Senin, 20 April 2015

Manusia bodoh

Kamu akan tetap berada disana dengan dunia yang berkilauan, dengan hidup yang penuh dengan kebahagiaan. Namun, salahkah jika aku tidak berhenti menyebutkan namamu di setiap lafas doaku pada setiap malam sebelum aku tidur? Jika saja aku dapat jadi bagian kecil dari hari-harimu, jadi sisi lain dari hati yang akan kau tengok dan berdekatan denganmu? Aku terlalu bodoh untuk hanya sekedar menyapa, namun kamu segalaku..

Entah sudah berapa lama kamu menjadi duniaku. Membuat senyum yang akan terukir sepajang hari hanya karena engkau datang dimimpiku tadi malam, bahagia tanpa sebab, menjadi riang tanpa alasan. Apakah aku menyedihkan? Diriku menjijikan? Bisakah hal ini disebut dengan cinta? Lalu apa dayaku? Engkau sangat jauh walau berjarak tak lebih dari sekitar lima rumah dari rumahku.

Tak bisakah kau berehenti sejenak? Berpaling dari segala duniamu hanya untuk beberapa detik melihatku, memandang sejenak diriku yang biasa. Apakah mustahil? Apakah aku menjadi seorang diri dengan rasa ini? Dan adalah wajar jika aku sakit dan sepi sendiri karena bahkan kita tak saling mengenal, kita bahkan tak saling mengucapkan nama.

Kamu selalu menjadi bagian menarik dari kehidupanku yang sepi. Hanya kamu. Aku berdiri berjam-jam hanya untuk melihat punggungmu lebih lama ketika kamu lewat, aku bersikap dengan sangat manis berlama-lama hanya karena jika kamu tiba-tiba datang, jika kamu tiba-tiba memerlukan bantuanku, kamu akan datang untuk sebuah permintaan, apapun itu.

Harukah kusapa dirimu? Haruskah aku menjadi bagian dari harimu? Aku takut menjadi luka dari hati lain, takut menjadi masalah dalam kehidupan orang lain, lebih takut terluka seorang diri, kecewa seorang diri. Hanya sapalah aku dengan senyummu, hanya panggilah namaku ketika kamu tau, hanya lebih seringlah berdiri didekat rumahku ketika kamu ingin, dan aku akan jadi wanita paling bahagia saat itu.

Kamu hiburan yang pernah mengecewakan, udara segar yang tak pernah menjadi keruh. Kamu bahagia yang Tuhan selipkan diantara duniaku yang sepi. Kamu.

Masih ingatkah kamu hari itu? Ketika hujan deras turun, ketika tidak ada seorangpun dirumahmu, ketika bahkan kamu lupa membawa kunci. Tiba-tiba aku menjadi wanita luar biasa yang bahagia tanpa sebab. Kamu duduk tepat disebelahku, dengan setelan jeansmu yang basah, sibuk mengengam handphone untuk mencari tau keberadaan kunci. Demi Tuhan, kumohon jangan biarkan siapapun menemukan kunci atau membiarkanmu pulang.

Hampir tiga puluh menit dan kamu menjadi bosan akan menunggu di dekat hamparan hujan yang deras, bersamaku tanpa sepatah katapun. Aku tidak ingin kamu menjadi kecewa, setelah kukumpulkan segala keberanian yang kupunya, segala hal yang kumiliki, segala kempuan yang hatiku persiapkan. Kukira harus kukatan sesuatu atas ini, setidaknya namaku atau apapun itu, atau apapun itu.

“kuncinya belom ada bang?” kataku pada akhrinya
“hmmm” jawabmu hanya dengan angukan singkat, dan aku menjadi menyesal karena tak bisa berkata hal lain.
“sa..” katamu tiba-tiba
“iya..” dan aku menjadi sendu dan malu, bahagia dan terharu. Kamu tau namaku, dan suara hujan sekakan menjadi alunan lagu yang mengantar pembicaraan sakit ini.

Kamu bercerita mengenai pacarmu. Iya, ternyata kamu sudah memiliki bidadari. Cantik. Kamu dengan segala cintamu, dengan segala hal yang kamu punya, mencintai dia seakan dia adalah satu-satunya mahluk di dunia ini, tersenyum bahagia hanya karena mem-bayangkan dan menyebut-nyebut namanya, kamu yang terlihat seperti orang lain dari yang selama ini kuperhatikan, berhari-hari, berminggu-minggu, berbulan-bulan dan bertahun lamanya, seperti seorang anak kecil yang menceritakan mainan kesayangan miliknya. Sangat bahagia.

Dia. Perempuan beruntung itu. Tidak tau seberapa aku mencintai pemuda ini, menunggu Tuhan memberikanku kesempatan menitipkan hati pemuda ini padaku, menunggu bahwa suatu hari saat seperti ini datang dan aku bisa mengatakan seberapa besar rasa, rasa ingin menyentuh, memiliki. Ternyata hatiku salah. Ternyata doaku belum dijabah untuk menjadi. Aku harus bersabar dan merintih seorang diri menghadapi kenyataan bahwa kamu mencintai gadis itu dengan seluruh hati yang kamu miliki, dengan segala yang kamu punya, dan tak mungkin tersisa bahkan sedikit untuk seseorang sepertiku.

Aku masih ingat raut wajahmu saat itu, senduh, dan teduh. Taukah kamu, Betapa aku ingin ditatap dalam-dalam oleh sepasang bola mata hitam tercantik yang pernah kamu miliki? Taukah kamu, Betapa aku ingin kamu bahagia semanis itu ketika namaku yang berkali-kali menjadi alasanmu tersenyum? Taukah kamu, betapa aku hanyut didalam ratusan mimpi semuku untuk berada diantara dekapan hangat kedua tangamu, bersandar dibahumu yang hangat?

Dia, ini, dia itu. Dia begini, dia begitu. Berkali-kali kamu kecewa dan tersenyum seakan hanyut didalam ceritamu seorang diri, dan kusadari.. aaahh! Kurasa aku akan mengentikan rasa ini, kurasa aku akan berhenti disini, kurasa aku salah meletakkan hatiku untukmu.

Kamu menjadi kecewa karena sikapnya, menjadi lelah karena tingkahnya, namun yang kusadari dengan jelas bahwa kamu dengan sepenuh hatimu mencintai dia. Haruskah kukatakan hal-hal bodoh? Sesuatu seperti perempuan itu bukan yang terbaik? Atau temukan seseorang yang lain?

“dia perempuan yang baik bang, cukup mengerti maunya apa. Cewek hanya ingin hal-hal sederhana bang, pengertian..”

Nasehat singkatku.. Tidak kulakukan adu dombaku, tidak kukatakan hal-hal buruk mengenai ini dan itu. Hanya nasehat untuk membuatmu lebih mengerti dia, lebih mengenai perempuan. Iya, kulepaskan kamu seakan aku perempuan baik-baik berhati mulia, dan sejujurnya aku selalu menyesali hal itu.

Tidak seutuhnya menyesal, mungkin. Aku bisa menjadi sisa-sisa bagian dari hidupmu. Kamu lebih sering datang kerumahku sekedar untuk menyapa dan bercerita singkat, kita menjadi lebih dekat, banyak hal yang kita bicarakan mengenal dunia dan percayakah? Fikiran kita selalu sama, Tuhan menujukkanku bahwa kamu adalah sosok terbaik didalam hidupku, hanya saja Tuhan tidak memberikanku sebagai bagian dari hatimu. Tidak masalah, aku bahagia melihat senyum itu setiap hari, dan kamu lebih sering memanggil namaku, membuka hatimu untuk bercerita kepadaku, walau terkadang aku harus menyadari bahwa dia menunggumu disudut lain, dan kamu sangat bahagia atas perempuan lain yang bukan aku. iya.. aku manusia bodoh, yang  juga mencintai dengan cara yang bodoh.. dan entah mengapa, aku bisa dan bahagia.


                                                  Dari seorang sahabat yang ingin semua orang juga
                                                       mengetahui caranya yang berbeda saat mencintai..

Jumat, 17 April 2015

Bermulut Besar

katanya kamu akan menunggu, katanya mari kita lakukan bersama,
katanya mari kita berjuang bersama
katanya..
katamu jika keberuntungan tidak mungkin direbut,
mari kita menjadi sakit dan tawa bersama
katamu..
dan tiba-tiba menghilang mejadi dahulu, bagai kata kemarin tidak lebih dari hanya ucapan yang melayang diudara.
kemana wibawamu? kemana prinsipmu? bagaimana dengan orang-orang yang selalu kau caci karena sikap konyonya? apakah hanya berlalu menjadi bualan diudara, layaknya waktu dan metari terbit dan menghilang?
kau menjadikan dunia seakan layak untukmu, dengan sikapmu yang seolah tak berdaya, tak berdosa, tak mengerti,
petuah benar, kamu palsu! mana yang katanya tak harus didampingi seseorang dan kamu akan memeluk dunia? shit!
kemana kesucianmu yang berkali-kali kau ucapkan seolah kau tak pernah berbuat dosa,
bersembunyi di balik topeng baik-baik seakan seluruh alam semesta memihakmu, lucu..
mereka tau, lebih dahulu tau..
menang dengan kemampuanmu? benarkah? buktikan kepada dunia? benarkah?
hanya menghilang tiba-tiba, menjadi menang seorang diri dan masih berani berlagak baik-baik?
taukah kau? yang tidak ada apa-apanya itu kamu.
yang jahat karena mulutnya yang menyakiti sesuka hati tetapi menampangkan muka tak berdosa, kamu!
yang seolah mendengarkan luka dan mengerti luka orang lain lalu menjadi iri lalu menebarkan racun yang menyakiti, bukan orang lain. kamu!
satu demi satu seseorang yang menjadi dekat denganmu akan menjauh dengan sendirinya..
tau kenapa?
karena kamu menjadi iri atas segalanya yang mereka punya, karena kamu tidak akan menjadi bahagia jika mereka juga sama, karena kamu dengan tampang tak berdosa seakan berdiri dibelakang mereka dan menyebarkan hal-hal buruk tentang mereka. kamu!
banggakah? hingga mebusungkan dada setinggi mungkin merasa menang? lucu
jika kamu memang sehebat itu,
jika kamu memang terhebat dalam hal itu,
tidak perlu apapun untuk membuktikan kamu benar atau salah,
jangan minta dilindungi, tak usah minta dibela, tak perlu bawa-bawa apapun dan siapapun,
cukup pandang saja dirimu di cermin, benarkah kamu? pantaskah kamu? sudah cukup baikkah kamu?
dan hati kecilmu dengan sendirinya akan menjawab,
menjadi negeri, menjadi jijik, menjadi takut
atas sosokmu sendiri..



Selasa, 24 Maret 2015

What is freedom? (Part 2)

   "OMG!!" Teriakku didalam hati. Nick berdiri di sana, di balik pintu yang tertutup, mencoba sembunyi dan aku mematung dengan bodohnya. Nick berjalan melaluiku, masuk ke salah satu toilet dan menutup pintunya, dan hentakan pintu membuatku tersadar dan hendak lari. Tiba-tiba tangannya meraihku, menarikku masuk ke dalam toilet, BERDUA DENGAN SI NICK! nick menutup mulutku dengan tanganya yang penuh goresan dan darah. Terdengar suara guru yang memeriksa di luar toilet.
  "Siapa didalam?" Kata pak tarno satpam sekolah
   "..." kami saling diam, nick memandangku dan seolah saling mengerti
   "Zea pak disini, sakit perut!"
   "Iya neng, ati-ati entar d pukulin anak-anak badung!"
   Kami masih terdiam di sana, aku memandang dalam-dalam sepasang bola mata berwarna hitam pekat itu, bulat, bak mata anak bayi milik kakakku yang baru lahir, cantik sekali namun terasa sepi. Nick menarik tangannya pelan-pelan dari mulutku,
   "Liat apa lo!" Bentaknya.
   Aku hanya diam membisu, setelah keadaan cukup aman kami keluar dari sana, aku melihat pantulan diriku di cermin ada noda darah di sekitar bibirku dan cepat-cepat kubersihkan dengan air. Nick jatuh terduduk kelelahan, keringatnya membasahi sekujur tubuhnya. Pasti perih dengan luka-luka dan memar itu, pikirku dalam hati.
   Nick menunduk memedangi perutnya, baru terasa nyeri mungkin setelah puas membantai. Aku menunduk memberikan saputanganku, "sebenarnya aku sedang apa?" Pikirku dalam hati, namun hanya saja ini kulakukan tanpa fikir panjang, tanpa peduli resiko kena bentak lagi dan ternyata tidak. Nick meraih saputanganku, berdiri dan membersihkan noda darahnya di depan cermin lalu pergi berlalu begitu saja, seperti aku tak ada disana.
   Ada yang aneh, aku mematung lagi. Menikmati detak jantungku yang berdebar tak karu-karuan, merasa bahagia untuk sesuatu yang tak jelas, kurasa aku semakin gila saja terkena virus aneh milik nick mungkin. Aku keluar dari toilet setelah membersihkan peralatanku, berjalan dengan lunglai kembali ke kelas, di kelas mereka sibuk membicarakan "pembantaian" tadi.
   "Zea!" Fey menegurku, "dari mana aja lo? Ga liat adegan seru sih, mereka.." belum selesai fey bercerita aku berlalu meninggalkan fey kembali ke tempat dudukku
   "Jangan bilang lo ketemu salah satu dari mereka?" Kata fey tiba-tiba
   "Maksud lo apaan fey?"
   "Itu!" Menujuk ke arah baju seragamku yang ternoda bercak darah dibagian kerah.
   Lalu lamunanku kembali ke saat tadi, ketika nick memegangi tanganku dan satu tanganya lagi menutupi mulutku dan mata kami saling bertemu. Iya tanganya menyentuh kerah bajuku, dia mencoba bertopang padaku saat hampir jatuh, sepertinya sedikit sepoyongan.
   "Ze!! Malah melamun, itu kenapa?" Kata fey lagi
   "Enggak ah, entah kenapa aku lupa" dan aku berbohong yang bahkan tidak kumengerti kenapa
   Pelajaran usai, aku kembali ke rumah dengan perasaan aneh. Berkali-kali sepasang bola mata itu mondar-mandir difikiranku, ada yang salah dengan jantungku, setiap kali aku mengingat saat itu, detaknya akan semakin kencang dan tak beraturan. Aku berbaring di ranjangku, mencoba membangkanya lagi dan entah kenapa.. aku tidak membenci membayangkanya berulang-ulang.
   "Indah.." kata yang keluar dari mulutku tiba-tiba.
   Esok pagi di sekolah aku mencari sosok itu, nick. Dia tidak sekolah hari ini, sedikit sepi dan aku sedikit kecewa. Entah sejak kapan, tapi aku mulai ingin melihanya sesekali walau dari kejauhan. Pelajaran berlalu seperti biasa, aku pulang dengan wajah kusut. Fey bercerita tentang adam sepanjang hari dan aku hanya tersenyum selama itu juga. Entah kenapa aku hanya ingin berjalan sebentar, sembari mencari taxi ngangur yang lewat fikirku.
   Dengan fikiran yang kacau aku hanya berjalan menyusuri jalan, entah dimana aku sekarang. Aku duduk disebuah tempat halte bus kecil, melamun jauh memikirkan banyak hal. Kenapa fey bertahan dengan adam yang menyukai setiap perempuan, atau aku tidak mengerti kenapa buk rose suka sekali menyuruhku menyelesaikan seabrek soal matematika rumit atau... kenapa nick tidak masuk sekolah?
   "Tiiinnnn!!" Klakson mengagetkanku
   Seseorang duduk di atas motor besar berwarna hitam pekat itu sedang tertawa geli karena mengagetkanku, aku mendekat dan melihat wajahnya lebih jelas. "Siapa orang ini?" Fikirku dalam hati dan ketika kulihat lebih jelas, dia nick.
   "Ngapain lo bengong disana? Nunggu om-om?" Katanya
   "Eh! Mulutnya ga di kandangin, nunggu taxi gue"jawabku kesal
   "Nih taxi dateng!" Sembari menyerahkan helm padaku
   "Naik ginian?" Kataku yang dengan sekuat tenaga mencoba menyembunyikan rasa senangku
   "Ga mau? Taxi lama, ojek aja mayan kali. Tapi ga maksa..."
   "Mau kok mau!" Aku menyela sebelum nick berubah fikiran
   "Mayan kan hemat ongkos, hehhe" kataku lagi
   Dan aku disana, di balik punggung nick, menaiki motornya. Dan jantung ini kumat lagi, berdegup tidak karu-karuan, senang tanpa sebab, aaahhh.. aku sudah mulai gila. Perjalanan panjang yang hanya diisi dengan salin diam itu terasa singkat, tiba-tiba sepeda motor nick sudah sampai didepan rumah zea, zea turun dan melepaskan helm dan memberikannya ke nick. Lalu tiba-tiba zea sadar sesuatu
   "Gue belom bilang apa-apa soal alamat gue dan kita udah nyampe sini aja?" zea bertanya
  "Rumah gue di belokan depan, rumah kedua setelah belokan. Gue sering liat lo bawa-bawa kucing yang di paksa jadi anjing tiap minggu pagi, kesian sama tu kucing"
   "Di belokan sana? Kok gue gak tau?"
   "Anak rumahan yang taunya dirumah mau kenal siapa lagi kali? Lo keluar rumah seminggu sekali aja udah keajaiban banget" ledek nick
   "Gue limited edition kali, jadi ga boleh di umbar-umbar!" Zea membela diri
   "Iya kali limited d rumah aje" nick membalas, zea hanya diam
   "Nick!" Sembari mengambil helm dri tangan zea
   "Gue tau! Lu udah di kenal satu sekolah"
   "Bagus deh, gak ketinggalan banget lu jadi"
   Zea terseyum "zeaaa.." ketika zea memperkenalkan diri sepeda motor nick sudah berlalu melaju kencang.













Ketemu nick yg lari dsri guru2
Nick menarik zea bersembunyi
Zea membersikan noda darah di baju nick, saputangan zea
Nick marah,
Zea takut dan lari
Nick bolos sekolah
Saputangan di nick
Zea bertemu nick di acara kantor papa zea
Nick tampak tampan deng pakaian rapi,
Zea menyadari nick tampan, di toilet, di rumah nick
Zea mulai menyukai nick, memperhatikan nick
Nick tidak pernah memandang zea,
Nick dan zea berpapasan di kantin, zea sibuk dengan temna2nya
Nick mengembalikan saputangan zea,
Semua orang menatap zea penasaran
Semua orang penatap zea penasaran
Nick melempar saputangan itu ke lantai
Zea merasa sedih
Nick kembali, meraih saputangan zea dan pergi
Semua masih menatap zea

Zea bertemu nick di perjalanan pulang
Mobil zea mogok,
Nick memberikan tumapangan sepeda motornya kpd zea
Zea  gadis prtm yg naik motor nick selain ibu nick
Nick tau rumah zea, tanpa zea jelaskan
Zea semakin menyukai nick
Nick mengantar zea sampai depan rumah zea
Nick langsun pergi tanpa kata-kata
Zea menangis malam hari

Rabu, 18 Maret 2015

Hati

Aku hanya kembali ke sana, ke tempat pertama kali semua dimulai
Harus ada yang mengingatkanku,
Bahwa awal dari segala yang aku lakukan hari ini adalah esok adalah kebahagiaan..
Masih sama, tidak ada yang berubah
Pohon-pohon itu masih riuh bercerita, angin sepoi itu masih dengan hangat menyambut, dan gedung tua yang sekarang sudah cantik terenovasi masih tetap menyimpan sejuta kenangan..
Aku masih ingat kala itu
Ketika senyum dan tawa kecil dimulai dari debaran jantung,
Ketika sakit dan tanggis di awali dengan rasa suka yang mendalam,
Aku perlu semangat..
Esok akan jadi penentu atas segalanya,
Berenti atau aku akan terus berjalan dengan lantang,
Berhiaskan cantik dan membuat gambar kekal..
Aku hanya ingin dunia tau,
Aku siap!
Tidak masalah jika itu dia, dia atau dia
Tidak masalah jika aku akan menangis dalam diamku lagi,
Aku akan berbagi rasa itu,
Aku akan berbagi bahagia itu,
Bukankah hidup begitu?
Jika hari ini adalah dia dan dia,
Maka aku akan sekuat tenaga mencoba segalaku
Kita tidak akan pernah tau hasilnya bagaimana, hanya saja Allah selalu menyimpan rencananya yang luat biasa..
Dan aku harus dan akan selalu siap untuk itu..

                                     Karena rencananya selalu indah
                                       Lebih daripada rencana manusia