Sabtu, 13 Februari 2021

Goodbye

 well, i think this is it. 

I never regret that you be my first. I think i spend most of my life to think about truthly love and how happy i’m if that is you. But we, only human who make draft just like we want. Not the reality or noor what will happend next. 

Kamu, akan tetap pada rotasimu

Aku, akan tetap pada rotasiku

Kita berputar pada realitas dan keaadaan yang berbeda, hidup pada hidupmu dan aku menjalani hidup pada hidupku 

All i wanna say is, thankyou. 

You still there, absolutely. Because you my really first. And until from i don’t know when, you will always had a special space. 

I’m not dissapointed. Because i’m sure God has own story. For me nor you. 

I’m done. 

Sabtu, 30 Januari 2021

Rasionalitas dan hati yang seiring jalan

 Terkadang menemukan bahagia bukan berarti kamu harus pindah, terus mencari, menemukan sesuatu, ataupun berubah. Menyadari sesuatu yang ternyata punya arti yang lebih lalu bersyukur bahwa kamu sebenarnya punya banyak sekali kesempatan yang di kasi Tuhan buat kamu.

Diam di tempat yang sudah di penuhi kelimpahan. Hanya jika kamu bener-bener sudah paham, arti kelimpahan sebenarnya. Orang-orang yang tidak akan pernah berhenti dan capek buat memami kamu, yang akan selalu menerima kamu lagi dan lagi bahkan ketika kamu berbuat kesalahan yang sama lagi dan lagi juga. Mentoleransi setiap sakit hati dan kesalapahaman setiap tingkah laku. Juga bentuk cinta.

Ada yang patah dan jatuh berkali-kali tapi tetap bangkit. Bukan bangkit sebenarnya hanya lebih mentoleransi bahwa gagal juga bagian dari hidup.lalu balas dendam dengan coba lebih tegar lagi. Ada yang kecewa dari ekspentasinya yang tinggi lalu lari dengan label kekosongan. Itu juga bagian dari toleransi hidup, biarin aja toh besok dia akan bangun dari tidur dan ga punya pilihan lain selain tetap pada porosnya. Setelah pemikiran dan andai yang panjang dia akan sadar, bahwa ga seburuk itu apa yang sudah jadi garis Tuhan kan.

Menentang dan marah itu satu jalur, emosimu sama orang lain beda. Rasional pake hati dan sepenuhnya rasional juga punya akhir yang pasti jauhh beda. Ga ada yang salah, beberapa orang hanya memilih. Tetap pada pilihanya atau nanti berubah memilih lagi.

Ketika di injak, dipukul dan tertinggal kita marah. Tapi dengan caranya masing-masing dan dengan kadar toleransinya masing masing juga. Kalo menurutku, sertakan hati biar jadi lebih lega kalo pilihanmu salah. “aku sudah pake hatiku, dan ga menyesal”. Tapi gamudah juga, kan lagi marah.

 

Cara orang mencintai beda-beda. Ada yang dengan membentak dan kasi benteng kuat. Ada yang ngurung dengan penjagaan ketat. Ada yang ikut senang ketika yang di cintai bisa jadi maunya. Ada yang menentukan yang terbaik demi yang di cintainya. Ada yang di pelihatkan. Ada yang di simpan baik-baik. Ada yang terlihat bahkan hanya sekilas, ada juga yang harus di gali sampai ke kedalaman tertentu. Gapapa, semua bentuk cinta. Masalahnya terkadang orang bingung atau salah menerima cinta itu gimana. Manusia cenderung egois, dengan berfikir apapun yang kufikirkan benar sebelum mau mengerti duluan bahwa yang di kasi harus di terima dulu. Aku juga begitu, dan mungkin beberapa orang sama.

Yang terakhir. Cinta dan kasih sayang itu dua hal berbeda. Cinta itu egois. Ingin memiliki, menguasai, rakus, mengebu-gebu dan kuat. Yang kuat bisa jadi lemah, yang jarang mentoleransi jadi sering bilang gapapa, yang terbiasa membentak harus mendem amarah. Tapi Cuma yang benar-benar cinta yang tau caranya ikhas.

Sayang adalah serpihan dari cinta. Sayang tidak memaksa atau harus memiliki. Sayang adalah kebebasan, tapi tidak punya ikatan kuat. Sayang ngebiarin apapun atau siapapun itu jadi yang mereka mau. Tapi sayang tidak punya arah, tidak punya akhir, tidak bisa meng-ikhlaskan.

Kamis, 28 Januari 2021

Teori limit-ku

Kedalaman hati seseorang memang luar biasa. Gabisa di tebak, gabisa di ukur dan kadang gabisa di pahami pake nalar. Memami itu ga selamanya jadi benar, menebak dan memahami kadang hampir jadi satu arus. Dan sebaliknya, memahami bisa berbalik jadi di ajari. Hal terunik yang selalu aku temukan dari orang seperti kamu.

Bening, dan kokoh. Walaupun isi kedalamanya penuh dengan retakan. Mudah di isi, dan mudah di kuras bersih. Bisa memukul dengan keras, bisa bercermin dengan jernih, bisa berbalik dan mengajari. Dan terasa semakin jauh di pahami.

Jauh di sudut, ada tempat kelam dan hitam tak tersentuh dan hanya aku yang boleh masuk ataupun menguasainya, tanpa di ketahui atau tidak pernah di tunjukan kepada siapapun. Tapi kamu menemukan ceceran-nya. Tidak untuk di masuki, hanya menemukan hal-hal yang seharusnya tidak untuk di ketahui.

Sedalam itu pemahamanmu.

Tidak ada yang salah, dan benar. Semua hanya ambigu. Semua hanya “the things” yang sulit di pecahkan rumus dan akar muasal-nya.

Tapi hatiku jadi sesak, dadaku jadi sakit dan tertahan. Seakan takut di ketahui, atau takut di renggut. Hanya karena seorang yang jauh. Yang bahkan tidak secuil dari hidupku.

Jalan terbaik menurut versiku, dan jalan yang kamu pilih. Semoga suatu saat kita bertemu di satu titik dan koma. Untuk saling tersenyum bahagia. Itu saja.

Jumat, 04 Desember 2020

manusia-manusia rumit

tersenyum dalam hati, bahagia dalam diam, riang dalam gelisah

kadang ia merah merona, 

kadang ia hitam legam, kadang ia seputih awan

takut-takut, hati-hati dan terus maju 

sesekali ragu, sesekali berfikir keras 

namun menyenangkan menikmati proses menuju menjadi lebih dekat 

terkadang bingung, terkadang lucu dan terkadang di tampar oleh kenyataan 

ia manis dalam isyarat 

namun rumit dalam mengungkapkan

dan tak masalah, bahwa ketika memulai akan menjadi menyenangkan  

yang satu kesepian dan mencari tujuan

yang satu lagi hanya hidup sesuai inginnya

yang satu selalu mencerca dengan pertanyaan kenapa 

yang satu lagi menjawab dengan menjadi dirinya

terlalu rumit 

bahkan untuk di jelaskan dan mengerti

yang satu merasa menarik dan ingin bertahan 

jangan takut, hari masih terbentang panjang untuk sebuah kisah

sebenarnya tidak ada yang memulai dan mengakhiri

manusia-manusia rumit

sebenarnya mencoba mengengam, mencoba menangkap dan mencoba membuka

dan yang satunya kekeh pada isi kepalanya 

rumit dan tidak mudah di mengerti 

setuju dan mencoba memahami dengan pakai hati 

dan satunya lagi-lagi sibuk dengan isi kepalanya

manusia-manusia rumit 

bahkan ketika hanya perihal menjadi jujur dan mengungkapkan 

penuh rahasia, penuh pemikiran, penuh dengan isi-isi kepala janggal 

yang satu menjadi penerka, yang satu lagi mencoba mengungkapkan isi kepala 

manusia-manusia rumit

Minggu, 29 November 2020

asumsi sendiri dan asumsi raga lain

Di antara semua orang yang bisa menyakitimu dengan sangat, di antaranya ada keluarga yang bisa memberikan perih dan bekas paling lama. ketika kita menerima diri kita sendiri dengan segala yang kita punya bahkan ketika kita tak punya apapapun, maka keluarga terdekat yang akan berteriak paling lantang mengenai membenci hal-hal yang tidak kita miliki. 

Kita semua manusia yang masih belajar. 

Tidak pernah sebelumnya ada yang berbicara bagaimana dan harus apa kita ketika hidup. bagaimana menjadi seorang yang baik atau bagaimana ciri-ciri orang yang buruk. tidak pernah ada kiat-kiat atau sekolah bagaaimana seseorang menjalani hidup. bagaiaman seorang anak harus bersikap, seorang teman harus menjadi, seorang ayah dan ibu seharusnya lakukan atau orang orang lainnya. kita hanya mencoba mencari tau dan berusaha menyimpulkan. 

bahkan aku mau, bahkan aku menerima. tidak masalah. tidak apa-apa, jika memang seharusnya begitu dan begitulah milikku. lalu kenapa orang lain menolak dan memaksa kita berubah menjadi standart yang menurut mereka paling baik? bahagia yang ada dalam benak kita, apakah persis sama dengan bahagia yang mereka pikirkan dalam benak mereka? tentu saja tidak. dan semua orang memaksa keinginan mereka kepada orang lain, untuk menjadi sama. 

ketika semua orang memberi lebel dan standart kepada orang lain. bagaimana harus terlihat dan bersikap, dan yang lainnya berfikir itulah patokannya. apakah itu adalah benar? sementara kita tidak benar-benar tau apakah itu salah dan benar. 

manusia hanya punya pengalaman dan kebiasaan. bukan kemampuan untuk membaca fikiran orang lain. 

menekankan apa yang mereka fikir baik untuk orang lain, yang terkadang tidak di rasa demikian yang dirasakan orang lain. contoh, seperti ketika orang ibu memaksakan jurusan yang di pilih untuk anaknya dengan embel-embel masa depan yang lebih baik. apakah masa depan akan benar-benar menjadi lebih baik? bahwa Allah yang menentukan setelahnya nanti, dan si anak sudah membuang jauh impianya dengan di janjikan masa depan yang baik. lalu pada kenyataannya masa depan yang baik itu ternyata tidak juga sangat baik, apakah si anak akan menyalahkan orang tuanya? tentu saja tidak, si anak akan dengan sabar dan penerimaaanya setulus hari berfikir dengan sudut pandang lain bahwa ia yang tak berbuat sebaik mungkin, bahwa ia sepenuhnya percaya bahwa orangtuanya adalah panutanya. dan siapa yang akan tau, jika si anak di biarkan memilih apa yang ia ingin lakukan masa depan lain yang akan datang?

kenapa bahkan ketika kita mencoba menerima diri kita sendiri dengan segala kekuarangan kita dan masih mau menerima orang lain dengan segala kekurangan dan kelebihnya semantara orang lain itu menuntut kita untuk menjadi sempurna seperti yang mereka fikirkan?

bahkan ketika tidak layak bagi kita dan mencoba menjadi layak dengan mencintai ketidaklayakan tadi dengan sekuat tenaga. apakah sulit menerima bahwa setiap orang layak menjadi diri mereka sendiri?

bahkan orang yang paling benar dan baik di bumi ini adalah seorang manusia. 

seorang manusia yang terkadang salah, seorang manusia yang terkadang tidak bersikap adil, seorang manusia yang berfikir menggunakan otak di kepala kecil mereka masing-masing. seorang manusia dengan ego nya masing-masing, di sertai juga dengan kepentingan mereka masing-masing. 

dan tidak ada manusia yang benar-benar bersalah di muka bumi ini. 

pada kenyataanya adalah presepsi. situasi, kondisi, hati, keadaan yang cara mereka tumbuh membentuk mereka menjadi sesuatu yang berbeda dengan yang lainnya. kita di biasakan berpatokan kepada norma dan batas yang seharusnya adalah jalan terbaik untuk membentukmu menjadi baik. namun bagaimana dengan orang-orang yang tidak punya keadaan yang sedemikian rupa? orang-orang yang sudah ditempat menjadi kejam dan kuat sedari kecil? orang-orang yang tidak dipupuk kasihsayang yang penuh, yang memiliki materi secara cukup atau orang-orang yang sedari dini tidak di ajarkan caranya menjadi baik? apakah mereka layak diadili dan dicap buruk atau jahat?.

sementara seorang anak di tempat lain, tumbuh dengan sangat baik. tutur dan bahasa yang sopan dan santun, dengan kasih-sayang yang penuh dan utuh, dengan kasur yang empuk, pakaian yang bagus dan nyaman setiap harinya, makanan yang hangat, serta pilihan untuk menjadi apapaun yang mereka inginkan. 

harus di tarik garis keras dan disamakan?

yang hingga saat ini masih disetujui banyak orang dan bahkan saya pribadi. bahwa setiap manusia dan makhluk di bumi ini hanya ingin menjadi bahagia. meskipun dicemooh, walau terkadang harus berkorban, bahkan ketika harus berubah menjadi pribadi yang lain, babak belur oleh keadaan dan kehidupan, walau akan di lihat berbeda atau jahat atau buruk atau apapun, janji yang mereka terima atau rasa yang akan mereka dapatkan bahwa "saya hidup dengan baik, dan bahagia". meski ratusan alasan serta rentetan jalan di belakangnya membentang jauh dan sulit, di dunia yang penuh dengan topeng dan tawa-tawa orang lain atas sakit dan perihnya orang lain juga. bahwa setidaknya aku, kami, kita, saya harus bahagia. dengan jalan apapun itu, dengan resiko apapun itu, dengan beban atau dosa yang nantinya harus di pertangungjawabkan atau di tanggung. maka pikirkan dan pilihlan baik-baik pilihanmu.


world is soo cruel. it laugh's at your pain.