ketika semua orang sedang sibuk merancang masa depannya.
ketika semua orang sedang berlarian kesana kesini memperkokoh mimpi-mimpinya.
ketika semua orang sedang berlari sekencang-kencangnya untuk sampai di pemberhentian terakhir.
apa yang kulakukan disini? bahkan aku tak lagi berasa, tak lagi memiliki mimpi, tak lagi candu untuk mengejar sesuatu.
harus
Ini dan itu tak melulu aku, ini dan itu tak melulu tentangmu. Terkadang bunga-bunga hanya saja terlalu indah jika hanya jadi pemandangan. Terkadang juga pakai hati yang meluap jadi kiasan. Entahlah, aku hanya suka kata-kataku yang menjadi sebuah kalimat.
Senin, 31 Agustus 2015
Jumat, 14 Agustus 2015
I really wants to falling in love
“vi kamu sama dia?” tanya mbak lara dengan kerutan-kerutan serius didahinya
“dia siapa” jawabku berpura-pura menjadi biasa. Lalu mbak lara menarik
tanganku kasar, membuat matanya yang bulat melotot tepat beradu di depan mataku
“mbak serius, jangan melucu kamu!” bentak mbak lara kemudian, semua orang
terdiam memandang kami berdua, ruangan yang dari-tadi riuh dengan suara-suara
tawa dan banyolan tiba-tiba sunyi seketika. Aku melepaskan gengaman tangan mbak
lara dan mencoba berlalu, namun mbak lara masih memandangku penuh amarah.
“apa salahnya dia? Dia baik, setidaknya padaku” tiba-tiba langkahku
terhenti, sembari menunduk memandang ubin yang beratatkan keramik putih seperti
membentuk awan-awan di langit, tiba-tiba aku teringat sesuatu..
Dia..
“semacam kehilangan daya
atau rasa, semacam kehilangan sesuatu seperti candu, semacam berpasrah dan diam
tak mau melakukan apapun. Aku menyerah untuk sesuatu yang bernamakan cinta”.
Pada kenyataanya seseorang yang kutunggu-tunggu
tidak kunjung datang, pangeran di dongeng-dongeng kerjaan ataupun pria tampan
di drama-drama modern. Semacam, aku mulai menutup setiap sudut yang harusnya
masih menunggu. Lelah, dan seperti kehilangan daya.
Jika pada akhirnya aku harus berpijak di dunia
yang luas ini seorang diri, tanpa hal-hal manis yang dimiliki semua orang,
tanpa kecup hangat dari seseorang yang akan mendiamkanku kala aku menangis,
atau seseorang yang akan menjadi alasanku tertawa dan melayang. Apakah hayati
yang hanyalah hambaNya ini memiliki daya? Dan akupun seperti tak peduli dan tak
ingin lagi.
Terkadang aku iri. Menjadi benci seorang diri,
menjadi penjahat yang tak berkesudahan memaki, hingga aku lelah dan hanya diam
menyadari. Aku bodoh.
Kenapa tak jalani saja hidupmu. Toh kamu bahagia,
toh kamu masih bisa bernafas, toh tak ada yang merubah apapun. Kecuali
kata-kata orang dari belakang, kecuali sudut mata orang-orang yang memandang,
kecuali rasa sepi seakan mati, kecuali rasa bersalah atas sedih yang tak
berkesudahan. Bukalah masalah besar, bisa kamu atasi, kamu akan terus bernafas
tanpa semua itu.
Hampir tengah malam, ketika aku baru saja pulang
dari lebur yang tak berkesudahan. Perawan tua, bos baru yang luarbiasa judes
itu memeras tenagaku habis-habisan. Tak masalah, setidaknya aku sibuk. Yang
kuingat malam itu aku hanya masuk kedalam lift seorang diri dan ketika
lamunanku yang panjang berakhir, kulihat seorang pria manis yang tersenyum
kepadaku, dia.. tersenyum kepadaku.
Dia tesernyum kepadaku, membuat mataku terhenti
pada senyum nya yang manis, gigi nya yan tertata rapi dan putih itu, ahh..
mungkin ini yang disebut pria cantik.
“lantai delapan mbak!” katanya kemudian
“ah.. iya ayok ke lantai delapan” kataku
terhentak, dan dia tertawa ringan
“bukan, ini lantai delapan mbak, mbak mau ke
lantai delapan kan?”
“oh.. iya, iya” dan aku kembali tersadar, aku
berjalan keluar lift dan masih memadang pria cantik itu tersenyum, dia bersama
beberapa orang yang lain, dua diantaranya nampak ramah dan satu yang lain hanya
diam menatap tajam padaku,mataku kembali melihat si pria cantik sebelum lift
kembali tertutup. Dan kukira Tuhan mengirimkan sedikit kisah manis kedalam
kehidupanku.
Keesokan harinya aku bertemu si pria cantik lagi,
dan keesokan harinya dan keesokan harinya. Teddy, nama pria cantik yang
beberapa bulan terakhir sering mampir ke apartemenku untuk sekedar minta
makanan atau mengobrol. Teddy tetangga baruku, apartemen-nya berada satu lantai
di atasku, kamar 302. teddy dan tiga orang temanya baru saja pindah dari jepang ke new york. Mereka adalah model iternasional untuk brand-brand papan
atas, kuakui itu sedikit mengecewakan mengingat image model-model pria
kebanyakan ‘gay’.
Teddy sangat ramah, sifatnya yang masih kekanakan
membangun imagenya cukup kuat hingga di setiap penampilan baik majalah, fashion show, ataupun fashion model semua orang akan tertarik
dengan gayanya yang chik.
Yang kedua adalah ji, kami semua memangil yong
dengan sebutan ji. Seorang blasteran jepang dan amerika. Entah sebutan ji itu
berasal darimna, atau siapakah nama ji sebenarnya, aku tidak pernah ingin
tau mengingat Ji yang selalu terlihat maskulin, diam dan
cool. Aku hanya beberpa kali mendengar ji tertawa atau tersenyum.
L adalah pria ketiga, pria berwajah oriental barat
dengan sifat yang humoris. L sangat ramah dan mudah bergaul dengan siapa saja,
semua orang akan dengan mudah dekat dengan l.
Yang terkahir adalah hyun. Pria asli korea dengan
wajah yang juga asli korea. Hyun pria romantis playboy yang dengan mudah bisa
mengambil hari para gadis, hyun berhati lembut dan pengertian, mungkin itu yang
membuat semua orang nyaman.
Beberapa bulan terakhir aku mulai mejalani
hari-hariku dipenuhi dengan kehadiran mereka. Mereka mengikat kontrak dengan
majalah fashion kami untuk sekitar
dua tahun, dan entah sejak kapan, aku dan mereka ber-empat mulai menjadi teman
baik.
Senin, 20 Juli 2015
i need 'day'
Jadi.. harus
kemanakah aku melangkah? Apakah ke utara, selatan, timur atau barat? Lalu..
setelah hari ini berakhir, apa yang harus kulakukan? Kenyataan bahwa segalanya
sudah diujung dari sebuah perjalanan singkat, dan aku masih tak menemui apapun.
Esok, apa yang
harus kulakukan..? menghitung hari? Menunggu detik? Berulang kali melalui jalan
yang sama?
Tak lama setelah
tawa mengambang diudara, bahagia hari itu berakhir. Ketika saat pulang
menghampiri, saat itu akan tiba. Dimana sepi dan lagi-lagi tekungkung
menjelaskanmu akan sebuah kata yang hingga kini tidak ingin kau akui.
Harus apa aku
setelah ini? Apa yang kulakukan esok? Sudah beruang kali kubunuh waktu dan
sepi, aku sudah belari sejauh perjalanan yang bisa kulampaui. Hingga pada
akhirnya aku hanya bisa kembali dan lagi-lagi menyadari.
“Kamu.. sudah
mengakhiri sesuatu yang kamu mulai, dan hingga kini kamu belum memulai sesuatu
atau apapun lagi?”.
Tertawa,
hura-hura, menjadi berbeda, melangkahi detik dan pura-pura bahagia.. bukankah
aku pelakon yang baik? Dan meskipun begitu, rasanya masih kosong. Dan walaupun
begitu, aku tetap sepi. Jangan menangis kata batin, berhenti menjadi kalah dan
haru kata akal, jangan.. kamu akan kehilangan segalanya kata hati.
Apa yang kucari? Apa
yang ingin kutemukan? Apa yang ingin kumulai? Dimana aku ingin tinggal dan
berhenti? Kenapa semua semu hingga lagi-lagi hati terasa hanya kosong dan
hampa.
Lihatlah dia,
seberapa besar matanya berbinar? Bisa kaurasakan? Mimpinya dan mengebu-gebu
rasanya ingin itu nyata..
Lihatlah mereka,
tertawa hingga seisi ruangan riuh, lepas, bahagia.. bisakah kau bandingan
dengan sepi yang masih ada disudut-sudut hati ketika menyadari bahwa masa akan
segera berakhir..?
Lihatlah orang
itu, bahkan ketika yang ia lakukan tak sebanding dengan segala sesuatu yang ia
dapatkan, dia berusaha dan melakukan sesuatu..
Lalu aku?
Harus kuapakan
rasa hampa ini? Harus kutujukan kemana hidup ini? Ke arah mana aku harus
meneruskan jalan yang masih teramat pajang dan jauh ini? Haruskah aku berputar
hanya di sebuah tempat yang sama?
Aku ingin
menemukan apa yang kucari. Aku ingin tau apa yang membuatku menunggu. Aku ingin
memulai hidup yang kuinginkan. Aku ingin tinggal di tempat dan didunia yang aku
ingin tinggali. Aku tidak ingin berhenti dan berputar seakan hari ini tak lagi
memiliki lembar baru.
'day' = berasal dari nama amerika yang berarti
cahaya dan harapan..
Senin, 13 Juli 2015
hallo! teman kecil..
Apakah kita masih berada di sana? Entah apakah kamu akan mengingat kala
itu, ketika kita masih sangat polos bahkan untuk mengenal perbedaan, kala
dimana yang kita ketahui dengan baik adalah mainan, kala dimana semua
kebahagiaan hanya berasal dari hal-hal sederhana. Seperti berlarian saling
mengejar, bermain boneka, dan menyusun puzzle.
Aku masih ingat kala itu, janji yang dibuat dua orang anak kecil yang
bahkan belum mengenal mode dan style, janji sederhana bahwa seusai tahun
berlalu kita akan bertemu lagi, akan berlarian dan mengejar matahari lagi. Kamu
yang kekal diingatanku adalah kakak perempuan baik hati yang selalu adil, kakak
perempuan yang berbeda beberapa tahun lebih tua dariku yang tidak pernah
kusebut kakak, atau ayuk atau apapun itu. Kita adalah teman, dan kala itu
kukira akan menjadi selamanya.
Beberapa waktu sebelum kamu pergi, kita hanya berbincang sederhana. Aku masih
ingat sorot matamu polosmu kala itu, ucapanmu saat itu, “nana pergi Cuma sebentar,
kalo nana pulang kita main lagi” dan aku selalu menunggu saat nana akan pulang,
ia itu adalah namanya, teman kecilku yang tiba-tiba muncul kembali setelah
betahun-tahun menjadi koleksi ingatanku yang bahagia. “kalo nana pergi, ica
main sama siapa?” kataku menjawab dengan penuh penyesalan. “nana pasti pulang,
terus kita main lagi”.
Entah mengapa aku selalu menunggu sosok anak perempuan teman bermainku
untuk pulang, tahun pertama, tahun kedua, dan tahun-tahun setelahnya. Nana tidak
pulang untuk waktu yang lama, dan aku beranjak dewasa, melupakan janji bahwa
kami akan bertemu dan bermain bersama lagi.
Ketika waktu telah berlalu dengan cepat, dan waktu hampir menghapus semua
kenangan, tiba-tiba sesuatu mengingatkanku. Stiker, yaa.. hal sederhana yang
masih menempel di tempat yang sama ketika dulu kami sering bermain, tempat
dimana nana berjanji akan pulang dan menemaniku bermain lagi. Stiker janji itu
masih berada disana, dan tak lama kemudian memudar lalu menghilang. Apakah seiring
dengan pergi dan mehilangnya semua kenagan dan janji? Mungkin iya, atau tidak.
Setelah hampir lima belas tahun dan aku tumbuh menjadi perempuan yang cukup
dewasa untuk mengerti ‘hidup’. Nana tiba-tiba pulang, nana pulang. Ia tampak
sama dengan tubuh yang lebih tinggi dan cantik, matanya yang bulat hitam,
rambutnya yang sebahu, tubuhnya yang mungil, dan wajahnya yang tirus. Apakah nana
masih menjadi nana yang dulu? Jawabanya tidak tau.
Nana kembali, namun dengan penampilan yang berbeda. Nana nampak lebih
modis, lebih stylist, lebih cantik, dan lebih pendiam. Ketika pertama kali kami
bertemu, nana bahkan tidak memberikan senyum ramahnya seperti dulu, hanya
berlalu seakan memandangku asing. Apakah nana tidak mengenalku? Bahkan aku tak
banyak berubah, hanya sedikit lebih dewasa.
Nana tidak lagi sama, dia berubah menjadi gadis yang berbeda. Nana hanya
bergaul dengan anak-anak kelas pejabat atau pengusaha, hanya tersenyum kepada
orang-orang cantik dengan penampilan yang modis dan stylist, nana tertawa dan
bermain pada anak-anak berduit dan bergengsi. Nongkrong di
restaurant-restaurant mewah, cafe-cafe elit, dan dengan barang-barang branded
dari ujung kepala hingga kaki.
Kami tidak lagi saling bercerita layaknya sahabat baik, tidak lagi bermain
dan tertawa bersama, tidak lagi berbagi snack atau bertukar stiker, waktu
berlalu dan segalanya berubah. Bahwa hidup yang sekarang menuntumu untuk
menjadi berkelas, bahwa hidup di zaman sekarang berlomba-lomba memperlihatkan
setiap detil yang kamu miliki adalah nomor satu. Hidup yang sekarang
mengharuskanmu untuk berteman, bermain dan berkawan pada tempat yang sama,
kepada strata yang sesuai.
Apakah nana akan ingat ketika suatu hari jika kesempatan datang dan kitaa
akan duduk bersama, membicarakan masalalu, bercerita masalalu? Apakah nana akan
turut tersenyum dan bahagia ketika kuceritakan bahwa dulu kita menangis dan
ketakutan bersama? Entahlah..
Kamis, 02 Juli 2015
If you
Jika Dia berkata
iya dengan segara,
Maka kamu akan
diam ditempat selamanya
Jika Dia segera
membuat semuanya nyata,
Maka kata sakit
tidak akan mengajari dan bermakna..
Jika kamu hanya
diam dan tidak melakukan
Jika tiba-tiba
dunia berputar dan kamu sadar
Tetap berada di
tempat yang sama,
Merangkaklah
keluar dengan segenap tenaga,
Berusahalah
menjadi berbeda
Jangan berhenti
bernafas,
Jangan lelah
menjadi sakit dan bangkit lagi dan lagi
Jika kamu terus
begitu
Jika kamu tak
mengubah itu
Maka kamu akan
tiba di tempat yang lagi-lagi sama
Dengarkan aku
Tuhan,
Bahkan hanya
sepintas selalu
Aku ingin
membangun mimpi-mimpi indah itu
Aku ingi hidup
diantara senyuman, cinta dan kebahagiaan
Yang dimiliki
semua orang
Jika kamu..
Jika kamu..
Lihatlah semua
hal yang kupunya,
Lihalah seberapa
lebar senyumku mengembang,
Lihatlah aku yang
begitu bahagia,
Lihatlah semua
orang mencintaiku,
Aku..
If you..
If you..
Lalu aku
menghembuskan nafasku lagi, dengan berat
Ini adalah ‘jika’
dan ini bahkan belum dimulai
Jika aku, jika
kamu, jika kita
Akan menjadi
sebuah kisah yang indah dan bahagia
Maka jadilah
seperti itu dengan segera,
Dengan sentuhan
keajaiban-keajaibanmu.. kumohon segera
Jika kamu..
Jika kamu..
Jika kamu datang
pada saat yang tepat nanti,
Maka aku akan
menyambut dengan segala yang kupunya,
Dan kita akan
bahagia bersama, bersama..
Jangan lari,
berhenti menghela nafas
Hanya menjalani
hidupmu
Ia akan segera
menolongmu, dengan keajaibanya
Jangan sembunyi,
lihatlah semua akan membaik
Berhenti menangis
dan coba tersenyum dengan cantik..
Langganan:
Postingan (Atom)