Minggu, 12 Juni 2022

Satu Paket

Dia bertanya kepada hujan, 

Kenapa beberapa hari ini engkau deras? Engkau senduh? Engkau gelap dengan langitmu yg biasa biru

Mungkin hujan ikut bersedih, mungkin hujan juga pilu 

Berjalan satu-satu perlahan dan menahan

Dia pergi, dia menjauh

Kaki kaki kecilnya, tangan mungil nya 

Tawa kecil dan tangisan manjanya

Hati yang mana tidak merasa sendu?

Tapi hidup berjalan sesuai dengan porosnya

Hidup terus menelan hari-hari dengan berbagai macam keadaanya

Dan kita manusia biasa hanya bisa menerima

Tidak pernah terbayangkan dalam setiap tawa riang bersama akan ada perpisahan yang lirih 

Tidak pernah terlintas dalam setiap doa untuk utuh akan jadi tercerai berai dengan luka dan dendam 

Seakan janji untuk selalu bersama hanya mengambang di udara dan menguap menjadi embun lalu menghilang

Namun manusia tahu apa?

Penciptanya pasti lebih faham

Apakah kita terlalu percaya diri?

Apakah kita menjadi pelupa?

Apakah kita terlalu sombong?

Memutuskan hal menjadi harus dan seakan pasti menjadi menyombongkan diri

Menghilangkan kenyataan bahwa semua milik sang pencipta? 

Allah selalu penuh dengan kejutan


12/06/2022

Sabtu, 15 Mei 2021

Pahlawan bertopeng

 Hingga jadi debu 


Kebal 

Terasa mati rasa 

Berjuang dengan munafik lebih melelahkan ternyata

Hitam dan putih tidak terlihat jelas 

Baik dan bejuang menjadi baik nyatanya dianggap juga jahat, salah ya.. 

Pun ketika egois dan peran antagonis memenuhi, di tunjuk puluhan ibu jari dengan tatapan menyalahkan, 

Sungguh melelahkan si perasa 

Sungguh berat hati si pengalah 

Ia melukis

mencoba indah

mencoba dengan senyum senyum 

dengan warna warna 

Lalu lupa bahwa pencampuran warna butuh darah dan airmata

Butuh di korbankan 

Harus di jadikan hitam dahulu

Harus di salahkan

Harus di remehkan

Harus di tatap dengan kebencian

Harus di jadikan korban dan si jahat

Harus di temukan peran si baik dan selalu di bela

Adil itu yang bagaimana? 

Karena perasaan bisa merubah arah adil

Karena keadaan bisa membuat adil tidak 50 dan 50 

Karena adil terkadang lebih melelahkan pada kenyataanya 

Aku tersenyum 

Menyambut campur aduk rasa yang dipaksa baik 

Menyambut timbun-timbun keadaan yang di haruskan mengerti 

Dengan ketegaran hati yg jauh lebih kokoh

Tersenyum,

Dengan lebih manis dari kemarin

Dengan lebih sabar dari “tadi” 

Dengan mencoba lebih ikhlas dari terakhir kali 

Namun perasaan mudah menipu kata tuan asing 

Karena pada jeda tertentu manusia tidak punya pilihan selain menjadi jujur dengan lelahnya kata si nona perasa 

Tuan asing dan nona perasa benar 

Semua orang benar pada porosnya 

Tentu saja, 

Kita cuma tidak sempurna 

Kita cuma berbatas 

Dan berbatas terkadang sakit dan lelahnya tidak bisa di maklumi dengan waras memaksa tiba-tiba airmata jatuh menjadi jawaban paling jujur

Paling mewakili si penyabar untuk mengeluh dalam hati kecil-kecil

Berharap di dengar Tuhan Nya, 

berharap di kasihani Tuhan Nya

berharap di ubah mungkin hatinya, mungkin batasnya, mungkin jedanya, mungkin keadaanya, apapun itu..

Namun yang di ubah Tuhan kokohnya, temboknya, ketebalan di terjang, di hempas, di pukul hancurkan,

Tersenyum lagi,

Sekali lagi menergarkan hati

Sekali lagi menguatkan langkah

Ah.. perjalanan masih jauh 

Sabtu, 24 April 2021

Jedamu dan jawaban Tidak

Perjalananku jadi sunyi lagi. Tidak buruk, hanya lebih hening dari kemarin. Berbeda dari kelam, tapi bisa di katakan seperti memudar dan semu. 


Harus kuakui, bahwa adanya kamu di hidupku membuat sesuatu menjadi lebih berwarna. Memahami dengan indah. Cinta dengan makna dan gaya, jedamu yang keras dan toleransiku yang mengalir deras lalu jawaban tidak atas doaku. 


Aku sudah mencoba dua kali, dan memaksa memang bukan sebuah jawaban. Presepsi dan sarkasme berbeda ya tuan?  


Aku seperti di buang, seperti dengan paksa di jauhkan, seperti sepeleh ketika kukita cukup punya arti, dan tidak bisa marah atau berontak kepada yang memperlakukan. Tidak punya hak terluka. Setiap orang punya hak untuk bersikap seperti isi kepala dan hati mereka bekehendak. Harus kutoleransi, tapi aku tidak lagi berjuang di sana. 


Hanya mendekatkan diri denganmu, membuatku berpelangi, membuatku jauh lebih sabar, membuatku lebih dekat dengan penciptaku, membuat ribuan doa-doa kecilku melayang tak bernama, dengan penuh harapan dan sedikit paksaan kata ikhlas yang mungkin Tuhan tau bahwa aku memaksa. 


Aku suda berjuang duakali, kukira sudah cukup. Tidak boleh memaksa dan mengharuskan. Tidak ingin lagi berlari-lari seorang diri. Kali ini, aku akan diam di temptku memperhatikan. 


Hariku tidak buruk, tapi harus kuakui hal-hal membosankan membuatku muak. Langkah yang sama, orang-orang yang sama, tempat yang sama, bahasan-bahasan yang sama dan dengan perasaan yang sama. Dan kamu yang sudah menjauh dengan konyol membuat semua itu jauh lebih memuakan. 


Aku kehilangan. Tapi silahkan jadi maumu. Cinta dan kepemilikan berbeda. Cinta dan menikah juga berbeda. Cinta dengan sepenuh hati dan cinta karena lelah sendiri juga beda, iya kan? 


Pernah aku membayangkan sekali. Mungkin indah jika kita bisa serumah, bertengkar namun di bicarakan dan menemui titik imbang, jika nanti adik kecil perempuan sudah punya kakak laki-laki pelindung, jika nanti ocehan-ocehan sayangku dimaklumi ayah dan kakak, jika nanti adik di gandeng ayah dan kakak memeluk bunda meminta izin bekehendak. Tapi Allahku jauh lebih baik dalam bersekenario. JawabanNya tidak. 


Jadi aku mengubah hatiku. Tapi aku tetap ingin kamu di sekitarku. Tapi aku masih berusaha terus dan terus merayu Tuhanku. Sampai sekali lagi jawabannya tidak. 


Sungguh juram terdalam adalah hati manusia ya,? Setidaknya kukira begitu.  Menerka tidak berlaku disana. 


Untuk sebuah penutup, terimakasih. Karena sudah tumbuh dan hidup dengan baik, semoga perjalananmu cepat menemukan rumah untuk tinggal segera terlaksana, semoga kamu bisa tidur nyenyak tanpa berfikir tentang hari esok lagi, semoga hati jadi membaik, semoga cinta yang kamu tidak mengerti akhirnya bisa membuatmu sangat bahagia. Amin doaku untukmu. 


Dan aku juga akan baik saja, badai apa yang tidak bisa kulewati? Aku sudah bertemu dengan banyak hal, melwati banyak lorong, bermain di bawah hujan lebat, tidak sengaja menemukan pelangi indah di balik bukit, ahh.. kuyakin Allahku Baik. Dan akan tetap begitu. 


Ini untukmu, aku tidak yakin kamu akan membacanya atau tidak. Tapi, jika kamu tidak sengaja membacanya karena mencari tahu tentangku atau merindukanku, iya. Ini untukmu, ini kamu. 

Yang pertama untukku, dan tetap takbisa jadi kepunyaanku 🙂 bahagia terus kamu... 

Senin, 15 Februari 2021

Kisah Sebentar

Pertama, sudah seminggu lebih dari saat terakhir kutau hadirmu di bumiku masih ada.

Kedua, aku merindukan receh dari setiap obrolan yang bahkan tidak kita saling mengerti.

Ketiga aku terus dan terus tersenyum teringat kata-kata sarkasme-mu, yang pada detik lain kusadari artinya lalu membuatku sebal dan detik berikutnya aku tersenyum karenanya.

Keempat, aku rindu.

Kelima, aku jadi teringat lagi sendumu, redupmu dan pelarianmu dengan ton-an beban yang mengikutinya.

Keenam, kuingin kau terus baik dan baik saja.

Ketujuh, kuharap sesekali kau merindukan aku.

Kedelapan, ku ingin sesekali kau tersenyum karena kebodohan-kebodohanku yang mungkin bisa sedikit membuatmu menjadi manusia yang wajar.

Kesembilan, dimanapun dan apapun yang kau lakukan sekarang. Kuyakin kamu sangat baik dalam menjalani-nya. Aku yakin. Tapi sesekali, berentilah sejenak, katakan untuk dirimu sendiri “tidak apa untuk menjadi lelah”.

Terakhir, terimkasih. Untuk kesempatanku sekali lagi yang melambung tinggi mengenai menggengam dan memiliki seutuhnya, walaupun sekali lagi juga pada akhinya telepas dan aku kembali pada titik kecewaku. Kehadiranmu yang tiba-tiba, yang mengisi hampir seluruh peluh hatiku dengan tawa-tawa kecil, yang memuhi seluruh letihku dengan energi. Aku belum seberuntung itu ternyata. Cinta dan kehidupan memang berbeda. Aku ingin kau terus berjuang dan baik saja.