Rabu, 13 Mei 2015

fly away

Aku sudah mengerti bahwa semua ini akan terjadi, sedikit tergambar jelas disana. Menghindar? Sudah aku coba lakukan, tetapi mengihindarimu bukan hal yang mudah. Begitu aku mundur satu langkah, maka kamu akan maju sepuluh langkah, ketika aku berbalik menjauh, maka tanganmu akan dengan erat mengengam. Lalu apa yang harus  kulakukan dengan semua itu? Apa yang harus  kulakukan dengan kenangan kamu yang bergutik terus-menerus didalam fikiran saya? Bagaimana bisa kamu hilang begitu saja seperti memori didalam handphone saya yang rusak. Aku tidak bisa. Masih akan jadi tanda tanya besar, apakah aku akan berhasil move on melupakanmu hingga ke bagian-bagian terkecil.

“kita putus! Jangan cari aku lagi, kamu ga perlu ngapa-ngapain, kita cukup saling diam ditempat, dan saling ngelupain”. Aku ingat saat kata-kata itu kuucapkan dengan fasih dan lancar, seiringnya hatiku merasa lega dan akan terlepas dari luka mandalam. Namun kamu tidak mudah menyerah untuk hal-hal yang kamu miliki kan? Tentu saja. Berhari-hari menunggu didepan rumah, mencariku kemana-mana, bahkan dengan perban yang masih basah, yang melingkar di tubuhmu. Dan aku menyerah, aku tak  bisa melihatmu merintih menahan sakit dipungungmu yang tak lama terhempas kejalanan aspal tebal. “aku dirumah bunda sarah” pesan singkatku yang kukirimkan kepadamu kemudian.

Tak lama kemudian kamu sudah berada didepan rumah, berdiri dengan tampilan lusuh, kacau. Aku datang mendekatimu dan kamu seperti anjing kecil yang bertemu kembali dengan tuan pemiliknya. Kamu memelukku erat, merasa lega. Kulepaskan pelukanmu, kutatap kamu dalam-dalam.

“bagaimana bisa Cuma beberapa hari dan kamu jadi begini?” kataku sembari merapikan kerah dibajumu yang berantakan.
“jangan tinggalin aku makanya” dengan nada manjamu seiring dengan tangamu yang membelai rambutku yang terurai.
“kita kan sudah putus” jawabku ketus
“apa yang salah? Kenapa?” nadamu mulai berubah marah
“bosen, mungkin..” jawabku seiring membelakangimu
“bohong! Saya kenal kamu by” deka menarik tangaku lagi, membuat mataku memandang dalam kedua bola matanya.
“kamu mau saya bilang apa ka? Saya nyerah.. itu aja”
            “saya salah apa by? Setidaknya kasih saya kesempatan buat minta maaf”
            “kamu ga salah apa-apa, saya yang salah” jawabku tanpa ekspresi, deka diam. Memandangku dalam-dalam, menunggu sebuah penjelasan.
            “saya belum siap buat kehilangan kamu dek, kemarin saya liat kamu patah kaki didepan mata saya, kemarin saya liat badan kamu terhempas ke aspal, diperban, msuk rumah sakit, merintih lagi, minum obat lagi, berkutik dengan jarum infus lagi, terapy lagi, tapi kamu akan tetep dateng buat latihan, semua orang bakal nerriakin nama kamu, kamu bakal semakin cepet dan cepet dan entah besok saya akan liat apa yang akan terjadi sama kamu” jawabku lirih, deka mandengarkan
            “saya tau balap hidup kamu, saya tau kamu suka semakin cepet. Kayak terbang bebas ya? Tapi saya ga siap ambil resiko bisa kehilangan kamu tiap detik, didepan mata saya, saya ga sekuat itu. Saya juga ga bisa kasi kamu pilihan balap atau saya, karena saya tau balap itu hidup kamu, jiwa kamu. Saya bahagia banget liat sususan piala dan hadiah yang kamu dapet setiap kali kamu menang, ngeliat senyum kamu yang udah ga berenti ngembang, demi apapun saya berharap kamu terus gitu. Tapi itu ga setimpal dengan resiko yang kamu tanggung, saya ga bisa” deka menatapku, tanpa suara. Mencoba memahami yang kukatakan
            “saya ngerti. Kalo gitu, kita sampai disini aja” kata deka kemudian, seiring dengan berlalunya deka.

Aku mengerti, dan kurasa dekapun begitu. Setelah mendengar kata-kataku, deka berlalu begitu saja. Hampir dua bulan tidak ada kabar selain dari televisi ataupun surat kabar, deka memanangkan race-nya tingkat nasional dan untuk pertandingan berikutnya akan ber-skala internasional diluar negri. Aku ikut bahagia karena mimpinya menjadi kenyataan. Di dalam hati aku selalu berdoa untuknya.

Beberapa minggu sebelum keberangkatan deka untuk latihan diluar negri. Deka menekan bel apartemenku, datang kepadaku. Pagi itu aku hanya sedang membuat sarapan pagi ketika deka datang dengan sebuket bungga berwarna pink cantik. Aku tersenyum dan mempersilahkan deka masuk, deka duduk dan kukira kami hanya akan saling berbicara sebagai teman.

            “saya akan berhenti” kata deka tiba-tiba mengagetkanku
            “by, saya bisa gila! saya marah ketika kamu bilang kayak gitu waktu itu, kamu tau race dunia saya, satu-satunya jalan saya buat bisa bebas, tapi ini jauh lebih buruk kalo hidup saya ga ada kamu. Saya kira saya akan baik-baik aja, race saya berjalan lancar, tapi otak saya ga bisa berhenti mikirin kamu, semakin saya mikirin kamu, saya semakin ingin terbang lebih jauh.. buat ketemu kamu. Kasih saya kesempatan” Aku berhenti memasak, dan datang mendekati deka. Memeluknya yang nampak hancur.
            “biarin ini jadi yang terakhir by, biarin aku buat salam perpisahan buat motor dan dunia balapku, aku janji ini yang terakhir, janji!” kata deka kemuadian
            “yang terakhir dan setelah ini kamu bakal diem-diem di samping aku, cari hobby yang lain, cari kerjaan yang lain?” jawabku
            “iya janji!” seraya senyum deka kembali mengembang.

Kudengar bahwa latihan deka berjalan lancar, di minggu-minggu terakhirnya dia masih menelponku bercerita banyak hal, satu halyang masih kusadari dengan jelas, deka sangat mencintai dunia itu, dunia yang bisa merenggut nyawanya kapan saja, setiap detik. Sebelum hari terakhir deka bertanding, sepanjang malam dia berbicara kepadaku, hmm.. iya, aku tidak ikut ke jepang untuk melihat pertandinganya, deka tidak ingin aku datang “jangan terluka by, saya bisa lebih sakit” katanya kala itu.

Malam itu deka berbicara mengenai orang-orang baru yang ia kenal melalui dunia balap, dia bahagia sekali. Didalam hati aku menyesal memberinya kesempatan, karena kusadari betapa ia bahagia tinggal didunianya. Tapi hatiku semakin gelisah, ketika deka mengakiri pembicaraan dengan berkata “saya akan terbang lebih tinggi besok, saya janji ini akhir!” aku semakin merasa gelisah ketika senyum nya di balik video call terasa jauh lebih hangat dari biasanya.

Hari itu tiba, aku bangun pukul delapan. Pertandingan deka dimulai dipagi hari. Aku hanya bisa melihat dan menunggu lewat layar televisi, namun tidak kulakukan. Detik demi detik waktu kuhabisakan dengan berdoa didalam hati dan membuat sesuatu, setidaknya dengan memasak aku bisa sedkit lupa. Kala itu ada beberapa teman dekatku di apartement, mereka sibuk berbincang dan bermain game, tia dan nita menemaniku memasak. Kumohon, buat aku lupa. Tak lama kemudian telfon berdering, sam mengangkat telfon, diam sesaat. “by, sini” kata sam memanggilku dengan nada rendah. Kuterima telfon itu “hallo..” aku mendengarkan orang diseberang sana berbicara pajang lebar, mengenai ada sedikit masalah mengenai deka, pertandinganya sedikit kacau, ada tabrakan beruntun yang memakan banyak korban, salah satunya deka. Aku diminta segera menyusul ke jepang dengan penerbangan pertama. Seketika semua menjadi pilu, aku hanya terdiam membisu. Tia dan nita membantuku membereskan pakaian, sam dan joy memesan tiket, mereka berjanji akan menemaniku ke jepang. Di sepanjang perjalanan aku hanya diam, tidak ada air mata, tidak ada kata-kata, hanya berdoa, “kumohon Tuhan, beri aku kesempatan, biarkan aku menemaninya”.

Ketika aku dan teman-temanku tiba di jepang, om john manager deka sudah menunggu kami, ketika om john datang ke arahku, aku kalah. Aku terjatuh dan menangis haru, berkata berkali-kali bahwa ini adalah mimpi atau semacamnya. Tak lama kemudian kami tiba dirumah sakit, deka koma. Beberapa tulang rusuknya patah, kakinya diperban, infus menusuk setiap bagian tubuhnya, sekarat.

Aku memandangi tubuhnya yang terbaring lemah dari balik kaca ruang ICU, dia nampak tenang dengan segala alat yang membantu nafasnya. Harus kuapakan rasa sakit ini, sayang? Harus kubuang kemana rasa perihnya? Kamu berhutang maaf dariku, dan kamu juga sudah berjanji..

Seminggu sudah ia dirawat, dan tidak ada tanda apapun yang membuat semua orang berhenti untuk khawatir. Sejak hari pertama ia terbaring lemah disana, tak sekalipun aku masuk untuk melihatnya langsung kedalam icu, hukuman untuk dia yang tidak pernah mendengar kata-kataku.

Pagi itu salju turun di jepang, kulihat putihnya dari balik jendela kaca rumah sakit, deka tau bahwa betapa aku menyukai butiran es berwarna putih ini, namun hari ini aku membernci salju itu, nampak dingin dan membeku. Dari balik pintu kudengar pembicaraan dokter dan kedua orangtua deka, kudengar deka akan dipindahkan ke jakarta dekat dengan keluarga, kenapa? bahkan ketika dia belum sadar dari koma dan harus kembali? Karena.. samar-samar kudengar dokter mengatakan bahwa hanya ada sedikit harapan untuk hidup, jika keajaibanpun terjadi dan deka sadar maka ia tidak lagi bisa berdiri dengan kedua kakinya, dan aku tak deka membenci hal itu.

“hai!” kulihat deka duduk dikursi dengan senyumananya, aku mendekati deka dan meraba wajahnya, dia hangat.. dan seketika aku menangis,
“kenapa..? jangan nangis ah, jelek” kata deka lagi, dan aku masih diam memandang wajahnya dalam-dalam lalu memeluk erat dia.
“salju by, kamu suka kan?” kata deka seraya memandang ke luar jendela, aku masih diam dan menangis dalam pelukannya
“maaf by, maaf” kata deka kemudian seiring dengan memandang wajahku pekat, tanganya yang tadi menyentuh wajahku hangat mulai menjadi dingin dan terlepas.

Tiba-tiba aku terbangun. Itu hanya mimpi, aku tertidur di ruang tunggu. Ku pandangi disekitarku, semua orang tertidur lelah dan ini sudah larut malam. Aku berjalan keruang deka, ia masih disana, juga tertidur lelap. Aku masuk kesana, mendekat ke arah dia yang terkulai lemah, mengengam tanganya, tangannya masih hangat, jari-jarinya masih sama seperti dalam ingataku, dan aku menangis.

            “jangan menunggu, aku baik-baik aja.. kamu boleh pergi kapan aja sayang, liat jarumnya tambah banyak, selangnya nambah lagi, lama-lama kamu jadi robot” kataku seraya mengengam erat tanganya,
            “jangan sakit karena aku, kamu boleh terbang sejauh yang kamu mau.. jangan menunggu, aku lebih suka kamu ngelepas semua ini dan pergi ka.. jadi ga ada rasa sakit lagi” dan tangisku pecah dipelukannya.
Tiba-tiba tangan deka mengengam tanganku, bergerak. Ketika aku bangun dan melihat, deka bangun matanya yang nampak sayu memandangku dan tersenyum manis, aku berlarian memangil dokter, dan keajaiban datang, deka sandar dan ia akan segera baik-baik saja.

Deka duduk di ranjangnya, kedua orangtua deka tidak henti-hentinya mengucap syukur dan menangis, aku hanya melihat dari balik pintu ketika deka mengangkat tanganya, meminta kusambut. Aku mendekat dan memeluknya, dia tersenyum dan kembali memeluk maja.. “i’m back” katanya kemudian. Sudah dua hari deka sadar, namun para dokter belum memperbolehkan deka pulang. Masih ada serangkaian pemeriksaan dan oh iya.. deka baik-baik saja, ia berjalan kesana kemari memutari rumah sakit sesuka hatinya. Dia tampak bahagia, dan ia kembali seperti deka yang dulu aku kenal, lucu, hangat, periang.

Hari ketiga setelah ia siuman, ia duduk ditaman rumah sakit memandangi anak-anak sedang bermain bola, menghela nafas panjang. Ketika aku mendekat dia mengapai tangganku, mengengamnya erat.

            “kamu tau kenapa aku sadar?”
            “karena kamu emang harus sadar buat aku, kamu kan baik-baik aja” seraya aku membelai wajahnya
            Ia mengeleng pelan “karena aku mau nepatin janji!” aku terdiam bingung
            “aku kembali, buat kamu.. aku minta waktu buat kembali ke kamu dan aku disini” dia tersenyum
            “tapi.. kalo aku ikut pertandingan selanjutanya di eropa boleh ya?” kata deka kemudian,
            “oke kita putus!” jawabku..
            “aaaaaahhh, ayaang..” dan kami bercanda sepanjang hari

Ketika malam tiba, di ingin aku tidur didekatnya, tanganku ia gengam erat. Kulihat dia tidur dengan nyenyak, senyumnya masih mengembang. Ketika pagi datang, kulihat ruang inap sepi, deka tidak ada, semua orang sibuk berlarian, nafas deka terhenti, dia tidak lagi terasadar dengan senyum hangatnya, ketika para dokter melepaskan segala alat bantu dan menyebutkan jam dan hari, deka benar-benar pergi.

Taukah kau? Orang berkata ketika seseorang yang sudah koma lebih dari tiga hari, ia akan bermimpi panjang, didalam mimpinya ia akan bertemu dengan orang-orang yang ia sayangi, lalu pelan-pelan mengenal mereka dan rasa cinta orang-orang tersebut kepada dirinya, lalu ia akan diberi sebuah harapan oleh Tuhan, apakah keajaiban atau kesempatan. Deka.. ia mendapat kesempatan, ia sadar untuk beberapa hari, memeluk kedua orangtuanya hangat, mengukir senyum di wajah teman-teman yang menunggunya siang dan malam, dan menepati janjinya kepadaku. Dia kembali, dan aku lupa untuk membuatnya berjanji kepadaku agar ia tak pergi lagi. Dia sudah benar-benar terbang tinggi.


                         Untuk kamu yang bersembunyi dibalik awan putih di atas sana,
                         Apakah kamu bahagia! Ya.. sana terbang sepanjang waktu!
                        Saya mencintai kamu, bodoh.. 

Minggu, 10 Mei 2015

what should i do?

sakit. terkadang batinku bertanya dalam diam, meringis seorang diri. kenapa seseorang yang sudah melakukan segala hal yang terbaik ia miliki bagai hilang dan berlalu begitu saja, tak telihat? dan seseorang yang tak melakukan apapun mendapatkan senyuman hangat dan ucapan terimakasih?

untuk seseorang yang ku perlakukan amat sangat baik, tega dia mengkhianati dengan mulutnya yang kejam, mengores kepercayaan dengan kata-katanya yang sederhana. ternyata mulut yang ia gunakan membicarakan orang lain, juga menjadi senjata untuk menghancurkanku.

untuk sahabat yang katanya rela berkorban dan mengerti dirimu lebih dari siapapun, dan saya tercengang dengan perlakuan luar biasa-nya yang diluar nalar, pengorbanan yang kau lakukan, penantian dan segala yang kamu berikan ternyata bukan apa-apa jika dibandingkan dengan hanya menunggu beberapa menit saja.

untuk teman yang berbagi bahagia, apakah pertahananmu runtuh? apakah ucapan tegas dengan segala kepercayaan dirimu hilang ditelan masa? hingga kau coreng dengan sendirinya prinsip dan tujuanmu.

apa yang harus kulakukan, aku menjadi semakin menggila. kurasa dinding-dinding kamarku mulai bercerita mengenai dunia luar, kurasa aku mulai takut dengan sinar matahari, kurasa aku tak sekuat dulu untuk meghadapi orang-orang yang kejam. kurasa aku semakin menjadi dengan angan yang semakin jauh melayang dengan sejuta impian palsu yang akan dari kenyataan. apa yang harus kulakukan? kalian terlalu kejam untuk ku hadapi dengan nalar biasa dan hati yang rapuh. aku hanya akan tersenyum, marah sesaat dan mengadu. si bodoh.

aku ingin keluar dari sini, betapa aku ingin jauh dan mengenal dunia belahan yang lain. melihat sisi-sisi yang tak pernah kusentuh, mendengar hal lain dari sekedar berebut kaya, tenar dan kesempurnaan. ini membosanakan. namun hatiku seakan mati tak bedaya, tak kutemukan yang kuinginkan, tak kupahami yang kucari dan bahkan tak kumengerti diriku sendiri.

kenapa aku tak se-sempurna dahulu? ketika matahari adalah sahabat lekatku, ketika mentari yang tak berhenti membasahi tubuhku dengan keringat lekat membanjiri dan aku bahagia, ketika setiap hari dipenuhi dengan luka baru dan cerita baru lalu aku jatuh dan bangun lagi. memiliki tujuan, memiliki impian.

apa yang harus kulakukan, bahkan ketika tak ada satupun sinar yang menujukkan padaku untuk dilalui atau aku bahkan tak berusaha pergi kemanapun? aku mati, hatiku sunyi, fikirku lenyap. tak berpenghuni. menjadi marah tanpa alasan, tersingung akan hal-hal kecil, tak berprasaan. kenapa tak Engkau kirimkan apapun padaku? ohh iya, aku bahkan tak meminta, entah mengapa tak kulakukan. Aku seolah bermimpi, seolah mengingini namun tak bergerak dari tempatku, ku ingin Engkau mengerti tetapi aku bahkan tak tau mauku, menjadi pilu.

Apakah terangmu masih berpengaruh padaku? Apakah berkat dan rahmatmu masih bisa menjamah orang sepertiku? Ku yang tak tahu diri ini masih menunggu, masih berharap, masih diam-diam berdoa didalam hati kecilku. Bahagia itu, akhir yang indah itu, kebahagiaan sebenarnya itu.. bolehkah aku juga tau bagaimana rasanya, akan kujaga sebaiknya.

                  Tidak, aku belum menyerah.. Engkau masih tetap tempatku
                 Meminta..
                 Tidak, aku belum lelah.. aku masih percaya, Engkau ada..


Selasa, 28 April 2015

terluka tapi jalan terus

Terkadang seseorang tidak ingin pergi bahkan ditengah-tengah rasa sakit, bukan karena bodoh atau berpura-pura munafik dan tidak perasa. Seseorang hanya takut menjadi sendiri, takut rasa sepi menyelimuti dan menjadi tak terlihat. Diabaikan.
Diabaikan. Menjadi sepi. Bertahan sekuat tenaga. Mencoba merevisi lagi dan lagi, terseok-seok, tersungkur malu, dan terluka dalam. Hanya untuk jadi bagian dari sesuatu, bagian dari seseorang, serpihan kecil dari cerita orang lain, kebahagiaan orang lain. Lalu.. apakah menjadi salah?

******

“belajar masak? Bunda-nya sam pinter masak?” tanya nia penasaran
“pinter segala-galanya! Masak, buat kue, jahit, pinter nasehatin.. segalanya”
“lo happy banget pasti punya calon mertua yang gitu pasti ya?”
“banget! Gue betah dirumah sam berhar-hari, walau ayang sam ga ada dan jarang dirumah, nyokapnya udah ngasih gue kayak keluarga yang lain”
“terlepas dari sam suka nyakitin loe?”
“terlepas dari sam ga tau seberapa gue sayang sama dia dan keluarganya mungkin..” jawabku
“tapi cinta bukan itu lak! Bukan kayak gitu”

Aku tersenyum manis saat nia sahabat baikku berkata seperti itu. Tidak, aku bahagia. Sam tidak meyakitiku, sam hanya tidak tau cara memperlakukanku, atau sam tidak menyadari seberapa aku mencintai dia. Namaku Nadyla Fadely, dan teman-temanku memangilku lala. Rahmania adalah sahabat dekatku, nia lebih tepatnya nama panggilanya. Samm, dia adalah pacarku. Sammy libert, keturunan indonesia-canada karena itu namanya begitu. Kami sudah lebih dari satu tahun pacaran, dan aku mencintai sam layaknya seorang pemuda pemudi yang jatuh cinta.

Tapi kukira hatiku salah dan sam tau tentang itu, sam hanya diam menghindar, tidak melepaskan atau mengikatku erat. Sam takut aku pergi dan tak ingin aku tinggal dengan perasaanku yang palsu karena itu dia mencoba menyakitiku dan dirinya sendiri berkali-kali. Berkali-kali sam mencium pipi perempuan lain didepan mataku, memeluk perempuan lain dibalik punggungku, dan berbohong. Aku tau, namun entah mengapa itu tidak menyakitiku.

Pagi itu, hari kamis tanggal 21 maret, ketika aku datang kerumah sam tengah malam untuk memberi kejutan ulang tahunya yang keduapuluhlima, kulihat sam membawa perempuan lain saat bundanya pulang ke canada untuk menemui ayah sam. Aku hanya melihat sam memeluk perempuan itu dari balik lemari kaca, lilin-lilin dari kue yang kupegang mulai meleleh dan aku hanya terdiam merasa nyeri dan sakit lalu berlalu begitu saja. Keesokan harinya aku datang lagi saat bunda sam sudah tiba dari bandara, kuucapkan selamat ulang tahun pada sam, dan sam mengecup keningku hangat. Ibunda sam tersenyum. Bukankah aku bersandiwara dengan sangat baik?. Malam harinya sam mengajakku dinner di sebuah restaurant mewah. Berpura-pura bahagia, berpura-pura sempurna.

Sam tersenyum seperti biasa, kami berbicara mengenai hal-hal yang kami sukai masing-masing. Aku memberikan sebuah gitar listrik sebagai pelengkap koleksi gitar sam, dan sam memberiku se-buket besar bunga mawar berwarna merah cantik. Sempurna. Tak lama kemudian sam permisi ke kamar kecil. Kupandangi gedung-gedung dibalik kaca restaurant, kulihat gemerlap lampu jalanan dan kendaraan hulu-hilir, tak lama kemudian sam kembali, memecahkan lamunaku dengan membawa seorang perempuan, perempuan kemarin. Sam tersenyum kepadaku.

“kenalkan aurel, temen deket” kata sam sembari memperkenalkan perempuan itu
“lala..” kataku dengan lembut sembari tersenyum

Tak lama setelah itu aku pulang dengan taxi, sam ingin mengantarku namun kutolak. Kubiarkan mereka berdua melanjutkan percakapan mereka. Disepajang jalanku aku terdiam pilu, tidak tau caranya untuk menjadi lebih sakit daripada ini. Namun aku tidak kembali ke rumah, aku ke rumah sam bertemu bunda sam. Ketika kuketuk pintu rumah sam, bunda sedang merapikan bunga yang sudah layu. “bundaa..” sapaku ketika masuk, bunda sam tersenyum.. sesekali bercerita mengenai sam dan masalalunya saat bertemu ayah sam. Dan rasa sakit itu hilang dengan ajaibnya.

Iya.. saya terluka dan itu amat dan teramat sakit. Tetapi entah datang darimana kekuatan itu, untuk bertahan, untuk tak menyerah, untuk menunggu bahwa suatu hari kamu akan menyadari betapa aku menunggu lama untuk hatimu terbuka.

Malam itu aku menginap dirumah sam, di kamar bunda sam. Larut dan hening malam tidak bisa menghanyutkan fikiranku dalam tidur, aku masih terjaga. Tepat pukul 02.45 subuh sam pulang, berjalan sempoyongan dan memecahkan vas bunga bundanya, mabuk. Kupapah sam kekamarnya, sam tersenyum terhanyut dalam pengaruh minuman keras, melepaskan jas dan sepatu sam, lalu ketika aku beranjak pergi, sam ngelantur dan berbicara “kenapa kamu ga pergi aja? Saya benci kamu, kamu ngebuat saya sakit, kamu ga harus bertahan!” sam menangis.
“saya ga bertahan untuk kamu, untuk saya!” lalu aku berlalu meninggalkan sam.

Hari esok segera tiba, pukul 10.00 pagi sam bangun. Aku dan bunda sam masih sibuk didapur, bunda sam selalu suka memasak. Sam turun dari anak tangga, memadangku dengan tatapan hangat, dan aku tersenyum manis. Sam memelukku dari belakang, manis sekali, bunda sam tersenyum. Inilah satu-satunya alasanku yang terluka namun tetap berjalan terus, aku hanya percaya bahwa cintaku bukan bohong, bukan kepura-puraan dan sam akan mengerti.

Hari-hari berlalu, sejak hari itu sam tidak lagi meyakitiku. Sekitar dua bulan sam bersikap sangat baik kepadaku, berbicara lembut, menatap hangat, memperhatikanku dan hatiku mulai gelisah. Ada yang salah dengan sam.

Tepat diperayaan duatahun anniverssary kami, sam membuat reservasi direstaurant ternama, mendekor dengan cantik, mengundang semua orang terdekat yang kami kenal, malam itu sam sangat hangat dan aku bahagia. Ketika alunan piano dimainkan hatiku tersentuh dan merasa lirih secara bersamaan, tiba-tiba sam datang kearahku dengan sebuket bunga mawar merah ditanganya dan sebuah cicin cantik di tengah-tengahnya. “will you marry me..” kata sam kemudian.  Aku menangis haru malam itu, tersenyum bahagia dan menganguk dengan pasti, “mari kita bahagia dan perbaiki segalanya” pikirku dalam hati. Tepuk tangan semua orang membuat senyumku mengembang. Aku bahagia.

Malam panjang itu masih berlanjut, sam memainkan gitar acoustic-nya menyanyikan beberapa lagu romantis, semua orang nampak menikmati malam. Berkali-kali kulihat bunda sam tersenyum, sesekali mengengam tanganku hangat. Kebahagiaan ini tak lama, tentu saja. Tiba-tiba seorang perempuan yang entah siapa dan darimana datang, berteriak dan menjerit, meronta dan marah-marah. Katanya, sam harus bertangung jawab, perempuan itu hamil 3 minggu dan anak itu adalah anak sam, sam terpaku menatap kearahku, suasana menjadi kaku, semua orang mulai menatap ke arahku dan sam. Perempuan itu menangis, menjerit, sam mencoba menenangkannya. Aku hanya menatap mata sam dalam-dalam lalu pergi berlalu.

“laa.. sebentar la dengerin dulu” kata sam yang akhrinya meraih tanganku dan menghentikanku. Aku berhenti, airmataku berlimapah ruah tak henti merasakan sakit, kurasa aku akan menyerah.
“maaf la, maaf” kata sam kemudian
“kenapa..? kenapa sam? Kurangkah saya? Saya bertahan, saya mengerti, saya menunggu, saya percaya, dan kamu masih nyakitin saya..”
“maaf la.. saya salah” sam menunduk bersalah, kulanjutkan langkahku dan beranjak pergi, sam kembali mengejar dan meraih tanganku.
“saya ga sepenuhnya salah la! Kamu tau pasti bahwa saya akan begini, iya kan?”
“saya ga mau tau kamu ngomong apa sam, saya ga akan bertahan lagi”
“coba kamu lihat!” bentak sam tiba-tiba.
“saya ga salah! Kamu.. kamu ga pernah cinta sama saya la, tidak! Kamu Cuma ga suka sendirian dirumah kamu yang kosong, kamu Cuma berharap seseorang kayak bunda nemenin kamu, bukan aku! Saya cinta kamu la, sangat! Tapi kamu enggak, kamu ga bertahan buat saya, ga menunggu buat saya, kamu Cuma takut sendirian karena kamu ga punya siapa-siapa lak!” Dan aku hanya berlalu pergi meninggalkan sam.

Aku seperti disambar petir. Setelah berminggu-minggu aku sendiri, merenung, berfikir, merasa sakit dan seperti bangun dari tidur pajang sekaligus. Dalam hati kecilku “iya.. sam benar. Aku hanya takut sendiri” dan rasa yang paling pahit kusadari bahwa “iya.. ini bukan cinta la..”. kuraih handphone-ku dan kukirimkan pesan singkat kepada sam “ayo kita ketemu, buat yang terakhir”.

Tak lama kemudian aku sampai disana, tempat pertama kali sam dan aku bertemu, tempat diamana semua pertemuan dimulai dan aku ingin juga menjadi tempat untuk diakhiri. Tak lama kemudian sam datang, diam dan menjadi pilu.

Aku memulai dengan cerita lama “Cafe nya di tengah kota, di antara hiruk pikuk orang-orang beraktifitas di sepanjang hari, dan saya selalu sendiri duduk disini ya sam? Pura-pura sibuk dengan handphone dengan laptop
            “iya.. kamu” kata sam kemudian
            “seperti nunggu sesuatu yang ga pernah dateng, seperti sepi dan pura-pura merasa bahagia, kamu” kata sam lirih
            Aku menghela nafas “kamu bener sam, saya salah. Saya Cuma mau seseorang buat tempat saya bercerita, nemenin saya, dan bunda sosok yang ngebuat saya nyaman, kamu ga lebih dari sekedar pelengkap dari semua itu”
            “dan saya jadi kambing hitam kamu!” sela sam “dan saya jadi jahat karena menyadari itu duluan, iya kan..? kamu jahat la..”
            Aku menunduk “maaf sam, saya Cuma mau tau rasanya punya keluarga. Keluarga yang normal, yang wajar. Bicara, cerita, ketawa, saya Cuma mau ada yang ngajarin saya itu semua, bukan Cuma rasa sakit”
            “dan bunda begitu?” tanya sam         
            “dan bunda bisa begitu” kataku lirih

Kami terdiam sesaat, menikmati bau embun sehabis hujan deras dipagi hari, menikmati suara langkah kaki lalu-lalang dari orang-orang yang mengejar waktu, mendengar rintik-rintik kecil sisa hujan yang masih turun.

            “ayo kita mulai dar awal” kata sam kemudian.. “saya sayang kamu la, sangat”
            “kamu bakal punya anak sam, saya mau jaga dia”
            “saya bohongin kamu la, itu Cuma sandiwara.. semua orang sudah saya jelasin soal itu, saya ga mau selamanya jadi yang kesekian la”       
            Aku tertawa kecil “enggak sam, kamu lebih berharga dari sekedar pelengkap ketika saya sepi, seharusnya saya ga begitu”
            “saya cinta kamu la..”
            “dan saya bahkan belum mengerti hati saya sam, kamu ga pantes jadi kambing hitam dari rasa takut saya akan sepi..”
            “kita bisa mulai dari awal, saya yang ngajarin kamu..” sam membujuk
            “saya akan mulai sendiri sam, saya akan nemuin hal-hal yang saya cari. Sakit saya, tawa saya, bahagia saya, saya mau nyari bagian-bagian itu dulu dan sendiri”
            “saya akan nunggu” kata sam kemudian
            “kamu pantes dapet kebahagiaan kamu sendiri sam..”

Segalanya berakhir disana, saat itu. Aku dan sam berpisah disana, bertahun-tahun lamanya aku tidak pernah mendengar lagi tentang sam dan keluarganya. Beberapa kabar burung mengatakan bahwa sam akan segera menikah, ada kabar lain mengatakan bahwa bunda sedang menunggu kelahiran cucu pertamanya dari sam, apapun itu aku bahagia untuk sam.

Hari itu saat aku sibuk membaca buku disebuah toko buku, seseorang merebut bukuku dan menyembunyikannya dibalik tubuhnya, dan iyaa.. dia sam.

            “sudah ketemu” kata sam sembari meraih sandwich di atas meja
            “apa?” kataku bingung
            “hal-hal yang kamu cari?”
            “sebagian iya, sebagian lagi saya masih mencari. Oh iya.. selamat buat pernikahannya, atau anak pertamanyaaa?”
            Sam tertawa terkekeh-kekeh “saya? Nikah? Saya masih nunggu kamu laa” 
            “beritanya bohong?” kataku bingung
            “saya ga tau itu berita darimana, tapi saya masih sendiri.. bunda baik-baik aja, beberapa kali dalam sehari nanyain kamu....”


Kami terus berbincang-bincang, mengenai masalalu dan masa-masa yang akan datang. Sam menceritakan banyak hal yang baru dan aku senang dia bahagia, bunda juga. Percaya atau tidak, jantungku berdegup kencang karena senyuman dan tawa pemuda ini, dia masih sama namun lebih bebas atas jiwanya. 

Senin, 20 April 2015

Manusia bodoh

Kamu akan tetap berada disana dengan dunia yang berkilauan, dengan hidup yang penuh dengan kebahagiaan. Namun, salahkah jika aku tidak berhenti menyebutkan namamu di setiap lafas doaku pada setiap malam sebelum aku tidur? Jika saja aku dapat jadi bagian kecil dari hari-harimu, jadi sisi lain dari hati yang akan kau tengok dan berdekatan denganmu? Aku terlalu bodoh untuk hanya sekedar menyapa, namun kamu segalaku..

Entah sudah berapa lama kamu menjadi duniaku. Membuat senyum yang akan terukir sepajang hari hanya karena engkau datang dimimpiku tadi malam, bahagia tanpa sebab, menjadi riang tanpa alasan. Apakah aku menyedihkan? Diriku menjijikan? Bisakah hal ini disebut dengan cinta? Lalu apa dayaku? Engkau sangat jauh walau berjarak tak lebih dari sekitar lima rumah dari rumahku.

Tak bisakah kau berehenti sejenak? Berpaling dari segala duniamu hanya untuk beberapa detik melihatku, memandang sejenak diriku yang biasa. Apakah mustahil? Apakah aku menjadi seorang diri dengan rasa ini? Dan adalah wajar jika aku sakit dan sepi sendiri karena bahkan kita tak saling mengenal, kita bahkan tak saling mengucapkan nama.

Kamu selalu menjadi bagian menarik dari kehidupanku yang sepi. Hanya kamu. Aku berdiri berjam-jam hanya untuk melihat punggungmu lebih lama ketika kamu lewat, aku bersikap dengan sangat manis berlama-lama hanya karena jika kamu tiba-tiba datang, jika kamu tiba-tiba memerlukan bantuanku, kamu akan datang untuk sebuah permintaan, apapun itu.

Harukah kusapa dirimu? Haruskah aku menjadi bagian dari harimu? Aku takut menjadi luka dari hati lain, takut menjadi masalah dalam kehidupan orang lain, lebih takut terluka seorang diri, kecewa seorang diri. Hanya sapalah aku dengan senyummu, hanya panggilah namaku ketika kamu tau, hanya lebih seringlah berdiri didekat rumahku ketika kamu ingin, dan aku akan jadi wanita paling bahagia saat itu.

Kamu hiburan yang pernah mengecewakan, udara segar yang tak pernah menjadi keruh. Kamu bahagia yang Tuhan selipkan diantara duniaku yang sepi. Kamu.

Masih ingatkah kamu hari itu? Ketika hujan deras turun, ketika tidak ada seorangpun dirumahmu, ketika bahkan kamu lupa membawa kunci. Tiba-tiba aku menjadi wanita luar biasa yang bahagia tanpa sebab. Kamu duduk tepat disebelahku, dengan setelan jeansmu yang basah, sibuk mengengam handphone untuk mencari tau keberadaan kunci. Demi Tuhan, kumohon jangan biarkan siapapun menemukan kunci atau membiarkanmu pulang.

Hampir tiga puluh menit dan kamu menjadi bosan akan menunggu di dekat hamparan hujan yang deras, bersamaku tanpa sepatah katapun. Aku tidak ingin kamu menjadi kecewa, setelah kukumpulkan segala keberanian yang kupunya, segala hal yang kumiliki, segala kempuan yang hatiku persiapkan. Kukira harus kukatan sesuatu atas ini, setidaknya namaku atau apapun itu, atau apapun itu.

“kuncinya belom ada bang?” kataku pada akhrinya
“hmmm” jawabmu hanya dengan angukan singkat, dan aku menjadi menyesal karena tak bisa berkata hal lain.
“sa..” katamu tiba-tiba
“iya..” dan aku menjadi sendu dan malu, bahagia dan terharu. Kamu tau namaku, dan suara hujan sekakan menjadi alunan lagu yang mengantar pembicaraan sakit ini.

Kamu bercerita mengenai pacarmu. Iya, ternyata kamu sudah memiliki bidadari. Cantik. Kamu dengan segala cintamu, dengan segala hal yang kamu punya, mencintai dia seakan dia adalah satu-satunya mahluk di dunia ini, tersenyum bahagia hanya karena mem-bayangkan dan menyebut-nyebut namanya, kamu yang terlihat seperti orang lain dari yang selama ini kuperhatikan, berhari-hari, berminggu-minggu, berbulan-bulan dan bertahun lamanya, seperti seorang anak kecil yang menceritakan mainan kesayangan miliknya. Sangat bahagia.

Dia. Perempuan beruntung itu. Tidak tau seberapa aku mencintai pemuda ini, menunggu Tuhan memberikanku kesempatan menitipkan hati pemuda ini padaku, menunggu bahwa suatu hari saat seperti ini datang dan aku bisa mengatakan seberapa besar rasa, rasa ingin menyentuh, memiliki. Ternyata hatiku salah. Ternyata doaku belum dijabah untuk menjadi. Aku harus bersabar dan merintih seorang diri menghadapi kenyataan bahwa kamu mencintai gadis itu dengan seluruh hati yang kamu miliki, dengan segala yang kamu punya, dan tak mungkin tersisa bahkan sedikit untuk seseorang sepertiku.

Aku masih ingat raut wajahmu saat itu, senduh, dan teduh. Taukah kamu, Betapa aku ingin ditatap dalam-dalam oleh sepasang bola mata hitam tercantik yang pernah kamu miliki? Taukah kamu, Betapa aku ingin kamu bahagia semanis itu ketika namaku yang berkali-kali menjadi alasanmu tersenyum? Taukah kamu, betapa aku hanyut didalam ratusan mimpi semuku untuk berada diantara dekapan hangat kedua tangamu, bersandar dibahumu yang hangat?

Dia, ini, dia itu. Dia begini, dia begitu. Berkali-kali kamu kecewa dan tersenyum seakan hanyut didalam ceritamu seorang diri, dan kusadari.. aaahh! Kurasa aku akan mengentikan rasa ini, kurasa aku akan berhenti disini, kurasa aku salah meletakkan hatiku untukmu.

Kamu menjadi kecewa karena sikapnya, menjadi lelah karena tingkahnya, namun yang kusadari dengan jelas bahwa kamu dengan sepenuh hatimu mencintai dia. Haruskah kukatakan hal-hal bodoh? Sesuatu seperti perempuan itu bukan yang terbaik? Atau temukan seseorang yang lain?

“dia perempuan yang baik bang, cukup mengerti maunya apa. Cewek hanya ingin hal-hal sederhana bang, pengertian..”

Nasehat singkatku.. Tidak kulakukan adu dombaku, tidak kukatakan hal-hal buruk mengenai ini dan itu. Hanya nasehat untuk membuatmu lebih mengerti dia, lebih mengenai perempuan. Iya, kulepaskan kamu seakan aku perempuan baik-baik berhati mulia, dan sejujurnya aku selalu menyesali hal itu.

Tidak seutuhnya menyesal, mungkin. Aku bisa menjadi sisa-sisa bagian dari hidupmu. Kamu lebih sering datang kerumahku sekedar untuk menyapa dan bercerita singkat, kita menjadi lebih dekat, banyak hal yang kita bicarakan mengenal dunia dan percayakah? Fikiran kita selalu sama, Tuhan menujukkanku bahwa kamu adalah sosok terbaik didalam hidupku, hanya saja Tuhan tidak memberikanku sebagai bagian dari hatimu. Tidak masalah, aku bahagia melihat senyum itu setiap hari, dan kamu lebih sering memanggil namaku, membuka hatimu untuk bercerita kepadaku, walau terkadang aku harus menyadari bahwa dia menunggumu disudut lain, dan kamu sangat bahagia atas perempuan lain yang bukan aku. iya.. aku manusia bodoh, yang  juga mencintai dengan cara yang bodoh.. dan entah mengapa, aku bisa dan bahagia.


                                                  Dari seorang sahabat yang ingin semua orang juga
                                                       mengetahui caranya yang berbeda saat mencintai..

Jumat, 17 April 2015

Bermulut Besar

katanya kamu akan menunggu, katanya mari kita lakukan bersama,
katanya mari kita berjuang bersama
katanya..
katamu jika keberuntungan tidak mungkin direbut,
mari kita menjadi sakit dan tawa bersama
katamu..
dan tiba-tiba menghilang mejadi dahulu, bagai kata kemarin tidak lebih dari hanya ucapan yang melayang diudara.
kemana wibawamu? kemana prinsipmu? bagaimana dengan orang-orang yang selalu kau caci karena sikap konyonya? apakah hanya berlalu menjadi bualan diudara, layaknya waktu dan metari terbit dan menghilang?
kau menjadikan dunia seakan layak untukmu, dengan sikapmu yang seolah tak berdaya, tak berdosa, tak mengerti,
petuah benar, kamu palsu! mana yang katanya tak harus didampingi seseorang dan kamu akan memeluk dunia? shit!
kemana kesucianmu yang berkali-kali kau ucapkan seolah kau tak pernah berbuat dosa,
bersembunyi di balik topeng baik-baik seakan seluruh alam semesta memihakmu, lucu..
mereka tau, lebih dahulu tau..
menang dengan kemampuanmu? benarkah? buktikan kepada dunia? benarkah?
hanya menghilang tiba-tiba, menjadi menang seorang diri dan masih berani berlagak baik-baik?
taukah kau? yang tidak ada apa-apanya itu kamu.
yang jahat karena mulutnya yang menyakiti sesuka hati tetapi menampangkan muka tak berdosa, kamu!
yang seolah mendengarkan luka dan mengerti luka orang lain lalu menjadi iri lalu menebarkan racun yang menyakiti, bukan orang lain. kamu!
satu demi satu seseorang yang menjadi dekat denganmu akan menjauh dengan sendirinya..
tau kenapa?
karena kamu menjadi iri atas segalanya yang mereka punya, karena kamu tidak akan menjadi bahagia jika mereka juga sama, karena kamu dengan tampang tak berdosa seakan berdiri dibelakang mereka dan menyebarkan hal-hal buruk tentang mereka. kamu!
banggakah? hingga mebusungkan dada setinggi mungkin merasa menang? lucu
jika kamu memang sehebat itu,
jika kamu memang terhebat dalam hal itu,
tidak perlu apapun untuk membuktikan kamu benar atau salah,
jangan minta dilindungi, tak usah minta dibela, tak perlu bawa-bawa apapun dan siapapun,
cukup pandang saja dirimu di cermin, benarkah kamu? pantaskah kamu? sudah cukup baikkah kamu?
dan hati kecilmu dengan sendirinya akan menjawab,
menjadi negeri, menjadi jijik, menjadi takut
atas sosokmu sendiri..