Selasa, 01 Juli 2014

Beautiful world in your eyes

I almost forgot it feels to be happy.  Love? what is it? until someone like him come and suddenly live, the biggest mistake I've ever started and until now did't want to stop ..
     
      Dia hanya diam menatap sebongkah batu tak bergerak, dia sibuk bernyanyi seorang diri, dia bermain dengan pengepel lantai yang seakan tongkat harry potter, di ujung sana seorang perempuan menangis seorang diri dengan haru, dan disisi lain seorang lelaki paruh baya bermain dengan handphone gengam mainannya berbicara mengenai bisnis di eropa dan china. Ku rasa aku akan menjadi salah satu dari mereka jika terus berada disini. Kenalkan namaku Rossa Jenny, kebanyakan dari mereka memangilku suster Jeny. iya.. aku seorang suster disini, cita-cita yang kukira membuatku menjadi malaikat baikhati yang akhirnya membuatku terkurung di tempat ini, usiaku terlalu muda untuk melakukan ini, setidaknya kukira begitu.

     Ini tahun keduaku ditugaskan kerumasakit kejiwaan, lebih buruk daripada ketika aku harus berada di rumah sakit khusus orangtua atau anak-anak. Setidaknya disana aku punya teman bicara, teman bicaraku banyak disini tapi entah kenapa aku tidak pernah benar-benar yakin apakah mereka mengerti mengenai apa yang kubicarakan. Akan menjadi lebih buruk ketika hari senin atau selasa datang, ketika setiap pasien sibuk menanyakan menu makanan atau lebih semangat dari hari biasanya, maksudku aku selalu merasa kasihan kepada keluarga mereka yang datang setiap hari hanya berharap sebuah kesembuhan yang semu, yang bahkan tak bisa diprediksi siapapun akan terjadi. 

     Beberapa hari lagi aku akan dipindahkan dari sini, katanya tugasku menjadi suster pribadi seseorang yang pastinya dengan penyakit yang tidak sederhana, jadi suster jenny mari kita lakukan hal yang tebaik untuk hari ini! Aku menyapa setiap pasien hari ini, mendengarkan mareta bercerita mengenai calon suaminya dan masa-masa ketika john nama laki-laki itu, selalu mengajak perempuan paruh baya ini makan malam romantis, di hari pernikahannya john meninggal karena sebuah kecelakaan tragis yang melibatkan orang-orang ternama yang hingga sekarang tak pernah diungkap dimedia manapun, retha tidak sekuat itu menerima kenyataan bahwa lelaki yang kurang dari satu jam lagi menjadi suaminya itu telah tiada, dan disnilah retha sekarang. Menunggu, tersenyum, menangis, seorang diri. 

     Aku juga ikut dalam perbicaraan telepon bapak johan, menjawab ketika bapak johan berkata "bagaimana dengan bisnis kita yang di china? kapan bisa kita mulai proposalnya?", "iya bapak, mungkin butuh waktu yang lebih lama.. keadaan perekonomia china sedang tidak stabil hingga perlu lebih banyak waktu" jawaban dialogku. Bapak johan seorang pengusaha otomotif yang tiba-tiba bangkrut karena dikhianati oleh bawahanya sendiri yang menggelapkan milyaran uang dan triliunan hutang hingga bapak johan harus kehilanggan seluruh asetnya bahkan keluarganya, tak lama setelah pernyataan bangkut sang bangsawan istri pak johan melayangkan surat gugatan cerai dan meninggalkan laki-laki tampan dengan dengan perawakan gagah ini seorang diri dan.. setelah sekian banyak yang terjadi bapak johan disini, bergabung dengan pasien-pasien lain. 

     Aku menyuapi madam cindy makan, membantunya menganti pakaian dan dia tak pernah berhenti marah-marah padaku. Seorang nenek-nenek yang berusia tujuhpuluh tahunan yang ditinggalkan seluruh keluarganya dan berakhir disini. Dia tak pernah berhenti mengeluh, bahkan mengenai sendok dan garpu atau hal-hal tak berguna lainnya, tapi menurutku dia hanya selalu kesepian. Tatapan matanya jika seorang diri, atau caranya yang diam-diam bersembunyi lalu menangis, dan kebiasaanya yang selalu mendengarkan lagu-lagu tembang kenangan zaman dahulu kala, menunjukkan bahwa dia tidak sejahat yang dikira setiap suster atau dokter disini.

     Aku menerima cinta adit, jangan salah sangka! dia juga seorang pasien dengan gitar yang tak pernah dia tinggalkan barang sedetikpun. umurnya hanya tujubelas tahun, bulan depan dan dia disni untuk yang waktu yang sudah cukup lama. Sederhana, adit hanya ingin menjadi seorang penyanyi ketika berkali-kali disingkirkan, gagal, kecewa, dan terluka dalam setiap audisi ditambah ditinggal dengan kekasih yang tak pernah se-setia itu menemani yang ternyata hanya mempermainan adit, inilah yang terjadi. Adit bernyanyi sepajang waktu, latihan. katanya ketika kutegur dengan senyuman, waktu ketika adit diam dan tak lagi menyanyi ketika ia menonton tv, melihat berita atau gossip mengenai mantan pacarnya yang akan segera menikah dengan salah satu artis yang sedang naik daun. 

     Aku hanya heran dengan orang-orang jahat itu. Kenapa mereka begitu bahagia membuat luka? kenapa bahkan mereka tak berfikir mengenai rasa sakit? kenapa mereka bisa melakukan hal-hal kejih sebagai seorang manusia? rekan kerja, pacar, keluarga dan bahkan seorang anak. Apakah melukai tidak menyakiti hingga dengan mudahnya dipermainakan dan dilakukan? aku hanya tak pernah habis pikir, kenapa seseorang menyukai hal-hal seperti meninggalkan dan mengabaikan. Mungkin karena hal itu, aku jadi mati rasa. 

Minggu, 22 Juni 2014

Pita

Aku kehabisan kata-kata. Tiba-tiba semua terasa sunyi dan sepi, aku mulai takut dengan sesuatu seperti "kehilangan" lagi dan kukira sudah terlambat untuk menarik dan mempertahankan jalinan itu lgi. Segala sesuatu yang kamu kira akan kamu miliki selamanya atau bertahan disisimu selamanya tidak akan tetap menjadi selamanya, jika kamu membiarkan kedua simpul tak diikat erat maka ketika simpul yang lain ditarik maka semua yang selama ini rapih dan terjaga akan hilang.
Aku tak mengerti bagaimana mencari tahu duniamu, sepertinya aku terlalu sibuk mencari kebahagiaan seorang diri dan aku lupa bahwa seseorang tak selamanya akan menjadi baja bila diabaikan, sepertinya aku akan kehilangan lagi.
Aku bukan seorang teman yang baik, yang akan mendengarkan, memberikan solusi dan membuatmu bangun dan berdiri tegak seorang diri. Bahkan aku tak melakukanya kepada diriku sendiri. Aku hanya manusia naif yang tak kau kenal dengan baik, yang enggkau kira bisa bisa mengisi namun tak bernyawa. Ketika kuungkapkan jangan pergi, maka tidak semua orang akan bertahan dan tinggal.
Engkau salah jika minta diajari dari orang yang bahkan tak mengerti. Aku kaku! Aku membeku! Aku tak tahu caranya membuat hatimu luluh dan menjadi kembali utuh, aku tak diajari untuk bisa seperti itu dan aku sibuk mencari seseorang yang bisa mengajariku mengenai itu. Aku berdosa! aku mengabaikan dan memohon untuk tidak diabaikan. Aku hina! aku memilah dan marah ketika tidak dipilih. Aku bahkan tak layak, dan mencoba menemukan tempat yang layak dengan seribu dan berjuta angan-angan yang pernah pasti. Aku!
Tapi aku takut menjadi sendiri, aku takut kau tidak lagi dibalikku berdiri, berharap dan menjadi bahagia. Aku merasa seperti orang bodoh yang duluan membodohi, dan kau boleh tak percaya "aku selalu meminta Tuhan membiarkanmu selalu jadi bagian dari hidupku entah sampai kapan aku bernafas, seumur hidupku". Dan lucu ketika kukira aku yang dengan sengaja membuang hal itu seiring dengan hembusan angin.
Inilah keahlianku, membuat seseorang pergi menjauh dan marah seorang diri. Aku tak bisa mengajarimu, aku tak bisa menjadi pembimbing yang akan menunjukan jalanmmu keluar dari tempat gelap, terkurung dan sunyi itu, aku nyaman berada di sana, bahkan aku juga tak mampu keluar dari sana, aku masih berdoa untuk diselamatkan, untuk keluar tanpa rasa sakit.
Aku bahkan lupa rasanya bahagia, ketika aku memandang dalam-dalam aku menemukan bahwa aku hanya pura-pura menjadi bahagia, menjadi baik-baik saja. "Jangan menentang arusmu, ikuti saja arah angin yang berhembus dan biarkan ia menjadi" hingga aku kehabisan daya untuk melawan dan mencari. "Jangan kalah! Jangan menjadi sepi!bahkan jangan berfikir kau seorang diri!" Aku bahkan melakukanya dan tak pernah kau atau siapapun pahami.
Aku hanya tersenyum di dalam hati, ternyata bahkan 'kau' menyerah dan lari. Haruskah aku bersiap lagi menjadi seorang diri? Aku yang tak special, tak berasa, tak berwarna. Ia kurasa begitu, jangan ikut menjadi sendiri lebihbaik mencari dan membangun sesuatu yang lain. Bukan aku! Tak bisa kulakukan..
                                                      -Ambigu

Sunyi, sepi dan diammu

Aku masih memandangnya dalam-dalam. Bagaimana bisa seseorang yang kukenal separuh dari hidupku terlihat sangat berbeda sekarang ini, yang ku tahu bahwa dia adalah seseorang yang paling kuat, paling tegar, paling tak tertandingi dan selalu kokoh seorang diri. Namun bahkan menjadi sekuat bajapun bisa menjadi rapuh. 

Kami hanya ngobrol sederhana seperti biasa, sasa adalah sahabat baikku karena kami menempuh pendidikan dengan fakultas yang berbeda jadi sesekali kami saling menghubungi dan berbicara banyak hal. Lebih tepatnya curhat. Aku selalu mengeluh tentang banyak hal, tugas, dosen, teman-teman ku yang penuh tipu muslihat, manusia-manusi dengan wajah-wajah berbeda dan mengenai betapa aku merasa sepi dan hampa. Terkadang dia marah, namun yang seringkali dia lakukan hanya diam mendengarkan. Kalimat sederhana yang pernah kubaca mengatakan "terkadang seseorang yang memiliki masalah tidak memerlukan seseorang yang penuh dengan penyelesaian dan kata-kata luarbiasa, dia hanya memerlukan seseorang yang siap mendengarkan". Kukira itu benar, karena sasa selalu menjadi pendengar yang baik, karena sasa tak pernah mengeluh bahkan ketika kutangisi hal yang sepeleh, karena sasa selalu menjadi sahabatku yang siap ketika aku berteriak minta tolong ku kira dia luarbiasa. 

Ketika seluruh tenagaku hampir habis untuk bertahan dan tetap menjalani hari esok seperti biasa, dia dengan luka yang sudah mengering tetap diam mendengarkan. Hanya dia, tempatku untuk menceritakan segalanya yang bahkan tak berani kuceritakan pada mama. Harusnya gadis seumuran kami sibuk dengan kata bahagia, sibuk dengan kata pacaran, dengan candaan-candaan ala khas anak kuliahan, dengan urakan dan senang-senangnya hari-hari itu. Namun kami terlalu sibuk dengan kata sakit, luka, dan perih. Dia mengajariku untuk tetap menegakkan kepala, berusaha seolah dunia baik-baik saja, seolah-olah kau bahagia hingga yang semua orang lihat dan ketahui bahwa kami baik-baik saja, bahwa kami bahagia. 

Siang itu, aku dan sasa janjian di sebuah restaurant cepat saji. Sasa sangat suka makan, dengan postur tubuhnya yang tinggi dan tegap kita akan tau seberapa banyak porsinya makan. Sasa tak pernah bercerita soal apapun yang berarti, hidupnya seakan selalu baik-baik saja, selain seorang tetangga yang selalu dia impikan dalam mimpinya, yang selalu ia tunggu walau hanya sekedar lewat di depan rumahnya, laki-laki yang ia kagumi bahkan ketika ia tidak pernah dengan jelas memandang wajah laki-laki itu, haha bagiku itu lucu. Namun tak ada yang salah mengenai cinta, dan.. oh iya, hanya satu masalah sasa, tugas kuliah. karena jurusan yang diambil sasa adalah arsitek, sasa selalu berkutik dengan matematika, design ruangan dan hal-hal rumit segala mengenail itu. Hanya satu keluhannya yang amat sangat sering kudengar, tugass.. ohh tugass..!.

Ketika aku memulai cerita kampusku yang kukira datar dan selalu menyebalkan, sasa masih sibuk melahap ayamnya dengan semangat, tenang dan santai. Sesekali kami bercanda dan tetawa, membuat lelucon singkat dan kembali bercerita. Saat kukatakan bahwa aku tidak akan pernah berhenti berdoa kepada Allah dan kusuruh dia juga jangan pernah berhenti berdoa kepada Tuhan-nya, hanya kalimat sederhana yang keluar dari mulutnya. "waktu aku sd kelas tiga, ketika buk rossa bilang ada berapa Tuhan kamu dan aku jawab ada banyak, buk rossa marah na sama aku". katanya. Kami berbeda agama, aku seorang muslim dan sasa seorang khatolik dan kami selalu bersahabat. Saat natalan tiba, aku akan mengunjungi rumah sasa dan berfoto di bawah pohon natal kreasi mahasiswa jurusan arsitek ini. Saat lebaran datang, sasa akan datang kerumahku makan ketupat dan kue biasasaja yang selalu tak pernah lebih enak dari kue-kue yang ada dirumahnya ketika natalan. Mami thesa punya bakat luarbiasa dalam urusan memasak, apapun. Hari itu, baru pertama kalinya aku menyadari bahwa kami memiliki perbedaan dan itu tidak pernah merubah apapun. 

Sekitar beberapa bulan kami tak saling bicara dan mendengarkan, tak saling bertemu dan lagi-lagi bercerita. ada pertengkaran kecil mengenai pesan singkat yang mungkin membuatku salah mengerti. sasa mengirimiku pesan, karena sasa adalah perempuan tomboi. ia selalu mengenenakan kaos kemanapun ia pergi, ketika kukatakan padanya untuk berubah ia mengirimiku pesan untuk mencari baju yang pas untuknya bersama. masalahnya adalah, kami akan pergi bertiga dan akan menjadi cangung ketika mami juga ikut, jadi kukatakan kepada sasa untuk pergi berdua saja dengan maminya yang mungkin lebih mengerti daripada aku.Jadi sasa bisa lebih dekat dan bertukar fikiran dengan ibunya, mungkin itu maksudku. Hari itu, teman-teman sekampusku juga tidak berhenti menelepon untuk mengajakku pergi untuk bermain air. 

Aku menolak untuk menemani sasa membeli pakaian, dan akhirnya aku pergi dengan teman-teman kampusku untuk berenang. saat pulang dari berenang, kulitku gosong terbakar panas matahari dan hatiku lebih panas ketika pesan singkat masuk ke ponselku. 

      "Enak ya berenang, aku juga mau berenang.. pantes ga mau nemenin cari baju ada yang lebih nyenengin sih".

kujawab dengan amarah, 

     "ga ada bedanya sa, jalan sama kamu juga nyenengin sama temen-temenku juga iya, malah lebih happy jalan sama kamu dan aku ga pernah ngangep kamu kayak gitu, jadi jangan ngomong kayak gitu". 


Dan semejak amarah itu, tidak ada pertemuan sejenak atau cerita-cerita singkat lagi. Mungkin sasa marah. dan aku masih sibuk dengan urusannku waktu terus berlalu dan tak kusadari sudah sangat lama kami tak saling menyapa. Hari itu kami sasa menyapa bertanya mengenai keadaan dan seakan tidak ada yang terjadi, kulakukan hal yang sama. kami mulai bercerita lagi. 

Katanya bahwa ia berpura-pura, katanya bahwa ia bukanlah ia, katanya bahwa ia menjadi sangat lelah lalu kali ini kusadari bahwa sasa jauh lebih seorang diri dan kesepian. Sekarang bagianku untuk mendengarkan. 

Sasa takut tidur sendirian di malam hari karena itu sasa selalu tidur lewat dari jam 2 pagi, sasa takut semua orang pergi meninggalkannya, sasa takut jika walau sekuat tenaga ia belajar dengan baik ia tetap tidak bisa menjadi sukses dan hanya menghabiskan hari-hari yang sama, sasa takut menjadi sendirian, kata sasa dia merasa berbeda dari semua orang, ia juga mengatakan bahwa dia bukan orang yang baik namun menyembunyikan banyak hal dan menjadi orang yang baik karena takut ditinggalkan. Sasa tidak sekuat itu.

Kukatakan bahwa sasa perlu lebih banyak teman, bergaul lebih baik, berhenti menjadi dingin dan belajarlah membuka hatimu. Katakan yang ingin ia katakan, lakukan yang ia ingin lakukan, menjadilah bahagia. 

Aku memandang matanya dalam-dalam masih terdiam dan mencoba mencerna. Sahabatku yang kukira selalu baik-baik saja, ternyata tidak pernah sebaik itu. Aku ingin membangunkanya, membuat senyuman di wajahnya, membimbingnya, dan aku selalu berdoa.. hingga akhri waktu dan zaman, entah kapan hari ini dan nafasku berakhir, Allah.. biarkan aku tetap menjadi sahabat baiknya, menemani dan menjadi bagian dari kisahnya.

"Aku titip temanku tuhan, biarkan dia menemukan dunianya, biarkan dia bahagia dengan kenangan-kenangan baik sepanjang umurnya, biarkan dia menemukan seseorang yang mencintainya dan selalu menjaganya, biarkan dia menjadi sukses dan membahagiakan keluarganya, biarkan dia selalu menjadi sahabatku yang paling berharga, bukalah hatinya, jangan biarkan ia kesepian dan seorang diri lagi, kuatkan dia, dan kumohon ukirlah senyum-senyum bahagia di wajahnya.. Aamin".


                                            Selamat ulang tahun ke 20th sasa, bahagialah selalu..

Jumat, 30 Mei 2014

Choco valentine


Sesuatu seperti cinta juga memerlukan takdir dan kisah didalamnya, jika tidak dilahirkan untuk menjadi satu, maka usaha sebaik apapun tidak akan menjadikanmu satu. Apa kabar kamu valentine pertamaku? Akhir-akhir ini aku berfikir tetangmu.. aku tak ingin hidup dimasa lalu, namun kamu terlalu manis untuk menjadi masalalu.. selalu begitu.
     Di tahun 2008, saat aku memulai sesuatu seperti cinta. Ketika Tuhan mengenalkanku pada makhluk yang ku kira sempuran dan memiliki segalanya, yang layak untuk kucintai, yang selalu membuatku bahagia dalam diam, yang diam-diam ku perhatikan, yang dari jauh selalu kunanti saat kita bicara.
     Tahun-tahun berlalu, dan aku hanya menjadikanmu sebagai tempat teristimewa disudut hatiku, sebagai seseorang yang menjadi alasanku bertahan atas segalanya. Senyummu cukup untukku bertahan akan rasa sepi dan hampa. Dan akan selalu ku tunggu saat-saat kita bicara sederhana mengenai hal yang harus dipelajari hari esok.
     Aku seperti pecundang gila yang kehilangan akal, bahkan aku tak perlu makan atau minum, hanya kamu.. lalu semua akan cukup.
     Ketika kamu tak kunjung datang menyambut cintaku, aku masih diam menutup mulut seraya berdoa pada setiap malamku, harusnya aku malu memintamu dengan sangat kepada Tuhan setiap malam. Namun aku tak pernah menyerah.
     Orang-orang bilang, segala sesuatu yang menjadi hal yang pertaama akan selalu memiliki tempat special dihatimu. Kukira itu benar. Kamu cinta pertamaku, dan selalu ada ruang untukku dan duniaku mengingat masa-masa itu. Masa-masa tersulit dan termanis yang pernah ada dalam hidupku yang membosankan ini.
     Di bulan Februari di tahun 2008, aku sibuk dengan hari-hariku sebagai anggota OSIS yang baru. Setidaknya ada sekitar lima proposal yang harus kami ajukan untuk setiap even. Saat itu baru kusadari, bahwa aku bisa melupakanmu untuk sejenak.
     Kita tak sering berpapasan lagi, aku sibuk dengan urusanku dan kamu hanya berlalu seperti angin ketika kita bertemu. Kukira ini saatnya aku menyerah dengan cinta, dengan kamu. Aku mulai berhenti menunggu didepan kelas untuk seseorang yang akan lewat, aku mulai berhenti memperhatikan segerombolan laki-laki yang bercanda konyol dari jauh diantara ada kamu, aku mulai berhenti berharap bahwa Tuhan akan mempertemukan kita dalam satu moment indah tertentu, sedikit demi sedikit aku mulai menghapus sosokmu dari hatiku.
     Profosal ku diterima, dan hari valentine nanti sekolah kita akan punya moment istimewa, dengan bunga-bunga mawar pink, dengan hiasan balon-balon, dengan coklat, dengan cinta. Aku masih sibuk berkutik dengan dekorasi sehingga tak sengaja aku menemukanmu yang mempehatikanku dari jauh, yang tersenyum geli ketika aku berteriak sana-sini untuk aturan dekorasi. Aku tak sengaja berfikir bahwa seseorang memperhatikanku, dan ketika kusadari itu kamu. Aku jatuh, lagi.
     Ketika kukira sudah kubuat benteng pertahanan untukmu yang tak mungkin bisa masuk dalam lubuk hatiku, ketika kubuat dengan begitu susahnya sebuah pertahanan yang erat, aku jatuh karena senyummu yang sederhana padaku. Untuk yang kedua kalinya, kamu menjadi cintaku lagi. Hanya karena sebuah senyum kecil dari jauh, aku jatuh dan mulai berdoa untukmu lagi.
apa?”. “penting banget ya?”. “harus sesibuk itu?” yang ku kira adalah lebih dari sekedar pertanyaan singkat. Apakah kamu mulai menungguku? Mulai menghawatirkanku? Mulai men.. cintaiku?? Imajinasiku.
     Tiga hari sebelum valentine, aku menangis hingga tak punya tenaga untuk melakukan apapun. Pada kenyataanya, aku hanya pecundang bodoh dengan khayalan yang tinggi. Kudengar kamu jadian dengan salah satu teman baikku, kudengar kamu menyatakan cinta didepan semua orang untuk itu, kudengar.. kamu sangat bahagia.. dan itu tidak cukup.
     Ketika kuserahkan profosal rincian biaya ke ruang kepala sekolah dan melewati kelasmu. Kulihat kamu tersenyum manis merayu, kepada dia. Salah satu teman baikku. Bukankah aku bodoh? Itu cukup membuat airmataku habis dan tenagaku terkuras. Aku menyerah.. mungkin kamu memang bukan milikku, dan ini saatnya untuk melepaskan.
     Dua hari sebelum menjelang valentine aku semakin sibuk dengan urusanku. Tak apa,ini akan sangat baik untukku. Aku tak harus mengingatmu saat waktu ku menjadi luang. Aku menjadi berbeda, tidak lagi terseyum manis padamu, bahkan ketika kita berpapasan dan kamu menjatuhkan beberapa buku ku, aku hanya merapikannya kembali dan berlalu, tanpa sepatah katapun. Kulihat sosokmu yang terpantul dari kaca, yang bingung, yang kaget atas tingkahku.
   Sehari sebelum valentine, aku menangis lagi, airmataku pecah. Mengasihani diri sendiri atas ketidakmampuan, atas kelemahan, atas cinta yang pertama kali namun tak terbalas, atas rasa sakit dan perih yang terus kutahan, yang selalu kutunjukan kepada dunia, bahwa aku baik-baik saja. Aku kalah lagi. Aku tak sekuat itu, aku tetap jatuh.
     Hari valentine tiba, acaranya sempurna. Musik, dekorasi, moment, mereka bahagia. Di panggung, ada beberapa pasangan yang dengan berani menyatakan cinta,         ditolak, diterima, manis. Ketika kukira hari ini benar-benar berakhir dan ternyata belum.
     Aku berjalan menuju ruang kepala sekolah, melewati jalan setapak ditaman sekolah kami, dengan angin yang sepoi dan pohon-pohon yang seakan menari pelan. Aku melambatkan langkahku, mencoba menikmati hari valentine ini. Aku berhenti sejenak, terdiam di tengah jalan setapak taman, seorang diri, memejamkan mata dan merasakan angin yang bertiup melewati tubuhku, menyentuh helaian rambutku.
     Tiba-tiba seorang anak kecil berlari ke arahku. Anak laki-laki itu, menarik ujung rok sekolahku, membuatku membuka mataku, kulihat dia dengan ekspresi khas anak kecil yang lucu. Kulihat matanya yang berbinar bahagia seakan baru saja menerima kado istimewa.
        Kulihat dia mengengam dua batang coklat, satu diantaranya dililiti pita berwarna pink. Aku mengerti sekarang, dia bahagia karena cokelat-cokelat itu. Ketika aku mulai berjalan lagi, dia menarik tanganku dan menyerahkan coklat dengan pita pink tadi kepadaku. Aku yang bingung dan ragu. Mengelus kepalanya yang kecil seraya berkata, “kok kasi kakak, buat anes ajaa..”.
        Anak kecil itu terdiam dan ketika aku berlalu meninggalkan, dia berteriak lebih girang. Di ujung lain jalan setapak kulihat dia berdiri. Laki-laki yang kucintai. Menunggu entah apa, kukira dia menunggu kekasihnya. Dan aku hanya berpapasan tanpa sepata kata dan pergi berlalu. Dia tak hentinya memandangku yang berjalan pergi. Ketika kusadari, semua sudah terlambat.
       Aku tersentak sejenak, meloneh kearahnya. Kulihat anes berjalan menuju dia, mengatakan sesuatu dan dia menjadi pilu, diam dengan matanya yang seduh. “ya udah ga apa-apa, buat aness aja” hanya itu yang bisa kudengar dari jauh. Aness kegirangan, dan dia berbalik dan pergi menjauh. Saat itu kusadari, bahwa coklat dengan pita pink itu untukku, dari dia yang selama ini kunantikan.
      Aku tak bisa menangis, bahkan aku terlalu bodoh untuk menangis. Aku menyalahkan diriku sendiri untuk saat itu. Dia tiba-tiba tak pernah lagi muncul dihadapanku. Kudengar dia pindah mengikuti orang tuanya. Aku menjadi si bodoh yang pilu.
     Dua bulan berlalu dari hari itu, dan aku masih menyalahkan diriku sendiri. Masih hingga sekarang. Aku duduk di kantin, ketika teman-teman dekatku yang salah satunya adalah jessie, yang kukira adalah pacar dari “dia” datang dan mengajakku bercerita.
     “jadi udah ditembak dira?” kata jessie tiba-tiba yang membuat jantungku seakan berhenti berdetak. Dira.. nama “dia” yang mengisi ruang untuk cinta pertamaku, yang menjadi dekat dengan jessie untuk menayakan segala tentangku. Dira yang membuat simulasi cara menyatakan cinta didepan kelas yang khusus dia siapkan untukku. Dira yang membaca hampir sepuluh buku novel-novel romance untuk mempelajari cara menyatakan cinta yang romantis. Dira.
    Aku kembali ke kelasku, duduk melamun dan menjadi pilu. Siapa yang tidak, ketika menyadari melakukan hal bodoh seperti aku. Kepaku pusing, hingga sepertinya lebih baik untukku pulang sekarang, aku membereskan buku-bukuku dan memasukannya kedalam tas, aku akan meminta izin dan pulang. Ketika aku mengambil buku di laci dan menemukan sesuatu, aku terhenti sejenak.

            Dear Nina..
Punya waktu besok? Ayo kita nonton film bagus.
                                                                                    Dira.

            Dear Nina..
Besok ada fesitval makanan jepang, mau kesana bareng??

                                                                                    Dira
            Dear Nina..
Nanti aku tunggu di depan gerbang sekolah ya, kita pulang bareng. Okee??
                                                                       
                                                                                    Dira
            Dear Nina..
Aku mulai patah semangat nin, gimana lagi aku harus nunggu kamu? Ayo kita beli buku bareng.. kamu suka novel kan? Aku punya beberapa, aku tunggu di kantin ya, nanti aku pinjemin kamu deh..
                                                                                    Dira

            Dear Nina..
Aku suka sama kamu nin, maukah kamu jadi pacar aku. That’s all i wanna say.

Dira
Tidak hanya satu, sekitar 50 surat singkat dengan ungkapan yang berbeda-beda, dengan kata-kata yang menyentuh, dengan cintanya yang seutuhnya, dengan segala ajakan yang pernah aku baca di novel-novel remaja. Hanya aku yang bodoh, tak pernah memeriksa lokerku, yang sibuk degan menunggu dan tak tau hatimu. Tidakkah aku bodoh?
Sekitar lima puluh surat, dan tak pernah kusadari keberadaanya selama ini. Satupun. Dan airmataku pecah membaca surat terakhir. Surat dengan kalimat yang lebih banyak dan lebih dalam.

Dear Nina..
Selamat hari valentine nin, kamu pasti capek banget. Acaranya bagus banget, romantis. Aku.. udah merenung seminggu lebih nin, ketika udah aku kumpulin seluruh keberanianku buat nyatain cinta, aku masih kurang berani. Jadi aku nyuruh aness buat kasi kamu coklat, kamu tau aness kan? Anak pak rere? Hehe. Jadi ku kira, ketika kamu terima coklat aku akan dateng dari ujung jalan taman berlutut dan nyatain cinta. Kukira itu yang paling romantis. Dan aku bodoh, aku yang bodoh. Gimana kamu bisa tau itu dari aku? Pasti kamu berfikir kalo anak sekecil aness mau bagi coklatnya sama kamu, dan jelas kamu nolak. Lucu ya nin.. aku pecundang.
Karena hari ini hari terakhir aku disni, ohh iya, aku pindah ke malay nin, orangtuaku harus nemenin omma yang mulai sakit-sakitan. Aku Cuma berani di surat nin, maaf. Aku suka kamu, senyum kamu, cerianya kamu, cara kamu yang lembut, sikap kamu yang sopan, dan hati kamu yang baik.
Aku masih inget kamu dateng ke ruang guru buat minta maaf waktu ibuk rika ngembek, padahal kamu ga tau apa-apa, kamu dimarah-marahin. Sendirian. Atau saat kamu mendengarkan cerita teman-temen ketika meraka punya masalah, senyum kamu teduh banget ketika itu. Jangan sakit nin, aku hampir gila waktu kamu sakit tifes karna kecapean dan aku terlalu malu buat jenguk. Jagan selalu mikirin orang lain, kamu harus mikirin diri kamu sendiri juga. Jangan nangis, jangan sendrian, jangan lupa makan, jangan nyelesaiin semua masalah sendiri. Minta tuh bantuan sama temen-temen kamu.
Jaga diri kamu baik-baik ya, aku sayang kamu. Mungkin kita ga ditakdirin buat sama-sama. Bukan! Karena aku yang terlalu pengecut buat ngomong langsung. Eh iya, kamu tau robby kan? Anak ipa 2, dia temen kumpul aku juga. Dia orang yang baik, kuat, dia bisa jangain kamu, hatinya tulus, dan dia jauh lebih berani daripada aku. Dia juga suka kamu, jadi nanti kalo dia nembak kamu, harus diterima ya.. harus ada orang di sisi kamu yang jagain kamu.
Aku sayang kamu, Nina.. terimaksih buat jadi cinta pertamaku. Aku harap suatu saat kita ketemu lagi, dan saat itu aku akan jadi lebih berani. Aku akan langsung lamar kamu! Hahahaa.. i love you ninaa.. selamat hari valentine.

                                                                                    Dira..
                                                                    Eh, aku punya beberapa koleksi foto kamu. Cantik..                                       

     Sebuah album foto manis disertakan di surat terakhir, penuh dengan coretan-coretan kata-kata manis, stiker lucu, dan kamu punya semua. Bahkan foto ketika kita MOS pertama kali. Ternyata kamu mencintaiku lebih dahulu, dan sudah selama itu. 
***
     Dan hari itu sudah berlalu lama sekali.. tiba-tiba aku tak sengaja mengingatmu, ketika seorang anak kecil berlari ke arahku memberikan balon gratis hari ini. Mungkin umurnya sama dengan aness pada saat itu.
     Rasanya aku ingin meminjam lorong waktu doraemon untuk kembali ke masa itu, tidak mengulangi kebodohanku. Kamu selalu punya tempat special di hatiku dir, sampe kapapun. Kita mungkin tidak ditakdirkan buat jadi satu, tapi mencintaimu sudah amat cukup. Terimaksih buat kenangan manis ini diraa.

                                                                                                            Sebagian adalah terjadi..

Rabu, 28 Mei 2014

Rahasia di balik hujan

     Di luar titik-titik air mulai terhenti seiring dengan akhir deras dari beberapa menit yang lalu. Udara tidak lagi terlalu dingin seperti tadi, saat tetesan air itu deras dan lebih banyak. Sejuk, mungkin itu kata yang harus di ungkapakan untuk saat ini, belum reda.. hanya saja titik-titik hujan yang turun tidak lagi memecah hening layaknya gemuruh, lebih perlahan.. dan untuk beberapa saat, aku ingat sosok seorang yang tak banyak bicara saat datang lalu pergi dalam kehidupanku, dan hingga sampai saat ini menjadi bagian penting, yang selalu dan selalu ingin aku ulang kembali kehadiranya, dia.. seorang pemuda dari masalalu.. 
     Aku masih sedikit mengingat aroma tubuhnya, sedikit mengenal suaranya, dan samar-samar wajahnya. Dia hanya bagian dari masalalu, dan ketika aku katakan pada eomma, eomma selalu berkata "sweet memories are good to save. But we can't live in there". Iyaa, aku tau dengan sangat jelas bahwa dia hanya akan jadi bagian dari potongan-potongan indah ketika masa-masa sekolahku. 
     Saat itu hujan deras, kira-kira pukul 14.00 tapi udara terlalu dingin untuk dibicarakan bahwa siang itu siang yang kering. pada mulanya aku tidak sendiri, beberapa teman dekatku akan selalu ada untuk menemani hingga pada hari itu, aku kira suda terlalu lama mereka menunggu hanya untukku, singkat cerita aku masih di jemput walau umurku sudah lumayan mapan untuk pulang dan pergi sendiri, tapi beginilah "si anak manja", jadi mereka semua aku suruh pulang.
     Pukul 14.30 aku sudah mulai bosan, marah, murka dan seperti biasa, aku mengerutu dalam hati. Semua hal menjadi salah untukku pada saat ini, bahkan ketika seseorang lewat dengan mengenakan kaos hitam biasa menjadi bulan-bulananku "norak!" cetusku. 
     Dan tak lama, ‘dia' keluar dari gerbang sekolah melihatku duduk di warung mang udin sendirian dengan muka masam yang bentuknya mungkin sudah abstrak, dia tidak bicara apapun, walau hanya sepatah katapun. Hanya sesekali mencuri lirik padaku dari jarak yang tak jauh dari tempatku duduk, mungkin dia ingin menyapa.. tapi kondisiku saat ini, tidak cukup baik untuk mengatakan "hai!" jadi dia hanya diam, beberapa menit hanya beberapa menit lalu dia masuk dan aku kira cerita hari ini selesai, menunduk dan menghela nafasku. 
     Tapi, tak beberapa lama dia keluar lagi dari gerbang. Lebih santai, rileks, mungkin dengan sedikit senyuman di ujung bibirnya, kali ini dia duduk di sebelahku, maksudku tepat disebelahku. Saat ini hujan rintik seperti memberi isyarat sebuah senyuman kecil, hingga saat ini semua terasa sangat teduh dan tenang. Udara, cuaca, situasi, dan etah kemana perginya semua orang dan kendaraan yang sejak tadi lalu lalang. Dalam hati aku katakan "terimaksih untuk harini, Tuhan".
     Di mulai dengan petikan petikan kecil, lalu kunci-kunci sederhana dan dia mulai menyanyi. Lagu lagu asik yang aku tak bagitu peduli dengan lirik liriknya, hanya mencoba menikmati situasi. Lagu barat, lalu sesekali dengan lelucon-lelucon kecil dan tiba-tiba menjadi lagu berat dengan kunci-kunci yang sulit, Demi Tuhan! Hari itu benar benar indah. 
     Lagi dan lagi, lalu dan lalu, terus dan terus. Hingga aku tidak peduli walau harus menunggu berhari hari di sini, tersenyum seperti orang bodoh yang baru memenangkan lotre atau mungkin sebentuk hati. Bahkan dia, tidak bicara apapun padaku, hanya aku tau dia disini untukku, untuk mengukir senyum-senyum kecil di ujung bibirku tanpa sepatah katapun. Percaya atau tidak, aku mendengar banyak kata dari hatinya untukku. 
     Pukul 16.45 sore. Dia masih bermain dengan gitarnya, bersenandung kecil dengan dentingan-dentingan gitar sederhana yang entah darimana datangnya. Sejujurnya aku tak begitu mengenal lagu lagunya, hanya sesekali aku tau bahwa lirik-lirik itu mengatakan mengenai hujan, cinta, dan beberapa guyonan khas miliknya. Dan suara krakson memecah moment itu, tapat pukul 17.00. bisa di bayangkan akan jadi apa diriku jika hanya sendiri saat ini, mungkin menggila dengan omelan-omelan dasyat dan sedikit rajukkan kecil. Tapi, aku tidak marah sedikitpun malah ada sedikit penyesalan kenapa waktu begitu cepat berputar hingga saat ini akan berlalu. Aku berdiri, meraih tasku dan berjalan pergi lalu dengan ‘tak sengaja' menoleh padanya, dan ‘dia' tersenyum sangat manis padaku saat itu, manis.. sangat sangat manis. 
     Aku berjalan ke arah mobil kijang hitam, papa menunggu di balik setirnya dan sekali aku menoleh melihat dia mengehela nafas sejenak, mungkin dia tidak rela aku pergi. Mungkin. Sebelum itu, dia menanyi lagi lagu terakhirnya hingga sampai saat ini aku masih sedikit mengingat suaranya dan lirik lirihnya di ujung waktu.  
     "andai waktu berganti aku tetap takkan berubah.. ak..uu selalu bahagia saat hujan turun karna aku dapat mengenangmu untukku sendiri.. hmmm..hmmmmh.hhmmm aku bisa terseyum sepajang hari, karna hujan telah menahanmu disini untukkuu.." 
     Dan hari berlalu dengan senyuman senyuman indah dan terindah di sudut bibirku saat itu, untuk yang terakhir aku masih memandangnya di balik kaca sebelum berlalu, tatapan dan seyummannya mungkin berkata "aku akan selalu menunggu di sini" mungkin. 
     Harus ku katakan, walau aku tak sempurna terimakasih Tuhan untuk hadiah kecil yang membuatku memiliki cerita seperti dongeng-dongeng dalam tidur malam, sebuah kisah yang jika nanti aku saksikan dalam kehidupan nyata yang akan membuatku tersenyum dengan bangga karena aku tau tokoh utama perempuan yang sedang tersenyum saat itu. 
     Dia pemuda dari masalalu. Yang hingga sekarang tak pernah berkata apapun bahkan ketika aku tau bahwa dia menyayangiku lebih dari sahabatnya, dan tidak pernah menjadi milikku. Aku senang saat itu kau datang untuk sebuah keheningan kecil dan senyuman manis..

                                      "Untuk seorang pahlawan dengan gitarnya 
                                        dan membunuh waktu lalu amarahku, 
                                Terimaksih sudah jadi bagian dari warna hidupku.. 
                                        tetaplah begitu untuk cinta yang akan          
                                        engkau raih kelak".   -16 maret 2013