Ini dan itu tak melulu aku, ini dan itu tak melulu tentangmu. Terkadang bunga-bunga hanya saja terlalu indah jika hanya jadi pemandangan. Terkadang juga pakai hati yang meluap jadi kiasan. Entahlah, aku hanya suka kata-kataku yang menjadi sebuah kalimat.
Rabu, 01 Januari 2014
Berdiri seorang diri
Kamu menutup pintu hatimu, yang walau ribuan kali diketuk dengan keras tetap tidak akan terbuka. saya sabar menunggu dan berdoa, hari dimana pintu itu akan terbuka akan segera tiba. hingga pada akhirnya saya tau, bahwa sejak pintu itu ditutup kuncinya tak akan pernah ditemukan.
Saya menunggu untuk seseorang yang mengisi, tidak peduli berapa kali melihat keluar jendela dan berharap akan sesuatu. kamu dan yang lainnya tidak akan datang. saya masih bersabar untuk sebuah harapan, berdoa dengan tulus bahwa akan tiba saatnya untuk hadir dan mengisi, namun hari ini ketika saya menunggu lagi dibalik jendela, kalian atau siapapun tetap saja tidak datang.
Apakah kesepian membunuh seperti ini? hingga akal sehatmu tak lagi menjadi waras dan berfikir selayaknya. hingga ku kira satu-satunya jalan untukku adalah berhenti untuk melakukan, segalanya.
Katakan pada orang tak berhati, berakal dan memiliki fikiran ini.. apakah ada yang salah pada diri ini? hingga semua orang seperti membenci dan meninggalkan secara kejam. saya hanya diam untuk setiap orang yang tak akan mengerti bahkan ketika saya berteriak, dan imbalan untuk semua itu adalah ditingalkan.
Hari ini, kembali rasa sepi dan lelah datang dan tidak tau kapan akan pergi. harus pada siapakah jiwaku marah karena sendiri?
Jangan begitu, menyakitkan. diam! berhentilah mengeluh! tidak ada yang harus ditangisi, tidak ada yang harus disalahkan, berhentilah marah, dan diam. hanya diam. berhentilah membuat permohonan, tidak akan ada yang datang untukmu sayang, hiduplah dengan memandang dunia yang nyata, berhentilah bermimpi. saya akan hidup dengan baik, saya akan punya kisah luar biasa. dan itu akan segera terjadi..
Minggu, 15 Desember 2013
Masa muda
Setiap detik yang berarti, setiap waktu yang tidak ingin tebuang sia-sia, setiap jengkal perjalanan, setiap titik-titik dari sebuah kisah. aku ingin semua itu tetap ada di bagian lain hati ini.
mereka masih disana, dan mereka tetap sama. remaja-remaja yang mencari dan belum menemukan.
mereka masih disana, duduk dan bermain layaknya dunia akan selalu baik-baik saja.
mereka masih disana, berlomba menyusuri jalan panjang dengan tawa dan lari sekuat tenaga.
mereka masih disana, mengejar benda bulat kecil dengan bermandi lumpur dan hujan yang turun.
mereka masih disana, menempatkan diri pada sudut kelas dan memetik gitar lalu bernyanyi bersama.
mereka masih disana, duduk dibawah pohon dengan lelucon yang baru dan tak pernah ada habisnya.
mereka masih disana, tetawa dan menangis bersama, berbagi dan berlari bersama, dan dunia seakan ada dalam gengamannya.
Waktu yang berharga, lembaran yang terus terisi, lelah atas aktivitas dan persaingan, semua tidak menjadi masalah besar karena kita bersama disana. jangan berakhir wahai kisah, jangan berdenting wahai lonceng, jangan habis wahai waktu, jangan datang wahai senja. kami masih ingin bersama.
Lalu.. apa kabar senyum-senyum itu? hingga tak kudengar lagi satu per satu kehadirannya. akankah semua telah menghilang dan kisah hanya akan menjadi kisah? masalalu? haruskah kukatakan? selamat datang di dunia yang sebenarnya.. jadilah dewasa dan lebih dari hari-hari kemarin, temukan apa yang kalian cari, jadikanlah mimpi-mimpi sederhana itu nyata, dan jangan lupakan bahwa kita pernah jadi bagian dari sebuah perjalanan indah yang dinamakan, masa muda..
Selasa, 10 Desember 2013
Dia, ia dan dia
Rabu, 06 November 2013
Kalimat sederhana, dan aku menyerah untuk sebuah mimpi
Kau boleh tertawa. Itu pantas untukku. Haruskah aku menghujat atau membenci, karena dengan bodohnya aku yang mengunci rapat pintu itu dan mengusirnya pergi. Haruskah kukatakan, bodoh! Pada diriku sendiri yang telah lacang seakan itu hal kecil yang tak mungkin ku sesali.
Bagaimana bisa kata-kata sederhana itu menyakiti. Bagaimana bisa cerita singkat itu mengorek seluruh relung hati. Aku tak pernah menjadi se-hebat siapapun, hingga fikirku melayang untuk berbagai pihak yang mungkin mendukungku. Kurasa ku tak punya apapun untukmu datang dan tinggal. Lalu tiba-tiba kau mulai berlalu dan melupakan.
Aku tak berhak menangis, aku tak berhak marah, bahkan aku tak seharusnya iri. Kau boleh tersenyum menang, kau boleh tertawa puas, karena aku kalah dalam berbagai hal, bahkan aku tak pernah menang sejak saat pertama ini dimulai. Tapi bagaimana itu begitu menyakiti, dengan santai kuhadapi dengan candaan layaknya tak akan ada yang terjadi. Tapi berpura-pura juga tak semudah itu, karena aku marah pada diriku sendiri.
Kenapa aku tak memiliki apapun untuk jadi hal baik didepan kalian? Hingga satu diantaranya akan tinggal atau menetap. Kenapa aku bahkan tak bisa merasakan bahagianya kenangan manis itu? Bahkan tak pernah kuketahui secara nyata karena tak pernah terjadi dalam cerita singkatku ini. m aku tidak bisa menarik satu dan membiarkan nya bermain-main didalam hati, hingga sepi dan hampa tak selalu jadi masalah lagi dan lagi.
Kalian berdongeng tentang sebuah masa-masa indah dengan penuh kenangan manis dan rasa cinta. Aku mendengarkan dan hanya bisa tersenyum merasakan betapa bahagianya jika dapat masuk dan merasakan langsung yang terjadi atas itu. Andaikan, bila saja, mungkin jika.. tapi dalam hati aku tertawa kecil mengejek diri sendiri, hatiku menciut dan semua lenyap. Aku tau aku akan sendiri untuk waku yang lebih lama lagi.
Aku menyerah dengan satu kalimat yang membuat semua harapan-harapan itu menjadi pasti dan tidak akan terjadi. Aku berhenti ketika satu kalimat meyakinkanku bahwa itu yang akan kudapati. Aku tak lagi berasumsi untuk sebuah hal yang sepertinya sudah pasti. Aku menutup segala hal dan memegang teguh harga diri untuk perjuangan terakhir yang aku bisa miliki.
Aku tidak terluka, tidak sedalam itu. Hanya nafasku seakan tertinggal dan terhenti, aku memaksa berulang kali, namun ini tak membaik, tak pernah membaik. Aku marah pada diriku sendiri, ingin aku membuat sosok yang tampak pada cermin ini pergi dan tak lagi tinggal didunia ini. Kau boleh tetawa, aku pecundang yang sebenarnya. Dongeng itu tak pernah ada, aku yang mengarangnya dan mengerti bahwa itu semua hanya sebuah imajinasi.