akhirnya aku lelah dan mengais bahagiaaa..
tak bisakah Engkau mendengarku, hanya satu kali ini..
satu kalii..
bahkan ketika aku berserah, dia tetap ada dalam bungga tidurku..
hanya satu kali, atau Engkau boleh membawaku pergi,
tak apaa...
akan ku hempaskan segalanya,
akan ku lepaskan segalanya,
akan ku lakukan..
tak apa,
atau..
bisakah Engkau datang sesekali, melihat aku yang mengais ngais di sini..
tolongg.. !! tolongg !!
aku mulai lelah lagi,
dan kali ini, aku ingin keluar.. bisakah Engkau berikan sedikit keajaiban untukku ??
aku mengais, aku menangis, dan aku benar benar tersiksa..
bisakah ??
Ini dan itu tak melulu aku, ini dan itu tak melulu tentangmu. Terkadang bunga-bunga hanya saja terlalu indah jika hanya jadi pemandangan. Terkadang juga pakai hati yang meluap jadi kiasan. Entahlah, aku hanya suka kata-kataku yang menjadi sebuah kalimat.
Jumat, 07 September 2012
Kamis, 16 Agustus 2012
Perbedaan
Dan ketika aku tak ingin datang untuk mengungkap apapun,
Kau datang dengan tak di undang, berfikir dengan rasio dan emosi belaka.
Siapakah yang hina? Siapakah yang harus mengalah? Atau siapakah yang dengan
egonya tak mau mengalah?
Kenapa kita tak pernah sejalan. Bukan tak pernah, tetapi seringkali kita
tak berfikir dengan arah yang sama. Sulitkah mengakui bahwa aku inginkan
jalanku sendiri. Atau sulitkah mengalah untuk melhat ke dalam hatiku. Atau aku
yang dengan egois menutup mata dan memaksakan kehendakku. Bahkan mengalir darah
yang sama, bahkan bernafas dengan nada yang sama. Sulitkah mengerti caraku
terluka?
Aku terluka. Walau tak ku perlihatkan jeritan dan rasa sakitnya. Aku
terkurung, walau tak ku perdengarkan pada dunia teriakan siksaannya. Aku
inginkan sesuatu yang aku inginkan, walau pada akhirnya semua dengan
persetujuan.
Atau jikalau aku bersalah. Tidak bisakah kau mengerti dan sesekali
mengalah. Melihat apa yang salah dan tanpa mengulanginya. Aku bagai raga tak
berguna. Dan aku cukup hidup dalam khayalku untuk memahami itu. Dan teriakaan
demi teriakan, apakah itu semua adalah dosaku? Hingga aku yang harus
menanggungnya. Dan keluhan demi keluhan, aku ingin kau juga perdengarkan pada
semua hingga aku tak lagi membenci dunia seorang diri.
Aku belajar dari setiap luka dan goresan kecil, dan walau dalam keadaan
yang tidak baik, aku tetap percaya bahwa semua akan berkahir dengan indah,
bahwa semua akan ada saatnya. Dan itu bukan hal yang mudah, tersenyum saat raga
bahkan tak ingin untuk bicara, bicara ketika jiwa seakan ingin menanggis
meronta. Tidak, tidak pernah mudah. Aku akan menggangap segalanya adil, walau
sebelum kata adil terkuak aku akan menanggis dan lagi lagi berfikir keras. Aku
ingin kau mengerti. Hanya itu.
Aku hanya ingin kau tau betapa besar rasa sayangku dan segala yang ingin ku
berikan untukmu, namun terkadang aku terlalu hina dan bersalah di setiap
kataku. Atau mungkin, aku memang
begitu.. karna kesalahanku. Maaf. Hanya sulit menggapai dunia tanpa
melakukanya, terkadang aku harus merampas karna kau tak memberiku kesempatan
untuk memiliki, sesuatu yang bahkan tidak di inginkan yang lain, tapi sangat
aku harapkan.
Hingga hidup terasa terlalu letih untuk di jalani. Aku menjelaskan teoriku
setiap waktu, dan kau menekankan teorimu setiap saat. Kita berbeda. Walau aku
tak pernah inginkan itu, tapi aku sadari bahwa terkadang kita memang berbeda.
Lalu kenapa kau harus murka dengan itu? Kenapa aku harus menjadi tersudut karna
perbedaanku? Tak dianggap karna pemikiran itu. Itu menyakiti, dan aku ingin kau
tau. Hanya itu.
Apakah aku di benci? Apakah aku mulai di tinggalkan? Benarkah aku tak lagi
di sayang? Aku akan khawatir setiap saat, ketakutan setiap waktu. Dan kau tidak
tau. Kenapa aku harus merasakan itu? Begitu. Aku sudah cukup menderita karna
terlalu perasa, dan lagi lagi aku di takut takuti dengan hal hal seperti itu.
Aku bisa binasah. Aku akan lenyap. Jiwaku akan hilang.
Aku tak berawal, tapi juga tak berakhir. Aku bukan malaikat, dan aku tak
seperti devil. Hanya saja seseorang harus mengerti lebih dalam diriku untuk
benar benar mengenalku. Aku tak luar biasa, tapi aku tidak sederhana. Aku
bukanlah yang terindah, tapi bagiku segalanya. Aku tak ingin jadi yang pertama,
tapi bukan berarti terakhir berguna. Aku tak sebaik segalanya, tapi aku bisa
lebih dari yang terlihat. aku tak melakukanya tak berarti aku tak bisa. Aku
istimewa, dan aku percaya itu.
Selasa, 14 Agustus 2012
Masih tentang menggapai sosokmu
Andaikan aku
lebih dulu ada di dalam duniamu
Andaikan aku
bagian dari lembaran kisahmu
Andaikan aku ada
di sana saat semua luka itu datang,
Andaikan..
Aku ingin bertemu
denganmu,
Sangat ingin,
sampai aku tak dapat mengontrol rasa ini.
“jangan
menginginkan, karna ia akan menjauh”
Bisakah aku tak
menginginkamu..
Bahkan aku lebih
dan lebih ingin memelukkmu.
Aku ingin mejadi
alsanmu yang pertama memulai kata “maaf” mu,
Aku juga ingin
jadi bagian dari senyum senyum kecilmu,
Aku ingin
mengenalmu lebih dari ribuan jarak ruang dan waktu,
Andaikan..
Sejuta
imajinasiku merengkuhmu, bayang bayang tentangmu,
Tentang sosokmu.
Bagaimanakah
rupamu? Rupa hatimu..
Aku ingin
mengenalnya dan aku ingin kau membutuhkanku.
Sekarang.. tidak
ingin lagi nanti, sekarang.
Entah kenapa
sosokmu begitu menarik di mataku,
Dan aku lebih
mengagumimu di bandingkan mereka yang nyata di sisiku.
Andaikan..
Aku mengenalmu
lebih dahulu, hingga aku dapat memeluk erat dirimu saat luka itu menyerang
seluruh hatimu..
Andaikan..
Kita tidak
berjarak ribuan mil, dan berselisih beberapa jam atau perbedaan umur yang jauh,
Tapi tidak
masalah, aku senang mengenalmu lebih tua daripadaku.
Aku bagaikan
kucing kecil yang berharap bisa terbang,
Membawa ragaku ke
tempatmu berada,
Aku bagikan ingin
memiliki sosok dalam lukisan yang indah,
Berharap lukisan
itu akan jadi nyata, mengengam dan membawaku ke dalam bagianmu..
Andaikan..
Aku memiliki
sedikit saja keberanian atau kemampuan untuk singgah di tempatmu,
Maka dengan
sekuat tenaga, kan ku buat kau melihatku.. sosokku.
Benarkah dirimu
seperti itu? Ramah dan sifat “nakal” mu ?
Bagimana ini?!
Aku tidak bisa mengendalikan perasaanku,
Aku ingin lebih
mengenalmu.. bagaimana ini aku terlalu banyak berfikir tentangmu?
Jika nanti,
Saat aku di
berikan kesempatan untukku itu.
Apa hal pertama
yang harus kulakukan?? Akankah kau tertarik?
Atau aku hanya
akan membayangkanya?
Tapi aku percaya
padaNya, dia akan berikan kesempatan untukku.
Entah kenapa, aku
hanya percaya..
Aku akan membuat
satu perjajian kecil untukmu,
Jangan “kembali”
tanpaku, bisakah?
Jangan “bersama”
tanpa campur tangganku, bisakah?
Tunggu aku,
sedikit lagi.. sebentar lagi..
Aku akan membuat
“luka” mu sembuh, aku berjanji.. aku akan melakukannya.
Jadi, bersabarlah
sampai aku datang dan melakukannya.
Dedicated to Someone..“J”
Even i never touch you, but i love you.
Senin, 13 Agustus 2012
Bangku SMA
Tanpa sadar, aku masih menunggu. Menunggu melihat sosokmu lagi. Menunggu
akan menceritakan hal hal yang menarik lagi. Menunggu bertemu dan tertawa pada
hal yang kita tidak mengerti lagi.
Tanpa sadar, aku ingin kembali. Tidak peduli akan di habiskan dengan enam
jam mata perlajaran matematika, lima jam mata pelajaran serajah, empat jam mata
pelajaran sosiologi, atau jam jam pelajaran sulit lainnya. Tak masalah.
Tanpa sadar, aku masih berharap akan kembali ke sana. Menggulang kembali
waktu dan melakukan kegiatan kegiatan yang sama. Itu sungguh menyenangkan. Dan
aku ingin kembali.
Tanpa sadar, aku mulai kesepian atas hari hari yang tak lagi bising, hari
hari yang tak lagi penuh tawa. Hari yang tak lagi di atur dan dimarahi. Hari yang penuh
senyuman seyuman manis dan gosip gosip yang sebenarnya tidak begitu berguna
namun selalu di cari. Aku ingin merasakannya lagi.
Tanpa sadar, aku berharap hari esok adalah hari senin. Yang pada kehidupan
sekolahku biasanya adalah hari yang amat sangat aku benci. Bangun pagi, jam
sekolah lebih lama, dan guru guru terkiler sepanjang masa. Aku ingin esok
adalah hari itu.
Tanpa sadar, aku rindu seragamku. Seragam yang ketika selalu melekat pada
tubuhku tidak pernah aku perlakukan dengan baik, tidak pernah rapih, tidak
cukup lengakap, dan selalu di protes atas penampilan yang layaknya anak anak
jalanan, haha.
Tanpa sadar, aku mulai tersenyum sendiri. mengingat ketika mereka menggila
menyanyi bersama di kelas, ketika guru mulai mengeluarkan jurus lawak yang
menghapus bosan, ketika kami mulai menceritakan film film yang baru saja
selesai kami tonton bersama, ketika anak laki laki mulai mejahili dan
bertingkah kocak dengan ciri khas mereka. Aku merindukan mereka, semua.
Tanpa sadar, aku menyusun buku buku pelajaran untuk hari esokku. Tapi
ketika aku ingat bahwa esok, esok, esok, atau nanti aku tidak akan lagi kembali
ke sana. Hatiku pilu. Aku sudah bukan pelajar SMA lagi. Aku akan menjadi
seorang mahasiswa. Dan harus ku mulai untuk mengenal orang orang baru lagi,
memahami sifat satu per satu dan mencoba mencari teman untukku berbagi. Lagi.
Saat aku masih berada di sana, bangku SMA. Kami selalu mengeluh. Mengeluh
akan jutaan peristiwa. PR, tugas, jam perlajaran, sergam sekolah, bahkan guru
guru yang membosankan. Tapi jika hari hari itu bisa terulang kembali, tak
masalah walau PR dan segala atribute nya datang lagi ke dalam hari hariku.
Haruskah aku mulai menangis? Haha. Temanku berkata “hidup terus berlajut
sayang. Kamu ga mungkin selamanya hanya di satu tempat”, iya dia benar. Dan aku
mengerti. Tapi ini terlalu cepat untuk di terima. Karna aku terbiasa, karna aku
mulai menCinta.
Tak lagi. Sudah berakhir. Berhentilah berharap. Karna kau hanya akan merasa
pilu.
Bisa bisanya aku menendang semua itu pergi, berharap hari hari itu akan
segera berakhir ketika aku masih mengalaminya. Membenci, marah, dan mencoba
menutup mata, bahkan murka. Dan ketika semua sampai pada akhirnya, aku merindu.
Jangan sia siakan waktu yang kamu miliki. Lakukan yang tebaik dan jangan
menyesal pada akhir, seperti aku. Nikmati detik detik terakhirmu, bahagialah.
Karna nanti suatu saat saat semua mulai menghilang menjadi sebuah kenangan, kau
akan sangat merindukannya dan ingin kembali. Nikmati saja realita hidupmu,
karna ketika bel akhir pelajaran benar benar berdering, tak lagi bisa kau
dapati bayang bayang kenangan luar biasa seperti pada saat berada di sana.
Esok.. aku tak lagi berfikir akan menceritakan hal yang menarik, tidak lagi
akan mendengar nyanyian nyayian bising, gosip gosip keci, tawa tawa gila, atau
keluhan keluhan bibir. Karna esok aku akan berbaur dengan golongan dunia yang
sesungguhnya, berpacu dalam kenyataan dan impian yang semakin nyata. Berpacu
dalam persaingan untuk merebut tempat ter-tinggi untuk meraih mimpi dan katanya
mejadi “sukses”. Esok tak lagi menikmati hari hari sebagai seorang remaja yang
masih mengerjar cinta dan kebahagiaan sejenak, namun ber-lomba mengejar mimpi
dan berusaha mewujudkannya. Dunia.. manusia.. dan realita yang ada.
Jumat, 10 Agustus 2012
Mencari sisa sisa bayangmu..
Bagaimana aku bisa melepaskanmu,
Dalam setiap hela nafasku aku hanya mengigatmu..
Bagaimana aku bisa membencimu,
Jika dalam setiap doaku selalu ada namamu..
Bagimana aku bisa lupa sosokmu,
Bahkan ketika aku menutup mataku untuk tidur aku
melihat senyummu..
Sudah lama yaa.. sejak kau tidak lagi menunggu di depan rumahku. Sejak kau
tidak lagi berkata “semua baik baik saja”, sejak kau tidak lagi ada di
sampingku untuk selalu mengganguku. Sudah sangat lama. Tapi aku tetap tak bisa
lupa sosokmu. Caramu memperlakukanku, membuatku tak bisa lepas darimu. Apa yang
harus aku lakukan? Aku terbiasa hidup dengan “seorang” sepertimu. Dan meski
tahun tahun telah berlalu, aku tetap tak lupa sosokmu, tak bisa.
Caramu membujukku, caramu bersabar atasku, caramu menyayangiku, caramu
menatapku. Aku ingat semuanya. Aku yakin aku tidak akan melupakannya. Tapi, aku
hanya takut kau mulai pudar, karna aku tak lagi bicara padamu, aku takut akan
sulit mendengarmu. Aku juga sudah tak lagi memandang dalam matamu, jadi sulit
untukku bernafas tanpa hangat sinarmu itu.
Apa kabarmu? Apakah surga benar benar indah? Bisakah kau katakan pada Tuhan
untuk segera mengundangku ke sana? Aku juga ingin ada di sana.
Ada banyak sekali yang aku ingin tangisi padamu, di mulai dari aku mulai
merasa hidup ini tak adil “lagi” seperti biasa. Kau mengenal aku, jadi kau
pasti mengerti maksudku. Hingga aku “lelah” lelah jadi “robot rusak” dan lagi
lagi kau akan mengerti kenapa.
Aku.. merindukanmu..
Itu yang ingin aku katakan sejak tadi, tapi aku takut kau akan khawatir
padaku. Aku takut kau akan mengerutkan alismu dan mulai bertanya “apa kau baik
baik saja”, atau mulai memelukku dan berkata “semua baik baik saja”. Aku takut!
Aku takut aku akan mulai inginkan hal hal itu lagi, dan aku tau kau tak akan
bisa lagi.
Bisakah, aku melangar janjiku? Maksudku, bolehkah? Karna aku fikir ini
mulai tidak adil, aku tidak ingin. Kau pasti bersenang senang di sana? Iya kan?
Dan kau minta aku untuk hidup hingga tua dan renta. Bukankah tidak adil?
Sementara kau akan menjadi muda selamanya.. aku tidak suka!!
Aku mulai merasa takut lagi, kebiasaanku. Dan saat itu terjadi aku tau kau
akan mengeti, mencoba menenangkanku dan memelukku erat erat seakan aku tak kuat
lagi untuk berdiri, lalu aku akan baik baik saja. Dan aku ingin saat itu di
ulang lagi. Aku egois, dan kau juga akan mengerti hal itu, selalu. Mengalah
untukku, bahkan jika kau jadi kau mungkin aku tidak akan menghadapi sifatku
ini, tapi kau bisa dan kau selalu menyayangiku.
“All be okay..” dan aku akan percaya padamu, cukup dengan
kata itu. Dan aku akan baik baik saja setelah itu. Kenapa kau pergi begitu
cepat? Kenapa kau tinggalkan aku di sini sendiri? Setidaknya kau harus
mengirimkan seorang teman untukku, seperti novel yang aku baca. Denny, aku rasa
aku sudah mulai merindukanmu lagi. Bisakah kau datang dalam mimpiku? Aku takut
sekali, sangat.
Tidak. Aku hanya bercanda, aku baik baik saja. Hanya merindukanmu, hanya
ingin aku di sampingku, seperti dulu. Hanya itu. Maaf... tidak akan aku katakan
lagi, aku tidak akan begitu lagi, aku sudah berjanji padamu. Iya, aku tau..
Maaf..
Aku ingin kau kembali..
Aku menyesali kenapa aku tidak menerima cintamu
setelah berulang kali kau katakan kau mencintaiku, tapi aku hanya inginkan kau
di sampingku selalu lebih dari sekedar “orang yang ku cinta” ku ingin kau
segalanya, tapii.. sekarang aku ingin kau ulangi kata itu, “bisakah kau jadi
pacarku”, atau “aku sangat mencintaimu”. Aku ingin mendengarnya lagi, lagi dan
lagi..
Sudah ku coba, tapi mungkin aku tidak sekuat itu
sayang, aku tidak begitu tegar sepertimu.. aku terlalu terbiasa karnamu,
perlindunganmu, doronganmu, semagatmu, segalanya. Hingga aku tidak yakin dapat
bertahan tanpa itu.. aku terlalu rapuh, hingga tak yakin akan bertahan lama
tanpa segala sesuatu yang kau ucapkan dan membuatku bangkit.
Aku masih sangat merindukamu dan masih sangat
membuthkanmu..
Maaf..
maafkan aku untuk itu..
Langganan:
Postingan (Atom)