Senin, 22 Juni 2015

Dear sahabat terbaikku sepanjang masa,


     hallo nerd! hahaha pasti marah dan dalam hati mengumpat saat kuucapkan kata begitu. ini adalah jawaban atas kata-kata yang luar biasa panjang yang bisa kutanggapi dengan pertanyaan-pertanyaan bodoh seperti "lalu","bagaimana" dan "kenapa". hanya satu yang kusesali, bagaimana bisa kita menjadi sama.. setidaknya harus ada yang memiliki masalalu yang sempurna satu diantara kita berdua. yaa.. aku tidak bisa membantu banyak, hanya membaca kata demi kata yang kau-ucapkan melalui pesan-pesan singkat masa kini, dengan banyolan yang seadanya, dan jarak yang memisahkan.

     sampai saat ini, hal ini akan selalu jadi penyesalanku.. bagaimana bisa aku tak melakukan apapun?bagiamana bisa aku tak berdaya atau membantu bahkan hanya setitikpun? bagaimana bisa bahkan kamu tidak bisa menitihkan airmata karena terlalu beku? bagaimana bisa aku hanya menagis bodoh dari kejauhan karena ikut merasa perih? bukankah kita tak cukup layak untuk ini..

     jangan marah karena kusebut "nerd" itu tidak berarti apapun, aku hanya menonton suatu reality show dengan bintang tamu seorang blogger yang memilliki penampilan yang 'berbeda' dan mc menyebutnya "nerd". dia tidak marah, dia berbeda.. dan ketika sejuta manusia pun dimuka bumi akan memaki dan berkata apa, dia akan bahagia menjadi 'dia' tapi tidak berarti kamu tidak berubah. nerd yang kuucapkan hanya banyolan, berehenti berfikir ratusan kali karena kata itu dan jangan marah!

     kenapa kamu harus begitu? kenapa kamu harus ikut jadi salah satu koleksi luka dihatiku, bagimana bisa kamu jatuh? tau, betapa aku bangga karena mimpi-mimpimu? tau, betapa aku iri melihatmu yang terus melangkah maju bahkan ketika itu gulita dan keruh? bagaimana bisa kamu rapuh?

     aku bahkan berfikir untuk pergi ketika kamu bercerita mengenai ini dan itu, aku takut juga ikut menjadi sakit. oh iya.. aku bahagia akhirnya kamu bisa bercerita seolah aku benar-benar sahabatmu, kamu selalu memberi jarak, bahkan ketika aku sudah memberitahu semua hal yang kupunya kepadamu, dan kamu hanya tetap menyimpan segala apapun itu untuk hatimu sendiri. terimakasih.

    hanya sesaat, beberapa detik dan kemudian aku sadar. aku ingin lari ketika kamu bercerita dan aku ikut menangis, kau tau duniaku.. aku hanya tidak ingin lebih sakit, karena sahabatku juga terluka.. seperti kataku tadi, setidaknya harus ada yang memiliki masalalu yang luarbiasa diantara kita. namun ketika aku tersadar, aku merasa sangat jahat, dan merasa payah sekaligus. apa yang bisa kulakukan untukmu? aku bahkan tidak bisa melihat luka yang menganga dan lebar disana, aku juga bukan penghibur yang menyenangkan, atau si baik hati dengan sejuta kebijaksanaan, aku hanya seorang pendengar yang kaku kan?

     apapun itu.. aku tidak mengubah cara pandangku padamu, sedikitpun. jadi jangan malu untuk berkata jujur dan membuka hatimu, dan sesekali harus belajar memahamasi situasi, kau kadang-kadang berubah menjadi STICH dan itu menyebalkan, seakan ingin kutarik keluar semua pita suara yang kau-punya.. jangan mrah lagi, aku bercanda stich! ;)

     aku ingin kita bertemu dan berbincang lebih sering seperti saat itu, namun kau sendiri akan mengerti situasi luar biasa di rumahku ini, aku juga ingin banyak membantu seperti yang kaulakukan dulu, setidaknya temanmu bercerita, namun terkadang situasi dan waktu tidak pernah berjalan seiring. hanya ingin kau tau, aku selalu disini dan siap untuk menjadi pendengar yang baik.

    jangan menyerah. karena itu adalah satu-satunya jalan untukmu berhasil, entah mengapa aku percaya. dan.. mari kita menjadi sahabat selamaya, jangan mengumpat dalam hati sekarang! kau pasti sedang berkata sesuatu :( mari kita saling bersahabat sampai ajal memisahkan, jangan menyerah padaku, dan aku juga tak akan melepaskan tanganmu, katakan apapun yang mau kau katakan, ceritakan apapun jika itu memang terlalu sakit untuk disimpan sendiri, dan... menangislah! berlajar menangis, berlajar mencair, belajar lebih hangat. mencintai tak harus kau se-tegar batu dan tak bisa hancur..

     tidurlah nyenyak dimalam hari, jangan kuatir atas apapun, percayalah kepada Tuhan lebih dari apapun bahwa Tuhan ada, bahwa Tuhan punya rencana, jangan takut ditinggalkan, jangan takut disakiti, dan mencintailah sebanyak yang kau mau, percayalah semua orang mencintai dan itu sangat wajar. berehenti hidup dimasalalu, berhenti menjadi sakit dan trauma akan masalalu, dan jangan jadi korban atas pertengakaran siapapun lagi, kau pantas bahagia. kita semua mencintai dan ingin melindungi orang-orang yang kita cintai namun dengan cara yang benar. jangan menjadi sakit seorang diri lagi!

bahagialah..

    selamat orang tahun nerd! stich! uri chingu, my best friend atau orang bagiaan manapun yang menyebut sahabat dengan apapun.. jadilah lebih bahagia, tercapailah semua cita-cita sederhanamu, bertemulah dengan cinta yang akan membuat hidupmu berubah, jadilah kamu lebih baik, lebih menawan, dan mari kita selalu berbagi cerita..

Senin, 15 Juni 2015

Berhenti

Nanti, akan ada kalanya ketika kamu tau dimaana harus berhenti. Akan ada kalanya kamu menyadari bahwa kamu hanya seorang diri. Akan ada kalanya ketika kamu merasa bahwa seluruh dunia membenci akan hadirmu.

Sepi, lelah, dan hancur seorang diri.

Nanti, akan ada masanya ketika bahkan keluargamu tak berada dipihakmu untuk apapun. Kala ketika kamu bahkan tak percaya siapapun, saat ketika bahkan kamu tidak memahami jawaban dari pertanyaan ini dan itu.

Apakah kamu ingin lari? Apakah kamu ingin sembunyi?
Hanya ingin tiba-tiba menghilang dan memulai semuanya sendiri?
Bukankah dunia sangat kejam?
Dan dirimu sangat naïf?

Jangan menangis, karena tidak akan ada yang mendengarkan. Jangan marah, karena semua orang tidak akan mengerti dan kamu akan menjadi salah besar. Jangan lari, tidak akan ada yang mencari. Iya kamu hancur seorang diri, iya kamu seorang diri.

Hanya berenti, sejenak.
Tidak perlu lelah dan semakin lelah, bahkan tidak akan ada yang peduli,
Kamu bagai tak bermakna, tak berarah, tak berakhir dan berawal.
Iya.. jangan menangis.

Pahami saja seorang diri, bermain-main saja dengan imajinasi. Berdoalah, memintalah untuk semuanya, kesalahan bukan berarti kamu hancur. Sedikit lagi, jangan lupa untuk membuka matamu lagi dan bangkit. Jangan lupa untuk kembali tersenyum dan berlari. Semua akan berlalu, masa-masa sulit akan segera menghilang, kehidupan yang bahagia dan manis akan datang. Berhenti menjadi lelah, kelak kamu tidak akan rela bahkan untuk tidur karena bahagia. Jadi percayalah..

Jadi jangan menyerah. Jangan pernah lupa, bahwa kamu sudah berjalan sejauh ini. Liat semua sakit, perih dan sendiri yang kau lalui, ingat berapa banyak airmata yang sudah jatuh hari-hari kemarin. Bahwa Allah adil bukan hanya sekedar kata tak bermakna yang mengambang diudara, bahwa Allah ada bukan sekedar angan-angan dan bayangan yang hilang setelah habis masa, bahwa setiap kata demi kata dalam doa kita hanya mengambang diudara dan tidak pernah didengar, ada.

Jika hari ini sulit, maka cepatlah berakhir wahai masa-masa sulit dan datanglah masa-masa yang indah dan penuh dengen bahagia. Jika kamu sendiri dan tak dimengerti, maka datang lah segera mereka-mereka yang siap mendengarkan dan menemani selamanya. Jika ini melelahkan, maka hari-hari yang indah nan bahagia akan segera tiba. Jika cintamu hanya terisi sebelah dan tak pernah penuh, maka akan ada yang datang dengan caranya yang indah, dengan hangatnya, dengan cinta yang seutuhnya untuk mengisi setiap kekosongan hati itu. Jika kekurangan akan hal-hal membuatmu rapuh dan bagai tak berarti, maka akan segera datang dimana kamu memiliki segalanya dan berbagi. Jangan hancur seorang diri, jangan menyerah setelah sekian lama sakit dan perih menjadi bias, jangan berhenti walau stiap detik untuk percaya.

Kamu akan dapat bagiannya, kamu juga akan merasakannya, kamu akan bersyukur karena telah merasakan segalanya, kamu akan menang dengan seutuhnya, kamu! Saya..


Senin, 01 Juni 2015

Hallo sepi! Apa kabarmu hari ini? Apakah masih tetap sama? Aku masih lirih dan masih setia kau temani, aku juga masih rindu bercampur ceria dan candu yang kau taburi. Apa kabar garis hidup? Apakah Engkau menuliskan sesuatu yang baru, Tuhan.. aku masih menunggu, dan enth mengapa aku tak akan lelah beroda untuk hari-hari yang baru.

Taukah Engkau Tuhan? Aku bahkan tak memiliki bayang-bayang atas jalan yang terbentang didepanku, masih gulita dan semu. Dijalan yang bahkan semua orang telah menyadari harus melalui yang mana, harus berhenti dimana dan harus mengejar saat apa.

Aku ingin membunuh waktu, hingga tak lagi harus lara dan senduh menunggu. Aku ingin membunuh waktu, sehingga aku akan cepat melalui jalan batu dan keruh. Aku ingin membunuh waktu, hingga cahaya dan bayan itu semakin jelas memenuhi setiap ruang kehidupanku.

Apakah akan membaik? Apakah sama seperti mimpi-mimpiku? Bagaimana jika aku hanya diam disana? Tak berarti apa-apa. Bantulah aku u

Rabu, 13 Mei 2015

fly away

Aku sudah mengerti bahwa semua ini akan terjadi, sedikit tergambar jelas disana. Menghindar? Sudah aku coba lakukan, tetapi mengihindarimu bukan hal yang mudah. Begitu aku mundur satu langkah, maka kamu akan maju sepuluh langkah, ketika aku berbalik menjauh, maka tanganmu akan dengan erat mengengam. Lalu apa yang harus  kulakukan dengan semua itu? Apa yang harus  kulakukan dengan kenangan kamu yang bergutik terus-menerus didalam fikiran saya? Bagaimana bisa kamu hilang begitu saja seperti memori didalam handphone saya yang rusak. Aku tidak bisa. Masih akan jadi tanda tanya besar, apakah aku akan berhasil move on melupakanmu hingga ke bagian-bagian terkecil.

“kita putus! Jangan cari aku lagi, kamu ga perlu ngapa-ngapain, kita cukup saling diam ditempat, dan saling ngelupain”. Aku ingat saat kata-kata itu kuucapkan dengan fasih dan lancar, seiringnya hatiku merasa lega dan akan terlepas dari luka mandalam. Namun kamu tidak mudah menyerah untuk hal-hal yang kamu miliki kan? Tentu saja. Berhari-hari menunggu didepan rumah, mencariku kemana-mana, bahkan dengan perban yang masih basah, yang melingkar di tubuhmu. Dan aku menyerah, aku tak  bisa melihatmu merintih menahan sakit dipungungmu yang tak lama terhempas kejalanan aspal tebal. “aku dirumah bunda sarah” pesan singkatku yang kukirimkan kepadamu kemudian.

Tak lama kemudian kamu sudah berada didepan rumah, berdiri dengan tampilan lusuh, kacau. Aku datang mendekatimu dan kamu seperti anjing kecil yang bertemu kembali dengan tuan pemiliknya. Kamu memelukku erat, merasa lega. Kulepaskan pelukanmu, kutatap kamu dalam-dalam.

“bagaimana bisa Cuma beberapa hari dan kamu jadi begini?” kataku sembari merapikan kerah dibajumu yang berantakan.
“jangan tinggalin aku makanya” dengan nada manjamu seiring dengan tangamu yang membelai rambutku yang terurai.
“kita kan sudah putus” jawabku ketus
“apa yang salah? Kenapa?” nadamu mulai berubah marah
“bosen, mungkin..” jawabku seiring membelakangimu
“bohong! Saya kenal kamu by” deka menarik tangaku lagi, membuat mataku memandang dalam kedua bola matanya.
“kamu mau saya bilang apa ka? Saya nyerah.. itu aja”
            “saya salah apa by? Setidaknya kasih saya kesempatan buat minta maaf”
            “kamu ga salah apa-apa, saya yang salah” jawabku tanpa ekspresi, deka diam. Memandangku dalam-dalam, menunggu sebuah penjelasan.
            “saya belum siap buat kehilangan kamu dek, kemarin saya liat kamu patah kaki didepan mata saya, kemarin saya liat badan kamu terhempas ke aspal, diperban, msuk rumah sakit, merintih lagi, minum obat lagi, berkutik dengan jarum infus lagi, terapy lagi, tapi kamu akan tetep dateng buat latihan, semua orang bakal nerriakin nama kamu, kamu bakal semakin cepet dan cepet dan entah besok saya akan liat apa yang akan terjadi sama kamu” jawabku lirih, deka mandengarkan
            “saya tau balap hidup kamu, saya tau kamu suka semakin cepet. Kayak terbang bebas ya? Tapi saya ga siap ambil resiko bisa kehilangan kamu tiap detik, didepan mata saya, saya ga sekuat itu. Saya juga ga bisa kasi kamu pilihan balap atau saya, karena saya tau balap itu hidup kamu, jiwa kamu. Saya bahagia banget liat sususan piala dan hadiah yang kamu dapet setiap kali kamu menang, ngeliat senyum kamu yang udah ga berenti ngembang, demi apapun saya berharap kamu terus gitu. Tapi itu ga setimpal dengan resiko yang kamu tanggung, saya ga bisa” deka menatapku, tanpa suara. Mencoba memahami yang kukatakan
            “saya ngerti. Kalo gitu, kita sampai disini aja” kata deka kemudian, seiring dengan berlalunya deka.

Aku mengerti, dan kurasa dekapun begitu. Setelah mendengar kata-kataku, deka berlalu begitu saja. Hampir dua bulan tidak ada kabar selain dari televisi ataupun surat kabar, deka memanangkan race-nya tingkat nasional dan untuk pertandingan berikutnya akan ber-skala internasional diluar negri. Aku ikut bahagia karena mimpinya menjadi kenyataan. Di dalam hati aku selalu berdoa untuknya.

Beberapa minggu sebelum keberangkatan deka untuk latihan diluar negri. Deka menekan bel apartemenku, datang kepadaku. Pagi itu aku hanya sedang membuat sarapan pagi ketika deka datang dengan sebuket bungga berwarna pink cantik. Aku tersenyum dan mempersilahkan deka masuk, deka duduk dan kukira kami hanya akan saling berbicara sebagai teman.

            “saya akan berhenti” kata deka tiba-tiba mengagetkanku
            “by, saya bisa gila! saya marah ketika kamu bilang kayak gitu waktu itu, kamu tau race dunia saya, satu-satunya jalan saya buat bisa bebas, tapi ini jauh lebih buruk kalo hidup saya ga ada kamu. Saya kira saya akan baik-baik aja, race saya berjalan lancar, tapi otak saya ga bisa berhenti mikirin kamu, semakin saya mikirin kamu, saya semakin ingin terbang lebih jauh.. buat ketemu kamu. Kasih saya kesempatan” Aku berhenti memasak, dan datang mendekati deka. Memeluknya yang nampak hancur.
            “biarin ini jadi yang terakhir by, biarin aku buat salam perpisahan buat motor dan dunia balapku, aku janji ini yang terakhir, janji!” kata deka kemuadian
            “yang terakhir dan setelah ini kamu bakal diem-diem di samping aku, cari hobby yang lain, cari kerjaan yang lain?” jawabku
            “iya janji!” seraya senyum deka kembali mengembang.

Kudengar bahwa latihan deka berjalan lancar, di minggu-minggu terakhirnya dia masih menelponku bercerita banyak hal, satu halyang masih kusadari dengan jelas, deka sangat mencintai dunia itu, dunia yang bisa merenggut nyawanya kapan saja, setiap detik. Sebelum hari terakhir deka bertanding, sepanjang malam dia berbicara kepadaku, hmm.. iya, aku tidak ikut ke jepang untuk melihat pertandinganya, deka tidak ingin aku datang “jangan terluka by, saya bisa lebih sakit” katanya kala itu.

Malam itu deka berbicara mengenai orang-orang baru yang ia kenal melalui dunia balap, dia bahagia sekali. Didalam hati aku menyesal memberinya kesempatan, karena kusadari betapa ia bahagia tinggal didunianya. Tapi hatiku semakin gelisah, ketika deka mengakiri pembicaraan dengan berkata “saya akan terbang lebih tinggi besok, saya janji ini akhir!” aku semakin merasa gelisah ketika senyum nya di balik video call terasa jauh lebih hangat dari biasanya.

Hari itu tiba, aku bangun pukul delapan. Pertandingan deka dimulai dipagi hari. Aku hanya bisa melihat dan menunggu lewat layar televisi, namun tidak kulakukan. Detik demi detik waktu kuhabisakan dengan berdoa didalam hati dan membuat sesuatu, setidaknya dengan memasak aku bisa sedkit lupa. Kala itu ada beberapa teman dekatku di apartement, mereka sibuk berbincang dan bermain game, tia dan nita menemaniku memasak. Kumohon, buat aku lupa. Tak lama kemudian telfon berdering, sam mengangkat telfon, diam sesaat. “by, sini” kata sam memanggilku dengan nada rendah. Kuterima telfon itu “hallo..” aku mendengarkan orang diseberang sana berbicara pajang lebar, mengenai ada sedikit masalah mengenai deka, pertandinganya sedikit kacau, ada tabrakan beruntun yang memakan banyak korban, salah satunya deka. Aku diminta segera menyusul ke jepang dengan penerbangan pertama. Seketika semua menjadi pilu, aku hanya terdiam membisu. Tia dan nita membantuku membereskan pakaian, sam dan joy memesan tiket, mereka berjanji akan menemaniku ke jepang. Di sepanjang perjalanan aku hanya diam, tidak ada air mata, tidak ada kata-kata, hanya berdoa, “kumohon Tuhan, beri aku kesempatan, biarkan aku menemaninya”.

Ketika aku dan teman-temanku tiba di jepang, om john manager deka sudah menunggu kami, ketika om john datang ke arahku, aku kalah. Aku terjatuh dan menangis haru, berkata berkali-kali bahwa ini adalah mimpi atau semacamnya. Tak lama kemudian kami tiba dirumah sakit, deka koma. Beberapa tulang rusuknya patah, kakinya diperban, infus menusuk setiap bagian tubuhnya, sekarat.

Aku memandangi tubuhnya yang terbaring lemah dari balik kaca ruang ICU, dia nampak tenang dengan segala alat yang membantu nafasnya. Harus kuapakan rasa sakit ini, sayang? Harus kubuang kemana rasa perihnya? Kamu berhutang maaf dariku, dan kamu juga sudah berjanji..

Seminggu sudah ia dirawat, dan tidak ada tanda apapun yang membuat semua orang berhenti untuk khawatir. Sejak hari pertama ia terbaring lemah disana, tak sekalipun aku masuk untuk melihatnya langsung kedalam icu, hukuman untuk dia yang tidak pernah mendengar kata-kataku.

Pagi itu salju turun di jepang, kulihat putihnya dari balik jendela kaca rumah sakit, deka tau bahwa betapa aku menyukai butiran es berwarna putih ini, namun hari ini aku membernci salju itu, nampak dingin dan membeku. Dari balik pintu kudengar pembicaraan dokter dan kedua orangtua deka, kudengar deka akan dipindahkan ke jakarta dekat dengan keluarga, kenapa? bahkan ketika dia belum sadar dari koma dan harus kembali? Karena.. samar-samar kudengar dokter mengatakan bahwa hanya ada sedikit harapan untuk hidup, jika keajaibanpun terjadi dan deka sadar maka ia tidak lagi bisa berdiri dengan kedua kakinya, dan aku tak deka membenci hal itu.

“hai!” kulihat deka duduk dikursi dengan senyumananya, aku mendekati deka dan meraba wajahnya, dia hangat.. dan seketika aku menangis,
“kenapa..? jangan nangis ah, jelek” kata deka lagi, dan aku masih diam memandang wajahnya dalam-dalam lalu memeluk erat dia.
“salju by, kamu suka kan?” kata deka seraya memandang ke luar jendela, aku masih diam dan menangis dalam pelukannya
“maaf by, maaf” kata deka kemudian seiring dengan memandang wajahku pekat, tanganya yang tadi menyentuh wajahku hangat mulai menjadi dingin dan terlepas.

Tiba-tiba aku terbangun. Itu hanya mimpi, aku tertidur di ruang tunggu. Ku pandangi disekitarku, semua orang tertidur lelah dan ini sudah larut malam. Aku berjalan keruang deka, ia masih disana, juga tertidur lelap. Aku masuk kesana, mendekat ke arah dia yang terkulai lemah, mengengam tanganya, tangannya masih hangat, jari-jarinya masih sama seperti dalam ingataku, dan aku menangis.

            “jangan menunggu, aku baik-baik aja.. kamu boleh pergi kapan aja sayang, liat jarumnya tambah banyak, selangnya nambah lagi, lama-lama kamu jadi robot” kataku seraya mengengam erat tanganya,
            “jangan sakit karena aku, kamu boleh terbang sejauh yang kamu mau.. jangan menunggu, aku lebih suka kamu ngelepas semua ini dan pergi ka.. jadi ga ada rasa sakit lagi” dan tangisku pecah dipelukannya.
Tiba-tiba tangan deka mengengam tanganku, bergerak. Ketika aku bangun dan melihat, deka bangun matanya yang nampak sayu memandangku dan tersenyum manis, aku berlarian memangil dokter, dan keajaiban datang, deka sandar dan ia akan segera baik-baik saja.

Deka duduk di ranjangnya, kedua orangtua deka tidak henti-hentinya mengucap syukur dan menangis, aku hanya melihat dari balik pintu ketika deka mengangkat tanganya, meminta kusambut. Aku mendekat dan memeluknya, dia tersenyum dan kembali memeluk maja.. “i’m back” katanya kemudian. Sudah dua hari deka sadar, namun para dokter belum memperbolehkan deka pulang. Masih ada serangkaian pemeriksaan dan oh iya.. deka baik-baik saja, ia berjalan kesana kemari memutari rumah sakit sesuka hatinya. Dia tampak bahagia, dan ia kembali seperti deka yang dulu aku kenal, lucu, hangat, periang.

Hari ketiga setelah ia siuman, ia duduk ditaman rumah sakit memandangi anak-anak sedang bermain bola, menghela nafas panjang. Ketika aku mendekat dia mengapai tangganku, mengengamnya erat.

            “kamu tau kenapa aku sadar?”
            “karena kamu emang harus sadar buat aku, kamu kan baik-baik aja” seraya aku membelai wajahnya
            Ia mengeleng pelan “karena aku mau nepatin janji!” aku terdiam bingung
            “aku kembali, buat kamu.. aku minta waktu buat kembali ke kamu dan aku disini” dia tersenyum
            “tapi.. kalo aku ikut pertandingan selanjutanya di eropa boleh ya?” kata deka kemudian,
            “oke kita putus!” jawabku..
            “aaaaaahhh, ayaang..” dan kami bercanda sepanjang hari

Ketika malam tiba, di ingin aku tidur didekatnya, tanganku ia gengam erat. Kulihat dia tidur dengan nyenyak, senyumnya masih mengembang. Ketika pagi datang, kulihat ruang inap sepi, deka tidak ada, semua orang sibuk berlarian, nafas deka terhenti, dia tidak lagi terasadar dengan senyum hangatnya, ketika para dokter melepaskan segala alat bantu dan menyebutkan jam dan hari, deka benar-benar pergi.

Taukah kau? Orang berkata ketika seseorang yang sudah koma lebih dari tiga hari, ia akan bermimpi panjang, didalam mimpinya ia akan bertemu dengan orang-orang yang ia sayangi, lalu pelan-pelan mengenal mereka dan rasa cinta orang-orang tersebut kepada dirinya, lalu ia akan diberi sebuah harapan oleh Tuhan, apakah keajaiban atau kesempatan. Deka.. ia mendapat kesempatan, ia sadar untuk beberapa hari, memeluk kedua orangtuanya hangat, mengukir senyum di wajah teman-teman yang menunggunya siang dan malam, dan menepati janjinya kepadaku. Dia kembali, dan aku lupa untuk membuatnya berjanji kepadaku agar ia tak pergi lagi. Dia sudah benar-benar terbang tinggi.


                         Untuk kamu yang bersembunyi dibalik awan putih di atas sana,
                         Apakah kamu bahagia! Ya.. sana terbang sepanjang waktu!
                        Saya mencintai kamu, bodoh.. 

Minggu, 10 Mei 2015

what should i do?

sakit. terkadang batinku bertanya dalam diam, meringis seorang diri. kenapa seseorang yang sudah melakukan segala hal yang terbaik ia miliki bagai hilang dan berlalu begitu saja, tak telihat? dan seseorang yang tak melakukan apapun mendapatkan senyuman hangat dan ucapan terimakasih?

untuk seseorang yang ku perlakukan amat sangat baik, tega dia mengkhianati dengan mulutnya yang kejam, mengores kepercayaan dengan kata-katanya yang sederhana. ternyata mulut yang ia gunakan membicarakan orang lain, juga menjadi senjata untuk menghancurkanku.

untuk sahabat yang katanya rela berkorban dan mengerti dirimu lebih dari siapapun, dan saya tercengang dengan perlakuan luar biasa-nya yang diluar nalar, pengorbanan yang kau lakukan, penantian dan segala yang kamu berikan ternyata bukan apa-apa jika dibandingkan dengan hanya menunggu beberapa menit saja.

untuk teman yang berbagi bahagia, apakah pertahananmu runtuh? apakah ucapan tegas dengan segala kepercayaan dirimu hilang ditelan masa? hingga kau coreng dengan sendirinya prinsip dan tujuanmu.

apa yang harus kulakukan, aku menjadi semakin menggila. kurasa dinding-dinding kamarku mulai bercerita mengenai dunia luar, kurasa aku mulai takut dengan sinar matahari, kurasa aku tak sekuat dulu untuk meghadapi orang-orang yang kejam. kurasa aku semakin menjadi dengan angan yang semakin jauh melayang dengan sejuta impian palsu yang akan dari kenyataan. apa yang harus kulakukan? kalian terlalu kejam untuk ku hadapi dengan nalar biasa dan hati yang rapuh. aku hanya akan tersenyum, marah sesaat dan mengadu. si bodoh.

aku ingin keluar dari sini, betapa aku ingin jauh dan mengenal dunia belahan yang lain. melihat sisi-sisi yang tak pernah kusentuh, mendengar hal lain dari sekedar berebut kaya, tenar dan kesempurnaan. ini membosanakan. namun hatiku seakan mati tak bedaya, tak kutemukan yang kuinginkan, tak kupahami yang kucari dan bahkan tak kumengerti diriku sendiri.

kenapa aku tak se-sempurna dahulu? ketika matahari adalah sahabat lekatku, ketika mentari yang tak berhenti membasahi tubuhku dengan keringat lekat membanjiri dan aku bahagia, ketika setiap hari dipenuhi dengan luka baru dan cerita baru lalu aku jatuh dan bangun lagi. memiliki tujuan, memiliki impian.

apa yang harus kulakukan, bahkan ketika tak ada satupun sinar yang menujukkan padaku untuk dilalui atau aku bahkan tak berusaha pergi kemanapun? aku mati, hatiku sunyi, fikirku lenyap. tak berpenghuni. menjadi marah tanpa alasan, tersingung akan hal-hal kecil, tak berprasaan. kenapa tak Engkau kirimkan apapun padaku? ohh iya, aku bahkan tak meminta, entah mengapa tak kulakukan. Aku seolah bermimpi, seolah mengingini namun tak bergerak dari tempatku, ku ingin Engkau mengerti tetapi aku bahkan tak tau mauku, menjadi pilu.

Apakah terangmu masih berpengaruh padaku? Apakah berkat dan rahmatmu masih bisa menjamah orang sepertiku? Ku yang tak tahu diri ini masih menunggu, masih berharap, masih diam-diam berdoa didalam hati kecilku. Bahagia itu, akhir yang indah itu, kebahagiaan sebenarnya itu.. bolehkah aku juga tau bagaimana rasanya, akan kujaga sebaiknya.

                  Tidak, aku belum menyerah.. Engkau masih tetap tempatku
                 Meminta..
                 Tidak, aku belum lelah.. aku masih percaya, Engkau ada..